Memperkuat Relasi dan Mendalami Kehidupan di Indonesia

pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019
oleh adminstube
 

 

 
Tahun 2017 menjadi awal interaksi mahasiswa Indonesia dan Student Christian Movement in India (SCMI) dalam program South to South Exchange Program ke India, yang menumbuhkan antusiasme kedua belah pihak untuk semakin mengenal dan memperkuat relasi sebagai anak muda dari negara di kawasan yang sama, Asia. Kedua negara ini sama-sama sedang berjuang meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan mengacu pada Tujuan Pembangungn Berkelanjutan (SDGs) meskipun ada banyak tantangan sosial, budaya dan kehidupan masyarakat. South to South Exchange program diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pembelajaran bagi mahasiswa dari kedua negara tersebut mengenai isu-isu SDGs. South to South Exchange Program ke Indonesia sebagai tindak lanjut program tahun 2017, dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 29 Agustus 2019 yang didukung oleh Ecumenical Scholarship Program - Brot fur die Welt (BfdW), Jerman.

Program ini memberi kesempatan peserta memahami realita kehidupan mahasiswa di Indonesia; mempelajari keragaman budaya, isu dan tantangan berkaitan kekayaan alam; mengamati praktek pertanian alternatif yang berkelanjutan; dan terlibat dalam dialog lintas iman. Peserta SCMI terdiri dari dua pendamping dan tujuh mahasiswa, yaitu, Tolly Yeptho, Rebekah Rajkumar, Larihun Lyngdoh, Minta Varghese, Santhi Perusetti, Sharon Christy, Imlikokba Kichu dan dua pendamping, yaitu, Inbaraj Jeyakumar dan Ibatista Shylla.

Bersama mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta, mereka mengenal kota Yogyakarta termasuk Sumbu Filosofis kota ini dan mengunjungi kraton Yogyakarta dan kebun binatang Gembira Loka. Berkaitan dengan pertanian berkelanjutan di Indonesia mereka belajar di kawasan Samas, dimana lahan pasir kering dikelola sedemikian rupa menggunakan kompos dan sistem irigasi pipa sehingga menjadi lahan pertanian yang produktif. Para petani setempat memanfaatkan lahan pasir menjadi lahan pertanian yang produktif, seperti bawang merah, cabe, kacang hijau, jagung dan terong. Mengantisipasi permainan harga oleh para tengkulak mereka memperkuat diri melalui koperasi petani yang memfasilitasi modal dan penjualan hasil panen.

 
Sebagai bentuk pengenalan budaya dan sejarah, mahasiswa India berkesempatan mengunjungi candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia. Sebagai salah satu warisan dunia, candi ini sangat megah dan unik dimana susunan setiap batu saling mengunci satu sama lain sehingga struktur candi menjadi kuat, sementara ornamen dan relief candi terpahat detil dan hal itu memukau mereka. Pelatihan Multikultural dan Dialog Antaragama dimana puluhan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta terkumpul dalam pelatihan ini dan menjadi ruang dialog yang berharga karena masing-masing peserta baik dari Indonesia dan India bisa mengenal dan bertukar pengalaman mengenai studi, budaya dan kehidupan. Tak ketinggalan praktek membatik tulis khas Yogyakarta, ‘henna’ seni lukis tangan India dan sajian khas kuliner India, seperti puri, masala, chapati, yoghurt atau pun chai tea melengkapi pemahaman aspek budaya. Dialog dengan organisasi mahasiswa Kristen, GMKI dan menyaksikan film Bumi dan Manusia memberi informasi pergerakan mahasiswa dan sejarah perjuangan bangsa Indonesaia di masa penjajahan, khususnya kehidupan perempuan.


“Saya baru pertama kali menemukan sistem pertanian lahan kering dengan mengolah lahan yang tidak produktif menjadi produktif. Saya pikir ini bisa diterapkan di India sebagai alternatif pertanian di lahan yang kering dan saya ingin membagikan apa yang saya alami di daerah saya, ”ungkap Imlikokba Kichu, salah satu peserta dari India. Ada banyak lagi pengalaman dan kesan positif dari para mahasiswa SCMI atas kegiatan yang dilakukan di Indonesia seperti penataan kota, kebersihan, fasilitas untuk orang cacat, keramahan masyarakat dan masih banyak lagi.

Pertemuan dan interaksi langsung para mahasiswa lintas bangsa ini tentu saja memberi nilai tambah bagi setiap pihak yang terlibat. Mereka saling belajar sekaligus memperbaiki diri sehingga sumber daya manusia bisa lebih berkualitas untuk mengarah pada peningkatan taraf kehidupan manusia secara universal. (TRU).
 
 
 
 
Connecting Soul,
Celebrating Diversity
 
 
Cerdas mengatur perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kunci stabilitas negara dan jaminan rasa aman rakyatnya. Simbol-simbol keagamaan, etnis, ras atau pun kelompok-kelompok tertentu membuat orang terkotak-kotak dalam beragam perbedaan, ditambah lagi syak wasangka dan radikalisme akan menambah kebekuan gap komunikasi dan interaksi antar anggota masyarakat. Pelatihan dengan judul dalam bahasa Indonesia Menghubungkan JiwaMerayakan Perbedaan, menjadi salah satu sumbang sih lembaga Stube HEMAT untuk bangsa ini.
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar-agama Stube-HEMAT Yogyakarta di Hotel Kukup Indah, kawasan pantai Kukup, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat-Minggu 23-25 Agustus 2019, menjadi ajang diskusi dan interaksi mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Utusan Stube-HEMAT dari Bengkulu, aktivis Stube-HEMAT Sumba dan peserta program South to South dari Student Christian Movement of India (SCMI) turut ambil bagian menyumbangkan pemikiran dalam pelatihan tiga hari tersebut.


Connecting Soul Celebrating Diversity mendorong peserta untuk saling mengenal meski beragam latar belakang dan bersama-sama mengkampanyekan keberagaman di Indonesia. Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif, menyampaikan seluk-beluk pelayanan Stube HEMAT, juga keragaman networking di level internasional, yang menuntut setiap individu memahami keberadaannya sebagai bagian dari keragaman itu sendiri. Student Christian Movement of India (SCMI) menjadi salah satu keragaman networking yang dimiliki lembaga ini. Inbaraj Jeyakumar, Sekretaris Umum SCM of India mengungkap rasa senangnya bertemu dengan mahasiswa di Indonesia dan bergerak bersama SCMI untuk memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan kemanusiaan.


Menjawab Keberagaman Agama & Budaya di Indonesia, sebuah tantangan atau peluang? Wening Fikriyati, dari Srikandi Lintas Iman (Srili) membuka pemikiran peserta dengan menulis karakteristik dirinya, misalnya etnis, warna kulit, agama, bentuk rambut, dan karakteristik lainnya. Selanjutnya, peserta diantar memahami syak wasangka melalui ‘games’ menebak benda yang ada dalam sebuah wadah tertutup. Peserta berhasil menyebutkan beberapa benda, namun ada yang terlewat karena ukurannya kecil dan tersembunyi. Dari sini peserta belajar bahwa mudah menilai sesuatu karena sering berjumpa tapi ada yang terlupakan karena jarang berjumpa. Dalam satu wadah Indonesia, keberagaman budaya, etnik, ras dan agama akan tidak harmonis jika tidak dikelola dengan baik, bahkan bisa merusak wadah yang ada. Jadi, wadah ini harus terus terpelihara dengan saling mengenal dan menghargai keberadaan masing-masing melalui interaksi lintas budaya lintas agama, karnaval budaya, dan lain-lain.


 
 
 
Sebagai bukti keragaman yang ada, para peserta mengenakan kostum daerah masing-masing, seperti Lampung, Sumba, Nias, Timor Leste, Kalimantan, Flores, Sumatera Utara dan Jawa dalam parade budaya dengan berjalan kaki berkeliling pantai Kukup sebagai sarana edukasi kepada masyarakat betapa kayanya budaya Indonesia. Parade ini mengawali diskusi tentang Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul bersama Pdt. Christiana Riyadi, Bilal Ahmad dari JAI, Pdt Lucas, dan Budi perwakilan PDHI. Sekolah Kebhinnekaan ini digagas oleh gereja-gereja Klasis Gunungkidul bersama NU, Fatayat, MBI, PDHI, JAI dan lembaga-lembaga lainnya sebagai sarana edukasi kepada remaja lintas agama tentang karakter inklusif dan toleran di Gunungkidul melalui interaksi bersama, menyaksikan film pendek tentang toleransi, berkunjung ke rumah-rumah ibadah, tinggal bersama penduduk yang berbeda agama dan merancang kampanye keberagaman dan toleransi.


 
Selanjutnya peserta mendalami contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti Sandinganeng di Halmahera daSintuwu Maroso di Poso. Malam pentas budaya dan seni tidak kalah serunya dengan penampilan para peserta melalui nyanyian daerah Kepulauan Aru dan Nias, puisi, gerak lagu dari India dan teater oleh peserta pelatihan. Semakin kuatlah ikatan kebersamaan antar peserta.





Aksi lanjut peserta dengan bekal dan pengalaman baru yang mereka dapat di pelatihan, diwujudkan dalam rencana aksi mereka untuk menyuarakan sikap toleransi, pemahaman inklusi dan kebersamaan melalui video keberagaman, tulisan tentang warisan budaya daerah, diskusi mahasiswa dan partisipasi dalam gerakan lintas agama dan lintas budaya. Harapan nantinya setiap orang menemukan keterkaitan satu sama lain tanpa prasangka dan menemukan keindahan keberagaman di Indonesia. (TRU).





 


 


 

 
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook