Tetap Berdisiplin Prokes dan Bersolidaritas

pada hari Sabtu, 26 Juni 2021
oleh Thomas Yulianto

(Seminar PGIW DIY tentang  Manajemen Penanganan Covid 19)

 

Oleh: Thomas Yulianto

 

 

 

Sejak awal tahun 2020, Covid-19 belum berakhir hingga saat ini tahun 2021, justru di Indonesia ada varian Covid-19 jenis baru yaitu jenis Alpha dan Delta dan sudah merebak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Varian virus jenis baru ini memiliki gejala yang lebih parah dibandingkan dengan virus sebelumnya. Bagi orang yang terpapar virus jenis baru tersebut akan mengalami demam, sesak napas, batuk kering sampai pada hal buruk yakni kematian apabila tidak tertangani. Mengingat virus Covid-19 ini merupakan jenis penyakit menular, maka diperlukan penanganan penyebaran virus tersebut secara cepat dan tidak bisa ditunda. Sangat disayangkan ketika virus varian baru sudah menginfeksi banyak orang, masyarakat justru enggan untuk bekerja sama memerangi penyebaran virus tersebut. Hal itu disebabkan oleh kejenuhan masyarakat dalam menaati protokol kesehatan demi memutus penyebaran Covid-19 varian baru.

 

 

Dari data kasus Covid-19 meningkat, tercatat di minggu terakhir Juni 2021 mencapai lebih dari 20.000 orang yang terpapar dalam sehari (24 Juni 2021 ada 20.574 kasus), sehingga perlu mendapat perhatian serius. Sebagai bagian dari upaya penguatan masyarakat dalam menghadapi pandemi, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Daerah Istimewa Yogyakarta menginisiasi Seminar dan Pelatihan Manajemen Penanganan Covid-19 dan Masalah Kebencanaan Alam di Wisma Immanuel, Samirono, kecamatan Depok, Sleman pada hari Jumat, 25 Juni 2021 dengan mengundang perwakilan gereja-gereja di DIY dan lembaga masyarakat termasuk organisasi mahasiswa.

 

 

Berkaitan dengan topik ini PGIW DIY menyediakan narasumber yang berhubungan dengan penanganan Covid-19 dan Kebencanaan Alam, antara lain Satgas penanganan Covid kecamatan Depok, yang juga sebagai Sekretaris Kecamatan Depok, Wakhid Basroni, S.IP. M.Si., yang mengungkapkan bahwa penanganan pandemi khususnya di kecamatan Depok memang tidak bisa mengakomodir semua karena keterbatasan personil yang ada di kecamatan Depok, sehingga membutuhkan kerjasama berbagai pihak, baik perangkat pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat sendiri untuk disiplin prokes. Wakhid Basroni mengingatkan bahwa kesadaran diri menjadi kunci. Kepala bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Kecamatan Depok, Aditya Sejati S.K.M, M.K.M., memaparkan bahwa virus akan terus bermutasi sehingga untuk mengantisipasi paparan varian baru, tetap pada prosedur kesehatan yang ada termasuk memeriksa ketersediaan air bersih, disinfektan secara berkala, kualitas masker dan alat periksa suhu. Berkaitan dengan kebencanaan, Suparlan dari Yayasan Sheep Indonesia mengungkapkan bahwa Covid termasuk bencana dan diklasifikasikan sebagai bencana non alam, yaitu wabah penyakit. Ada dua sisi yang bisa dilakukan, yaitu penanggulangan bencana untuk menangani virusnya dan pengurangan resiko bencana dengan disiplin prokes dan vaksinasi. Vaksinasi merupakan tanggung jawab pemerintah dan selayaknya didukung. Kenyataannya program vaksinasi disambut baik oleh masyarakat, ada yang masih ragu ada yang menolak tetapi ada juga ingin vaksin tetapi kesulitan mengakses informasinya.

 

Dari seminar ini muncul bahasan tentang anak kost yang terpapar Covid-19 dan diminta pindah oleh pengelola kost, agar penghuni kost yang lainnya tidak tertular. Namun tidak serta merta mudah bagi anak kos untuk pindah secara mendadak dan ini mesti mendapat perhatian apakah tindakan pemilik kost sudah tepat dan bagaimana seharusnya? Pemerintah sudah memberikan fasilitas bagi orang yang terpapar Covid-19 berupa tempat tinggal untuk isolasi mandiri atau memenuhi kebutuhan makan 3 kali dalam sehari, serta vitamin. Akan tetapi informasi tersebut belum tersampaikan secara luas. Perlu sosialisasi lebih terkait fasilitas yang diberikan kepada orang yang terpapar Covid-19 dan masyarakat sekitar, sehingga tidak ada disinformasi antara masyarakat dan pemerintah.

 

 

Pada penghujung seminar, Ketua PGIW DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min., menyampaikan bahwa gereja dan lembaga pemberdayaan masyarakat tidak bisa tinggal diam tetapi memberikan sosialisasi. Selain itu gereja perlu bersikap tenang dalam menangani penyebaran Covid-19 tetapi juga bertindak, karena dalam situasi ini pandemi tidak hanya menyerang fisik tetapi juga psikis, disinilah gereja  hadir untuk menyapa, mendampingi dan hadir meskipun secara virtual atau videocall. Gereja harus bergerak dan gereja harus ‘wani repot’ atau berani bersusah payah. 

Sekarang ini kita perlu melangkah dengan semangat baru untuk saling membantu dan memperhatikan sesama yang mengalami sakit, terpapar maupun isolasi, selain pada kesadaran diri untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes). Mari bergerak untuk melindungi diri dan sesama, sekaligus menanggapi panggilan solidaritas kemanusiaan.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook