Membongkar Paradigma Lama Mencerahkan Pikiran Baru        

pada hari Selasa, 17 Maret 2020
oleh Stube HEMAT
Isu intoleransi marak di Indonesia dan selalu diperbincangkan masyarakat baik dalam obrolan sehari-hari, media sosial, sampai seminar oleh akademisi, organisasi mahasiswa dan praktisi komunitas berkait tema Kebhinnekaan dan Pancasila sebagai penegasan persatuan dan kesatuan bangsa dalam kenyataan bangsa ini yang beragam, wilayah geografis, penduduk, budaya dan agama. Awalnya isu intoleransi menjadi pertanyaan dalam diri saya karena selama di Nias saya hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah dan gereja yang interaksinya cukup baik, identik dengan masyarakat Nias atau Ono Nihadan beragama Kristen Protestan maupun Katolik. Karena mayoritas kristiani ini ada satu tradisi unik, yaitu tiada pesta tanpa babi, artinya setiap acara adat seperti pesta pernikahan, kedukaan, syukuran dan penyambutan tamu selalu menyediakan ‘zimbi mbawi sebagai simbol kebersamaan.

 


 

Pada perkembangannya, orang-orang datang dari pulau Sumatera dan Jawa tinggal di Nias karena pekerjaan dan perdagangan. Sebagian dari mereka beragama Islam dan memakai nama marga Nias dan perlahan terbentuk interaksi baru dalam masyarakat Nias yakni suatu kelompok masyarakat yang hidup berdampingan dalam perbedaan. Namun, tidak dapat dipungkiri pada awalnya kurang senang ketika seorang guru beragama lain tidak mau makan makanan selain dari warung makan yang dikelola orang seagamanya, suara speaker masjid yang setiap sore begitu keras terdengar, berita tentang teroris yang dilakukan oknum agama tertentu, termasuk persepsi awal saya terhadap Katholik, Budha, Hindu, Konghucu adalah agama yang menyembah patung. Itulah serpihan-serpihan pengalaman yang terus ada dalam pikiran saya.

 

 

Setelah melanjutkan studi di Yogyakarta untuk kuliah Ilmu Pemerintahan di STPMD “APMD” Yogyakarta, saya tinggal di kost bersama mahasiswa dari berbagai daerah yang berbeda suku dan agama. Perbedaan sangat saya rasakan dan mendorong rasa ingin tahu saya tentang berbagai hal termasuk agama dan sebagian dari mereka memberi respon baik meski sebagian tidak. Di sini saya belajar menghayati kekhasan sendiri sebagai jati diri sekaligus terus beradaptasi dengan sekitar. Namun demikian, pemberitaan politik identitas, terlebih tentang agama, mayoritas dan minoritas, pribumi dan pendatang marak di media sosial. Dari sudut pandang Ilmu Pemerintahan, isu ini menarik perhatian saya untuk ditelisik lebih dalam mengapa terjadi, dengan mengikuti sejumlah diskusi dan seminar dari berbagai lembaga di Yogyakarta termasuk Stube HEMAT Yogyakarta dengan tema Bersama Merangkai Indonesia di mana saya menjadi bagian di dalamnya.

 


 
 

 

 
Dalam kegiatan ini, saya bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah, berbeda kepercayaan dan kebiasaan hidup, serta memiliki minat bakat masing-masing. Tidak hanya bertemu, tetapi juga tegur sapa, senyum dan pelukan kasih, sampai keberanian mendialogkan lebih dalam tentang keyakinan masing-masing. Tidak ada rasa curiga dan kebencian, yang ada kami saling terbuka mengekspresikan rasa persahabatan dan persaudaraan. Menariknya lagi, saya mendapat kesempatan berkunjung ke tempat ibadah agama lain dan saya memilih Vihara untuk menjawab rasa penasaran saya. Di pelatihan ini saya menemukan penerimaan terhadap keragaman yang memberi semangat baru untuk memahami dan memaknai keindonesiaan sehingga mendorong saya berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa diungkap di sembarang tempat sekaligus menyatakan kasih kepada sesama sebagai wujud nilai-nilai kekristenan. Sebaliknya, saya juga terbuka ketika orang lain ingin tahu lebih dalam tentang suku maupun agama saya. Keterbukaan ini membentuk suatu hubungan manusia yang harmonis dan menerima perbedaan yang ada. Bahkan salah seorang peserta pelatihan mengungkapkan “pada dasarnya, kita mesti memberanikan dan membiasakan diri berada di daerah yang plural, kita bisa hidup berdampingan tanpa merusak keyakinan kita sendiri”

 

 

 

Dari pelatihan ini saya merefleksikan bahwa dalam hidup sehari-hari sikap eksklusif tentang diri sendiri, suku maupun agama bisa muncul bukan secara tiba-tiba, tetapi akumulasi peristiwa-peristiwa sebelumnya dari pengalaman pribadi, lingkungan dan media. Pola pendidikan saat ini belum mampu mengakomodir dan menjadi sarana penyadaran dan penerimaan terhadap keberagaman. Media juga berperan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat yang mudah ‘melahap informasi. Mahasiswa perlu ruang untuk berjumpa langsung dengan orang lain yang berbeda karena mahasiswa tidak bisa mendapat informasi dari media saja. Keberanian diri bertemu dan berdialog dalam perbedaan akan membongkar ‘truth claim yang cenderung menghasilkan kecurigaan, sikap eksklusif, stigma dan stereotype, sehingga mahasiswa memiliki pencerahan dan pemikiran baru tentang hidup berdampingan di tengah keberagaman. (Putri Laoli).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook