Menemukan Motif dan Filosofinya

pada hari Kamis, 29 November 2018
oleh adminstube
 
 
 
Rasa bangga memiliki Batik yang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia mendorong tim Stube-HEMAT ikut menggeluti dan mempelajarinya. Sensasi merancang motif batik pada kain sekaligus memahami makna filosofis motif tersebut bagaikan candu yang merangsang terus mengerjakan sampai selesai dalam lembaran. Semua bangga dengan keindahan dan keunikan desain motif masing-masing yang menonjolkan kearifan lokal daerah asal.
 
 

 

Motif-motif kebanggaan tersebut ada berbagai rupa, seperti motif daun dan buah markisa yang memiliki makna bertumbuh untuk meneduhkan karena tanaman ini bisa cepat bertumbuh, mampu hidup dimana saja, dan daunnya yang lebat bisa dipakai sebagai perindang dan pengayom dari terik matahari, sementara buahnya sarat dengan vitamin. Motif daun asam, yang bahasa Jawanya ‘asem’ memiliki makna membuat orang ‘kesengsem’ atau senang melihatnya. Tim yang berasal dari pulau Sumba menonjolkan motif lokal Sumba mulai dari burung Kakatua, burung Nuri, rumah adat Sumba dan Mamuli khas Sumba yang biasa dipakai masyarakat Sumba sebagai belis untuk urusan perkawinan. Burung Kakatua dan burung Nuri memiliki makna kebersamaan dan persaudaraan selain kicauannya yang indah dan unik. Sementara motif burung Rangkong jenis dada kuning dan burung Bidadari diusung oleh tim dari Halmahera. Burung Rangkong adalah burung adat yang dihormati di Halmahera Timur dan burung Bidadari adalah burung kebanggaan karena hanya ada di Halmahera Utara. Tidak ketinggalan desain motif ikan paus dan alat musik tradisional Tatong diusung oleh anggota tim dari Lembata.

 

 

 
Motif-motif yang sudah digambar dalam selembar kain ini selanjutnya didiskusikan dalamworkshop kecil yang didampingi oleh Heru Santoso, seorang praktisi batik, pada hari jumat 23/11/2018 pukul 18.00-20.00 bertempat di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta. Selain mendiskusikan hasil yang sudah dikerjakan tim, workshop ini sekaligus pembekalan awal mengenai membatik. Dalam pemaparannya Heru Santoso menjelaskan ada tiga jenis batik, yakni batik tulis, cap dan kombinasi tulis dan cap. Seiring perkembangan jaman, muncullah batik jenis baru seperti batik Sibori, Jumput, Celup, Colet, dan Ecoprint. Batik sendiri memang merupakan proses merintangi warna pada kain untuk menghasilkan motif, baik menggunakan lilin/malam, lipatan atau lilitan. “Sebetulnya di luar negeri sudah ada batik khas masing-masing, hanya saja batik dan motif dari Indonesia yang dianggap menarik dan unik dan memiliki tingkat kerumitan yang tinggi sehingga digemari oleh orang-orang dari mancanegara”, paparnya.
 
Dalam menggambar motif perlu ada yang dijadikan pola utama yang kemudian di bagian pinggiran  dihiasi dengan pola pinggiran dan sisanya ditambah isen-isen atau isian pada bagian kain yang masih kosong untuk mempercantik keseluruhan motif.  Sebagai catatan, karena tim adalah pemula, maka disarankan untuk membuat motif yang lebih besar, untuk mempermudah saat proses ‘mencanting’. Untuk motif berupa burung, ikan atau manusia perlu disamarkan dari bentuk aslinya dengan tidak menghilangkan esensi dari motif itu, atau disebut proses Stilasi, karena pada dasarnya membatik berbeda dengan melukis sehingga gambar motif tidak harus sama persis detailnya. Di situlah letak nilai estetika suatu motif.
 
Pewarnaan kain batik sendiri ada beberapa macam. Jika memakai cara celup maka bisa menggunakan Naptol tetapi jika menggunakan teknik colet dengan banyak warna maka yang dibutuhkan adalah Remasol dan kuas untuk memberikan blok pada motif.
 
 
Workshop kecil ini memberikan pencerahan kepada semua tim dalam mendesain motif dan pemilihan warna. Diharapkan proses pembuatan batik selanjutnya dapat berjalan lancar dan menghasilkan karya yang unik. Selamat berproses. (ML).

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook