Tantangan Kebersihan & Sampah India-Indonesia

pada hari Kamis, 28 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Standar dan capaian kebersihan setiap kota dan tempat relatif berbeda, demikian juga standar kebersihan satu negara juga berbeda dari negara lain. Singapura yang juga dikenal dengan negeri seribu denda misalnya, menerapkan disiplin kebersihan yang sangat ketat. Berbeda dengan Indonesia atau juga India, tempat South to South Exchange Program ini dilakukan, memiliki standar kebersihan yang berbeda. Standar itu dipengaruhi oleh aturan hukum dan kebiasaan dari warga setempat dalam memandang lingkungannya. Sampah yang berserak tidak selalu dipandang buruk oleh warga tetapi dipandang sangat menjijikkan oleh warga yang lain. Di Indonesia, pemerintah menetapkan standar bagi capaian kebersihan dan pemeliharaan lingkungan suatu kota dengan penganugerahan Adipura atau Kalpataru bagi kota yang berhasil mencapai standar tersebut.
 
Empat kota yang kami kunjungi selama melaksanakan program pertukaran ini adalah Bangalore, Mysore, Ooty dan Hosur memiliki ciri masing-masing dalam kebersihan. Bangalore dan Ooty memiliki tantangan untuk menata dan mengelola sampah yang berserakan. Tantangan ini biasa dihadapi oleh kota-kota besar seperti di Indonesia misalnya, Jakarta atau Surabaya.  Usaha tersebut bisa dilakukan dengan memperbanyak tempat sampah bertutup di tempat-tempat umum dengan dikuras berkala. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misalnya, harus membentuk unit PPSU (Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum), sementara warga Kota Yogyakarta harus berswadaya membayar pengangkut sampah pagi hari, dan pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara harus mengeluarkan Peraturan Daerah untuk mengatur kebersihan di wilayahnya. Pengelolaan sampah ini juga menjadi masukan bagi teman-teman pemuda Indonesia yang sebagian warganya masih  membuang sampah di sungai.
 
Kotoran hewan baik itu yang berupa kotoran burung, anjing, kuda, ataupun sapi juga menjadi tantangan tambahan bagi empat kota ini. Kotoran kuda beresiko pada kesehatan karena kuda tertentu yang terinfeksi bakteri akan menularkan jenis cacing seperti cacing pita, kotoran burung di sebagian bangunan dan tempat banyak dijumpai di Bangalore, kotoran kuda di Ooty, dan kotoran sapi di Hosur. Memang selama teman-teman di India, belum mendengar cerita soal resiko penyakit akibat kotoran ini namun tidak ada salahnya bila kita mewaspadai hal tersebut.
 
Perbedaan pandangan soal kebersihan tidak menutup kemungkinan untuk bersatu dan berbagi cerita. Di situlah kami belajar tentang bagaimana mengelola lingkungan agar sesuai standar yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan.
 
Di Indonesia, kebersihan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Pemerintah senantiasa bergumul untuk mencapai solusi pengelolaan kebersihan yang terbaik. Kaum muda juga diharapkan berpartisipasi untuk mengelola sampah yang dihasilkan sendiri. Di India, orang tidak banyak menggunakan plastik bahkan ada pengawasan khusus berkaitan dengan sampah plastik ini, seperti terlihat di Kebun Binatang Mysore, dimana setiap pengunjung harus menunjukkan botol plastik kemasan yang dibawa dan dipastikan tidak dibuang di area kebun binatang tersebut. Indonesia sepertinya lebih longgar dalam menggunakan aneka kemasan plastik dibanding India. Dari situ terlihat bahwa Indonesia juga punya pekerjaan rumah yang berat untuk soal kebersihan dan sampah plastik.
 
Syukur atas kesempatan yang diberikan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta. Pengalaman untuk berjumpa dengan teman-teman pemuda dari kebudayaan berbeda tentu menambah pengalaman tersendiri dan membuat kami semakin berani dalam mengembangkan daerah. Hal baru akan membuat semangat baru yang bisa dibagikan pada teman-teman pemuda di Indonesia. (YDA).

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook