Connecting Soul, Celebrating Diversity

pada hari Selasa, 27 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
 
Cerdas mengatur perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kunci stabilitas negara dan jaminan rasa aman rakyatnya. Simbol-simbol keagamaan, etnis, ras atau pun kelompok-kelompok tertentu membuat orang terkotak-kotak dalam beragam perbedaan, ditambah lagi syak wasangka dan radikalisme akan menambah kebekuan gap komunikasi dan interaksi antar anggota masyarakat. Pelatihan dengan judul dalam bahasa Indonesia Menghubungkan JiwaMerayakan Perbedaan, menjadi salah satu sumbang sih lembaga Stube HEMAT untuk bangsa ini.
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar-agama Stube-HEMAT Yogyakarta di Hotel Kukup Indah, kawasan pantai Kukup, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat-Minggu 23-25 Agustus 2019, menjadi ajang diskusi dan interaksi mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Utusan Stube-HEMAT dari Bengkulu, aktivis Stube-HEMAT Sumba dan peserta program South to South dari Student Christian Movement of India (SCMI) turut ambil bagian menyumbangkan pemikiran dalam pelatihan tiga hari tersebut.


Connecting Soul Celebrating Diversity mendorong peserta untuk saling mengenal meski beragam latar belakang dan bersama-sama mengkampanyekan keberagaman di Indonesia. Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif, menyampaikan seluk-beluk pelayanan Stube HEMAT, juga keragaman networking di level internasional, yang menuntut setiap individu memahami keberadaannya sebagai bagian dari keragaman itu sendiri. Student Christian Movement of India (SCMI) menjadi salah satu keragaman networking yang dimiliki lembaga ini. Inbaraj Jeyakumar, Sekretaris Umum SCM of India mengungkap rasa senangnya bertemu dengan mahasiswa di Indonesia dan bergerak bersama SCMI untuk memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan kemanusiaan.


Menjawab Keberagaman Agama & Budaya di Indonesia, sebuah tantangan atau peluang? Wening Fikriyati, dari Srikandi Lintas Iman (Srili) membuka pemikiran peserta dengan menulis karakteristik dirinya, misalnya etnis, warna kulit, agama, bentuk rambut, dan karakteristik lainnya. Selanjutnya, peserta diantar memahami syak wasangka melalui ‘games’ menebak benda yang ada dalam sebuah wadah tertutup. Peserta berhasil menyebutkan beberapa benda, namun ada yang terlewat karena ukurannya kecil dan tersembunyi. Dari sini peserta belajar bahwa mudah menilai sesuatu karena sering berjumpa tapi ada yang terlupakan karena jarang berjumpa. Dalam satu wadah Indonesia, keberagaman budaya, etnik, ras dan agama akan tidak harmonis jika tidak dikelola dengan baik, bahkan bisa merusak wadah yang ada. Jadi, wadah ini harus terus terpelihara dengan saling mengenal dan menghargai keberadaan masing-masing melalui interaksi lintas budaya lintas agama, karnaval budaya, dan lain-lain.


 
 
 
Sebagai bukti keragaman yang ada, para peserta mengenakan kostum daerah masing-masing, seperti Lampung, Sumba, Nias, Timor Leste, Kalimantan, Flores, Sumatera Utara dan Jawa dalam parade budaya dengan berjalan kaki berkeliling pantai Kukup sebagai sarana edukasi kepada masyarakat betapa kayanya budaya Indonesia. Parade ini mengawali diskusi tentang Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul bersama Pdt. Christiana Riyadi, Bilal Ahmad dari JAI, Pdt Lucas, dan Budi perwakilan PDHI. Sekolah Kebhinnekaan ini digagas oleh gereja-gereja Klasis Gunungkidul bersama NU, Fatayat, MBI, PDHI, JAI dan lembaga-lembaga lainnya sebagai sarana edukasi kepada remaja lintas agama tentang karakter inklusif dan toleran di Gunungkidul melalui interaksi bersama, menyaksikan film pendek tentang toleransi, berkunjung ke rumah-rumah ibadah, tinggal bersama penduduk yang berbeda agama dan merancang kampanye keberagaman dan toleransi.


 
Selanjutnya peserta mendalami contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti Sandinganeng di Halmahera daSintuwu Maroso di Poso. Malam pentas budaya dan seni tidak kalah serunya dengan penampilan para peserta melalui nyanyian daerah Kepulauan Aru dan Nias, puisi, gerak lagu dari India dan teater oleh peserta pelatihan. Semakin kuatlah ikatan kebersamaan antar peserta.





Aksi lanjut peserta dengan bekal dan pengalaman baru yang mereka dapat di pelatihan, diwujudkan dalam rencana aksi mereka untuk menyuarakan sikap toleransi, pemahaman inklusi dan kebersamaan melalui video keberagaman, tulisan tentang warisan budaya daerah, diskusi mahasiswa dan partisipasi dalam gerakan lintas agama dan lintas budaya. Harapan nantinya setiap orang menemukan keterkaitan satu sama lain tanpa prasangka dan menemukan keindahan keberagaman di Indonesia. (TRU).





 


 


 

 
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook