Masihkah Menjadi Ekklesia*?    

pada hari Rabu, 15 Maret 2017
oleh adminstube
 
Masihkah menjadi ekklesia? Ya, pertanyaan ini mengemuka seiring berkembangnya zaman. Nilai-nilai kekristenan yang menjadi pedoman dalam kehidupan setiap orang percaya mendapat tantangan yang tak mudah karena kehidupan terus berubah. Di satu sisi kehidupan duniawi gencar menawarkan berbagai kesenangan dan kemewahan yang bisa diakses dengan mudah oleh siapapun, di sisi lain masih ada realitas permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, seperti ketidakadilan, kemiskinan, fanatisme dan abai terhadap lingkungan.

 

Kata ekklesia dalam kehidupan kekristenan bermakna dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Kristus dan menerangi kegelapan yang ada di dunia. Orang Kristen khususnya anak muda perlu berefleksi, apakah nilai-nilai kekristenan itu masih menjadi pedoman? Apakah kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari merupakan dua bagian yang terpisah? Sudahkah nilai-nilai kekristenan mewujud dalam kehidupan sehari-hari anak muda Kristiani? Hal ini menjadi titik tolak Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan program pelatihan Christianity pada 10-12 Maret 2017 di Wisma Asrama UKDW Yogyakarta dan diikuti oleh tiga puluh dua peserta dari daerah yang sedang kuliah di berbagai kampus di Yogyakarta.

 

 

 

Renungan pembukaan Pdt. Bambang Sumbodo dari Roma 1:16-17: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman”. Firman ini mengingatkan anak muda untuk kembali pada firman Tuhan, yaitu anugerah, iman dan firman Tuhan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT mengungkapkan bahwa Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa mendorong anak muda khususnya mahasiswa terus meningkatkan kemampuan pengetahuan dan pengalamannya dalam menjawab tantangan lokal dan internasional. Kemampuan mereka ini nantinya diharapkan bisa bermanfaat bagi orang lain di sekitar mereka. Sejauh ini Stube-HEMAT telah ada di Yogyakarta dan Sumba, dan saat ini sedang ada perintisan multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu.

 

 

 

Sejarah kekristenan dan reformasi gereja yang dilakukan Martin Luther berpengaruh ke berbagai wilayah Eropa yang juga berdampak sampai ke Asia bahkan Indonesia. Salah satunya adalah adanya berbagai denominasi gereja di Indonesia. Hal ini dipaparkan oleh Pdt. Dr. Jozef MN Hehanussa, pengajar di Pascasarjana Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Selain itu, anak muda diingatkan tentang tantangan gereja yang harus menjawab konteks masalah saat ini sebagaimana yang ada dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030 seperti: kemiskinan, ketahanan pangan, kehidupan yang sehat, pendidikan yang inklusif dan berkeadilan dan kesetaraan gender.

 

 

 

Achmad Munjid, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengungkapkan relasi Muslim dan Kristen terkadang tidak terjadi karena ada ‘barrier’ atau penghalang, yaitu prasangka yang muncul di antara orang Muslim dan orang Kristen itu sendiri. Di satu sisi ada prasangka kristenisasi, sementara di pihak lain ada prasangka terwujudnya negara Islam. Prasangka muncul karena mereka belum ada pengalaman berinteraksi bersama-sama. Menurutnya, ruang-ruang untuk bertemu inilah yang harus diadakan sehingga prasangka-prasangka akan terkikis dan berganti dengan sikap kebersamaan.

 

 

 

Sikap anak muda Kristiani untuk bangsa dikritisi oleh Brigjen (purn) TNI Noeryanto. Anak muda harus melihat kembali perjalanan sejarah bangsa dan berani memegang kebenaran meski menghadapi resiko. Ia mengungkap tantangan ketika masih berdinas sebagai tentara dan memaparkan asas kepemimpinan yang harus dimiliki anak muda, seperti ketakwaan, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purba wasesa, ambeg paramarta, prasaja, satya, gemi nastiti, blaka dan legawa. Makna dalam bahasa Indonesianya kurang lebih demikian: bahwa sebagai pemimpin harus memberi contoh di depan, menyemangati, dan memberi kebebasan dalam koridor yang ditetapkan, pemimpin harus selalu waspada, rendah hati, sederhana, setia, tidak boros, jujur dan berani mengakui kesalahan.

 

 

 

Peserta selanjutnya bekerja kelompok merumuskan nilai-nilai kekristenan dan menemukan realita permasalahan yang terjadi di sekitar mereka dan merenungkan sudahkah nilai-nilai kekristenan menjawab permasalahan yang terjadi dan apa yang bisa anak muda lakukan sebagai terang menjawab permasalahan tersebut.

 

 

 

Rut Merani, peserta mahasiswa STAK Marturia dari OKU Timur, Sumatera Selatan berkata, “Di dalam pelatihan ini saya mendapat pengetahuan baru yang memotivasi saya untuk melakukan sesuatu. Walaupun saya masih kurang aktif, pelatihan ini membangun kepercayaan diri saya untuk berani bercerita tentang diri saya dan daerah saya. Saya ingin melakukan sesuatu yang baik untuk daerah saya.“

 

 

Sebuah otokritik untuk anak muda Kristen di Indonesia saat ini untuk hidup inklusif dalam kemajemukan, membuka diri dengan perbedaan, menjaring kerjasama dengan semua orang dan tetap berusaha untuk berpartisipasi menjawab permasalahan yang dialami masyarakat di Indonesia. Anak muda, tetaplah menjadi ekklesia. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook