Datang Dengan Asa, Pulang Dengan ...

pada hari Rabu, 22 November 2017
oleh adminstube
 
 
 
Datang dengan asa, pulang dengan … (dilengkapi sendiri oleh masing-masing mahasiswa yang merantau untuk studi di Yogyakarta), menjadi judul pelatihan ‘kemampuan bertahan hidup’ yang diselenggarakan oleh Stube HEMAT pada hari Jumat-Minggu (10-12/11/2017) di Wisma Pojok Indah, Sleman yang dihadiri 48 peserta. Pelatihan ini bertujuan agar mahasiswa memiliki sikap hidup baik, pengetahuan dan keterampilan untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta.
 
 
Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan karena ada ratusan perguruan tinggi negeri dan swasta, sehingga wajar menjadi tujuan belajar mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Meski Yogyakarta dikenal karena keramahtamahan dan kemudahan, ternyata tidak sedikit mahasiswa belum memiliki persiapan yang baik untuk kuliahmengalami culture shock dan belum mampu memilih kegiatan-kegiatan yang mendukung studinya. Keadaan ekonomi keluarga dan ketidakmampuan mengelola waktu ikut mempengaruhi studi merekabahkan rentan terjerat hal-hal negatif, seperti miras, seks bebas, kriminal dan akhirnya gagal menyelesaikan studi.

Di awal pelatihan Sarloce Apang memperkenalkan Stube-HEMAT sebagai wadah belajar dan pemberdayaan mahasiswa, dilanjutkan multiplikator Stube HEMAT Bengkulu, Yohanes Dian Alpasa yang membagikan pengalaman ketika mengikuti kegiatan Stube-HEMAT yang kemudian mendorongnya merintis Multiplikasi Stube-HEMAT di Bengkulu. Untuk membekali peserta bagaimana bertahan ketika menghadapi perubahan yang tidak bisa ditolak, Robinson P. Aritonang membedah buku berjudul ‘How to Survive Change You Didn’t Ask For’ yang mengungkap tips-tips dalam menghadapinya.

 


Hari berikutnya peserta belajar mengenal Yogyakarta bersama Trustha Rembaka yang memaparkan sejarah Yogyakarta, peran kota ini dalam sejarah Indonesia dan berbagai tempat yang mendukung belajar mahasiswa. Seorang jurnalis Tribunjogja, Sulistiono diundang juga untuk mengungkap ancaman narkoba dan seks bebas di kalangan mahasiswa. Menurut data Polda DIY, dari Januari s.d. Agustus 2017, ada 372 orang terjerat kasus narkoba dan 1.078 remaja putri melahirkan976 di antaranya adalah kehamilan tidak diinginkan. Sulistiono berpesan agar mahasiswa selalu mawas diri terhadap gaya kehidupan kota.


Testimoni beberapa mahasiswa melengkapi pelatihan ini. Arnita Marbun, seorang pekerja sosial memaparkan bagaimana ia mendampingi mahasiswi untuk tetap bangkit dan menyelesaikan studinya meskipun mengalami kekerasan seksual. Retno Puji Astuti, seorang mahasiswi yang bisa menginspirasi peserta karena berhasil menyelesaikan studi kebidanan dengan cum laude, meski kedua orang tuanya tunanetra. Lebih menakjubkan adalah Vindi Dwinantyo, meskipun ia tunanetra, ia tak ingin keterbatasan itu membatasi hidupnya, bahkan saat ini ia sedang kuliah S2. Para fasilitator ini sungguh menggugah peserta untuk lebih giat dan kreatif dengan segala kelebihannya.
 
Stephanus Benny, mahasiswa Magister Psikologi UGM memandu peserta memetakan potensi diri dan kerentanan diri. Ia menjelaskan bahwa setiap studi harus memiliki tujuan jelas, apa yang hendak dicapai. Seorang mahasiswa pun dituntut mandiri, salah satunya bisa melakukan bisnis kreatif. Indah Theresia menawarkan beberapa langkah untuk berbisnis sesuai perkembangan zaman dan peluang pasar, memanfaatkan waktu luangnya dan menggunakan barang yang ada sebagai modal. Sesi inidiperkuat oleh pengalaman dua mahasiswa ketika berada di Yogyakarta, Yohanes Dian Alpasa yang sering menulis di media massa dan berjualan koran dan Yoel Yoga Dwianto dari Lampunyang membuat kebun sayur organik dan mengembangkan musik jimbe sebagai bisnis kreatif dan membuka kursus musik.


Di hari terakhir, Dr. Murti Lestari, M.Si., board Stube-HEMAT mengajak mahasiswa belajar dana desa dan penggunaannya, sehingga ketika kembali ke daerah asalnya, mereka bisa memantau dan memanfaatkan dana desa untuk kesejahteraan masyarakat. Di akhir acara, peserta merancang kegiatan untuk berbagi pengalaman. Hanis, dkk mengadakan diskusi kecil di kampus Janabadra dan Maritjie dkk mengumpulkan mahasiswa dari kepulauanAru dan berdiskusi tentang kuliah di Yogyakarta.
 
Mahasiswa pasti mampu bertahan hidup sebagai mahasiswa jika ia tahu tujuan hidupnya, mampu beradaptasi, tahu potensi diri, dan selalu merespon perubahan yang terjadi dengan positif. (ELZ).

 


 
 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook