Prasangka Menjadi Cinta Melalui Dialog

pada hari Jumat, 20 Maret 2020
oleh adminstube

 

 

Dengan cinta tentu prasangka tidak akan ada bukan? Atau prasangka hadir karena tiadanya cinta? Keduanya mungkin terjadi dan sedang menjadi perenungan saya, Siti Muliana, yang lahir dan besar di Konawe, Sulawesi Tenggara. Saat ini saya sedang menempuh program sarjana pada program studi ilmu al-Qur’an dan tafsir di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Ketika berbicara tentang toleransi dan termasuk hubungan antar agama, saya mengenal topik ini ketika bersekolah di Yogyakarta sejak 2014 silam. Bagaimanapun, selama masa tumbuh berkembang hingga saat remaja di Sulawesi Tenggara saya tidak pernah sekalipun berinteraksi dengan kelompok masyarakat yang berbeda etnis maupun agama. Namun demikian, dalam pengamatan saya hingga saat ini, masyarakat di daerah asal saya sebagian masih eksklusif terhadap agama lain.

 

 

 

 

Saya menemukan perspektif baru ketika tinggal dan bersekolah di Yogyakarta di pondok pesantren Sunan Pandanaran, walaupun kehidupan sehari-hari berinteraksi dengan sesama yang beragama Islam, namun tidak membuat kami bersikap eksklusif terhadap agama lain, malah sejak dulu hingga kini, pondok pesantren tempat saya tinggal terbuka dan sering menerima kunjungan tamu dalam maupun luar negeri dengan beragam kepercayaannya. KH. Mu’tashim Billah sebagai pimpinan pondok pesantren selalu mengingatkan kami santri-santrinya, “Siapapun yang bertamu ke pondok, harus dilayani dengan baik sampai merasa di rumah.Begitulah pesan beliau, bahkan saat acara puncak haul Gus Dur pada 27 Februari 2020 yang dihadiri oleh tokoh lintas agama, Kyai Tashim sendiri menyambut tamu-tamu dan memastikan mereka mendapat layanan yang baik. Ini teladan yang Kyai tunjukkan dengan sikap pluralisnya dan mesti diadopsi oleh para santrinya.

 

 

 

 

 

 

Perlahan saya semakin tertarik dengan isu-isu toleransi dan kemanusiaan serta hubungannya dengan kebangsaan, sehingga saya bergabung dengan komunitas Gusdurian pada 2018. Ini merupakan wujud kekaguman saya terhadap Gus Dur yang mengedepankan dialog dan menghindari kekerasan sebagai salah satu pendekatan untuk menemukan titik temu perdamaian Papua dan Aceh, konflik berdarah antar etnis dan agama yang terjadi antara 1998-2000, namun tidak semua berhasil karena berbagai kepentingan politik yang masih mencengkeram kuat dan mendominasi. Dari komunitas Gusdurian ini saya pertama kali mengenal Stube-HEMAT Yogyakarta ketika berpartisipasi dalam pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diadakan Stube-HEMAT Yogyakarta dengan tajuk Bersama Merangkai Indonesia pada 6-8 Maret 2020 di Wisma Pojok Indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Di pelatihan ini saya mendapati bahwa Stube-HEMAT Yogyakarta memberi sumbangsih pada usaha perdamaian melalui pelatihan yang mengedepankan dialog disertai kunjungan ke tempat ibadah umat beragama, sebagai respon atas fenomena keberagaman saat ini yang menggaung di media sosial tanpa terjadi tatap muka sehingga seringkali memunculkan prasangka. Tidak dapat dipungkiri, melalui sharing pengalaman dari sahabat baru yang mengikuti pelatihan ini terungkap prasangka-prasangka yang ada sebelum pelatihan dan dialog terjadi, bahkan masih ada dendam dan trauma masa lalu, belum lagi, politik identitas marak terjadi beberapa tahun lalu. Sikap eksklusif, mengeneralisasi dan truth claim di masyarakat konservatif semakin menunjukkan eksistensinya di media sosial. Kelompok eksklusif sendiri merupakan kelompok yang mengklaim kebenaran hanya miliki mereka (truth claim) dan menolak keyakinan kelompok lain. Realitas tersebut tentu bisa dihilangkan dan disingkirkan melalui pertemuan dan dialog sebagaimana dilakukan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta agar saling terbuka dan mengenal satu dengan yang lain. Selain itu, mari memupuk cinta melalui temu dan dialog. Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

Di akhir pelatihan, peserta baik individu atau kelompok memiliki rencana tindak lanjut pasca pelatihan tersebut. Saya bergabung dalam kelompok yang merancang membuat film pendek bertema keberagaman. Sedangkan secara individu, saya berencana memberikan materi yang saya dapat di pelatihan kepada anak-anak usia remaja yang di bawah ampuan saya di pondok pesantren, khususnya terkait keberagaman. Harapannya, covid-19 yang memaksa kita untuk tetap di rumah dan melakukan social distancing bisa reda dan kami bisa melanjutkan kedua rencana tindak lanjut tersebut demi menyemai sikap toleran dan menghargai keberagaman. (Siti Muliana).

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook