pada hari Kamis, 20 September 2012
oleh Stube HEMAT
Eksposur Stube-HEMAT Yogyakarta
Agustus – September 2012
 
 
 
Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. Hampir semua pelajar di Indonesia ingin melanjutkan belajar mereka di kota ini, namun hanya sebagian kecil yang mampu mewujudkannya. Berbagai keuntungan yang ada antara lain pilihan lembaga pendidikan yang sangat beragam, fasilitas penunjang pendidikan yang lengkap, suasana kota yang nyaman untuk menimba ilmu serta biaya hidup yang relatif murah menjadi daya tarik bagi mereka.
 

 

 
Stube-HEMAT Yogyakarta berinisiatif memberi kesempatan kepada mahasiswa dan pemuda dari Sumba untuk belajar di Yogyakarta. Dengan membawa ke Yogyakarta tentu memberi pengalaman yang menarik karena mereka melihat perbedaan-perbedaan yang ada dan mempelajari banyak hal yang tentunya baru.
 
Mereka adalah Yonatan Kura (23) dan Henggu Hama Pati (23) mahasiswa STIE Kriswina Waingapu, Angraini Warata (21) dan Marselina Loda Ana Amah (22) keduanya dari STT GKS Lewa, serta Antonius Karepi Andung (22) pemuda GKS Kanjonga Bakul, Apriajes Lay (23) pemuda GKS Mauhau.
 
 
Selama 3 minggu, dari 29 Agustus – 18 September 2012 mereka berada di berbagai lokasi untuk belajar dan mengasah keterampilan yang nantinya dikembangkan di Sumba, antara lain di Yayasan Sahabat Gloria belajar mengenai lele kolam terpal, pupuk pokcing dan sayuran organik. Di Sahabat Bambu, didampingi oleh Indra Setiadharma mempelajari teknik pengawetan bambu. Dan masih berkaitan dengan bambu, di Karti Aji, Minggir, Sleman para pemuda ini belajar menganyam bambu menjadi beraneka ragam bentuk dan fungsi.
 
 
Sedangkan di Samas mereka belajar pertanian memanfaatkan lahan pasir kepada Pak Subandi, seorang pioner dalam Pertanian Lahan Pasir Samas. Selain itu, mereka dibekali dengan kemampuan mengolah makanan berbahan dasar lokal seperti tepung MOCAF, tepung ketan dan tepung pisang menjadi kue bolu dan bermacam kue kering.
 
 
Sebagai pelengkap kunjungan belajar di Yogyakarta, mereka mengunjungi kawasan wisata Malioboro, Candi Borobudur, Kebun Binatang Gembira Loka dan Komunitas Belajar Sanggar Anak Alam serta pengalaman baru naik kereta api.
 
 
Harapan kegiatan ini sangat jelas, yaitu supaya mereka mengalami pencerahan dan terbukanya pikiran serta keberanian mengambil peluang pengembangan di Sumba, seperti yang diungkapkan oleh salah satu peserta, Antonius “Sebelum mengikuti Stube tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi setelah mengikuti, jadi tahu apa yang bisa dilakukan, misalnya pupuk organik untuk lahan pertanian, bambu yang punya banyak kegunaaan seperti untuk kerajinan dan kursi, dan masih banyak hal lagi yang semuanya itu nanti akan dibagikan kepada teman-teman dan masyarakat.” (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook