Mengurangi Hambatan Komunikasi dan Salah Persepsi Refleksi peserta Communication Skills Tahun 2020 gelombang 1    

pada hari Kamis, 30 April 2020
oleh Stube HEMAT
 

 

 

 

 

Bagi saya, Rivaldo Arinanda Padaka, Communication Skills menarik untuk dipelajari karena membantu seseorang mengasah kemampuan mengungkapkan sesuatu untuk mewujudkan tujuan tertentu, atau berbicara demi mencapai prestasi yang baik disesuaikan harapan-harapan yang diinginkan. Ketakutan saya dalam komunikasi ini adalah menyampaikan sesuatu yang salah, tidak percaya diri berdiri di depan kamera, dan malu berbicara di depan banyak orang.

 

 

 

 

 

 

Pada kesempatan ini saya mengikuti training Communication Skills Stube Hemat Yogyakarta yang bermanfaat untuk pengembangan diri, setelah pelatihan Multikultur yang saya ikuti bulan Maret lalu. Dalam pendampingan Communication Skills ini saya menemukan banyak hal yang harus diperbaiki dalam komunikasi seperti verbal grafitti, yang harus dihilangkan. Bagi saya Public Speaking yang baik adalah penyampaian berbicara yang sistematis dan membuat orang lain tidak bosan mendengarkan dan mampu meyakinkan orang lain dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya saya merancang video sebagai alat menyampaikan informasi kepada orang lain guna kebaikan bersama dengan mengurangi penyebaran virus Covid-19 di masyarakat, dengan berpartisipasi bersama-sama demi menjaga kesehatan. Dalan pelatihan dan pembuatan vidio ini saya didampingi oleh Erik Poae dan Thomas Yulianto dari team Stube Hemat Yogyakarta secara online selama satu minggu dan sesuai latar belakang saya Teologia kependetaan. Hasilnya adalah video pendek renungan berjudul “Ketaatan Di Tengah-tengah Covid-19” yang diunggah di YouTube Stube-HEMAT Yogyakarta melalui link https://youtu.be/Wj3nOp2R05c

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan ini bermanfaat membentuk cara komunikasi yang benar yang disampaikan kepada publik berkait pandemi dan masyarakat taat pada anjuran pemerintah demi mengatasi penyebaran Covid-19. Ini menjadi tanggungjawab bersama demi kebaikan masyarakat. Terlebih di masa pandemi ini, ada kebutuhan perlunya orang yang memiliki kemampuan berbicara untuk menyampaikan suatu pesan dengan baik dan mudah dipahami.

 

 

 

Mulai saat ini, saya belajar memperbaiki kemampuan komunikasi melalui berbagai media komunikasi, mengurangi hambatan komunikasi dalam diri dan mengurangi faktor kesalahan persepsi (salah pengertian) yang disebabkan cara berkomunikasi yang kurang jelas atau kurang memahami bagaimana menyampaikan suatu pesan terlebih ketika sudah bekerja dalam dunia pelayanan. Terima kasih Stube Hemat. (Rivaldo Arinanda Padaka)


  Bagikan artikel ini

    Menantang Diri Mengasah Jurus Komunikasi   Refleksi peserta Communication Skills   Tahun 2020 gelombang 1  

pada hari Rabu, 29 April 2020
oleh Stube HEMAT
 

 

 

 

 

Saya Irene Berta Meida Zalukhu, akrab dipanggil Iren, berasal dari Nias, Sumatera Utara. Saat ini saya sedang menempuh kuliah di kampus STPMD “APMD” Yogyakarta jurusan Ilmu Pemerintahan. Awalnya, saya ingin membuka pikiran mengapa saya mendapatkan pengalaman menarik ini. Kata orang, pengalaman merupakan guru terbaik yang mampu mengajari kita banyak hal. Pengalaman juga dianggap sebagai sesuatu yang bernilai. Ya, seperti kalimat yang sering terucap “Untuk mencari dan memperoleh pengalaman”, hingga saya menemukan pengalaman baru saat mengikuti training online yang dilaksanakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Awalnya saya mengenal lembaga ini dari kakak yang juga dari Nias dan tinggal di Yogyakarta. Pertama kali saya mengikuti pelatihan lintas iman dan budaya selama tiga hari dan mendapat wawasan baru bersama teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Timor Leste dan India. Mulai saat itu saya aktif di dalamnya termasuk menampilkan tarian daerah saat konferensi internasional. Ini kebanggaan bisa berpartisipasi di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

Saat memasuki masa Pandemi Covid-19, dimana situasi di luar sana tidak kondusif, perkuliahan dilakukan secara online dan saya menghabiskan hari hanya di kost. Hingga akhirnya saya menemukan kesempatan baru, mengikuti pelatihan Communication Skills Stube-HEMAT Yogyakarta. Ini menyenangkan sekaligus menantang karena mendapat materi dan topik menarik tentang Public Speaking yang sebelumnya saya tidak ketahui. Ternyata banyak hal yang awalnya saya anggap sepele yakni kebiasaan verbal grafity, penjedaan saat berbicara dengan e..hmm...dll. Saya belajar dan menantang diri sendiri menjadi lebih baik, melalui sebuah video seputar pandemi Covid-19 yaitu tentang haruskah mahasiswa mudik saat pandemi. Ini muncul dari kekhawatiran keluarga dan sanak saudara saya di Nias, karena banyak mahasiswa dari luar daerah kembali ke Nias. Jadi, saya berusaha mencari informasi ini dari beberapa mahasiswa termasuk memberanikan diri saya mencari tanggapan dari anggota DPRD kabupaten Nias Utara. Saat saya mulai mencari informasi pendukung video, ternyata mereka menanggapi dengan senang hati. Tahap take video menjadi bagian yang menantang karena ini pertama kalinya saya tampil melalui video dan menerapkan materi training yang dipelajari sebelumnya, kemudian mengedit sampai finalisasi video meski berkali-kali revisi. Pada akhirnya video diunggah di channel YouTube Stube-HEMAT Yogyakarta dengan link

 

 


 

Saya puas dengan apa yang saya lakukan, bukan kemampuan saya semata, tapi berkat Tuhan yang memampukan dan teman-teman yang mendukung. Saya juga belajar dan memperoleh pengalaman baru, sekaligus menginspirasi teman-teman lain melakukan kegiatan produktif saat pandemi. Lebih lagi, keluarga, teman-teman, dosen, dan Stube-HEMAT memberikan apresiasi dalam berbagai bentuk dan dorongan untuk mengembangkan potensi.

 

 

 

Guru terbaik dalam hidup adalah pengalaman, saya tidak takut untuk memulai mengasah diri dan terus melakukan sepanjang itu baik untuk dilakukan. Yakin bahwa ada orang baik yang selalu mendukung dan mengapresiasi apa yang kita lakukan jika membawa manfaat baik untuk orang lain. (Irene Zalukhu).

 

 


  Bagikan artikel ini

Mengedukasi Meski Sedang Pandemi Refleksi Peserta Communication Skills Tahun 2020 gelombang 1

pada hari Selasa, 28 April 2020
oleh Stube HEMAT

 

 

Saat ini Indonesia sedang mengalami situasi yang tidak mengenakkan, yaitu menghadapi Pandemi Covid-19. Wabah ini melumpuhkan berbagai lini kehidupan masyarakat seperti bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan lainnya. Pemerintah Indonesia sendiri menerapkan beragam kebijakan dan strategi untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona, salah satunya adalah regulasi kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas dari rumah seperti bekerja ataupun sekolah dari rumah.

 

 

 

Dunia pendidikan menjadi salah satu yang terdampak situasi ini, tak terkecuali perguruan tinggi di mana proses perkuliahan mahasiswa yang semula bertemu secara tatap muka berubah menjadi daring atau online, dan ini berarti mahasiswa seluruh Indonesia ‘dirumahkan’. Bagi sebagian mahasiswa, kuliah dengan sistem daring cukup baik karena mereka bisa mengikuti kuliah hanya dengan menggunakan gadget tanpa perlu pergi ke kampus, namun sebagian mahasiswa menganggap ini sungguh membosankan dan sebagian lagi mengalami kesulitan karena berada di kawasan yang tidak terjangkau jaringan komunikasi maupun terkendala biaya untuk membeli paket data komunikasi. Saya sendiri termasuk kelompok kedua yaitu mahasiswa yang mengalami kebosananan dengan kuliah daring, jadi saya berusaha mencari berbagai hal yang bisa mengatasi rasa bosan dan berusaha melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang agar saya tetap produktif seperti membaca buku, menonton film, mendengarkan musik dan bermain sosial media.

 

 

 

Saat sedang asyik menjelajah dunia maya dan linimasa Facebook, saya melihat sebuah postingan dari Stube-HEMAT Yogyakarta yang mempublikasi pelatihan Comunication Skills. Sontak saya langsung tertarik untuk mendaftarkan diri karena saya tahu kalau Stube-HEMAT mengadakan kegiatan itu selalu inspiratif dan bisa menemukan pengalaman baru. Puji Tuhan saya berhasil lolos seleksi dan menjadi salah satu dari 3 peserta gelombang pertama program pelatihan ini. Saya didampingi oleh dua mentor yang baik dan menyenangkan yaitu Trustha Rembaka dan Putri Laoli, dari team Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

Hari pertama dimulai dari proses perkenalan antara peserta dan mentor sekaligus menjelaskan alur program yang akan dilakukan selama proses pelatihan. Fokus pembahasan dalam pelatihan ini adalah perbaikan teknik komunikasi dengan menghasilkan sesuatu yang bisa mengedukasi masyarakat terkait Covid-19. Hari-hari berikutnya saya mempelajari teknik berkomunikasi yang baik, tips berbicara di depan kamera dan sistematika penulisan narasi dan masih banyak lagi, hingga akhirnya saya bersama mentor menghasilkan sebuah video edukasi yang berjudul “Salah Kaprah Pemahaman Istilah Terkait Covid-19” yang menjelaskan istilah-istilah yang muncul berkaitan pandemi Corona, seperti apa itu ODP, PDP, lockdown dan istilah lainnya. Dengan judul ini secara tidak langsung menantang saya untuk mencari sumber yang valid dan bisa dipertanggunjawabkan karena berkaitan dengan informasi dan edukasi publik sehingga saya mencari sumber dari kementerian kesehatan dan media nasional yang kredibel. Silahkan tonton videonya di link https://youtu.be/oqq6rlPR2eM

 

 

 

Video ini membuat saya berproses dalam berbagai dinamika selama  yang mengubah kesadaran, ketrampilan dan kepercayaan diri saya. Awalnya saya mengira teknik komunikasi saya sudah cukup baik, namun ternyata hal tersebut salah karena kesalahan-kesalahan dasar tanpa sadari, seperti verbal grafity, body language serta fokus mata di depan kamera. Selain itu, saya mendapat keterampilan baru dalam membuat video seperti teknik pengambilan gambar, penentuan backsound, animasi, transisi, penentuan tema dan masih banyak lagi. Pelatihan ini menyadarkan saya bahwa hal-hal yang kita anggap remeh dan tidak terpikirkan sebelumnya ternyata sangat penting dipelajari dan berpengaruh terhadap diri sendiri dan masyarakat. Saya pun menemukan ketertarikan untuk membuat video-video berikutnya dengan beragam topik.

 


 

Terima kasih kepada Stube-HEMAT Yogyakarta yang telah menjadi wadah bagi mahasiswa dan mencerahkan, khususnya saya terbantu dalam mengembangkan potensi yang saya miliki sehingga dapat berguna bagi orang banyak. Harapan saya ke depan semoga banyak anak muda tertarik dengan pelatihan-pelatihan serupa dan Stube-HEMAT selalu menjadi wadah terdepan yang dapat menampung, melatih dan mempromosikan potensi mahasiswa untuk Indonesia. (Antonia Maria Oy).

 

 


  Bagikan artikel ini

Jiwa Dan Komunikasi:
Sebuah Refleksi Kontemplasi   Refleksi peserta Communication Skills Tahun 2020 gelombang 3

pada hari Senin, 20 April 2020
oleh Stube HEMAT
Jiwa Dan Komunikasi:
Sebuah Refleksi Kontemplasi

 

Refleksi peserta Communication Skills

 

Tahun 2020 gelombang 3

 

 

 

 

 

 

Pada bulan Februari 2018, untuk pertama kalinya saya pergi ke psikolog setelah mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri saya. Singkatnya setelah saya mendapat beberapa kali konsultasi, saya didiagnosa mempunyai gejala psikosomatis. Saya bahkan tidak hafal ejaan yang benar, tidak mengerti dengan segala artikel dokter tentang gejala tersebut yang terpampang pada laman browser saya. Yang saya pahami, apa yang menjadi beban pikiran saya, akan berimplikasi pada reaksi tubuh. Saya mengalami seperti pusing, mual, keringat dingin, panas hingga (maaf) muntah. Sebagai manusia biasa, berbagai reaksi penolakan bermunculan pada saat itu. Saya mulai menghubung-hubungkan hal-hal regresif selama ini akibat dari stress saya tersebut, termasuk di antaranya kebutuhan yang paling mendasar; berkomunikasi.

 

“Pantas selama ini cara ngomong saya jelek, banyak missing, ae...,ae..., nya.”

 

“Dalam kepala saya ngomongnya A, keluarnya Z. Jauh banget!”

 


 

Hampir setiap hari perkuliahan ada presentasi, berbicara di depan kelas, namun tidak sejalan dengan kondisi saya pada saat itu. Berbicara tinggal berbicara, tapi tidak bagi saya. Harus beberapa jam sebelumnya menyiapkan kondisi untuk benar-benar siap penuh. Satu hal yang saya sadari, bahwa berkomunikasi secara ‘asal berbicara’ dengan berkomunikasi sebagai keahlian adalah hal yang berbeda. Siapapun bisa saja ‘asal berbicara’ untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya. Gossipmongers, salah satunya. Namun keahlian untuk berkomunikasi yang didasari atas tujuan tertentu, prosesnya tidak instan. Namun siapapun dapat mempelajarinya. Kalau mau!

 


 

Keahlian komunikasi untuk tujuan tertentu seperti public speaking yang memenuhi kebutuhan berelasi secara profesional, sudah harus menjadi kesadaran bersama. Situs laman pengembangan diri profesional muda, Glints Indonesia, menempatkan nomor dua kemampuan komunikasi yang baik dan nomor tujuh kemampuan public speaking dalam sepuluh kemampuan yang harus dimiliki oleh profesional muda. Melihat pentingnya kemampuan tersebut, membangun kesadaran untuk mau belajar, ditempa melalui berbagai platform yang aksesibel, sudah seharusnya bukan jadi alasan untuk nggak bisa ‘pinter ngomong’, ya.

 


 

Berbicara mengenai platfom, selama pandemi ini beragam platform belajar secara digital yang aksesibel. Saya mengikuti beberapa di antaranya untuk mengisi waktu luang termasuk pelatihan Communication Skills dari Stube-HEMAT Yogyakarta. Sebuah kesempatan yang baik dimana pada saat pandemi, intensitas berkomunikasi secara langsung sangat terbatas. Tak ayal, secara tidak sadar kemampuan kita berkomunikasi pun mengalami downgrade. Saya bersyukur mengikuti mentoring ini. Materi yang diberikan pun dengan metode diskusi dua arah. Kami bisa saling berpendapat, saling bertukar masukan bersama mentor. Bahkan dalam kesempatan ini, saya bisa memberi ide saya terkait kesehatan jiwa berangkat dari isu yang saya alami sendiri, terlebih saat pandemi seperti ini. Bagaimana pun, saya menjadi belajar menghargai saat isu yang sangat dekat dalam kehidupan saya boleh dipakai untuk disebarluaskan, yang bisa disaksikan di link
https://youtu.be/ltJH9EnJTYc

 

 

 

Lantas, selain sebagai mental health survivor sekaligus pembelajar komunikasi, dalam mentoring ini menyampaikan pesan secara tersirat bahwa belajar komunikasi itu tidak terbatas hanya secara keilmuan formal saja. Merespon kebutuhan pengembangan diri yang ‘menuntut’ setiap individu harus berjalan dinamis diperlengkapi, terlatih dengan keahlian yang menunjang. Sudah tidak dalam lingkup formal saja, bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan akar rumput seperti komunitas pun merespon kepentingan ini sehingga mewadahinya sebagai tempat belajar. Sebuah apresiasi untuk Stube-HEMAT Yogyakarta karena menumbuhkan kesadaran ini. Apresiasi yang sama untuk segala wadah pesan-pesan kebaikan boleh mudah diakses termasuk kesempatan untuk saling menguatkan pesan kesehatan jiwa yang menjadi perhatian saya. Mengelevasi pengetahuan tentang komunikasi yang dapat diaplikasikan untuk dan oleh segala lini.

 

 

 

Sudah saatnya, kesadaran berkomunikasi tidak dihitung secara kuantitas saintifik saja. Komunikasi di dalamnya memuat sebagai keahlian dalam bernegosiasi, berbicara di depan publik, berdiskusi, berdinamika seharusnya menjadi budaya yang senantiasa dinamis. Bahkan melalui komunikasi individu bisa dapat berkembang citranya. Semua memiliki akses untuk belajar. (Gilang Herdyan S)

 

 

*) Gilang Herdyan Prastomo Suseno, adalah mahasiswa Public Relation UPN Veteran Yogyakarta, berasal dari Boyolali Jawa Tengah, selain di Stube-HEMAT, Gilang aktif di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).


  Bagikan artikel ini

Anak Rantau di Masa Pandemi Covid-19  

pada hari Rabu, 8 April 2020
oleh Stube HEMAT
 

 

 

Virus Corona merupakan virus yang mematikan dan menular dari manusia ke manusia lainnya. Virus yang muncul sejak bulan Desember 2019, tepatnya di Wuhan, China hingga saat ini menyebar luas ke berbagai penjuru negara termasuk Indonesia dan daerah sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan obat (vaksin) sebagai penangkal virus tersebut dan masih dalam proses uji coba. Virus yang mematikan tersebut sudah membunuh ribuan jiwa.  Sungguh, sangat menakutkan.

 

 

Munculnya virus corona secara signifikan merubah proses hidup dan kehidupan. Pemerintah, tim kesehatan, serta masyarakat merupakan elemen penting untuk bekerja sama melawan pendemi virus corona yang semakin meluas. Pemerintah membuat peraturan untuk meliburkan kantor-kampus dan menggantinya dengan bekerja atau kuliah dari rumah (stay at home). Secara khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, seluruh kampus diliburkan dan diganti kuliah online sejak awal Maret 2020.

 

 

 

Kota Jogja sebagai kota pelajar dengan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara ada di kota ini, dijuluki sebagai Indonesia mini. Melawan pandemi Covid-19 saat ini, Jogja sekejap menjadi hening, tak ada lalu lalang di jalanan dan di tempat-tempat keramaian. Jumlah orang dan kendaraan menjadi turun sangat drastis di tempat-tempat umum dan aktivitas hanya dapat dilakukan di rumah dan kos. Gang-gang kecil-pun saat ini ditutup, termasuk beberapa toko-toko dan warung makan perlahan sudah mulai tutup. Mahasiswa rantau yang ada di Jogja yang pada umumnya mengkonsumsi makanan siap saji, mulai menerapkan hidup sehat dengan mengkonsumsi hasil masakan sendiri.

 

 

 

Semua berharap pandemi Covid-19 segera berlalu, sehingga keresahan yang sedang terjadi dapat segera berakhir. Semua orang berharap bahwa para ahli, dokter, tenaga medis dan peneliti secepatnya menemukan vaksin penangkal virus corona yang masih terus mewabah dan memakan korban jiwa. Dengan mengikuti arahan pemerintah dan para medis untuk tetap malakukan aktivitas di rumah (stay at home), menjaga pola hidup sehat dan bersih, tentunya kita sudah membantu menghentikan mata rantai penyebaran virus corona. Ayo bersatu dan bergotong-royong melawan Covid-19. (WIN)

 


  Bagikan artikel ini

Melawan Hoax di Tengah Pandemi Covid-19  

pada hari Rabu, 1 April 2020
oleh Stube HEMAT

 

Saat semua pemimpin dunia berpikir keras untuk menangani pandemi Corona, virus yang mulai muncul di Wuhan, China, beberapa negara telah melakukan lockdown, contohnya Italia, Spanyol, Amerika dan beberapa negara lain di Eropa, India dan juga Australia. Indonesia sendiri sejak muncul pasien positif covid-19 pada 2 Maret 2020 banyak opini bermunculan di media sosial agar Jakarta juga melakukan lockdown supaya virus ini tidak dibawa ke desa-desa. Banyak sekali pertentangan terkait lockdown di Jakarta, keputusan awal yang diambil pemerintah adalah ‘Work from Home’ atau WFH untuk beberapa instansi pemerintah dan juga swasta, serta sekolah diliburkan.  Keputusan pemerintah melakukan WFH berujung pada terjadinya lonjakan pemudik karena tetap tinggal di Ibu Kota bukan pilihan yang tepat, mengingat bulan puasa sebentar lagi dan mereka tidak bekerja, tidak digaji dan tidak ada biaya hidup. Saat ini pemerintah sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai langkah mengurangi meluasnya infeksi virus yang sudah menjadikan Jakarta zona merah Covid 19.

 


 

Berbeda dengan Jakarta, di kampung saya Halmahera Timur dan hampir semua wilayah Maluku Utara, masyarakat terlihat “santuy” atau santai pada awalnya, karena mereka beranggapan virus ini tidak akan sampai kesana. Pada tanggal 23 Maret 2020 pemerintah mengumumkan 1 pasien positif Covid-19 dari Maluku Utara. Kekuatiran dan kegaduhan baru dimulai, berbagai macam informasi hoax bertebaran. Bahkan informasi ibadah dari rumah saja tidak disambut baik oleh pemuka agama dan masyarakat bahkan mereka beranggapan pemerintah melarang mereka untuk beribadah.

 

 

 

Kegaduhan memuncak saat beredar pesan berantai disertai sebuah video yang diunggah di media sosial facebook pada tanggal 25 Maret 2020, “Seorang bayi baru lahir langsung bisa berbicara kalau merebus telur ayam dan dimakan pada pukul 24.00 WIT akan membunuh virus Covid-19 dan juga membuat seseorang terhindar dari virus ini”. Sontak berita ini menghebohkan masyarakat dan mereka beramai-ramai ‘menggedor’ beberapa toko sembako pukul 22.00 sampai 02.00 dini hari untuk membeli telur. Hal ini mengindikasikan kalau masyarakat sangat takut dan kuatir, sehingga berita apa saja mengenai Covid-19, ditelan mentah-mentah, sehingga mudah sekali menjadi korban informasi palsu. Tentu saja berita Hoax memiliki ciri-ciri beritanya berlebihan, membuat kepanikan dan ketakutan, menimbulkan kebencian atau rasa marah, selain itu sumber berita tidak bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat awam perlu mendapat edukasi mengenai berita-berita hoax.

 

Sejauh ini beberapa langkah sudah diambil pemerintah daerah Halmahera Timur dengan menggelontorkan anggaran 3,4 M untuk tanggap darurat Covid-19. Selain itu pihak kesehatan juga telah melakukan sosialisasi serta mulai mendata masyarakat yang melakukan perjalanan 1-2 minggu terakhir ke luar daerah terutama yang berasal dari daerah zona merah. Tugas kita semua adalah memberi informasi yang valid dengan mensosialisasikan hal-hal benar tentang virus ini di WA group, FB group, serta di media sosial lainnya, juga tentang hal-hal positif yang terjadi saat  pandemi. Jaga kesehatan dengan makan teratur, istirahat cukup serta selalu konsumsi vitamin C setiap hari. Mari lawan Covid 19 dengan membiasakan hidup bersih dan sehat! (SAP).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook