Menginspirasi Dalam Keterbatasan

pada hari Rabu, 24 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
ASIAN Para Games yang diselenggarakan di Indonesia sudah berakhir dengan capaian para atlet yang luar biasa melampaui target yang ditetapkan di awal. Para atlet yang memiliki kekurangan secara fisik mampu menginspirasi banyak orang lewat prestasi yang membanggakan untuk Indonesia. Semangat hidup dan pantang menyerah ini juga ditemui para siswa dan guru SMPK Tirta Marta-BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta di Sekolah Luar Biasa Ganda-AB Helen Keller, saat berkunjung dan anjang kasih di sana pada tanggal 10 Oktober 2018.
 
Sekolah yang didirikan oleh Yayasan Dena-Upakara ini meneruskan karya misionaris Belanda sejak tahun 1938 di Wonosobo. Sejak tahun 1996, yayasan ini telah mengembangkan pendidikan untuk penyandang tunaganda meliputi tunarungu-netra, tunarungu-low vision dan tunarungu-wicara dengan nama SLB/G-AB Helen Keller Indonesia bertempat di Yogyakarta(http://www.slbhki-jogjakarta.com/tentang-kami).
 
Nama Helen Keller sendiri diambil dari nama seseorang yang lahir normal tetapi pada usia 19 bulan mengalami buta dan tuli dariTuscumbiaAlabama, negara Bagian Amerika pada 1880. Karena susah diajar sampai meginjak usia 7 tahun, Helen Keller diajar oleh seorang guru privat yang bernama Anne Sullivan. Dengan dorongan Anne dan semangat yang dimiliki, Hellen menjadi orang tuna rungu dan tuna netra pertama yang lulus dari Universitas Radcliffe College, cabang dari Universitas Harvard khusus wanita(https://id.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller).Semangat inilah yang ditumbuhkan dan dibangun di SLB/G-AB Helen Keller.
 
Kunjungan ke Helen Keller ini merupakan rangkaian studi sosial dengan tujuan mengenalkan kehidupan yang berbeda jauh dari kehidupan mereka dengan fisik yang lengkap dan kelimpahan materi. Program ini diharapkan membantu menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian siswa pada sesama. Ibu Rina selaku kepala sekolah Helen Keller dengan semangat menjelaskan program dan kurikulum serta mengajak berkeliling untuk melihat aktivitas dari siswa-siswi di sana yang berjumlah kurang lebih 33 anak. Diakui pihak sekolah bahwa mereka kekurangan tenaga pengajar. Suster Yosefa salah satu guru di sekolah ini menyampaikan bahwa mereka berusaha semaksimalmungkin untuk mengajari anak-anak, meskipun idealnya satu guru menghadapi satu murid, namun karena guru mereka terbatas maka satu guru harus mengajari dua sampai tiga bahkan empat orang anak.

Dalam keterbatasan sekalipun mereka tetap nampak bahagia, bermain seperti anak-anak lainnya, tertawa dan mereka menguasai huruf jari untuk berkomunikasi. Tentu saja komunikasi ini mungkin kita sendiri belum tentu bisa. Jika mereka yang memiliki keterbatasan saja tidak merasakan adanya penghalang untuk terus berkarya, tentu saja bagi yang secara fisik sempurna harus terus terinspirasi berkarya dan menjadi berkat bagi banyak orang. (SAP).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook