Family, Problems and Solutions Parenting Skills Program  

pada hari Rabu, 15 Mei 2019
oleh adminstube
 
Keluarga merupakan pondasi utama yang menjadi kekuatan bangsa dan negara. Untuk itu pengetahuan pola asuh dan relasi yang baik antara anggota keluarga terutama orang tua dan anak bukan hal yang sepele, ditambah lagi pergaulan kehidupan anak muda yang semakin bebas. Inilah mengapa Stube-HEMAT Yogyakarta berinisiatif mengadakan pelatihan ini. Alasan lain yang pertama, setiap mahasiswa adalah hasil pengasuhan orang tuanya dengan beragam situasi dan latar belakang yang mempengaruhi hidup dan perkembangan jiwanya yang juga akan mempengaruhi pola asuh pada keturunan selanjutnya, kedua, setiap mahasiswa akan dihadapkan pada dua pilihan, berkeluarga atau tidak dengan segala konsekuensi yang ada. Kedua pilihan memerlukan pembekalan dan kesiapan masing-masing.

Pelatihan kali ini diikuti tiga puluh mahasiswa yang berkumpul bersama di Griya Sejahtera, Ngablak, Magelang (10-12/05/2019). Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di Yogyakarta. Meskipun memiliki berbagai latar belakang studi, peserta antusias mengikuti pelatihan ini. Para fasilitator membagikan pengetahuan dan pengalaman sesuai kompetensi masing-masing. Sebagai dasar alkitabiah, Pdt. Bambang Sumbodo, mengingatkan peserta atas ancaman gaya hidup modern pada keluarga-keluarga Kristen saat ini dengan mengangkat kisah Musa dan keluarganya. Musa yang berperan sebagai pembebas bangsa Israel dari perbudakan saat itu, tentulah sangat sibuk. Dengan mencermati kisah kunjungan Imam Yitro yang tak lain adalah ayah mertua Musa, ke keluarga Musa, peserta belajar bahwa perlunya saling mendukung dan berinteraksi antar anggota keluarga. Keberhasilan Musa tidak lepas dari dukungan anggota keluarganya.


 
Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, melalui sebuah narasi mengajak peserta melihat kembali perjalanan sejarah Stube-HEMAT, dalam sesi pengenalan lembaga. Topik tentang Pemahaman Hak-hak Anak dan Ruang Berkembang Anak difasilitasi oleh Ahmad Damar Arifin, S.Pd., seorang fasilitator PAUD, pemerhati anak dan pendongeng. Ia mengungkapkan bahwa setiap orang akan menjadi orang tua, tapi tidak setiap orang tua paham bagaimana mendidik anaknya sesuai kecerdasan anak. Ia membekali peserta tentang hak-hak anak sesuai Konvensi Hak-hak Anak PBB tahun 1989 seperti, hak untuk bermain, mendapat pendidikan, perlindungan, nama atau identitas, status kebangsaan, makanan, akses kesehatan, rekreasi, kesamaan perlakuan dan berperan dalam pembangunan.


Selanjutnya Anggraeni Upik Pratiwi, S.Psi., membagikan Tips Memilih Pasangan Hidup yang Ideal dari Aspek Psikologi, yang mencakup pertama, mengenali diri sendiri, kelebihan dan kekurangan; kedua, menentukan kriteria dari pasangan hidup yang diharapkan. Upik menekankan pentingnya kesadaran tentang kriteria yang tidak bisa diubah, misal fisik dan etnis atau keturunan, sedangkan sifat dan hobi bersifat bisa diubah; dan yang ketiga, memperluas interaksi yang membuat seseorang bertemu banyak orang dan memungkinkan mengenal mereka secara mendalam.
 
Kemajuan teknologi mempengaruhi kehidupan keluarga, baik cara komunikasi atau pun interaksi dalam keluarga. Bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi kemajuan teknologi membuat seseorang mampu mengakses informasi tanpa batas, bahkan cenderung individualistis, namun di sisi lain bermanfaat, seperti memasarkan bisnis keluarga, atau komunikasi tatap muka meski di tempat jauh. Hal ini disampaikan oleh Dr. Murti Lestari, M.Si, dosen Fakultas Bisnis UKDW dan praktisi ekonomi. 

Sebuah talkshowFamily, Problems and Solutionsyang menghadirkan Drs. Bambang Hediono, MBA dan istri, yakni Ibu Lucia Nucke Idayani memberi kesempatan peserta berdialog tentang apa yang dialami di keluarga, kriteria pasangan hidup, cara pendekatan dan mengasuh anak. Kedua narasumber sepakat bahwa pasangan hidup harus diperjuangkan meski ada perbedaan di antara mereka, memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, saling percaya, dan memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan.

Sesi analisa kasus menggiring peserta mendalami suatu kasus tertentu dalam keluarga dan mendiskusikan dalam kelompok. Mereka menghubungkan kasus dengan materi pelatihan dan menentukan bentuk tindakan pencegahan, penyelesaian maupun pendampingannya.



Pada hari terakhir pelatihan, kebersamaan dengan jemaat GKJ Gumuk menjadi pelengkap rangkaian kegiatan, dimana para peserta berkesempatan mempersembahkan pujian dalam ibadah Minggu dan menyerahkan buku-buku dan alat peraga untuk sekolah minggu.

Sebagai output pelatihan, para peserta menulis pengalaman anak-anak di daerah dan pergumulan keluarga yang mereka temui. Riskia Gusta Nita, mahasiswa STAK Marturia, asal Lampung mengungkapkan, “Pelatihan ini mengolah sisi dalam diri peserta. Ini bagus diterapkan karena terkadang kita belum memahami diri kita sendiri, lalu bagaimana memilih pasangan hidup dan merancang masa depan. Saya merasa perlu untuk berbagi apa yang saya dapatkan dan rasakan di pelatihan kepada teman-teman di lingkungan saya”.

Pengenalan diri seseorang terhadap dirinya dan pemahaman menjadi orang tua menjadi bekal yang baik untuk merancang dan memasuki masa depan. (TRU).

 

 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook