Batik: Menyingkap Makna Menangkap Asa Museum Batik Yogyakarta dan Ullen Sentalu

pada hari Senin, 5 November 2018
oleh adminstube
 

Batik menjadi satu topik pelatihan di Stube-HEMAT Yogyakarta, Warisan Budaya: Batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, terlebih batik telah ditetapkan sebagai salah satu karya agung warisan budaya lisan dan nonbendawi manusia oleh UNESCO pada bulan Oktober 2009. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang warisan budaya takbenda dan mendorong anak muda ikut melestarikan budaya dan mengenal tokoh-tokoh yang memelihara warisan budaya tersebut.
 
Kain batik bermotif Kawung,Truntum, dan Sidomukti terpajang menyambut pengunjung di Museum Batik yang terletak di Jalan Sutomo no. 13 A, Yogyakarta. Ini adalah museum batik pertama di Indonesia yang memiliki ribuan koleksi kain batik. Museum ini didirikan atas inisiatif keluarga Hadi Nugroho dan R. Ng. Jumima Dewi Sukaningsih pada tahun 1977, karena kecintaannya terhadap batik sekaligus keprihatinan atas potongan-potongan batik sebagai bahan pakaian tanpa memperhatikan makna dari motifnya. Memasuki museum ini, pengunjung dibawa ke suasana masa lampau karena berbagai perabotan dan dekorasi foto kuno, serta koleksi kain-kain batik berumur puluhan bahkan ratusan tahun yang terpajang di sekeliling ruangan, tak ketingggalan  juga berbagai canting dengan fungsinya masing-masing. 

Canting adalah alat membatik yang berupa cawan tembaga untuk lilin cair dan kayu sebagai pegangan. Bahan-bahan lain yang dipakai membuat batik adalah ‘malam’ atau parafin, ‘gondorukem’ (getah damar), sarang tawon dan bahan lainnya. Kata ‘Batik’ bukan merujuk pada kain dengan motif tertentu melainkan sebuah proses menciptakan suatu karya menggunakan malam atau lilin dan pewarnaan. Proses membatik sendiri meliputi Nglowong, menuang lilin pada pola di kain; Nembok, menuang lilin pada gambar pola untuk melindungi warna dasar kain; Medel, memberi warna tahap pertama, biasanya warna gelap;Ngerok, menghilangkan lilin dibagian tertentu menggunakan ‘cawuk’ (alat kerok); Mbironi, melekatkan malam pada bagian tertentu untuk melindungi kain saat pewarnaan tahap kedua; Nyoga, mewarnai kain dengan warna soga atau coklat menggunakan pewarna alami kulit kayu soga; dan Nglorot, membersihkan seluruh lilin di kain dengan merebusnya.

Motif batik memiliki pesan sesuai latar belakang pembuatan, bahkan memuat doa dan harapan. Motif Kawung misalnyamemiliki pesan bahwa sebagai manusia perlu mengingat asal usulnya dan selalu memperbaiki hidup. Awalnya motif ini hanya boleh dipakai oleh raja saja. Motif Truntum, biasanya dipakai oleh orang tua mempelai saat pernikahan sebagai simbol ‘menuntun’ kedua mempelai memasukkehidupan rumah tangga. Motif Sidomukti dipakai saat pernikahan karena memuat doa agar kehidupan keluarga mencapai kebahagiaan. Selain batik Yogyakarta dan Surakarta, ada batik Pesisiran yang berkembang di Cirebon, Pekalongan, Lasem dan Demak dengan warna-warna cerahnya. Motif batik pesisiran lebih variatif karena mendapat pengaruh budaya Cina, India, Eropa, Arab, dan Jepang.
 
Berikutnya adalah Museum Ullen Sentalu di Kaliurang,sebuah museum yang memadukan alam dan pelestarian warisan budaya Jawa Mataraman. Museum ini dirintis oleh keluarga Haryono sejak 1994 dan 1 Maret 1997 dibuka resmiuntuk umum. ‘Ullen Sentalu’ adalah akronim ULating bLENcong SEjatiNeTAtaraning LUmaku yang berarti pancaran cahaya yang menerangi perjalanan kehidupan. Blencong adalah alat penerang di pentas wayang kulit. Arsitektur museum ini unik karena mengkombinasikan bangunan Indis dan modern, sebagian berada di bawah permukaan tanah dan sebagian lagi mengikuti konturnya berupa lorong berliku dan lantai batu. Keunikan lain di Ullen Sentalu adalah tidak ada penjelasan teks dari setiap benda yang dipajang. Paparan langsung dari guide-lah menjadi jembatan interaksi antara benda warisan budaya masa lalu dengan pengunjung untuk menyimak peristiwa masa lampau dan berefleksi di masa kini.


Ruang Batik museum ini menyimpan koleksi batik kuno khas Yogyakarta dengan motif sederhana, berwarna dasar putih, coklat dan warna gelap, sementara koleksi batik Surakarta berwarna kekuningan denganmotif yang lebih detil. Sungguh, warisan budaya masa lampau jika dikemas secara unik dengan memasukkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesatuan dengan alam mampu membangkitkan rasa kagum akan mahakarya manusia sekaligus rasa optimisme memperjuangkan nilai-nilai kehidupan. Ini saatnya menyingkap makna warisan budaya masa lampau dan menangkap pesan-pesan optimis untuk hidup di masa kini. (TRU).



  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook