Pendalaman Agama, Kemandirian   dan Kemanfaatan Hidup Di Pondok Pesantren Lintang Songo

pada hari Jumat, 13 Maret 2020
oleh adminstube

 

 

 

Relasi antar agama menjadi topik menarik untuk diperbincangkan karena berkaitan dengan asal usul dan sejarahnya, dinamika ketika bertemu budaya lokal, catatan peristiwa relasi harmonis maupun situasi konflik sampai ‘memanfaatkan’ agama untuk kepentingan tertentu. Namun demikian, pengayaan pengetahuan dan pengalaman interaksi antar agama tetap penting, terlebih oleh mahasiswa sebagai masyarakat terdidik yang nantinya menjadi aktor penggerak masyarakat di daerah dan membangun kesadaran keberagaman Indonesia.

 


 

Pemikiran ini mendorong Stube-HEMAT Yogyakarta dalam rangkaian pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama di Wisma Pojok Indah, 6-8 Maret 2020 untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta dengan eksposur ke berbagai tempat ibadah dan berdialog dengan pemuka agama, salah satunya ke Pondok Pesantren Lintang Songo di Piyungan, Bantul, di mana kelompok yang beranggotakan Topik Hidayatullah, Maritjie Kailey, Rivaldo, Aver Gulo, Lenora Nada, Yonatan Prisitiaji, Natra Marten, Rudi Malo, Sukaningtyas, Wilton dan Trustha berdialog dengan pengasuh dan santri dan mengamati kehidupan mereka. Bapak H. Drs. Heri Kuswanto, M.Si merupakan pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang berdiri sejak 2006 dengan nama Islamic Study Center (ISC) Aswaja Lintang Songo, dengan harapan menjadi lembaga pendidikan Islam yang bervisi terwujudnya santri yang berkualitas, mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat, santri memiliki pemahaman Islam yang dalam, memiliki keterampilan hidup untuk mandiri dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

 


 

Saat ini ada tujuh puluhan santri dari berbagai daerah dan suku, dari usia anak-anak sampai dewasa, dari pra-sekolah sampai mahasiswa. Sebagai santri mereka bersekolah dan kuliah di lingkungan pesantren maupun di luar, mengaji tauhid, fiqh, akhlak, tarikh, Al Quran dan kitab-kitab lainnya, dan mendalami keterampilan hidup seperti pertanian, peternakan, perikanan, seni budaya dan produksi sabun cuci. Pondok pesantren ini juga menerapkan konsep ‘home-garden’ yaitu memanfaatkan lahan untuk tanaman padi, cabe, sayuran, jeruk, jambu dan mangga, juga memelihara ternak seperti, bebek, kalkun, burung puyuh, kelinci dan kolam ikan. Kemudian cafe sebagai ‘fund-raising’ sekaligus tempat belajar kewirausahaan dari pengolahan makanan sampai tata cara penyajiannya.

 




 

“Kami terbuka dengan berbagai pihak dari dalam dan luar negeri, dan menjadi mitra dialog lintas iman baik tentang ilmu agama maupun keterampilan hidup yang dikembangkan di pondok pesantren ini. Harapan setelah nyantri di tempat ini, mereka memiliki pengetahuan umum dan agama, ketika mereka berkeluarga mereka mandiri secara ekonomi karena bekal keterampilan berwirausaha yang telah dipelajari di sini,” papar Heri Kuswanto.

 


 

Kunjungan ini menjadi pengalaman baru tentang proses pembangunan manusia yang utuh dari sisi spiritual, kemandirian hidup dan keterhubungan dengan alam. Sekarang tidak lagi membahas agama mana yang paling benar tapi hubungan dengan Tuhan nampak dalam hubungan antar manusia dan manusia dengan alam. Hendaknya kita belajar memperlakukan sesama manusia dan memanfaatkan alam dengan baik sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta. (WIL).

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook