10 Ide Menjawab Realita

pada hari Senin, 5 Maret 2018
oleh Stube HEMAT
 


Berikan kesempatan kepada anak muda, maka perubahan terjadi. Ini semangat Stube-HEMAT Yogyakarta melalui pelatihan Spiritualitas di hotel Satya Nugraha, 23-25 Februari 2018, yang mendorong anak muda dan mahasiswa mengungkapkan ide mereka untuk daerah asal.


 
Yance Yobee,
Seorang mahasiswa dari kabupaten Dogiyai, Papua yang saat ini menempuh studi di Teknik Sipil,Universitas Janabadra. Di daerah saya masih banyak kecenderungan untuk berjudi, membuang sampah sembarangan bahkan di selokan dan hidup tidak sehat. Hal-hal ini tidak baik dan saya ingin sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan, seperti rutin membersihkan saluran drainase, mengolah ladang dengan baik supaya panen meningkatbisa dikonsumsi sendiri dan dijual, juga sosialisasi kepada masyarakat tentang masa kadaluarsa suatu produk.Saya berharap masyarakat mendapat pemahaman baru, kondisi ekonomi, lingkungan dan sosial masyarakat semakin membaik. Perbaikan kondisi ekonomi dan sosial ini akan mengurangi permasalahan sosial daerah setempat”.


Maria Modesthy Tefa,
Seorang muda dari desa Kakaniuk, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur yang saat ini sedang kuliah di Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Kawasan Malaka Tengah berupa dataran sedang (270-537 mdpl) dan sebagian besar masyarakat adalah petani, sebagian lain adalah Pegawai Negeri Sipil, kepolisian, swasta dan lainnya. Ada sebuah anekdot di sana, setinggi apa pun pendidikanmu dan di mana pun kerjamu, akhirnya kembali pegang parang dan tajak (berkebun) juga”.
 
 

 

Di pelatihan Spiritualitas ini saya mengenal Credit Union Cindelaras Tumangkar dan menyadari kondisi ekonomi desa saya masih rendah. Mengapa demikian? Tidak mudah menjawab karena berkaitan banyak aspek. Saya juga mendengar pengalaman petani organik desa Jodhog menjadi petani bermartabat melalui bertani organik. Di daerah saya petani menggunakan bahan kimia untuk pupuk, mematikan rumput dan membunuh hama sehingga lahan semakin rusak. Menurunnya kualitas lahan, gagal panen karena pestisida berlebihan telah terjadi, bahkan orang tua saya pernah mengatakan kalau tanah sekarang tidak sesubur dulu”.

 

 
Walau pendidikan saya belum tinggi, tapi saya memiliki pengetahuan tentang lingkungan dan ingin berbagi. Saya termotivasi untuk membagikan ide bertani organik kepada keluarga dan mengurangi bahkan meninggalkan bahan kimia. Saya juga akan mendalami pertanian organik di Jodhog bersama teman-teman daerah yang ada di Yogyakarta. Saya berharap suatu saat nanti daerah saya menjadi lumbung pertanian organik, seperti di Jodhog. Kapan? Tidak tahu, tetapi harus dimulai dari sekarang”.


Monika Maritjie Kailey,
Saat ini kuliah di Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, berasal dari Kepulauan Aru, Maluku. Saya tertarik untuk banyak-banyak sharing berkaitan dengan cross culture understanding dan positive mind-set. Hal ini didorong dari menceritakan kesalahpahaman cara berpakaian dan budaya yang ada di daerah tertentu. Mari kita perbaiki ‘mindset’ kita dengan tidak cepat mengatakan ‘ini salah’ atau ‘itu benar’, ini pantas’ dan ‘itu tidak pantas’tapi berpikir positif bahwa berbeda daerah artinya berbeda budaya. Rasa percaya diri dibangun dari keluarga dan lingkungan untuk kita tumbuh”.
 
Jika seseorang ingin dihargai, maka hargailah orang lain terlebih dahulu, lebih tepatnya berperilaku sesuai dengan ruang dan budaya di mana kita tinggal dan sesuaikanlah gaya hidup dengan tempat di mana kita berada. Langkah-langkahnya adalah, pertama, berpikir positif terhadap sesama, kedua, akrabkan diri dengan lingkungan dan orang-orang sekitar, ketiga, hargai orang lain dan keempat, berperilaku sesuai dengan budaya dan kebiasaan setempat”.



Ram Hara,
“Saya kuliah di Universitas Janabadra jurusan Akuntansi, asal dari Mare, Maybrat, Sorong, Papua Barat. Dalam pelatihan Spiritualitas ini saya mendapat gambaran arah ekonomi Indonesia ke depan, di mana internet berperan di banyak hal, salah satunya bisnis dan ekonomi. Saya memikirkan daerah asal saya yang sudah ada akses internetnya, namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal, hanya sekedar membuka media sosial dan situs lainnya, posting foto, status bahkan mengakses situs porno. Pengguna internet didominasi anak-anak di bawah umur karena rendahnya pengetahuan orangtua tentang internet.
 
Saya berpikir perlunya mendorong masyarakat untuk meningkatkan manfaat berinternet. Saat saya liburan nanti saya ingin merealisasikan ide-ide saya kepada masyarakat di daerah asal saya seperti sosialisasi menggunakan internet dengan baik dan bermanfaat, mendorong orang tua ikut mendidik anaknya dengan baik. Selain itu saya juga ingin bekerjasama dengan Komunitas Pelajar Mahasiswa Mare (KPMM) Yogyakarta atau organisasi kedaerahan lainnya.


Wilton Paskalis Dominggus Ama,
“Saya berasal dari Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dan kuliah di Magister Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Di masa lalu nilai ekonomi suatu barang masih rendah karena kebutuhan manusia sudah tersedia di alam, tetapi sekarang nilai barang semakin tinggi karena persediaan di alam berkurang. Kepentingan ekonomi menjadi prioritas dibanding lainnya, misalnya spiritual, sosial dan lingkungan. Selain itu, rendahnya Sumber Daya Manusia berdampak pada rendahnya kreativitas dan daya saing. Tidak jarang tuntutan ekonomi mendorong munculnya kriminalitas.
 
Keseimbangan spiritual dan ekonomi perlu diwujudkan karena spiritualitas adalah relasi manusia dengan Tuhan yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari, seperti mencukupi kebutuhan jasmani dan interaksi dengan orang lain dan lingkungan. Saya memiliki beberapa ideyang pertama, perhatian pada pendidikan spiritualitas sejak anak-anak. Kedua, meningkatkan kesadaran iman, hubungan antar sesama dan partisipasi dalam organisasi kemasyarakatan. Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan keempat, melatih keterampilan atau minat seseorang sesuai potensi daerah, seperti pertanian, peternakan dan budaya tradisional di Sumba sebagai peluang pariwisata di Sumba.


Anggita Getza Permata,
“Saya tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan kuliah di Universitas Sanata Dharma jurusan Sastra Inggris. Saya melihat permasalahan di sekitar saya antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat gawai untuk menambah pendapatan. Sebagian orang dewasa dan lansia menggunakan gawai hanya untuk mengobrol di media sosial seperti Whatsapp, tidak tahu manfaat lainnya. Sebagian lagi tahu manfaatnya tetapi belum tahu cara menggunakan gawai untuk bisnis.
 
Saya ingin memberi tahu orang-orang di sekitar saya tentang ekonomi digital dan pentingnya mengenal itu, membantu mereka menemukan ide-ide produk yang akan dikomersilkan, dan mengajarkan pengoperasian gawai untuk menunjang bisnis.


Elliana Hastuti,
Dari Solo Jawa Tengah, saat ini kuliah di Psikologi, Universitas Sanata DharmaSetelah mengikuti pelatihan Spiritualitas, saya memetakan situasi sosial yang terjadi di sekitar saya dan menemukan orang-orang berpendidikan tinggi masih menganggurtetapi di sisi lain, perusahaan-perusahaan terus membuka lowongan pekerjaan. Ada apa dengan situasi ini? Mestinya orang-orang berpendidikan tinggi memiliki kemampuan untuk bekerja dan integritas yang baik dan perusahaan tidak kekurangan pekerja. Selain itu, anak-anak berhak mendapat pendidikan yang layak, karena kepribadian bangsa dibentuk sejak anak-anak”.
 
Ide-ide yang muncul dalam diri saya adalah, pertama, mengumpulkan orang-orang yang menganggur dan melakukan edukasi tentang pekerjaan, bakat dan minat yang ia miliki, kemudian mengembangkan. Kedua, melalukan sosialisasi pentingnya karakter dan kepribadian anak yang kuat dan baik, menanamkannya dalam diri anak, salah satunya melalui gereja (sekolah minggu). 


Danial Ndilu Hamba Banju,
“Pemahaman yang saya dapatkan dari pelatihan Spiritualitas Stube-HEMAT Yogyakarta ini adalah cara pandang saya yang semakin luas tentang Sumba. Ini penting karena saya kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan STPMD-APMD Yogyakarta. Kita tahu kalau kawasan Sumba mulai berkembang, baik itu pembangunan wilayah, pariwisata, perdagangan, pendidkan dan teknologi. Namun pertanyaannya adalah apakah masyarakat sudah siap dengan perkembangan ini, seperti apa partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan sejauh mana manfaat pembangunan terhadap masyarakat. Karena itu, ada ide-ide yang muncul yang bisa dilakukan di desa saya di Kahaungu Eti, Sumba Timur, seperti, perlunya dialog antara pemerintah dan masyarakat tentang arah pembangunan, mendalami manfaat dan dampak dari pembangunan yang akan dilakukan, perlunya masyarakat menjaga kearifan lokal masyarakat setempat, dan generasi muda perlu melibatkan diri dalam perencanaan pembangunan dan pelaksanaan pembangunan.


Chindiani Rawambaku,
“Permasalahan dan situasi sosial yang terjadi di daerah saya, Tanbundung, Sumba Timur, NTT adalah kurangnya pertanian lahan basah, kurangnya pengairan irigasi, kurangnya lahan pertanian dan kurangnya perhatian pemerintah di bidang pertanian. Dari pelatihan Spiritualitas ini saya tergerak untuk melakukan sesuatu untuk desa saya, yaitu menyampaikan ide penggunaan bahan organik kepada petani, menggunakan pupuk alami dan membasmi hama bukan dengan pestisida tetapi bahan alami. Ini sudah saya sampaikan kepada orang tua saya dan mereka merespon dengan baik. Kemudian mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun irigasi untuk pertanian”.


Erfan Nubatonis,
“Asal saya dari Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur dan studi di Manajemen Rumah Sakit,STIE IEU. Saya menemukan pencerahan setelah mengikuti pelatihan Spiritualitas Stube-HEMAT Yogyakarta dan pikiran saya terbuka kalau spiritualitas harus mewujud dalam tindakan. Saya dibantu untuk melihat realita yang terjadi di desa asal saya, Amarasi, Kupang, NTT yang selalu kesulitan air ketika musim kemarau dan kesehatan kurang diperhatikan. Mereka berjalan beberapa kilometer untuk mengambil air menggunakan jerigen untuk minum dan memasak.
 
Saya ingat di Gunungkidul Yogyakarta, pernah mengalami hal yang sama dan penduduk membangun tandon air. Ini bisa diwujudkan di daerah saya, penduduk perlu memiliki tandon air sederhana. Karena itu saya berinisiatif pergi ke Gunungkidul dan mempelajari pembuatan tandon air, sistem memanen air hujan dan penghijauan. Sekembalinya dari Yogyakarta saya ingin berbagi cara mengatasi kekeringan melalui memanen air hujan ketika musim penghujan, membangun tandon air sederhana dan menanam untuk penghijauan.
 
Selain itu, saya juga menyadari kalau pohon kelapa banyak tumbuh di daerah saya. Selama ini penduduk memanfaatkan pohon kelapa hanya buahnya dan untuk kayu bakar. Tetapi di Yogyakarta saya menemukan berbagai kerajinan dari pohon kelapa. Saya ingin mempelajari kerajinan kelapa di Yogyakarta dan setelah kembali dari Yogyakarta saya akan mengajak penduduk mengolah produk dari pohon kelapa sebagai pendapatan sampingan keluarga. Memang, kreativitas itu harus dimulai dari dalam diri saya.


Setiap karya besar berawal dari sebuah ide, spiritualitas Kristen harus mewujud dalam karya-karya pelayanan. Anda ditunggu mewujudkannya. (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook