Pygmalion Effect    

pada hari Kamis, 19 Maret 2020
oleh adminstube
Selalu teringat kata-kata ini, ‘perempuan yang menginspirasi dan pemberani’ yang muncul dalam doa yang terucap dari mulut Ayah ke langit agar terus terwujud. Mutiara itu perhiasan, dia akan dijaga keindahannya, tapi tergantung siapa pemiliknya’ ungkapnya. Saya selalu percaya dan membawa dalam doa sampai saya mewujudkannya. Sebagai anak kedua dari 3 bersaudara dan perempuan satu-satunya membuat saya berjuang hidup mandiri. Lulus SMK tahun 2017 sebagai lulusan terbaik serta diterima di kampus seni impian, Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Desain Interior adalah hadiah besar yang saya dapatkan setelah perjuangan panjang dan mendapat beasiswa Educlinic pada tahun 2016-2017 dengan tanggung jawab besar untuk berkontribusi di masyarakat. Saya suka belajar hal-hal baru sehingga suka bertanya sewaktu di SMK dan akhirnya sering menjadi utusan seminar daerah dan nasional maupun diskusi publik lainnya.

 

 

 

Seperti ada Pygmalion Effect yang selalu saya lihat ke depan bahwa apa yang saya lakukan adalah doa terbaik dan versi terbaik dari sebuah harapan panjang yang membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Pygmalion Effect sendiri adalah istilah tentang ekspektasi yang disematkan kepada seseorang, maka ia akan semakin meningkat kualitasnya dan mencapai ekspektasi tersebut. Ini merupakan bentuk self-fulfilling prophecy, baik secara langsung atau tidak langsung yang mendorong terwujudnya prophecy tersebut. Ini mendorong saya berani mengambil risiko dan tantangan sehingga tumbuh berkali-kali lipat lebih cepat, sebuah lompatan pencapaian yang harusnya terjadi beberapa tahun ke depan tapi terwujud dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan lainnya adalah bukan sekedar berani mengambil risiko, tapi juga mampu mengukur resiko yang dihadapi dengan bijak. Mungkin dengan kepintaran seseorang dapat merubah banyak hal tapi perlu jiwa yang bijak untuk mampu mengubah dirinya sendiri.

 


 

Cerita setahun ke belakang, saya mendapat amanah sebagai Presiden Young On Top Yogyakarta. Rasanya masih seperti "am I good enough?" karena banyak orang-orang seumur, lebih senior yang berasal dari kampus yang secara akademis jauh lebih bagus. Apalagi branding YOT Yogyakarta juga harus dijaga, saya dengan background kampus seni seperti memilih keluar dari zona nyaman dan harus belajar extra, dari jarang membaca berita menjadi langganan news, dari jarang membaca buku jadi sering menyambangi perpustakaan dan beli buku. Tujuannya sederhana, supaya bisa nyambung’ ketika berbincang dengan anggota dan flexibel di berbagai topik, agar bisa memberikan valuable feedback kepada mereka. Ternyata, pemimpin sesungguhnya bukan seberapa cerdas ia tampil atau bagaimana pesonanya hadir, tapi tentang makna perilaku setiap manusia dengan keunikan masing-masing. Pemimpin yang mau belajar dan mendengarkan, bertanggung jawab dan berani mengambil risiko. Jawaban ada pada diri kita, be bold with yourself.

 


 

Terlebih ketika aku memilih aktif di Stube-HEMAT Yogyakarta, kegiatan dan value yang diberikan sangat positif. Mendorong berbagai pihak untuk terlibat aktif, dan memberi kesempatan individu baru untuk tumbuh, bahkan karenanya saya berani membuat ‘lompatan besar’ dari Jawa menuju Sumba dalam Exploring Sumba dimana saya benar-benar belajar banyak hal meskipun berbeda agama dan budaya, aku tidak terasing maupun terpisah, malah merasakan perhatian tulus dan bisa saling belajar dan bertoleransi. Juga dalam pelatihan Multikultur beberapa waktu lalu, tantangan lebih ketika menjadi volunteer dengan konsekuensi harus bersiap diri lebih awal sebelum acara berlangsung, kemudian saat berdiskusi dengan teman-teman berbeda agama dan berkunjung ke Vihara Karangdjati, ternyata ada banyak hal yang harus dipahami lebih dalam dan meluruskan asumsi, jangan sampai membuat justifikasi untuk pihak lain. Waktu itu ada yang bertanya kepada saya, "Mengapa Mutiara belajar agama lain?" Jawaban saya sederhana, dengan mempelajari agama berbeda tidak berarti kita meyakininya juga, itu malah semakin menguatkan apa yang telah kita yakini. Belajar memahami berarti memberi ruang saling menghargai dan berbagi kasih dengan banyak orang.

 

 

 

 

Stube menjadi sebuah ekosistem yang dapat membantu kita tumbuh dan membentuk aktualisasi diri dengan baik. Jangan lupa untuk terus memiliki keinginan kuat untuk belajar banyak hal karena dengan mau belajar, kita dapat menemukan banyak kesempatan. Pilihlah ekosistem yang baik untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik pula, lihat bagaimana orang-orang di dalamnya memberi feedback positif. Dari situ akan bertemu orang-orang yang ternyata punya kemiripan visi dan misi. Mereka tidak akan bilang ’wes to koe rasah neko-neko (Sudahlah, kamu tidak perlu macam-macam), tapi mengatakan Bagus, ayoo lanjut lagi’. Dari pemenang nobel atau award, apabila bertemu mereka, mereka seperti padi berisi tapi tetap merunduk. (Mutiara Srikandi).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook