pada hari Selasa, 22 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 



10. Sembilan Puluh Persennya Kemana?

 

 

 

Yulian L.A. Sembiring

 

Saya Yulian L.A. Sembiring, dari Wonosari, Gunungkidul. Saat ini sedang menempuh studi di jurusan Ilmu Informatika, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

 

 

Memang mengejutkan apa yang disampaikan Prof. Slamet yang saya temui saat saya mengikuti kegiatan eksposur yang diadakan oleh Stube HEMAT sebagai rangkaian Pelatihan Pendidikan Global ke museum Ki Hadjar Dewantara, Tamansiswa. Beliau sampaikan bahwa orang rata-rata baru memakai 10 persen dari kemampuan otaknya. Hal ini memberikan makna supaya kita lebih mengoptimalkan kinerja otak. Oleh karena itu otak harus selalu digunakan untuk hal-hal yang positif dan membangun. Beliau juga memberikan 5 kiat sukses yaitu, kita harus memulai lebih awal, hidup lebih cerdas, bekerja lebih keras, bekerja lebih cepat, dan memikirkan yang belum dipikirkan orang lain.

 

 

 

Hal lain yang saya dapatkan adalah tentang keteladanan. Salah satu narasumber mengatakan kalau orang lebih percaya pada apa yang kita perbuat daripada apa yang kita katakan. Jadi kita diminta untuk menjadi teladan dalam tingkah laku kita. Seperti seorang Guru yang harus memberikan contoh nyata pada murid-muridnya melalui perbuatanya. Pernyataan tersebut selaras dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, memberi contoh di depan.

 

 

 

Saya juga diingatkan kembali tentang Visi dan Misi yang sudah saya buat untuk hidup saya. Apapun Visi Misi itu, baik jangka pendek ataupun jangka panjang harus kita lakukan dengan tekun dan tidak boleh asal-asalan. Kita dapat memulainya dari hal-hal kecil dulu dari diri kita sendiri, seperti tertulis dalam Lukas 16 : 10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar".

 

 

 

Saya belajar melakukan hal sederhana yang bisa saya lakukan dan menjadi tanggung jawab saya dalam rangka mewujudkan visi besar hidup yang sudah dibuat.***

 

 

 

 

 

 

 

11. Pendidikan Kesadaran Kritis sebagai Sarana Mempersiapkan Generasi Bangsa Millenium.

 

 

 

Paulus Eko Kristianto

 

Saya Paulus Eko Kristianto, dari Surabaya, saat ini sedang menempuh studi tahap akhir Ilmu Theologi, Fakultas Theologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

 

 

 

Wacana pendidikan global sudah didengungkan pada pemuda sejak menyongsong abad ke-21. Berbagai alternatif mulai ditawarkan yang ujung-ujungnya berbasis internasional. Hal ini mengandung langkah strategis di mana pemuda diajak untuk bersaing di publik internasional. Namun di sisi lain, langkah ini juga memiliki paradoksnya tersendiri. Paradoks bahwa mentalitas inlander mampir ke kancah pendidikan nasional Indonesia. Apakah seharusnya demikian? Rasanya tidak, pemuda memang harus bersaing dalam dunia global namun mereka harus tetap memegang nilai-nilai kebangsaan perjuangan. Semangat ini dibawa oleh para atlit yang berjuang di perhelatan olah raga internasional, contohnya Sea Games.

 

 

 

Rupanya, warna ini ditangkap Stube-HEMAT sebagai lembaga yang mendampingi mahasiswa dengan memfasilitasi mahasiswa berbagai pelatihan multi issue termasuk Pelatihan Pendidikan Global. Bagi saya, usaha ini perlu diberi apresiasi. Walaupun, tiada gading yang tak retak. Stube pun kurang memberikan distingsi kuat dalam memetakan antara pendidikan nasional, pendidikan alternatif, dan pendidikan global dalam pelaksanaannya walaupun TOR sudah mengarah ke sana. Ketiga corak tersebut memang ada dalam dunia pendidikan dan terkesan overlapping. Tapi bukan berarti, semua berjalan bertabrakan karena semua memiliki idealisme tujuan pendidikan sendiri-sendiri. Pendidikan nasional membidik kajian corak dan karakteristik pendidikan nasional turunan dari kemendiknas menuju tingkat lokal melalui tataran formal. Sedangkan, pendidikan alternatif mencoba mengkritisi pendidikan nasional yang kian meresahkan dan memojokkan aspirasi dan perkembangan naradidik sehingga para pedagog menawarkannya dengan memanfaatkan kearifan lokal. Kemudian, pendidikan global menghelat persiapan partisipasi pemuda dalam kancah globalisasi abad ke-21.

 

 

 

 

Bercermin pada diskursus pendidikan tersebut, saya menawarkan pola pendidikan baru yang mulai harus disajikan dalam mengimbangi abad ke-21 ini yakni pendidikan kesadaran kritis. Banyak hal disajikan globalisasi abad ke-21 tetapi ‘penumpang’ harus peka dan kritis dalam membaca dinamikanya. Dinamika barulah ditangkap bila mereka sedia bergabung dan masuk dalam praksis kemudian berefleksi bersamanya. Kalau poin ini sudah ditangkap, maka transformasi pendidikan menjadi ajang plus untuk mengembangkan praksis dan ini dibutuhkan kerja keras. Akhir kata, selamat mencoba!


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook