Spiritualitas: Kontribusi Etika Kristen dalam Dunia Ekonomi

pada hari Selasa, 27 Februari 2018
oleh adminstube
 

 

Jumat – Minggu, 23-25 Februari 2018
di Hotel Satya Nugraha, Yogyakarta
 
 
 
Perkembangan teknologi menjadi faktor yang berpengaruh atas terjadinya revolusi industri yang selanjutnya akan memunculkan tatanan ekonomi baru sebagai respon perubahan nilai seperti salah satunyaadalah nilai etis dalam dunia ekonomi dilihat dari sisi iman Kristen.

Topik ini menarik tiga puluh enam mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta pada hari Jumat-Minggu, 23-25 Februari 2018 bertema Spiritualitas: Kontribusi Etika Kristen dalam dunia Ekonomi. Peserta diharapkan menemukan wujud etika Kristen dalam dunia ekonomi saat ini dan mampu merumuskan suatu rencana tindakan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
 
Beberapa orang yang berpengalaman di bidangnya memfasilitasi pelatihan ini, seperti Ariani Narwatujati, S.S., M.Pd., Direktur Stube-HEMAT menantang peserta untuk meningkatkan kualitas dirinya untuk berkompetisi di level internasional, kemudian Dr. Murti Lestari, M.Si, dosen Fakultas Ekonomi UKDW mengungkapkan perkembangan ekonomi yang sangat pesat sampai pada ekonomi digital, teknologi tidak saja untuk sistem informasi tetapi menjadi platform aktivitas ekonomi, perdagangan, pembayaran dan bidang lainnya. Saat ini sebagian besar orangbisa mengakses ekonomi secara digital dan memanfaatkannya. Penguasaan terhadap pengetahuan dan teknologi akan menjadi dasar berkembangnya ekonomidigital yang akan meningkatkan efektifitas dan kesejahteraan. Namun masayarakat harus tetap waspada terhadap kejahatan berbasis teknologi.
 
Pdt. Yahya Wijaya, Th.M., Ph.D., dosen Fakultas Teologia UKDW menjelaskan bahwa saat ini teologi dan ekonomi tidak bisa saling terpisah tetapi harus beriring mewujudkan kesejahteraan. Perlu pemahaman etis setiap orang untuk mempertemukan filosofi-filosofi keduanya, antara lain 1) Ekonomi harus berpusat pada Allah sebagai pemilik sejati segala sesuatu. 2) Ekonomi harus berorientasi pada manusia, melayani manusia, memenuhi kebutuhan manusia, mendorong kesetaraan dan keadilan. 3) Ekonomi harus menghargai kinerja, menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas, baik, aman, inovatif, efisien, terpercaya dan berkelanjutan. 4) Ekonomi harus berwawasan lingkungan, memperhatikan keseimbangan ciptaan, menggunakan sumber daya alam yang terbatas dengan hati-hati, dan 5) Ekonomi harus melayani masyarakat, pelayanan bagi semua pihak demi membangun masyarakat yang stabil, damai, dan lestari.




Peserta membagi diri dalam tiga kelompok untuk mendalami sistem ekonomi alternatif. Kelompok satu berdialog dengan Sudarwanto, pengurus Credit Union Cindelaras Tumangkar untuk mengenal koperasi keuangan pemberdayaan masyarakat. Kelompok dua mempelajari koperasi syariah bersama Iwa Khairuttaqwa, kepala cabang Koperasi Syariah Badan Tamwil Muhammadiyah (BTM) Surya, dan kelompok tiga berdialog dengan Pdt. Harjono bersama petani organik di Jodhog, Bantul yang memiliki visi menjadi petani bermartabat melalui bertani secara organik, memulihkan sawah, menyediakan pangan sehat untuk keluarga, kemandirian dalam bibit, pupuk dan pemasaran hasil dan menjalin persaudaraan lintas iman.

Wawasan peserta semakin diperkuat dengan hadirnya praktisi bisnis, antara lain drg. Pipin Ikawati (Fresh Dental), Daniel D. Nugraha (DN rental alat berat) dan D. Sugiarto (Tosan Offset), yang mengungkap kerasnya dunia bisnismenghadapi tantangan dan persaingan, tetapi mereka tetap berbisnis dengan disiplin, terus belajar dan berkembang, menjaga kepercayaan rekan kerja dan memperhatikan kondisi karyawan dan konsumen.


Interaksi peserta mengenai nilai-nilai etismemancing pemikiranakan situasi sosial dan lingkungan di sekitarnya dan kampung halaman yang memunculkan ide-ide aksi. Ram Hara, mahasiswa UJB dari Sorong, Papua Barat merasa terpanggil pulang kampung saat libur untuk berbagi bagaimana pesatnya perkembangan teknologi dan manfaatnya untuk kemajuan daerah. Yenlis Mencanda, atau Cindy menjadi teringat akan kebun kakao di kampung halamannya di Pandolo, Poso dan tertarik untuk membuatnya lebih produktif.Pemanfaatan kakao bisa dimulai dari biji kakaosebagai bahan baku coklat dan masih banyak turunanlainnya dari kakao yang bisa dihasilkan. Kawasan kebun juga bisa ditata sedemikian rupa sehinggamenarik untuk dikunjungi. Maria M. Tefa, mahasiswi dari kabupaten Malaka, NTT yang kuliah di ITY tergerak untuk membagi ide bertani mandiri dan organik di desanya. Selama ini petani tidak bisa menentukan sendiri harga panen dan hasil panen selalu dihargai rendah. Sementara Chindiani Rawambaku, mahasiswa Sumba Timur, NTT yang kuliah di UST mengungkapkan bahwa ia mendapat pencerahan dan wawasan baru tentang ekonomi digital dan bagaimanaberbisnis yang peduli pada orang lain. 

Anak muda dan mahasiswa sudah semestinya cerdas memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan diri danmewujudkan nilai-nilai etis dalam ekonomi demi peningkatan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat dan lingkungan. Jadi sekarang, hai anak muda, apa idemu? (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook