Mengolah Konten yang Memiliki Kekuatan (Mempengaruhi dan Menggerakkan)

pada hari Senin, 14 September 2020
oleh Wilton P.D. Ama

 

Media digital telah berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan semakin banyak diakses oleh masyarakat. Terlebih saat situasi pandemik dimana interaksi sosial secara langsung menurun drastis karena adanya pembatasan interaksi untuk menahan sebaran virus. Penggunaan media digital melonjak drastis karena beragam aktivitas dialihkan dari rumah, seperti belajar dari rumah, bekerja dari rumah, juga transaksi, semua menggunakan perangkat elektronik. Namun demikian pemanfaatan teknologi digital di Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara merata karena beragam kondisi, dari jaringan komunikasi yang belum menjangkau setiap wilayah, keterbatasan pengetahuan dan kemampuan seseorang mengoperasikan perangkat digital dan belum meratanya kepemilikan perangkat digital di masyarakat meskipun populasi telepon genggam lebih banyak daripada populasi penduduk.

 

 

Realita ini diungkap dalam Workshop Stube HEMAT Yogyakarta sebagai bagian program Cyber Awareness pada 12 September 2020 tentang Media Digital, Konten dan Komunikasi, yang mengupas strategi memanfaatkan media digital, mengolah konten supaya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang. Dr. Leonard C. Epafras, M.Th, seorang peneliti dan dosen teologi UKDW Yogyakarta dan ICRS dalam paparannya mengungkapkan bahwa interaksi masyarakat akan bergeser memanfaatkan media digital seiring perkembangan teknologi dan mereka dari generasi Z dan generasi milenial muda memiliki presentase lebih tinggi dibandingkan genereasi boomer dan generasi X dalam pemanfaatan media digital seperti website, media sosial, video digital, gambar, audio dan aplikasi lainnya. Lebih lagi, kesenjangan digital masih terdapat di beberapa daerah di Indonesia karena keterbatasan infrastruktur dan jangkauan sinyal (sebagian besar terkonsentrasi di pulau Jawa), ketersediaan perangkat, polarisasi pasar tenaga kerja dimana nantinya sebagian pekerjaan manusia akan hilang digantikan mesin. Kesenjangan ini dapat berefek pada perkembangan nilai ekonomi, sosial dan budaya serta berdampak pada teknologi informasi dan komunikasi bahkan lingkungan sosial pun ditentukan oleh sistem digital dengan algoritma tertentu sehingga bisa mempengaruhi perkembangan modernisasi.

 

 

 

Mempertimbangkan bahwa orang-orang dari generasi Z dan milenial muda mendominasi penggunakan media digital, penggunaan telepon genggam lebih banyak dibandingkan PC, cenderung menyaksikan video dan gambar bergerak dan memanfaatkan media sosial seperti Youtube, WhatsApp, Facebook dan Instagram, maka dalam pembuatan konten digital agar memiliki ‘kekuatan’ untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang, mau tidak mau harus: (1) mengenali siapa dan dimana orang atau sekelompok orang yang menjadi target dari suatu konten; (2) bahwa sajian perlu dikemas secara audio visual dan penting untuk memasukkan unsur cerita, bahkan dramatisasi diperlukan untuk memperkuat cerita; (3) menghindari konten dengan waktu dan durasi yang panjang; (4) memanfaatkan unsur personalitas maupun institusi sehingga memuncukan keterhubungan atau connectedness. Terkadang konten yang berkualitas diperhadapkan dengan logika viral yang terkadang malah berlawanan, karena konten yang menjadi viral lebih cenderung pada isu yang kontroversial, tidak lazim, remeh tapi lucu dan unik.

Jadi, untuk mengolah konten yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang memang tidak mudah dan kuncinya adalah perlu terus belajar, evaluasi dan inovasi. Tidak sekedar menjadi viral tetapi memiliki kontribusi positif artinya membawa kebaikan dan mengispirasi orang lain bahkan masyarakat. Mari anak muda dan mahasiswsa, mulai mengolah konten yang berkualitas, dan teroboslah tantangannya.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook