pada hari Selasa, 3 September 2013
oleh adminstube
Cerdas Membaur Meski Multikultur
 
Hotel Kayu Manis, Kaliurang, 30 Agt - 1 Sep 2013

 
Kehidupan yang beranekaragam tidak bisa dipungkiri dalam realita sehari-hari. Konteks kehidupan seperti ini di Indonesia sudah sejak lama terjalin. Maka dari itu Negara ini memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). Kehidupan yang beranekaragam ini dalam bahasa populer disebut Multikultural. Perbedaan yang ada secara alami tidak menjadi masalah dalam masyarakat, tetapi ketika migrasi penduduk semakin pesat maka pergesekan antar budaya menjadi sangat kelihatan. Gesekan budaya itu akhirnya menjadi permasalahan identitas dari sebuah kelompok masyarakat dari daerah tertentu seperti bisa dicermati pada dampak transmigrasi. Rasa senasib dan sepenanggungan di tanah perantauan secara psikologis mendorong orang untuk membentuk sebuah komunitas.
 
Arus migrasi pelajar dari berbagai kota dan daerah menuju Yogyakarta yang memiliki banyak perguruan tinggi, terjadi cukup tinggi setiap tahunnya dan tidak dapat dipungkiri terjadi pergesekan budaya yang berbeda. Pergesekan budaya yang berbeda bisa menjadi nilai yang positif karena dapat saling melengkapi, tetapi juga bisa mengarah kepada hal yang negatif ketika perbedaan tidak dapat diterima atau bahkan memicu konflik antar kelompok.
 
Pelatihan Multukultur yang dilaksanakan dari tanggal 30 Agustus sampai dengan 1 September 2013 oleh Stube HEMAT menjadi sangat penting untuk memahami perbedaan dan pergesekan budaya yang beragam. Mengambil tema Cerdas Membaur Meski Multikultur, pelatihan ini membawa peserta memahami makna multikultur, menyadari adanya multikultur dalam kehidupan sehari-hari, meminimalisir gesekan budaya yang mengakibatkan konflik, stigma, juga Culture Shock.


Pelatihan ini diawali dengan materi pengantar Multikultural oleh Tim Stube HEMAT, dilanjutkan keesokan harinya materi Multikultural di Indonesia: Penyebab, ragam dan urgensinya oleh DR. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., staf pengajar sosiologi UKSW, Salatiga. Culture Shock menjadi salah satu topik menarik dalam pelatihan ini yang dibahas dengan pendekatan psikologi oleh Drs. Thomas Aquino Prapanca Hary, M.Si., staf pengajar psikologi UST, Yogyakarta. Adapun sikap multikulturalisme dalam keseharian disampaikan oleh William E. Aipipidely, S.T., M.A, dari Yayasan Satu Nama.
 
 
Selama proses pelatihan para peserta diajak berefleksi, instropeksi, menganalisa dan memetakan lingkungan dimana ia berada, suku dan budaya, kebiasaan-kebiasaan yang selalu dijumpai juga mengenal budaya lain dari antar peserta melalui diskusi. Ketika para peserta melakukan eksposure bersama ke Desa Turgo, mereka banyak belajar mengenai kearifan lokal penduduk setempat, nilai kebersamaan, toleransi, keramahtamahan, persaudaraan, penghargaan terhadap alam dan kehidupan yang saling menjaga.
  
 
Pelatihan Multikultur ini ditutup dengan membangun komitmen melalui Rencana Tindak Lanjut yang dibuat oleh peserta yakni dengan: membagikan pengalaman yang didapatkan kepada sahabat dan kepada mahasiswa baru di kampus masing-masing, menindaklanjuti dengan tulisan, membuat bahan ajar Multukultur kepada anak, dan tak kalah seru bagi para mahasiswa pendatang adalah mempelajari bahasa setempat di Yogyakarta, yakni Bahasa Jawa.
 
 
 
 
Selamat menindaklanjuti!

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook