Menulis dan Mengungkap Kegelisahan

pada hari Jumat, 3 Mei 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Aktivitas menulis mengiringi kehidupan seseorang dilihat dari aktivitas menulis yang berwujud status dan komentar di media sosial, pesan pendek, tugas kuliah dan skripsi. Namun ada juga yang tidak menulis apa pun ke publik karena alasan kurang percaya diri, belum terbiasa dan takut. Perlu dipahami bahwa tulisan yang berkualitas datang dari latihan dan pantang menyerah. Untuk itu Stube-HEMAT Yogyakarta bekerjasama dengan team S2 Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada mengadakan Workshop Menulis Fiksi (Rabu, 1/5/2019) di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.

Dua puluhan mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di berbagai kampus di Yogyakarta mengikuti workshop ini. Dalam pembukaan acara, Trustha Rembaka, S.Th., koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengapresiasi semangat mahasiwa untuk meningkatkan keterampilan menulis fiksi. Setiap orang memiliki cerita hidup masing-masing dan menjadi pelajaran berharga bagi yang lain, jadi yakinlah dan mulailah menulis.
 
Achmad Munjid, M.A., Ph.D., dosen S2 Ilmu Budaya UGM dan fasilitator workshop merasa senang bekerjasama dengan Stube-HEMAT Yogyakarta karena bisa berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia memulai workshop dengan pertanyaan: “Jika seseorang kursus berenang dan pelatihnya hanya memberi buku teori berenang, apakah ia mampu berenang saat ‘nyemplung’ ke kolam? Belum tentu. Ia harus praktek bagaimana berenang, menggerakkan tangan, kaki dan pernafasan. Sama dengan menulis, teori tidak cukup. Ia harus menulis dan terus mengasah keterampilan menulisnya.”
 
Ada berbagai jenis tulisan dan salah satunya adalah fiksi, karya sastra yang berisi cerita rekaan atau imajinasi dan bukan kejadian nyata. Meski imajinasi, penulis fiksi harus mengolah tulisannya agar menarik dan pembaca terkesan dengan tulisan fiksinya. Ia perlu menyadari bahwa tulisan fiksi sebenarnya ungkapan pikiran penulis karena ada konflik yang membuatnya gelisah. Kemudian, ia harus menentukan plot atau alur cerita dari konflik, krisis dan penyelesaian yang memuat 3D, yaitu Drama (menarik perhatian), Desire (hasrat atau antusiasme) dan Danger (bahaya atau tantangan) sehingga pembaca tertarik untuk membaca sampai selesai. Bagian penting lain adalah mendeskripsikan tempat, tokoh, peristiwa atau sesuatu secara spesifik dan nyata yang membuat pembaca merasa ‘seolah-olah’ masuk dalam cerita dan berjumpa langsung dengan tokohnya. Penulis tidak bisa mengatakan ‘makanan ini enak’ karena enak itu relatif. Jadi penulis harus ‘menceritakan’ makanan tersebut, apa saja bahannya, bagaimana tampilan, rasa dan aroma bumbunya. Jika pembaca sampai merasa seperti ‘mencecap’ makanan itu artinya penulis berhasil.


Sebagai latihan, peserta diminta mengamati lukisan dan mendeskripsikan dengan kata-kata dan mencoba ‘masuk’ ke dalam perasaan pembaca. Narasumber mengungkapkan bahwa menulis itu seperti seseorang yang menggali sumur dengan sebatang jarum, menggali tanah dengan perlahan. Sama halnya menulis yang merangkai huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat akhirnya menjadi satu tulisan utuh.
 
“Awalnya saya suka menulis diary isi hati dan cerita anak, tapi malu dan tidak percaya diri kalau orang lain membacanya. Tapi di workshop saya mendapat jawaban bahwa penulis tak perlu memikirkan itu, yang penting tuliskan apa yang ada di pikiran, bahasakan emosi, perasaan dan jangan hiraukan komentar pembaca. Sekarang saya percaya diri untuk menulis”, kata Marina, mahasiswa UMBY dari Riung, Flores.
 
Karena ini adalah tahap awal menulis fiksi dan masih proses belajar, perlu segera menulis dan terus melatih diri. Jadi, mulailah menulis, ungkapkan segala sesuatu yang menggelisahkan hatimu! (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook