Berdaya Ala Agradaya (Agraria Berdaya)

pada hari Kamis, 17 November 2022
oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.
Oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.,          

 

Apakah setiap orang tertarik untuk menyelesaikan masalah orang lain? Belum tentu. Jangankan menyelesaikan masalah orang lain, masalah yang dialami diri sendiri belum tentu bisa diatasi. Ini bisa jadi penyebab minimnya wirausaha sosial. Jiwa wirausaha sosial harus ditumbuhkan dan dibentuk, khususnya di antara mahasiswa dan anak muda. Stube HEMAT Yogyakarta memantik mahasiswa belajar Social Entrepreneurship, agar mampu memetakan permasalahan sosial yang terjadi di daerah mereka yang sering terabaikan. Proses pelatihan memberi para mahasiswa tak hanya teori tetapi kunjungan langsung untuk belajar lebih mendalam dari pengalaman orang lain.

 

 

Salah satu rangkaian pelatihan Social Entrepreneur, sekelompok peserta berkunjung ke Agradaya (Agraria Berdaya), sebuah usaha bisnis pertanian yang berpusat di desa Sendangrejo Minggir, Sleman, kurang lebih 15 kilometer Barat Laut kota Yogyakarta (12/11/2022). Mahasiswa berdiskusi bersama Andika Mahardikainisiator Agradaya, seputar bagaimana kondisi awal munculnya Agradaya. Menurut Andika,  Agradaya muncul dari realitas sosial berupa anjloknya harga empon-empon ketika petani empon-empon panen raya. Ini menyebabkan petani tidak mendapat keuntungan dan tidak bisa meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Melihat kondisi ini akhirnya Andika Mahardika dan Asri Saraswati mendirikan Agradaya di tahun 2016.

 

 

Agradaya bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) di kawasan bukit Menoreh, kabupaten Kulonprogo yang menanam empon-empon dan panennya melimpah. Kaum wanita petani mendapat bekal bagaimana memelihara empon-empon dengan baik, memanen dan memulai proses produksi dengan menjemur empon-empon yang masih basahNarasumber mengajak mahasiswa berkeliling melihat rumah surya dan area produksi di Agradaya sambil menjelaskan proses dan kegiatan yang dilakukan.

 

 

Saat berkeliling muncullah pertanyaan mahasiswa tentang bagaimana mengemas produk yang biasa menjadi sesuatu yang memilki nilai ekonomis tinggi? Andika menjelaskan bahwa pemasaran produk Agradaya juga memikirkan desain produk, dengan mendesain kemasan produk secara cantik dan menarik dengan label AgradayaProduksi dengan inovasi baru bisa menghasilkan lebih dari seratus kemasan produk per hari. Promosi produk memanfaatkan media sosial dan jaringan, termasuk menyertakan narasi yang memperkuat produk sehingga penjualan meningkat. Kemudian pertanyaan berikutnya berkaitan dengan aneka produk Agradaya. Ada berbagai produk dihasilkan yang dimulai dari proses penjemuran di rumah surya, empon-empon kering selanjutnya diolah menjadi produk dengan berbagai varian rasa, seperti Red Ginger Powder (Jahe Merah Bubuk), Choco Ginger(Jahe Coklat), Turmeric Latte (Kunyit Latte) dan beberapa varian rasa lainnya, termasuk bahan mentah kering.

 

 

Kunjungan ke Agradaya membuka mata mahasiswa bahwa hasil kekayaan alam Indonesia begitu banyak namun kurang sentuhan sehingga cenderung diabaikan. Bisa jadi tanaman yang ada di sekitar kita dianggap biasa saja tetapi di lain tempat ternyata mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ini bisa diketahui jika memiliki pengetahuan dan jejaring yang luas.

 

Mahasiswa, mulailah lihat sekeliling dan temukan permasalahan sosial. Itu menjadi titik pijak untuk memulai langkah pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan kelebihan yang ada di sekitar. Jangan pernah takut untuk mencoba, kegagalan menjadi bagian dari proses belajar untuk membawa perubahan bagi daerah menjadi lebih baik. ***

 


 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook