Mengungkap Realita Melalui Video

pada hari Sabtu, 7 Agustus 2021
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho
Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

 

Video merupakan teknologi yang menampilkan suara dan gambar bergerak untuk menyampaikan suatu pesan. Dari video tersebut pesan dapat berupa berita atau peristiwa berdasarkan fakta maupun cerita rekayasa yang dapat mengedukasi dan memberikan informasi. Kreasi video bisa ditampilkan dalam beberapa bentuk, seperti channel TV, Film, Youtube, Instagram, atau Tiktok. Setiap video yang disajikan tentu memiliki maksud dan tujuan yang berbeda-beda.

 

 

Program “Perdamaian Dan Keadilan” yang dilaksanakan Stube HEMAT mengharapkan peserta dapat melihat dan memahami tentang perdamaian dan keadilan terutama kekerasan terhadap anak, perdagangan manusia dan kekerasan seksual yang terjadi. Selanjutnya Stube HEMAT Yogyakarta memberi kesempatan peserta mengikuti diskusi (Jumat, 6/8/2021) dengan topik program “Perdamaian dan Keadilan” yang dituangkan dalam bentuk video. Diskusi ini melatih peserta mengembangkan teknik pembuatan video, yang diikuti bukan saja oleh mahasiswa yang berdomisili di Jogja, melainkan ada yang dari luar pulau, seperti Alor NTT, Manggarai NTT, Sumba dan Kupang. Diskusi dilakukan secara online mengingat kebijakan PPKM Pemerintah yang masih berlaku.

 

 

Bekerjasama dengan Bandel Ilyas, seorang praktisi perfilman sebagai aktor (teater dan film), sutradara dan casting director yang telah menggarap beragam film dan karya lainnya seperti film pendek (Rumah Pohon, Unbaedah, Pulang Tanpa Alamat, Segawon), Filosofi Kopi, Demi Waktu dan Bumi Manusia, dan Mantuk yang disutradarainya. Dalam diskusi ini, ia mengungkap proses pembuatan film/video. Apa saja yang harus diperhatikan dalam pembuatan video? Seperti menentukan tema dan konsep video, menulis film statement sebagai ide untuk penulisan skenario, membuat shooting schedule untuk jadwal pengambilan gambar dan shooting list untuk merekam kejadian apa saja yang akan diperoleh, kemudian editing script sebagai kerangka film/ video yang akan dibuat. Langkah-langkah tersebut sangat penting dalam menjadikan video mentah menjadi kesatuan gambar visual yang mempunyai pesan dan tujuan. Pesan yang disampaikan setiap video tentu berbeda sesuai jenisnya komedi, edukasi, dokumenter atau video fiksi.

 

 

Dalam perbincangan dengan narasumber, peserta banyak bertanya mengenai pembuatan video bahkan ada yang belum pernah sama sekali membuat video kreatif. Salah satunya pertanyaan dari peserta bernama Isna, “Apakah data bisa ditambahkan supaya ada penguatan dalam dramatisasinya?” Narasumber menanggapi bahwa itu seperti reality show, video dokumenter bisa didramatisasi narasi dan naratornya. Nilai dramatis sebagai totalitas dari perjalanan dan penyampain alur dan pesan film bagi penonton. Kekuatan narasi dan narator sangat berpengaruh terhadap dramatisasinya. Ada juga Rivaldo yang bertanya berkaitan dengan pengalaman pribadi, bagaimana cara menampilkannya dalam video. Narasumber menjelaskan bahwa jika pengalaman pribadi, aspek yang banyak diungkapkan adalah obyektivitasnya dibandingkan subyektifnya, dimana script harus bersumber dari kejadian yang sebenarnya.

 

 

Melalui diskusi ini peserta diharapkan dapat mengambil pembelajaran sebagai modal membuat video kreatif agar memiliki manfaat untuk penonton. Diharapkan peserta bisa membuat video kreasi sendiri baik dari pengalaman pribadi maupun konsep yang sudah dibuat. Video yang baik adalah video yang memberikan pembelajaran dan pesan bagi penonton. Pesan positif berfungsi bukan untuk menjatuhkan dan menyinggung pihak atau orang lain.

Langkah lanjut berikutnya adalah Stube HEMAT Yogyakarta membuka kesempatan untuk peserta mengikuti lomba video pendek tentang Hak-hak Anak dan Realitas permasalahan yang dialami anak-anak di Indonesia. Teruslah mengasah kepekaan melihat realita sosial di sekitar dan mengungkapnya ke dalam video. Ayo mahasiswa bisa!***


  Bagikan artikel ini

Mengungkap Pengalaman Melalui Tulisan

pada hari Rabu, 30 Juni 2021
oleh Daniel Prasdika

(Pendampingan Menulis Anak Muda Pondok Diakonia)

 

Oleh: Daniel Prasdika

 

 

 

Kiprah Program Multiplikasi Stube HEMAT di Lampung sudah berjalan selama satu tahun. Dalam kurun waktu itu beragam kegiatan telah dilakukan untuk memperlengkapi anak muda khususnya di Pondok Diakonia, GKSBS Batanghari, Lampung Timur di bawah pendampingan Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th, sebagai multiplikator. Berawal dari topik Piil Pesenggiri, keberagaman agama, dan kerentanan di Lampung dan potensi-potensi yang bisa dikembangkan, perjalanan satu tahun ini menarik untuk digali bagaimana pengalaman-pengalaman yang ada yang dirasakan oleh multiplikator maupun anak muda yang didampingi.

 

Proses mengungkapkan pengalaman khususnya melalui tulisan membutuhkan keterampilan khusus, agar tulisan menjadi menarik untuk dibaca dan mudah dipahami sehingga penting adanya pendampingan penulisan kepada anak muda di lingkup pelayanan Pondok Diakonia. Dengan inisiatif Daniel Prasdika dan Thomas Yulianto aktivis Stube HEMAT Yogyakarta dan pernah tinggal di Pondok Diakonia maka mereka mengadakan sharing dan bincang-bincang secara virtual bersama multiplikator Stube HEMAT di Lampung, Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th beserta anak muda Pondok Diakonia dan anak muda sekitarnya pada hari Selasa, 29 Juni 2021 sebagai dorongan motivasi menulis.

 

Bincang-bincang yang diikuti dua belas orang ini bertujuan memberikan motivasi belajar dan menulis untuk anak muda di Lampung dan bisa menghasilkan karya tulisan yang mengungkapkan pengalaman dan refleksi dari kegiatan yang diikuti di Stube HEMAT. Dika dan Thomas memulai sharing dengan memperkenalkan diri pernah tinggal di Pondok Diakonia dan saat kuliah di Yogyakarta aktif di Stube HEMAT Yogyakarta. Menulis bisa jadi dianggap "sepele" namun dampaknya luar biasa. Karya tulisan menyampaikan informasi, ilmu pengetahuan, bahkan motivasi kepada orang banyak serta secara tidak langsung menyimpan memori. Menulis sebenarnya hal yang mudah jika ada kemauan, mau belajar dan sudah terbiasa. Selanjutnya beberapa peserta dari Lampung mengungkapkan pengalaman menarik ketika mengikuti  program  Stube HEMAT di Lampung, seperti mendapat hal baru tentang pesan-pesan  moral dari Piil Pesenggiri, berkunjung ke rumah adat Lampung, pertama kali berdialog dengan pemuka agama lain, dan baru menyadari tentang potensi konflik dan potensi alam yang melimpah untuk mendukung perekonomian di Lampung.

 

Trustha Rembaka, S.Th. koordinator Stube HEMAT Yogyakarta sebagai pemateri menyampaikan dasar menulis sebagai kombinasi antara pengetahuan, keterampilan, dan kemauan. Tiga hal ini mendasari seseorang untuk menulis. Menulis sendiri merupakan ekspresi nyata apa yang dilihat, didengar dan dirasakan ke dalam bentuk tulisan. Struktur teks yang bisa digunakan adalah rumus 5W+1H, yaitu when, where, what, who, why, how. Dengan bantuan rumus tersebut tulisan sederhana bisa dibangun dari merangkai kata-kata dalam setiap paragraf nantinya. Bergerak dari ini harapannya anak muda di Lampung mampu mengasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan.

Di akhir perbincangan, para peserta menentukan kesan pesan masing-masing dari kegiatan Stube HEMAT Lampung yang diikuti, untuk diwujudkan ke dalam tulisan. Tulisan-tulisan yang merupakan ungkapan pengalaman itu membantu orang lain belajar, membuka wawasan, mendapatkan inspirasi atau bahkan membangkitkan kekuatan. Jadi, masihkah menunda waktu untuk menulis dan mengungkapkan pengalaman? ***


  Bagikan artikel ini

Tetap Berdisiplin Prokes dan Bersolidaritas

pada hari Sabtu, 26 Juni 2021
oleh Thomas Yulianto

(Seminar PGIW DIY tentang  Manajemen Penanganan Covid 19)

 

Oleh: Thomas Yulianto

 

 

 

Sejak awal tahun 2020, Covid-19 belum berakhir hingga saat ini tahun 2021, justru di Indonesia ada varian Covid-19 jenis baru yaitu jenis Alpha dan Delta dan sudah merebak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Varian virus jenis baru ini memiliki gejala yang lebih parah dibandingkan dengan virus sebelumnya. Bagi orang yang terpapar virus jenis baru tersebut akan mengalami demam, sesak napas, batuk kering sampai pada hal buruk yakni kematian apabila tidak tertangani. Mengingat virus Covid-19 ini merupakan jenis penyakit menular, maka diperlukan penanganan penyebaran virus tersebut secara cepat dan tidak bisa ditunda. Sangat disayangkan ketika virus varian baru sudah menginfeksi banyak orang, masyarakat justru enggan untuk bekerja sama memerangi penyebaran virus tersebut. Hal itu disebabkan oleh kejenuhan masyarakat dalam menaati protokol kesehatan demi memutus penyebaran Covid-19 varian baru.

 

 

Dari data kasus Covid-19 meningkat, tercatat di minggu terakhir Juni 2021 mencapai lebih dari 20.000 orang yang terpapar dalam sehari (24 Juni 2021 ada 20.574 kasus), sehingga perlu mendapat perhatian serius. Sebagai bagian dari upaya penguatan masyarakat dalam menghadapi pandemi, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Daerah Istimewa Yogyakarta menginisiasi Seminar dan Pelatihan Manajemen Penanganan Covid-19 dan Masalah Kebencanaan Alam di Wisma Immanuel, Samirono, kecamatan Depok, Sleman pada hari Jumat, 25 Juni 2021 dengan mengundang perwakilan gereja-gereja di DIY dan lembaga masyarakat termasuk organisasi mahasiswa.

 

 

Berkaitan dengan topik ini PGIW DIY menyediakan narasumber yang berhubungan dengan penanganan Covid-19 dan Kebencanaan Alam, antara lain Satgas penanganan Covid kecamatan Depok, yang juga sebagai Sekretaris Kecamatan Depok, Wakhid Basroni, S.IP. M.Si., yang mengungkapkan bahwa penanganan pandemi khususnya di kecamatan Depok memang tidak bisa mengakomodir semua karena keterbatasan personil yang ada di kecamatan Depok, sehingga membutuhkan kerjasama berbagai pihak, baik perangkat pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat sendiri untuk disiplin prokes. Wakhid Basroni mengingatkan bahwa kesadaran diri menjadi kunci. Kepala bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Kecamatan Depok, Aditya Sejati S.K.M, M.K.M., memaparkan bahwa virus akan terus bermutasi sehingga untuk mengantisipasi paparan varian baru, tetap pada prosedur kesehatan yang ada termasuk memeriksa ketersediaan air bersih, disinfektan secara berkala, kualitas masker dan alat periksa suhu. Berkaitan dengan kebencanaan, Suparlan dari Yayasan Sheep Indonesia mengungkapkan bahwa Covid termasuk bencana dan diklasifikasikan sebagai bencana non alam, yaitu wabah penyakit. Ada dua sisi yang bisa dilakukan, yaitu penanggulangan bencana untuk menangani virusnya dan pengurangan resiko bencana dengan disiplin prokes dan vaksinasi. Vaksinasi merupakan tanggung jawab pemerintah dan selayaknya didukung. Kenyataannya program vaksinasi disambut baik oleh masyarakat, ada yang masih ragu ada yang menolak tetapi ada juga ingin vaksin tetapi kesulitan mengakses informasinya.

 

Dari seminar ini muncul bahasan tentang anak kost yang terpapar Covid-19 dan diminta pindah oleh pengelola kost, agar penghuni kost yang lainnya tidak tertular. Namun tidak serta merta mudah bagi anak kos untuk pindah secara mendadak dan ini mesti mendapat perhatian apakah tindakan pemilik kost sudah tepat dan bagaimana seharusnya? Pemerintah sudah memberikan fasilitas bagi orang yang terpapar Covid-19 berupa tempat tinggal untuk isolasi mandiri atau memenuhi kebutuhan makan 3 kali dalam sehari, serta vitamin. Akan tetapi informasi tersebut belum tersampaikan secara luas. Perlu sosialisasi lebih terkait fasilitas yang diberikan kepada orang yang terpapar Covid-19 dan masyarakat sekitar, sehingga tidak ada disinformasi antara masyarakat dan pemerintah.

 

 

Pada penghujung seminar, Ketua PGIW DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min., menyampaikan bahwa gereja dan lembaga pemberdayaan masyarakat tidak bisa tinggal diam tetapi memberikan sosialisasi. Selain itu gereja perlu bersikap tenang dalam menangani penyebaran Covid-19 tetapi juga bertindak, karena dalam situasi ini pandemi tidak hanya menyerang fisik tetapi juga psikis, disinilah gereja  hadir untuk menyapa, mendampingi dan hadir meskipun secara virtual atau videocall. Gereja harus bergerak dan gereja harus ‘wani repot’ atau berani bersusah payah. 

Sekarang ini kita perlu melangkah dengan semangat baru untuk saling membantu dan memperhatikan sesama yang mengalami sakit, terpapar maupun isolasi, selain pada kesadaran diri untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes). Mari bergerak untuk melindungi diri dan sesama, sekaligus menanggapi panggilan solidaritas kemanusiaan.***


  Bagikan artikel ini

Guyub Rukun Merawat Sumber Kehidupan

pada hari Sabtu, 19 Juni 2021
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

(Wujud Demokrasi Ekonomi Masyarakat Sekitar Gua Maria Tritis)

Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

Di bagian selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ada desa yang memiliki tempat wisata religi umat Katolik yang bernama Gua Maria Tritis, tepatnya di dusun Bulu, desa Giring, kecamatan Paliyan, kabupaten Gunungkidul.  Gua Maria Tritis  sebagai salah satu wisata yang dipakai sebagai tempat ziarah umat Katholik  berkaitan erat dengan seorang tokoh sejarah, Ki Ageng Giring,  seorang tokoh yang terkenal pada zaman antara runtuhnya kerajaan Pajang dan berdirinya Kerajaan Mataram yang konon pernah bertapa di gua tersebut.

Dengan adanya tempat wisata tersebut membuka peluang kerja maupun usaha bagi warga sekitar. Hal ini ditunjukkan dari beberapa orang yang bekerja dan bertugas di Gua Maria Tritis yang tidak lain adalah dari warga lokal itu sendiri. Di sisi lain dalam penetapan siapa yang bertugas dan bekerja di kawasan gua, sebelumnya dusun mengadakan pertemuan di balai dusun atau bisa dikatakan musyawarah. Pertemuan itu dihadiri dari perwakilan Kepala Keluarga dan bersama juga Kepala Dusun dan pihak dari Paroki Wonosari. Sebagai contoh dari beberapa pekerjaan, seperti tempat parkir, petugas kebersihan, dan penjual makanan dan pakaian. Sementara untuk orang yang menjaga loket itu dari pihak gereja Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari karena di kawasan gua adalah yang memiliki tempat Paroki Wonosari.

Demokrasi tidak hanya berhubungan dengan politik saja melainkan ada demokrasi sosial budaya dan ekonomi. Politik tidak jauh dari hak milik suara setiap individu dalam memberikan suaranya terhadap aktivis politik yang ada di daerah masing-masing. Dalam sosial budaya, demokrasi ditujukan untuk kesejahteraan sosial dan keadilan. Seperti dalam ekonomi setiap individu juga memiliki hak dalam hal mendapat kesempatan kerja untuk mencapai taraf hidup yang sejahtera. Demokrasi  dalam semua bidang ini saling berhubungan satu dengan yang lain, tidak bisa hanya politik saja yang berjalan, sosial dan ekonomi pun harus ada dalam penerapannya di dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat sekitar Gua Maria Tritis dimana setiap warga yang ada di desa mendapat haknya untuk memperoleh pekerjaan dan menciptakan usaha mandiri, baik itu dari hasil alam sekitar kawasan gua maupun kreativitas warga itu sendiri.

Keberagaman juga terlihat di tengah masyarakat sebagai bentuk toleransi. Setiap warga yang bekerja di kawasan tempat wisata terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari daerah asal, agama, kebudayaan, dan gender. Semua warga boleh dan berhak ikut bekerja di tempat wisata yang awalnya sebagai tempat ziarah umat Katholik. Tidak hanya itu, warga juga menjaga tradisi dengan gotong royong di kawasan gua atau biasa disebut kerja bakti untuk menjaga keasrian tempat wisata.

Jadi, apakah demokrasi sangat penting untuk diterapkan di masyarakat? Tentu, tanpa adanya demokrasi kita tidak bisa melakukan kewajiban dan mendapat hak kita sebagai masyarakat untuk mendapat keadilan baik itu politik, sosial budaya, dan ekonomi. Masyarakat dapat memerankan dirinya untuk berada di tengah pergumulan dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi. Hal ini juga didapat dari peranan demokrasi di masyarakat sekitar Gua Maria Tritis, bahwa demokrasi yang ada tidak memihak kepada satu pihak yang memiliki kekuasaan, melainkan semua warga mendapatkan keadilan dan kebebasan yang tentu berdampak positif bagi setiap individu dan kelompok. Toleransi dalam keberagaman juga harus ditegakkan sebagai nilai kesatuan dan persatuan dalam masyarakat dan Negara. ***


  Bagikan artikel ini

Muku Ca Puu Neka Woleng Curup, Ipung Ca Tiwu Neka Woleng Impung (Bersaudara dalam satu kata dan tekad)

pada hari Jumat, 18 Juni 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Nilai kearifan lokal di Satar Lenda, Manggarai

Oleh Kresensia Risna Efrieno

Melihat realita demokrasi di daerah menjadi kesempatan bagi anak-anak muda menggali lebih dalam mengenai demokrasi yang sesungguhnya. Atau hal ini justru memunculkan pertanyaan, bagaimana idealnya berdemokrasi? Demokrasi sebenarnya sangat luas, mulai dari demokrasi politik, sosial dan ekonomi. Bahkan dari kehidupan kita sehari-hari saja, bisa mencerminkan apakah kita berdemokrasi atau tidak.

 

Idealnya demokrasi adalah menuju kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran bersama di mana pun kita berada tanpa ada pihak lain yang terbebani atau merasa kesulitan. Praktik-praktik demokrasi di setiap daerah pasti berbeda dan memiliki keunikan masing-masing. Di Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Manggarai, Desa Satar Lenda, praktik berdemokrasi terlihat dalam kehidupan sosial bermasyarakat sehari-hari. Masyarakat Manggarai mengenal istilahMuku Ca Pu’u Neka Woleng Curup, Ipung Ca Tiwu Neka Woleng impung” yang berarti bahwa masyarakat Manggarai sebagai satu keluarga, satu keturunan harus tetap bersatu menjalin sebuah kebersamaan dalam segala perbedaan. Kearifan lokal inilah yang menjadi semboyan masyarakat Manggarai menunjukan sikap berdemokrasi sejak dulu, khususnya demokrasi sosial.

Demokrasi Sosial masyarakat di Desa Satar Lenda yang menurut saya unik adalah Sistem Barter Kerja, atau dalam bahasa daerah adalah ‘Dodo’. Ini adalah sistem kerja yang digunakan oleh masyarakat di desa untuk meringankan beban pengeluaran uang saat sewa kerja. Sistem kerja ini dilakukan dengan prinsip membayar tenaga kerja dengan tenaga juga. Sehingga selain bisa meringankan beban, masyarakat juga menciptakan kehidupan sosial baik dan harmonis. Kebiasaan ini telah dilakukan oleh masyarakat sejak zaman nenek moyang di sana. Kebiasaan ini juga bukan hanya diterapkan dalam sistem kerja tetapi, juga dalam konsep arisan. Jika arisan yang sering dibuat adalah arisan uang, maka di desa saya agak sedikit unik dan berbeda. Ibu-ibu di sana sepakat untuk membuat kelompok Arisan Babi. Setiap tiga bulan sekali satu orang boleh sembelih babi peliharaannya untuk diberikan kepada anggota kelompok lain dengan imbalan uang sebagai gantinya. Kebiasaan ini dilakukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan juga untuk menjalin kerjasama dan sosialisasi yang baik antar masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan ini lestari hingga sekarang dan sangat membantu masyarakat di desa yang ekonominya kurang mampu.

 

Manusia tanpa bantuan manusia lain adalah sebuah kemustahilan, itulah mengapa manusia disebut sebagai makhluk sosial, karena manusia satu dengan yang lain saling membutuhkan. Oleh karena itu kebiasaan ini harus terus dilakukan untuk menunjang kesejahteraan manusia dalam lingkungan bermasyarakat. Pemuda di Desa Satar Lenda sebagai penerus generasi mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan kebiasaan ini. Salah satu solusinya adalah anak muda harus tetap menjalin hubungan baik dengan sesama pemuda lain, membuat komunitas anak muda, mendiskusikan hal-hal yang berkaitan kebiasaan baik yang ada di desa.  Saling berbagi pergumulan dan mengadakan diskusi rutin, anak-anak muda akan dengan mudah berkerjasama dalam segala hal, baik itu berkaitan dengan kebutuhan ekonomi maupun sosial. Mari lestarikan budaya lokal yang mendatangkan kebaikan dalam kebersamaan dan berdemokrasi dari hal-hal yang kita lakukan sehari-hari.***


  Bagikan artikel ini

Pemilihan Kepala Desa Berdasar Marga

pada hari Kamis, 17 Juni 2021
oleh Sarlota Wantaar

Wujud Demokrasi Lokal di Ohoirenan

Oleh : Sarlota Wantaar

 

 

 

Indonesia memiliki beragam budaya dan banyak pulau yang tersebar di penjuru Nusantara, salah satunya adalah pulau Kei Besar di selatan kabupaten Maluku Tenggara.  Di pulau tersebut ada sebuah desa yang bernama Ohoirenan yang memiliki penduduk lebih dari lima ratus kepala keluarga. Masyarakat yang ada di desa ini memiliki kebiasaan dan budaya yang ada sejak zaman leluhur mereka. Desa ini unik karena Ohoirenan mempertahankan budaya yang dimiliki, karena bagi mereka hal itu sangat penting untuk dilakukan. Salah satu budaya yang unik di desa Ohoirenan yaitu pada saat proses pemilihan kepala desa.  

 

Desa Ohoirenan memilih kepala desa mereka dengan menggunakan sistem demokrasi yang unik karena memiliki adat tersendiri yang berbeda dengan yang dilakukan pemerintah. Mereka menggunakan demokrasi local wisdom’ yang sudah ada sejak jaman leluhur mereka. Kepala desa di desa Ohoirenan dipilih berdasar orang-orang yang memiliki garis keturunan menjadi kepala desa atau pemimpin, jadi bukan sembarang orang bisa mencalonkan diri. Orang tersebut berasal dari salah satu marga yang ada di desa Ohoirenan yaitu marga Rahallus, dan itu pun bukan semua marga Rahallus, tetapi dari kelurga tertentu. Apabila sudah ada calon kepala desa, maka yang menentukan kepala desa itu ada empat marga yang ada di Ohoirenan yaitu marga Rahangmetan, Rahasomar, Wantaar, dan Rahangiar. Empat marga ini diwakili oleh masing-masing kepala marga untuk menentukan siapa yang berhak menjadi kepala desa, praktek demokrasi semacam ini sudah terjadi turun temurun dari dulu sampai sekarang.

 

Pemilihan kepala desa tahun 2019 di desa Ohoirenan, menggunakan proses seperti yang dilakukan leluhur sebagai wujud demokrasi lokal yang ada di desa Ohoirenan. Pada tahun tersebut yang mencalonkan diri hanya satu orang, yaitu Julius Rahallus, sehingga empat marga memutuskan untuk menetapkannya sebagai kepala desa dan dilantik pada tanggal 17 Oktober 2019 melalui proses adat dan pemerintah, yang dihadiri oleh bupati Maluku Tenggara, Drs. Muhamad Taher Hanubun. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa desa Ohoirenan bisa menjadi contoh bagi desa-desa yang ada di Kei Besar, Maluku Tenggara dalam proses pemilihan kepala desa.

Di Indonesia setiap budaya daerah itu sangat unik karena setiap daerah memiliki adat-istiadat dan praktek demokrasi masing-masing dan tetap dipertahankan. Ini menjadi alasan mengapa pemilihan kepala desa dilakukan dengan cara demokrasi lokal sebagai wujud mempertahankan dan melestarikan adat istiadat yang sudah ada dari leluhur desa Ohoirenan. Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia beragam dan keberagaman itu indah. ***


  Bagikan artikel ini

Mengasah Tulisan, Mengungkap Praktek Demokrasi Lokal

pada hari Rabu, 16 Juni 2021
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

Aktivitas menulis sudah jamak dilakukan dari anak-anak sampai dewasa, dengan perspektif dan pemikiran masing-masing dan menulis tidak sekedar membuat tulisan yang sesuai dengan apa yang diinginkan, melainkan berdasar fakta dan diwujudkan menjadi tulisan. Apa yang membuat seseorang kurang berminat dalam menulis? Ada banyak faktor penghambat, salah satunya adalah menemukan ide, seseorang mengalami kebingungan dalam menemukan ide. Penulis yang berhasil adalah mereka yang bisa menemukan ide tanpa menunggu, tetapi ‘mengejar’ ide. Permasalahan yang muncul dari diri sendiri dan lingkungan sekitar dapat menjadi ide dalam penulisan. Berkaitan dengan peningkatan skill menulis Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan pada hari Selasa, 15 Juni 2021 dan mengundang Endah Nursinta Setyaningsih, M.Pd., praktisi bahasa dan sastra Indonesia dengan pengalaman Manajemen Pendidikan dan sertifikasi guru bahasa Indonesia.

 

Sebagai bagian dari program Demokrasi dari Zaman ke Zaman, Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak mahasiswa untuk membuat karya tulis yang bertema praktek demokrasi di daerahnya. Sepuluh peserta dengan beragam latar belakang studi dan daerah asalnya dari Lampung, Nias, Maluku, Jawa, Manggarai, dan Papua mengamati praktek-praktek demokrasi di kampung halaman dan mengangkatnya menjadi tulisan. Dengan metode ini peserta belajar demokrasi sekaligus ‘mengasah dirinya peka dengan realita praktek-praktek demokrasi di daerah masing-masing. Beragam peristiwa yang menarik dari praktek demokrasi di daerah di Indonesia terungkap dalam tulisan mereka. Pengalaman yang pernah dialami dan kebudayaan dari masing-masing daerah menjadi isi dari tulisan peserta itu sendiri, antara lain bagaimana bermusyawarah untuk mufakat, pemilihan umum, politik uang, otonomi daerah, dan kebersamaan dan keadilan dalam memanfaatkan potensi di daerah.

 

 

Selain mendalami praktek demokrasi, para mahasiswa juga mengenal jenis-jenis tulisan, seperti esai, sebagai tulisan yang membahas suatu masalah, baik yang dialami maupun informasi dari orang lain melalui sudut pandang penulis. Penulisan esai harus didukung  fakta dan opini logis dari penulis sehingga bisa diterima pembaca dengan jelas atau bahkan mengajak pembaca berpikir dan selanjutnya mengajak apa yang harus dilakukan. Jenis berikutnya adalah artikel, dimana tulisan ini bersifat aktual dan mengikuti informasi terbaru dan harus obyektif dengan fakta dan data-data valid atau pendapat ahli. Melengkapi pelatihan menulis ini, peserta diingatkan tentang kode etik penulisan, yaitu hindari plagiarisme, yakni mengambil pendapat atau karya orang lain dan menjadikan seolah karyanya sendiri. Plagiarisme merugikan penulis itu sendiri karena ia tidak tahu apa-apa dengan tulisan tersebut. Lebih baik menulis dengan ide dan pikiran sendiri dan jika mengutip pendapat orang lain harus mencantumkan sumbernya.

 

Dari tulisan-tulisan peserta yang sudah dikumpulkan, narasumber mengatakan bahwa peserta sudah bisa mengemukakan pendapat dari suatu peristiwa dan menganalisis menjadi sebuah tulisan. Secara umum gaya penulisan peserta cenderung ke feature, dengan memadukan berita dan opini dari peristiwa yang terjadi dengan sudut pandang penulis. Tulisan dikategorikan dalam esai deskriptif yaitu mendeskripsikan hal yang terjadi dalam suatu peristiwa dengan fakta yang jelas.

 

Dari kegiatan ini peserta menemukan permasalahan dan keunikan praktek-praktek demokrasi lokal yang ada di daerah asalnya yang sebelumnya tidak diperhatikan, mengajak mereka berpikir, mengasah kepekaan sosial dan emosi terhadap lingkungan sekitar dan menghubungkan praktek demokrasi tersebut dengan kebijakan daerah maupun budaya setempat. Selain itu, peserta mendapat ‘jalan baru’ tentang bagaimana menulis untuk mengungkapkan realita yang telah ditemukan menjadi tulisan yang enak dibaca. Anak muda, lihatlah sekeliling, jemputlah ide dan wujudkan ke dalam tulisan-tulisan.***


  Bagikan artikel ini

Berbagi Kabar Kebenaran di Hari Lahir Pancasila

pada hari Rabu, 2 Juni 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Oleh Kresensia Risna Efrieno

 

 

 

Pandemi menjadi tantangan masyarakat yang harus dihadapi. Berbagai berita yang beredar menyebabkan kepanikan yang memicu setiap orang mengubah pola hidup, saling waspada, penjagaan keamanan merebak, aktivitas dibatasi dalam lingkaran ketakutan, orang kehilangan pekerjaan, ancaman kemiskinan melanda rakyat. Berita pembagian vaksin menjadi harapan bagi masyarakat, tapi ada pergolakan dan tanda tanya: akankah Corona menghilang dari kehidupan manusia atau kita justru akan hidup bersamanya?

 

Situasi ini membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Ini tanggung jawab siapa? Di masa pandemi, ruang diskusi menjadi ketakutan bagi setiap masyarakat seluruh pelosok negeri di Indonesia. Oleh karena itu, anak-anak muda didorong untuk berpikir kritis meski pandemi. Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa mengupas dalam Bedah Buku dan Diskusi pada Selasa (01/06/2021) tentang buku ‘Zaman Otoriter: Corona, Oligarkhi, dan Orang Miskin karya Eko Prasetyo, dengan menghadirkan sang penulis sebagai narasumber bersama Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th. M.Min, Board Stube HEMAT untuk mengupas buku. Diskusi ini juga sebagai peringatan hari lahir Pancasila ke-76, dimana biasanya peringatan hari lahir Pancasila identik dengan kegiatan seremonial, upacara di lapangan untuk sekolah, mengumandangkan lagu Garuda Pancasila dan baris-berbaris.  Stube HEMAT Yogyakarta melakukan dengan cara berbeda, yaitu bedah buku bersama mahasiswa untuk menambah wawasan dan melek terhadap fenomena di sekitar.

 

Pembukaan diskusi oleh Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube HEMAT, memantik peserta untuk melihat sekitar, mengkritisi dan bertanya pada sumber yang benar, terkhusus di masa pandemi yang mengancam ekonomi dan ancaman disintegrasi bangsa karena paham radikal. Selanjutnya peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila untuk membangun kembali kebersamaan sebagai satu bangsa. Sebagai ruang belajar mahasiswa, Stube-HEMAT menyajikan cara diskusi buku yang berbeda, dengan memberi kesempatan mahasiswa menyampaikan isi buku per bagian, serta memberikan beberapa masukan dan juga pertanyaan mengenai isi buku. Bagian prolog, muncul pertanyaan ‘Pandemi atau Kenapa Orang Miskin Cuma Boleh Mati’, menyampaikan awal respon pemerintah terhadap corona di Indonesia, sampai akhirnya kepanikan terjadi di masyarakat. Bagian pertama, Zaman New Orba mengungkap kepanikan di masa corona yang terjadi sekarang identik dengan kepanikan masa Rezim Orde Baru. Bagian kedua, ‘Kekuasaan Otoriter Oligarkhi’ membahas kekuatan yang dimiliki sekelompok kecil yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan kebijakan, seolah-olah untuk rakyat namun sebenarnya hanya menguntungkan kelompoknya. Bagian ketiga, ‘Kemiskinan yang diciptakan’ sebagai akibat ketamakan kaum oligarkhi dimana distribusi kesejahteraan tidak merata dan hanya menguntungkan suatu kelompok sehingga terciptalah kemiskinan. Dan bagian refleksi, Otoritarianisme sehari-hari yang merangkum bahwa keberpihakan kepada rakyat belum terwujud dan kebohongan kepada rakyat masih terjadi di negeri ini.

 

 

Sebagai respon bedah buku, Eko Prasetyo sangat mengapresiasi konsep Diskusi Buku  ala Stube HEMAT, dimana mahasiswa yang datang sudah membaca buku sebelumnya dan bahkan memberikan kritikan terhadap bukunya. Ini sebuah dialog yang hidup antara penulis buku dan pembacanya. Eko mengakui isi buku adalah ungkapan pengalaman pribadinya dalam melihat kasus pandemi dan sebenarnya buku ini ditujukan kepada mahasiswa. Menurutnya, masa-masa mahasiswa adalah masa yang paling pas dan tepat untuk menyuarakan tentang idealnya berdemokrasi. Bagaimana mahasiswa sebagai pemuda bangsa yang mempunyai tanggung jawab membela kebenaran, menyuarakan keadilan demi kebaikan, dan kebenaran harus menjadi tonggak kebaikan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

 

Lalu, kebenaran seperti apakah yang diharapkan? Mulailah mencoba memfilter dan membongkar kebohongan dari hal-hal yang kecil dan sederhana, berlanjut dengan menyuarakan kebenaran dengan tetap peka dan terus berpikir kritis tentang fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar. Pertanyaan reflektif buat peserta dan anak muda pada umumnya: Beranikah anak muda membongkar kebohongan dan menyuarakan kebenaran? Mari buktikan.***

 

 


  Bagikan artikel ini

Ruben Sonhibu, Inisiator Muda dari Munaseli

pada hari Rabu, 5 Mei 2021
oleh Trustha Rembaka

Mengembangkan desa berbasis ekowisata desa

 

Topik yang menarik saat ini adalah membincangkan kiprah anak muda dalam partisipasinya mengembangkan desa. Keberadaan anak muda yang punya ‘hati’ untuk desa atau kampung halaman merupakan berkah dan patut didukung, meski perjuangan tidak mudah karena ada beragam tantangan dan situasi. Namun bukan berarti melemahkan semangat anak muda untuk berkiprah, sebaliknya, menemukan strategi untuk bisa ‘menembus’ penghalang yang ada secara halus dan cerdik.

Kiprah anak-anak muda yang berjuang memajukan desanya pun merambah sampai di kawasan Alor, tepatnya di Munaseli di pulau Pantar. Adalah Ruben Sonhibu, anak muda yang memiliki semangat tinggi, mengambil inisiatif untuk mengembangkan kampung halamannya, perlahan namun pasti bergerak maju dan berkembang. Motivasi, semangat dan pengalaman Ruben terungkap dalam wawancara ini.

 

Pertama-tama, apakah Ruben bisa menceritakan di awal untuk perkenalan diri, berasal dari daerah mana, pendidikan yang pernah ditempuh, dan apa aktivitas yang dilakukan sekarang.

 

Ruben: Saya Ruben Sonhibu, Sarjana Peternakan, berasal dari desa Munaseli, kecamatan Pantar, kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya menamatkan pendidikan di Universitas Universitas Nusa Cendana Kupang jurusan Peternakan. Saat ini aktivitas saya bekerja sebagai wiraswasta, khususnya pelaku usaha sosial dan wisata di Munaseli.

Sebenarnya seperti apa keadaan di Munaseli, kampung halaman Ruben?

Ruben: Gambaran umum tentang keadaan Munaseli sekarang adalah masyarakatnya merupakan masyarakat tradisional dan kehidupan masyarakat juga masih tradisional baik cara hidupnya, bertani dan berdagang, dalam hal ini barter barang atau natura. Dalam hal pelestarian budaya, alam, lingkungan masih terjaga dengan baik, meskipun secara musim, di musim kemarau mengalami kekeringan. Namun demikian hubungan masyarakat dan toleransi antar umat beragama masih terjaga dengan baik sampai saat ini. Jangan lupa, keramahtamahan masyarakat di kampung masih sangat tinggi.

Mengapa Ruben tertarik untuk mengembangkan desa wisata di Munaseli? Ide awalnya seperti apa?

Ruben: Ketertarikan untuk mengembangkan Desa Ekowisata di Munaseli karena saya melihat potensi alam, budaya, dan bahari atau kelautan yang masih alami, belum dikelola dengan baik, artinya produktif dan bermanfaat untuk masyarakat. Karena itu, saya bepikir ini adalah peluang besar bagi kehidupan masyarakat ke depan. Dari situ timbul ide untuk merintis desa ekowisata.

Ide awalnya bertepatan dengan saya terpilih menjadi ketua BUMDes Manusirikoko Munaseli, dengan modal awal ini saya bersama teman-teman membuka hubungan kerja sama dengan beberapa Lembaga Swadaya Mandiri (LSM) di kabupaten Alor untuk mendukung ide-ide kami, sekaligus mendampingi merintis ekowisata berbasis desa dan bersama team BUMDes memetakan potensi yang ada di desa.

Strategi yang Ruben lakukan itu seperti apa untuk memulai mengajak masyarakat? Apa yang menjadi tantangan keadaan di Munaseli?

Ruben: Strategi yang saya lakukan bersama teman-teman melakukan pendekatan dengan para tetua adat untuk membangun desa ekowisata, seperti mengumpulkan kembali cerita-cerita tentang kerajaan Munaseli, pemugaran kembali situs peninggalan asli bersama tetua adat di kampung. Tantangan besar sebenarnya kembali pada Sumber Daya Manusia masih sangat kurang dan belum muncul kesadaran anak muda di kampung untuk bersama-sama membangun ekowisata berbasis desa. Dengan penduduk setempat dikerjasamakan dengan menyiapkan perkakas dan cara hidup yang tradisional.

Apa yang menjadi kunci dalam mengembangkan Munaseli?

Ruben: Harus ada kerja sama yang baik antara BUMDes,  pemerintah desa, pemuka agama, tetua adat dan masyarakat di kampung Munaseli, dilandasi semangat kerja dan kemauan bersama untuk membuat perubahan di desa menjadi lebih baik.

 

Saat ini apa yang menjadi unggulan atau yang menarik di Munaseli?

 

Ruben: Munaseli masih menyimpan kekayaan berupa wisata yang unik dan budaya tradisional Pantar yang sangat kental, Munaseli mempunyai potensi alam, budaya dan bahari bawah laut yang masih alami. Wisatawan yang datang ke Munaseli akan mempelajari sejarah kerajaan Munaseli, koleksi alat tradisional seperti pengupas dan pemarut kelapa, penggiling jagung atau padi dan bagaimana menggunakannya, beraktivitas bertani secara tradisional atau wisata bahari apakah berenang maupun menyelam melihat terumbu karang dan jika pas hari pasar, bisa berbelanja di pasar dengan sistem barter.

Inilah bukti, ketika anak muda memiliki semangat berkiprah dan mendapat kesempatan untuk melakukannya, maka perubahan baik itu akan terjadi dan membawa harapan kemajuan untuk masyarakat khususnya di desa. Harapannya, wawancara ini menginspirasi anak muda di penjuru tanah air untuk suatu kemandirian, kreativitas dan melakukan gerakan positif untuk kampung halamannya.***


  Bagikan artikel ini

Menelaah Praktek Demokrasi di Indonesia

pada hari Minggu, 2 Mei 2021
oleh Thomas Yulianto

 

Setelah melakukan diskusi pertama dan kedua, Stube HEMAT terus menggali lebih dalam tentang Demokrasi pada diskusi ke-3 (Sabtu, 1/05/ 2021) di Wisma Pojok Indah, Condongcatur, Yogyakarta dengan tema “Menelaah Praktek dan Strategi Demokrasi Pendalaman Demokrasi Di Indonesia”. Narasumber dalam diskusi ketiga ini yaitu Dr. Budiawan, dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan George B.L Panggabean sebagai praktisi dan mantan politisi.

Acara dimulai pukul 09:30 WIB dipimpin oleh Daniel Prasdika dan Kresensia Risna Efrieno sebagai MC. Awal dari diskusi ini Putri Laoli sebagai moderator melontarkan pertanyaan, “Apa yang mahasiswa pahami tentang demokrasi?” Menurut Ari Gunawan sebagai peserta menyampaikan pendapatnya, “Demokrasi berasal dari kata demos dan kratos yang artinya kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, semuanya kembali kepada rakyat itu sendiri.”

Dr. Budiawan memaparkan materi tentang sejarah demokrasi mulai dari kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949), Republik Indonesia Serikat (1949-1950), Konstitusi RIS menjadi UUD sementara (1950-1959), Demokrasi terpimpin (1959-1966), Era Orde Baru (1966-1998), dan Era Reformasi (1998-sekarang). Di akhir penyampaian materi, Dr. Budiawan memberikan kesimpulan bahwa tahun 1998  s.d. sekarang terjadi eforia demokrasi, kebebasan dalam demokrasi diagung-agungkan bahkan cederung menjadi ‘kebablasan’. George B.L Panggabean memaparkan beberapa materi yang berhubungan dengan pengalaman yang telah dilalui, “Demokrasi tidak terlepas dari budaya yang sedang berkembang, suatu budaya mewarnai pertumbuhan demokrasi tersebut. Ciri demokrasi ada rakyat, ada musyawarah dan ada hak asasi manusia.”

 

Dari materi yang disampaikan oleh kedua narasumber ini, memicu rasa penasaran Ari Surida tentang materi yang disampaikan oleh Dr. Budiawan mengenai maksud dengan demokrasi kebablasan. Dr. Budiawan memperjelas pernyataannya bahwa demokrasi disebut kebablasan karena ada ukuran yang dipakai, seperti ukuran perundang-undangan. Sehingga apabila sudah tidak sesuai dengan perundang-undangan lagi, maka disebut kebablasan. Menurut George B.L Panggabean, demokrasi sekarang ini telah menyimpang dari jalurnya, seperti hilangnya kaderisasi, dan tahapan-tahapan melahirkan seorang pemimpin organisasi. Semua orang yang memiliki cukup modal (uang, pengaruh, populer) bisa dengan cepat menduduki jabatan-jabatan politis tanpa melalui proses tersebut di atas. Sehingga setiap pemimpin memberikan asumsi masing-masing pada demokrasi dan hal itu dibiarkan oleh kelompok kekuatan yang ada di dalam masyarakat.

Teori dan realita yang terjadi pasti berbeda, tujuan dari demokrasi sendiri adalah baik adanya, namun karena pelaku-pelaku tidak bisa menjalankan demokrasi secara baik akhirnya esensinya berbeda. Setiap pemimpin demokrasi seharusnya mengusahakan kesejahteraan, jika pemimpin demokrasi tidak mampu mengusahakan kesejahteraan, itu adalah pemimpin yang gagal, dan jika demokrasi tidak mengusahakan kesejahteraan itu bukan demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi layak untuk terus diperjuangkan.***

 


  Bagikan artikel ini

Hadir untuk Memantik Semangat

pada hari Rabu, 28 April 2021
oleh Trustha Rembaka

Refleksi peserta program eksposur lokal ke Alor

Oleh Trustha Rembaka

 

 

 

Kesempatan datang langsung ke pulau Alor merupakan berkat Tuhan sekaligus tantangan, karena program ini berjalan ketika situasi tidak menentu. Pandemi Covid-19 yang tidak kunjung usai, bahkan pascabencana siklon Seroja di awal April yang berdampak di kawasan Nusa Tenggara Timur termasuk pulau Alor yang terkena banjir bandang menjadi latar belakang situasi keberangkatan kami. Namun ini tidak menjadi penghalang, dengan persiapan yang baik dan penyerahan diri pada tuntunan Tuhan, kegiatan di Alor dapat berjalan lancar. Bersama dua mahasiswa dari Stube HEMAT Yogyakarta dalam satu team menjadi keuntungan tersendiri karena bisa berbagi tugas dan saling melengkapi dalam mengelola kegiatan di Alor dari 6-20 April 2021. Kesempatan ke Alor menjadi pengalaman baru karena ini pertama kali menjejakkan kaki di bumi kenari untuk berinteraksi dengan mahasiswa dan masyarakat setempat, khususnya mendukung Multiplikator Stube HEMAT di Alor, yaitu Petrus Maure, S.Kom. Kesempatan ini juga menjadi tantangan tersendiri untuk bisa berbuat sesuatu dan meninggalkan ‘jejak’ yang positif dan berkesan di Alor.

 

Pada awalnya kegiatan mengalami kendala karena beberapa jejaring baik itu gereja, kampus dan mahasiswa fokus pada tanggap darurat penanganan bencana yang terjadi di beberapa kawasan Alor. Merekalah yang bergerak cepat membantu penduduk yang terdampak bencana yang menimbulkan korban jiwa. Dalam situasi ini, kegiatan awal kami berupa pemetaan potensi dan ancaman di kawasan Alor, pertemuan dengan aktivis Stube HEMAT Yogyakarta yang sudah kembali ke Alor dan menyapa komunitas anak muda di kota Kalabahi. Selanjutnya kami bergerak ke kecamatan Alor Timur Laut, desa Air Mancur sebagai basis Multiplikasi Petrus Maure. Saya merancang kegiatan berkaitan pelatihan pemetaan potensi desa, penulisan dan praktek berbicara di depan umum dan kegiatan ini mendapat respon baik dari anak muda dan sebagian sudah berkeluarga. Harus diakui beragam kendala terjadi karena aliran listrik belum normal, jaringan komunikasi terganggu dan sebagian membantu di daerah yang terdampak bencana.

 

 

Dari interaksi dengan anak muda dan yang sudah berkeluarga terungkap bahwa pandemi mengubah hidup sebagian dari mereka, karena sebelumnya mereka bekerja di luar pulau dan begitu pandemi merebak mereka memutuskan kembali ke kampung halaman. Mau tidak mau, bertani dan berkebun menjadi pilihan yang bisa dilakukan. Dari titik ini bisa ditemukan kemauan atau rasa ingin tahu terhadap hal baru yang berkaitan dengan aktivitas yang mereka geluti, misalnya mereka yang berkebun ingin tahu cara pengolahan tanah, membasmi hama dan pengolahan hasil, mereka yang bertani memikirkan bagaimana sawahnya lebih produktif, tidak hanya padi saja dan memetakan situasi di sekeliling sawahnya. Akhirnya muncul konsep pertanian terpadu. Bagi anak muda, latihan berbicara di depan umum menjadi bekal baru bagi mereka jika nantinya memimpin suatu acara. Hal yang tidak terduga terjadi ketika hari malam pun mereka tetap bersemangat untuk bertukar pikiran dan mencatat temuan-temuan yang ada, bahkan mewujudkan menjadi tulisan-tulisan yang menarik untuk dibaca. Kejutan terjadi ketika saya sudah kembali ke Yogyakarta, saya mendapat kiriman di WA berupa foto tulisan dari salah satu anak muda di Alor. Ia menulis gagasannya di secarik kertas kemudian meminta temannya untuk mengirim foto tulisannya untuk menunjukkan bahwa ia berhasil mewujudkan gagasannya ke dalam sebuah tulisan.

 

 

Dari pengalaman yang saya temui selama di Alor, kabupaten Alor memiliki potensi lengkap dari daerah kepulauannya, perbukitan, dataran, sungai, pantai dan lautan. Ditambah keunikan budaya dan warisan budayanya, fauna dan flora termasuk hasil pertanian yang beragam dan tak kalah penting adalah sumber daya manusia yang memiliki semangat tinggi untuk mengembangkan diri. Jadi, saya optimis jika anak muda Alor mendapat ruang belajar, menemukan pengetahuan baru dan kesempatan untuk berkiprah, maka mereka akan menjadi tulang punggung kemajuan Alor dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Alor.***


  Bagikan artikel ini

Mengurai Sekat Dunia Kampus dan Kehidupan Kemasyarakatan

pada hari Selasa, 27 April 2021
oleh Putri Nirmala Valentina Laoli

Refleksi peserta program Eksposur Lokal ke Alor

Oleh Putri Nirmala Valentina Laoli

 

 

Mengunjungi dan belajar langsung di pulau Alor merupakan pengalaman yang tak tergantikan dan tak terlupakan. Secara pribadi, perjalanan ini tidak terbayangkan terjadi di masa pandemi Covid-19 bahkan pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk beberapa tempat di Alor. Tetapi berkat dukungan dan iringan doa akhirnya program ini terlaksana dengan baik. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih telah diberikan kesempatan serta kepercayaan mengikuti program Eksposur Lokal ke Alor yang diselenggarakan Stube HEMAT Yogyakarta pada April 2021.

 

Mahasiswa merupakan salah satu pihak akademisi yang menjunjung tinggi nilai idealismenya di dalam perkuliahan maupun di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat ditunjukan dengan proses pembelajaran dalam ruang kelas maupun penelitian-penelitian yang dilakukan. Selain itu, berbagai wadah organisasi kemahasiswaan baik internal maupun eksternal di kampus manjadi arena pertarungan dinamika idealisme mahasiswa. Dengan demikian, produksi pengetahuan dan minat bakat sekaligus keterampilan mahasiswa dapat terasah. Keseluruhan proses ini diupayakan dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berpihak pada pembangunan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat.

Pertanyaannya, apakah dengan melakukan hal-hal di atas telah memenuhi kualifikasi dalam keterlibatan pemberdayaan masyarakat secara nyata? Berkaca dari pengalaman pribadi, sebagai seorang mahasiswa saya sangat antusias belajar di dalam kelas bahkan di ruang-ruang diskusi dengan terlibat dalam berbagai organisasi. Melibatkan diri dengan berbagai penelitian sosial maupun beberapa kali tinggal bersama dan berinteraksi dengan masyarakat.

Suatu saat muncul pertanyaan “Apa yang bisa kamu lakukan untuk masyarakat?”, yang membuat seolah pengetahuan yang saya miliki sirna seketika, karena saya merasa ada sekat antara dunia akademik dengan dunia nyata di tengah masyarakat. Ilmu yang saya dapat di bangku kuliah tidak dapat langsung diterapkan begitu saja, namun dengan adanya program eksposure ke Alor ini, tidak hanya memberikan kesempatan untuk berinteraksi mengenal kehidupan sosial budaya di Alor, namun menjadi salah satu sarana melatih membagikan pengetahuan yang dimiliki selama proses perkuliahan dan berorganisasi untuk melakukan aktivitas pengabdian yang terukur. Selain itu, kemampuan berpikir dan bertindak semakin terasah dan seimbang antara dunia keilmuan dengan praktek kehidupan sosial kemasyarakatan. Berbagai pengalaman yang diperoleh langsung dari hasil interaksi dengan masyarakat lokal menambah khazanah pengetahuan saya sebagai seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan.

Berdasarkan pengalaman dan refleksi perjalanan ini, saya berpikir betapa bermanfaatnya jika kesempatan serupa dapat dirasakan langsung oleh setiap mahasiswa. Program ini akan melahirkan dan menghadirkan generasi-generasi muda yang progresif dan responsif. Tetapi ini hanya akan menjadi imajinasi kosong apabila tidak dikerjakan mulai dari sekarang dan dari lingkup sederhana. Akhirnya saya kembali bertanya pada diri sendiri, “Apa yang dapat saya lakukan terhadap kampung halaman saya, sekalipun jarak jauh?”***


  Bagikan artikel ini

Mewujudkan Mimpi, Berbagi & Membangun Perdamaian

pada hari Senin, 26 April 2021
oleh Thomas Yulianto

Refleksi peserta program Eksposur Lokal ke Alor

Oleh Thomas Yulianto

 

 

Alor adalah salah satu pulau di paling ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara Timur. Mungkin ada sebagian penduduk Indonesia tidak tahu bahwa pulau Alor adalah bagian dari Indonesia termasuk saya. Namun sekarang saya mengenal dan bahkan mengunjungi Alor selama 15 hari. Saya bersyukur untuk kesempatan yang luar biasa,  bukan hanya mengenal dan tinggal bersama masyarakat Alor, saya juga bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada anak-anak muda di Alor sesuai dengan apa yang saya miliki, yaitu editing video sederhana menggunakan aplikasi Kinemaster, sebuah proses penggabungan video-video pendek menjadi video utuh yang menarik untuk ditonton.

 

Kemampuan editing video anak-anak yang tinggal di kota berbeda dengan kemampuan anak-anak yang ada di daerah seperti Alor. Hal ini tidak berarti anak muda Alor tertinggal dalam mengikuti perkembangan tekonologi, tapi lebih karena faktor terbatasnya orang yang mengajari dan mendampingi. Selain itu, fasilitas gadget dan jaringan internet kurang mendukung dalam proses editing video. Gadget yang mereka miliki belum memiliki spesifikasi gadget yang ‘support’ untuk proses editing, misal resolusi kamera rendah, RAM terbatas dan kapasitas memori kecil.

 

Saya yakin bahwa anak muda di Alor mampu untuk mengatasi kesenjangan ini. Saya melihat ada beberapa anak muda yang memiliki potensi untuk memproduksi sebuah video yang menarik dan berkualitas, mengingat Alor memiliki potensi wisata alam yang luar biasa, mulai dari pantai yang asri sampai adat yang masih kental dan unik. Semua ini merupakan peluang berkarya anak-anak muda Alor, terlebih lagi di zaman sekarang orang lebih suka mengkonsumsi informasi melalui video. Memproduksi video dan mengunggahnya di Youtube bisa menjadi pilihan, sehingga video tentang Alor dapat diakses oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia.

 

Kemampuan editing yang baik agar menghasilkan video berkualitas dan menarik menjadi hal yang saya bagikan selama saya di Alor, meski sederhana tetapi penting. Selebihnya teman-teman muda di Alor dapat mengembangkannya dan menghasilkan video yang lebih menarik dan berkualitas sesuai dengan keinginan dan kreativitas mereka.

Jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena semua hal bisa berawal dari mimpi. Sebelumnya saya hanya bisa bermimpi pergi ke Nusa Tenggara Timur tepatnya ke Pulau Alor, namun mimpi itu sudah menjadi kenyataan. Melalui Ekposure Alor ini membuat saya secara pribadi terbuka akan dunia yang sangat luas dan perlunya mengenal daerah-daerah di Indonesia untuk saling mengenal, membangun persahabatan dan perdamaian. Jangan takut untuk bermimpi dan berjuang agar mimpi itu menjadi kenyataan.***


  Bagikan artikel ini

Mencerna Perjalanan Demokrasi Saat Ini

pada hari Minggu, 18 April 2021
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

Pertanyaan yang sering muncul di benak kita adalah kita sudah demokratis? Kita diartikan sebagai rakyat, pemerintah, pelaku-pelaku politik, sistem maupun kebijakan demokrasi yang ditetapkan. Masing-masing negara menggunakan sistem demokrasi yang berbeda, seperti Indonesia dengan negara kepulauan terbesar dan heterogen, baik penduduk maupun budaya, sistem demokrasi menyesuaikan situasi dan kondisi di masyarakat, karena pada dasarnya demokrasi dengan kedudukan tertinggi adalah rakyatnya, sehingga tujuan demokrasi ditujukan untuk rakyat, melalui hak-hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat secara merdeka.

 

Harus diakui bahwa pembahasan mengenai demokrasi tidak akan ada habisnya dan demokrasi bukan hanya soal pemilu, tapi juga mencakup bidang ekonomi, teknologi, dan sosial budaya. Melihat dinamika demokrasi saat ini menggugah rasa penasaran bagaimana sebenarnya penerapan demokrasi di negara ini. Ini menjadi titik pijak Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan diskusi tentang demokrasi dengan tema besar ‘Demokrasi dari zaman ke zaman’ (Sabtu, 17/04/2021) dengan mengangkat topik ‘Mencerna demokrasi serta dinamikanya dalam perkembangan teknologi digital dan tantangan pandemi’ yang dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Hadirnya narasumber yang berpengalaman di dunia politik yakni George Bungaran Laurances Panggabean, menjadi hal yang istimewa dalam diskusi kali ini.

 

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa fase demokrasi (1945-1959) merupakan demokrasi parlementer karena sistem pemerintahan parlementer, dan saat itu kabinet bertanggung jawab kepada parlemen. Era Reformasi menjadi tonggak bagi penegakan Demokrasi Pancasila sebagai koreksi masa Soeharto yang dikenal otoriter. Dari pemaparan tersebut timbul pertanyaan ‘Apakah benar demokrasi saat ini rakyatlah yang ada di depan, atau sebaliknya, elit-elit politiklah yang ada di barisan depan? Saat ini di lapangan warna money politik menjadi seperti kebiasaan, dan bukan lagi kapasitas, kualitas, dan kompetensi yang menjadi patokan calon anggota dewan. Di sini uanglah yang berbicara, siapa yang menggelontorkan uang dengan nominal besar membuka peluang mengeruk suara dan terpilih. Sebenarnya, demokrasi tidak hanya pada bidang politik, tetapi juga bisa mencakup misalnya dalam bidang ekonomi seperti UMKM dan Koperasi sebagai usaha pembangunan masyarakat.

Pdt. Bambang Sumbodo, Board Stube HEMAT, menanggapi bahwa pada tahun (1959-1965) merupakan demokrasi terpimpin dengan ditandai adanya dekrit presiden. Dalam bidang keagamaan, pada era Orde Baru semua keagamaan termasuk gereja, harus memuat asas Pancasila, jika melangar maka tidak akan diakui negara. Bergeser ke era saat ini, kembali lagi politik uang yang andil dalam sistem demokrasi. Ir. Hero Darmawanta M.T, Board Stube HEMAT menyampaikan bahwa bentuk demokrasi yang ada di Indonesia merupakan hasil dari proses yang diambil dari permasalahan dan dinamika bangsa. Demokrasi yang relevan harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga bisa menemukan sistem demokrasi yang cocok agar tidak tertinggal dari dunia luar, termasuk dalam teknologi digital.

Peran generasi muda sangatlah penting bagi tegaknya demokrasi melalui pelaksanaan Pemilu. Dari diskusi tersebut peserta diajak berpikir apakah demokrasi seperti sekarang inikah yang diinginkan rakyat? Demokrasi yang bijak adalah demokrasi yang mengedepankan kepentingan rakyat itu sendiri. Mari kita perjuangkan bersama.***


  Bagikan artikel ini

Demokrasi Dari Masa Ke Masa Masih Perlu Terus Diperjuangkan

pada hari Minggu, 11 April 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

 

Demokrasi lahir sebagai sebuah sistem pengaturan kekuasaan untuk menuju kebaikan dan kesejahteraan bersama. Indonesia terus berdinamika dengan sistem ini mulai awal kemerdekaan, karena sistem ini menjadi harapan bagi rakyat Indonesia yang beraneka ragam corak bahasa serta budayanya menuju pada satu tekad dan tujuan untuk berpartisipasi setara dalam penyelenggaraan negara. Berjalannya waktu, pergantian pimpinan dan perkembangan dunia menjadi salah satu faktor sistem demokrasi mengalami perubahan. Perubahan sistem demokrasi dari masa ke masa sebagai bagian sejarah Indonesia menjadi satu topik yang perlu diketahui oleh generasi penerus khususnya mahasiswa. Belajar menelaah dan melihat kondisi demokrasi di Indonesia menjadi Program Stube HEMAT Yogyakarta dalam tema “Democracy from Age to Age”. Mahasiswa dilatih peka dan paham tentang demokrasi sebagai bekal mencari dan menemukan bagaimana seharusnya sistem demokrasi berjalan.

 

Sebagai kegiatan awal, Stube HEMAT bersama mahasiswa  mengadakan diskusi dengan mengupas kembali demokrasi di Indonesia per-periode (Demokrasi Liberal, Terpimpin, Masa Orde Baru, dan Era Reformasi), serta mencerna demokrasi melalui media (10/04/2021).  Diskusi ini menuntun mahasiswa berpikir kritis menghadapi tantangan demokrasi. Mahasiswa didampingi Board Stube HEMAT, Pdt. (Em) Bambang Sumbodo dan Ir. Hero Darmawanta, serta Direktur Eksekutif Stube HEMAT Ariani Narwatujati, berdiskusi dan sharing bersama mengenai demokrasi.

 

Untuk memantik mahasiswa berpikir kritis mengenai praktek demokrasi masa kini, mahasiswa diminta membaca beberapa artikel yang telah disedikan oleh team Stube HEMAT, dengan 3 topik yang utama yang membahas: 1) Masalah-masalah demokrasi kita hari ini, 2) Demokrasi di Indonesia dan arahnya di masa pandemi Covid-19, 3) Demokrasi era digital di media sosial, 4) Demokrasi di Indonesia masih memerlukan banyak perubahan paradigma. Topik-topik ini menjadi bahan diskusi yang semakin membuka wawasan atas demokrasi yang ada. Demokrasi masih harus terus diperjuangkan. ***


  Bagikan artikel ini

Kabar Baik Untuk Alam Dan Lingkungan

pada hari Selasa, 30 Maret 2021
oleh Trustha Rembaka, S.Th.

(Memetakan Kawasan Rentan dan Potensi Masyarakat Gunungkidul)

Kerjasama Stube HEMAT Yogyakarta & Bidang Kesaksian dan Pelayanan Klasis Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) di Gunungkidul

 

 

Community Empowerment sebagai salah satu misi Stube HEMAT diwujudkan melalui kerjasama dengan bidang Kesaksian dan Pelayanan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klasis Gunungkidul dalam Sarasehan dan Workshop Ekologi (Senin, 29/03/2021) di GKJ Paliyan, Gunungkidul. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut pelatihan ‘Climate Change and Life Survival’ Stube HEMAT Yogyakarta untuk membantu anak muda dan stakeholders menyadari tempat dan kawasan Indonesia yang rentan bencana alam, dan mampu menyesuaikan diri dengan berbekal pengetahuan berkaitan perubahan iklim, peristiwa alam, kerusakan alam dan bagaimana menjaga kelangsungan hidup saat terjadi bencana sekaligus managemen kebencanaan.

Dalam pembukaan acara, Pdt. Yusak Sumardiko, S.Th  mengungkapkan, “Saat ini kita belajar bersama tentang ekologi, bagaimana kita memahami kebencanaan termasuk keterampilan memetakan daerah rentan bencana di sekitar kita tinggal, dan potensi masyarakat untuk merespon ancaman bencana. Harapannya di akhir kegiatan ada gagasan dan aksi bersama sebagai respon masalah lingkungan khususnya di Gunungkidul.”

Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min, board Stube HEMAT, dalam refleksi teologis berpijak dari kitab Kejadian dimana manusia memiliki akal budi, mestinya manusia bisa mengambil sikap dan bertindak benar sebagai respon perubahan iklim. Ada pengetahuan-pengetahuan baru berkait manajemen bencana, seperti pengelolaan air dan memetakan jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai mitigasi bencana. Saat ini  gereja didorong memasukkan muatan ekologi dalam pengajaran gereja dan berkontribusi lebih dalam usaha pelestarian air dan mata air di kawasan Gunungkidul dengan penghijauan di daerah tangkapan air.

Memasuki topik perubahan iklim saat ini Trustha Rembaka, S.Th dan Putri Laoli dari Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta mengenali perubahan iklim yang bisa dilihat gejalanya dari peningkatan suhu bumi secara global, mencairnya es di kutub, perubahan pola hujan, naiknya permukaan air laut dan perubahan sirkulasi arus laut. Suhu bumi global dipengaruhi oleh luasan hutan secara global, jadi keberadaan hutan harus benar-benar dijaga. Sebagai kabupaten yang memiliki wilayah terluas di Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakat Gunungkidul sudah selayaknya menjaga luasan hutan yang ada.

Keterlibatan peserta dalam kegiatan ini semakin nyata ketika Indra Baskoro Adi, S.Psi., M.M.B, praktisi Manajemen Bencana mendampingi peserta untuk Memahami Bencana dan Bagaimana Penanganannya serta memberi kesempatan peserta memetakan ancaman bencana yang pernah terjadi dan yang rentan terjadi, sekaligus menginventarisir kekuatan dan potensi masyarakat untuk menghadapinya, baik mitigasi maupun adaptasi. Diskusi kelompok memunculkan beberapa temuan terkait ancaman maupun kejadian bencana, antara lain banjir bandang yang merendam beberapa dusun di kecamatan Karangmojo, angin puting beliung yang melanda beberapa dusun di kecamatan Nglipar dan kekeringan yang terjadi di sebagian besar kecamatan di Gunungkidul dan tanah bergerak di kecamatan Patuk, Gedangsari dan Paliyan. Namun demikian, kewaspadaan masyarakat mulai terbangun didukung teknologi untuk mengakses internet sehingga cepat mengetahui kejadian bencana dan mencari tahu mengapa bisa terjadi.

 

 

Salah seorang peserta, Agnes dari Semin, Gunungkidul mengungkapkan bahwa dirinya merasa terlengkapi dengan materi yang diberikan, sehingga mulai tersentuh kesadarannya akan tanggap bencana karena kecamatan Semin memiliki ancaman bencana tanah longsor, sehingga bisa menentukan langkah apa yang bisa diambil untuk mengurangi ancaman itu, salah satunya dengan penanaman pohon di kawasan rentan.

 

 

Temuan-temuan berkait perubahan iklim inilah yang menjadi pendorong gereja-gereja di kawasan Gunungkidul bersatu dalam gerakan bersama sebagai wujud kesadaran perubahan iklim dan respon atas panggilan ekologis untuk menghadirkan kabar baik bagi alam semesta dan lingkungan.***


  Bagikan artikel ini

Memahami Merapi Sebagai Sahabat

pada hari Rabu, 17 Maret 2021
oleh Michael

Refleksi Eksposur Turgo oleh Michael

 

 

Saya Michael, dari Malinau, Kalimantan Utara, ingin berbagi cerita mengenai pengalaman kegiatan mengamati Gunung Merapi dan penduduk sekitarnya. Sebelumnya, saya ingin menceritakan latar belakang saya, bahwa awal mula saya bergabung dalam organisasi yang peduli terhadap kesadaran bencana alam, yaitu Stube-HEMAT Yogyakarta. Mengapa saya tertarik mengikuti kegiatan ini? Karena saya tertarik dengan kegiatan  yang membahas bencana alam dan saya ingin mengenal lebih dalam apa yang dimaksud dengan bencana dan bagaimana mengatasinya sesuai dengan latar belakang studi saya di Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Inilah yang mendorong saya bersemangat bergabung dengan kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta.

Saat itu agenda kegiatan Stube-HEMAT adalah melakukan eksposur  ke Museum Gunungapi Merapi (MGM) dan dusun Turgo di lereng Merapi. Ini yang membuat saya antusias mengikuti kegiatan ini karena banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala saya. Pada tanggal 27 Februari 2021 saya bersama peserta lainnya belajar di MGM di kawasan Pakem. Di tempat ini kami disambut oleh media simulasi letusan gunung Merapi lengkap dengan bentuk dan kontur permukaan tanah sekitar gunung yang mendekati mirip aslinya. Selanjutnya bersama pemandu museum, kami mengamati dampak letusan Merapi tahun 2010 yang digambarkan dalam model sebuah rumah yang rusak parah terkena awan panas. Di bagian lain, saya belajar macam-macam gunung berapi di Indonesia dan gunung-gunung yang masih aktif. Ternyata Kalimantan memang relatif jauh dari rangkaian gunung berapi di dunia.

Dari MGM kami menuju desa Turgo yang berada 5 km di bawah Puncak Merapi. Bersama Pak Indra kami mengamati puncak Merapi dan jalur guguran lava saat Merapi erupsi. Ini menunjukkan betapa kecil manusia di tengah alam semesta. Setelah itu kami menemui beberapa warga setempat untuk berdialog dan mengenali lebih dalam mengenai gunung Merapi. Saya tak sabar ingin bertanya kepada mereka, pertanyaan yang sering saya dengar dan menjadi penasaran saya, yaitu mengapa memilih bertahan dan tetap tinggal di desa Turgo padahal desa ini sangat dekat dengan gunung Merapi dan sangat membahayakan keselamatan mereka karena beberapa kali terkena erupsi.

 

Salah satu warga, Mbah Hadi menjawab, “Merapi adalah sahabat kami. Mengapa bisa sampai disebut sahabat? Karena sifat sahabat tentu sudah saling mengenal satu sama lain. Kami yang tinggal di Turgo ini mengandalkan hidup di lereng Merapi, dan mata pencaharian yang dikerjakan berasal dari hasil letusan gunung Merapi, misalnya pasir, batu, tanah yang subur bagi tanaman. Selain itu, kami lahir dan besar di tempat ini. Kenyataannya gunung Merapi tidak meletus setiap hari, minggu maupun bulan, jadi kami sudah terbiasa dengan perilaku gunung Merapi. Kami yang tinggal di sini memiliki strategi untuk menghindari dan mengatasi ancaman dari amukan gunung Merapi, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi dari dinas pemerintah yang sangat membantu itu semakin membuat mereka memilih untuk bertahan. Ketika aktivitas gunung Merapi meningkat, kami meningkatkan kewaspadaan dan akan mengungsi jika kondisi mengharuskan. Kalau kami harus pindah dari tempat ini rasanya berat karena jauh dari ladang dan pasti perlu waktu lama untuk adaptasi.”

Dari pengalaman dialog ini, saya mengingat daerah saya di Malinau, Kalimantan Utara yang makin sering mengalami banjir setiap musim penghujan, dan mesti mencari solusi supaya warga tidak merasa maklum dan terbiasa dengan banjir tetapi mencari penyebab dan bagaimana mengatasinya. Memang cerita pengalaman ini tidak bisa menceritakan keseluruhan kegiatan tetapi setidaknya eksposur ini bisa menjawab rasa penasaran saya dan menjawab pertanyaan teman-teman saya.***


  Bagikan artikel ini

Memiliki Kewaspadaan Terhadap Bencana

pada hari Selasa, 16 Maret 2021
oleh Daniel Prasdika

Refleksi Eksposur Turgo oleh Daniel Prasdika (Lampung)

 

Sabtu, 27 Februari 2021 kami melakukan kunjungan ke dusun Turgo, dusun yang paling dekat dengan puncak gunung Merapi, dengan radius jarak 5 Km, sebagai salah satu bagian dari program Stube HEMAT Yogyakarta dalam topik ‘Climate Change and Life Survival’. Kegiatan ini berlangsung untuk mewujudkan kesadaran mahasiswa terhadap perubahan iklim dan bagaimana menjaga kelangsungan hidup baik manusia maupun lingkungannya. Turgo menjadi tempat saya dan teman-teman Stube  berdialog langsung dengan warga setempat dan mengupas informasi apa yang terjadi selama beberapa kali erupsi Gunung Merapi. Beberapa warga yang menjadi sumber informasi pada saat kami berkunjung adalah bapak Misran sebagai kepala dusun, bu Sariyem dan bapak Hadi sebagai warga dan difasilitasi oleh Indra Baskoro Adi, S.Psi., M.M.B berkaitan manajemen bencana.

 

Ada beberapa hal yang menjadi pokok pembicaraan atau pertanyaan dalam kunjungan tersebut, seperti bagaimana peran pemerintah pada saat bencana atau saat Gunung Merapi sudah mulai menunjukan tanda-tanda kenaikan aktivitasnya, bagaimana masyarakat ‘membaca’ waktunya gunung Merapi akan segera meletus, apakah ada tanda-tanda khusus menjelang meletus, seperti apa pengalaman penduduk ketika erupsi, kemana penduduk Turgo ini mengungsi dan beberapa pertanyaan lainnya.

 

 

Satu dari narasumber yang kami wawancarai, yaitu bapak Misran, mengungkapan bahwa sekarang sudah ada tindakan langsung dari pemerintah setempat dengan melakukan edukasi dan sosialisasi berkaitan dengan erupsi Gunung Merapi, menghindari kawasan sungai ketika erupsi, menyediakan tempat pengungsian bagi warga, dan mencetuskan sister village, dimana desa di Turgo bermitra dengan salah satu desa di kawasan aman yang menjadi tempat mengungsi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

 

 

Dari paparan Indra Baskoro, menurut UU No.24 2007 penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi terdapat potensi terjadi bencana meliputi: Kesiapsiagaan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi kejadian bencana yang dapat dilakukan melalui penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedaruratan bencana, pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini, penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar. Contohnya tas siaga yang berisi surat berharga, air minum dan makanan kering. Peringatan Dini yang berfungsi untuk menyampaikan informasi terkini status aktivitas Merapi dan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh berbagai pihak dan terutama oleh masyarakat yang terancam bahaya, contohnya sirine dan alat komunikasi. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, contohnya berupa pos pengamatan swadaya dan tim ronda yang mengamati puncak Merapi. Tanggap darurat bencana, adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Contohnya sister village desa Turgo dengan salah satu desa di kecamatan Ngaglik.

 

 

 

Di eksposur ini kami menemukan beragam pengetahuan baru, dan ternyata ada empat tingkat yang menunjukkan aktivitas gunung Merapi, yaitu aktif normal, waspada, siaga dan awas, yang mana masing-masing memiliki syarat-syarat tertentu. Kami sangat dibekali oleh berbagai informasi yang berguna, harapannya kami memiliki kesiapan diri untuk mengantisipasi bencana, bagaimana bertindak saat bencana dan pascabencana yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya.***


  Bagikan artikel ini

Perempuan dan Kesadaran Kebencanaan

pada hari Senin, 15 Maret 2021
oleh Wike Marsela

Refleksi Eksposur Turgo oleh Wike Marsela

 

 

Sabtu, 27 Februari 2021 merupakan momen unik bagi saya karena untuk pertama kali saya mengunjungi  gunung api aktif yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah memasuki tahun kelima tinggal di kota ini. Ya, saya Wike Marsela dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Saat ini saya kuliah di Magister Manajemen Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Gunung Merapi merupakan gunung yang posisinya berada di bagian tengah pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang memiliki konsekuensi ganda. Di satu sisi, gunung api berpotensi ancaman bahaya bagi keselamatan penduduk sekitar jika erupsi, terlebih lereng gunung Merapi merupakan wilayah yang cukup padat penduduk  yang mencakup kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang, yang memiliki ancaman erupsi yang tinggi. Bahaya utama yang mengancam wilayah sekitar Merapi adalah aliran awan panas, lontaran batu, hujan abu, lelehan lava dan gas beracun. Akibat yang timbul dari bencana ini dapat berupa korban jiwa, lingkungan atau ekosistem, harta benda atau aset, penghidupan, cacat seumur hidup, gangguan psikologis, traumatis, dsb. Di sisi lain, keberadaan gunung Merapi juga menghadirkan kehidupan untuk masyarakat di sekitarnya, mulai dari pasir, batu, lahan yang subur untuk perkebunan dan tanaman produktif lainnya selain pariwisata.

 

Kunjungan di Turgo merupakan bagian Eksposure to Merapi di bawah bimbingan Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai program pendampingan mahasiswa dengan motto H (hidup), E (efisien), M (mandiri), A (analitis), T (tekun). Program ini berorientasi pada mahasiswa untuk memahami dan memanfaatkan hidup secara efisien, mandiri, analitis dan tekun melakukan segala sesuatu demi meraih masa depan yang dicita-citakan. Stube-HEMAT Yogyakarta merupakan wadah yang memfasilitasi mahasiswa dengan harapan peserta berproses dalam pelatihan-pelatihan yang diikuti agar menjadi pribadi yang berkualitas.

Dalam dialog bersama warga setempat, Stube juga memberi ruang sehingga ada perwakilan kaum perempuan untuk membagikan pengalaman tinggal di Turgo ketika mengalami erupsi dan apa yang dilakukannya saat ini. Bu Sariyem yang duduk bersama kami bertutur, “Ketika itu, tanpa tanda-tanda yang jelas, Merapi memunculkan awan panas secara tiba-tiba dan meluncur ke arah barat daya melalui alur sungai Boyong. Luncuran awan panas itu menghantam dasar sungai dan sebagian membubung dan sebagian lagi berbelok ke arah perkampungan. Ketika itu tahun 1994, saya sedang hamil tua, berjuang menyelamatkan diri dan juga calon bayi yang sedang dikandung. Saat itu saya mendengar suara ‘gluduk-gluduk’ dan melihat awan hitam membubung dan menuju ke arah kampung. Saya sangat takut kalau-kalau awan hitam itu akan melanda kampung dan rumah kami yang terbuat dari bambu. Spontan, meskipun hamil saya berlari menyelamatkan diri ke rumah yang bertembok, tetapi karena panik saya salah arah seharusnya  berlari menjauhi sumber letusan tetapi malah berlari ke arah atas mendekati awan hitam tersebut. Segera saya menyadarinya dan berbalik arah dan berhasil dibantu penduduk lain menyelamatkan diri ke bawah.”

 

Bu Sariyem mengakui bahwa ia dan kaum perempuan di Turgo belajar dari pengalaman masa lalu, bahwa kesadaran berada di kawasan bencana itu penting dan edukasi dilakukan untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu bencana itu terjadi lagi. Edukasi, sharing mengenai kebencanaan sudah dilakukan oleh grup arisan ibu-ibu dengan perencanaan, pengorganisasian, guna mencapai tujuan yang diinginkan, sehingga ketika terjadi erupsi seperti sekarang (2021) penduduk setempat dan kaum perempuan sudah bisa mengelola tempat pengungsian, bertugas di dapur umum dan mengatur ketersediaan air.

Setelah mendengar kesaksian narasumber, bagi saya, perempuan itu kuat meski sering  disebut sebagai makhluk yang lemah. Bagaimana tidak? Seorang perempuan yang sedang hamil tua berjuang menyelamatkan dirinya dan juga calon bayi yang sedang ada dalam kandungan, bukan hal yang mudah apalagi tanpa persiapan. Kekuatan mental dan keberanian membuat perempuan survive. Terus berjuang untuk survive perempuan-perempuan Indonesia. ***


  Bagikan artikel ini

Merawat Mangrove untuk Kelangsungan Hidup di Pesisir

pada hari Minggu, 28 Februari 2021
oleh Sarlota Wantaar

 

 

Apa beda mangrove dan bakau? Ini pertanyaan yang menyeruak di antara peserta eksposur Stube HEMAT Yogyakarta ke kawasan Mangrove di Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul (Minggu, 28/2/2021). Bisa jadi orang sering mengucapkan ‘mangrove’ dan ‘bakau’ tapi belum tentu mengetahui perbedaannya. Ini wajar karena kata-kata tersebut sering muncul namun terkadang tidak setiap orang memiliki perhatian terhadap kawasan pesisir dan problematikanya. Proses membangun kesadaran terhadap keberadaan kawasan pesisir dan problematikanya menjadi konsep eksposur atau belajar di lapangan yang dilakukan Stube HEMAT Yogyakarta untuk melengkapi proses pelatihan mahasiswa tentang perubahan iklim dan kelangsungan hidup.

 

 

Belasan mahasiswa dari berbagai kampus dan daerah seperti Lampung, Nusa Tenggara Timur, Nias, Yogyakarta, dan Maluku bergabung dalam eksposur dan berdialog dengan perwakilan dari Keluarga Pemuda-Pemudi Baros (KP2B) yang mengelola kawasan Mangrove. Wawan Widia Ardi Susanto, pengurus di KP2B, mengungkapkan bahwa KP2B berdiri sejak tahun 1980an dan memiliki kegiatan pemuda di desa seperti sinoman, diskusi, merangkai janur dan lain-lain. Dalam kegiatan diskusi, mereka membicarakan tantangan anak muda, bagaimana menjadi mandiri dan masalah aktual termasuk abrasi yang menggerus pantai, uap garam yang merusak tanaman petani, banjir kiriman sungai Opak yang selalu merendam lahan pertanian di kawasan ini dan sampah yang terbawa aliran sungai yang akhirnya terdampar kawasan Baros ini.

 

Tentang kawasan mangrove sendiri, Wawan memaparkan bahwa kegiatan konservasi mulai muncul sejak 2003 ketika LSM Relung bekerjasama dengan masyarakat dusun Baros mengembangkan kawasan konservasi mangrove. Aktivitas ini menggugah antusiasme masyarakt setempat khususnya KP2B untuk menindaklanjuti dengan berbagai pengembangan, antara lain eko-eduwisata, kunjungan belajar, penanaman mangrove, pengenalan burung dan kegiatan lainnya. Namun saat ini kegiatan menurun drastis karena pandemi.

 

 

Para peserta mengelilingi kawasan mangrove dan mengenali jenis-jenis tanaman yang ada di dalamnya, antara lain Avicennia, Rhizophora (bakau), Nipah, Bruguiera dan Sonneratia dengan manfaat yang mereka miliki masing-masing. Di sini terungkap bahwa Mangrove adalah kumpulan tanaman yang berada di kawasan pasang surut air laut yang membentuk suatu ekosistem, sedangkan bakau (Rhizopora) adalah salah satu jenis tanaman yang ada di kawasan mangrove. Salah satu manfaat adanya mangrove adalah berkembangnya pertanian lahan pasir karena uap garam yang terbawa dari laut bisa tersaring oleh daun-daun di mangrove.

 

 

Proses penanaman mangrove memperkaya pengalaman peserta. Di sela-sela penanaman, Wawan mengungkapkan kegelisahannya tentang musuh terbesar mangrove, yaitu sampah. Belum ada solusi efektif untuk mengantisipasi sampah yang masuk kawasan ini. Upaya yang dilakukan untuk melindungi kawasan baru berupa membuat pagar dari bambu dan jaring untuk mengurangi serbuan sampah. Ini adalah tantangan berat karena sebagian besar sungai-sungai di Yogyakarta menyambung ke sungai Opak termasuk sampahnya, dan muara sungai berada di wilayah Baros. Di akhir kegiatan peserta mengamati kreativitas lokal di Baros yang memanfaatkan limbah kayu yang dibuat menjadi berbagai karya seni seperti pohon natal, cermin, tempat buah dan hiasan lainnya yang dipasarkan untuk ekspor.

Peserta berefleksi bahwa kawasan pantai dengan pepohonan yang hijau adalah keindahan alam pantai yang menarik rasa setiap orang, namun bagaimana ketika kawasan itu rusak karena kelalaian manusia, dari iklim yang berubah, banjir dan sampah. Apakah manusia hanya berdiam diri dan membiarkan keindahan tadi hilang begitu saja? Manusia yang sudah dilengkapi pengetahuan tentu akan melakukan sesuatu untuk merawat keindahan alam tersebut. ***


  Bagikan artikel ini

Mencerna Pemahaman Merapi sebagai Sahabat

pada hari Sabtu, 27 Februari 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Eksposur Mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta di Dusun Turgo

 

 

Gunung berapi adalah satu fenomena alam yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia. Keberadaan gunung berapi terpetakan dalam rangkaian yang dikenal sebagai cincin api atau ‘ring of fire’ di mana Indonesia menjadi bagian di dalamnya. Dari sekian banyak gunung berapi aktif di Indonesia, salah satunya adalah Gunung Merapi yang terletak di perbatasan antara DIY Yogyakarta dan Jawa Tengah yang  saat ini statusnya level Siaga. Bisa dipahami bahwa dengan level ini kawasan sekitar lereng Gunung Merapi sedang bersiaga mengantisipasi erupsi Merapi.

 

 

Kesiapsiagaan erupsi merapi juga dilakukkan masyarakat desa Turgo, sebagai salah satu desa terdekat gunung Merapi yang rentan terkena erupsi. Dusun Turgo, kalurahan Purwobinangun, kapanewon Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di sisi selatan gunung Merapi, kurang lebih 5 km dari puncak. Seperti apa bentuk kesiapsiagaan mengantisipasi letusan gunung Merapi, bagaimana penduduk setempat menyikapi keberadaan gunung Merapi, dan bagaimana adaptasi yang mereka lakukan, menjadi bagian menarik dipelajari melalui kegiatan eksposur mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta.

 

 

Eksposur atau kunjungan belajar ini ini menjadi lanjutan kunjungan dari Museum Gunungapi Merapi (27/02/2021). Mahasiswa bertemu dengan empat orang yang menceritakan dinamika kehidupan di dusun Turgo. Di sinilah rasa penasaran dan pertanyaan yang muncul di benak mahasiswa mengenai pengalaman penduduk di lereng Gunung Merapi diungkapkan. Indra Baskoro Adi, sebagai praktisi kebencanaan yang tinggal di Turgo mengungkapkan pengalaman bersama penduduk setempat untuk menghayati kehidupan di lereng Merapi dan beradaptasi dengan mempelajari kejadian-kejadian erupsi yang pernah terjadi sebelumnya.

 

Pengalaman kejadian erupsi Merapi diungkapkan oleh Hadi Suwanto, penduduk setempat, penyintas erupsi Merapi tahun 1994. Kejadian waktu itu berlangsung sangat cepat dan menimpa keluarga yang sedang ada hajatan pernikahan sehingga banyak yang meninggal di situ. Saya berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap terkena awan panas dan saya kehilangan isteri serta anak cucu saya, dan ini membuat saya patah semangat. Sebagai warga asli Turgo, saat ini saya mempunyai tanggung jawab untuk tetap menjaga desa ini, bahkan Merapi kami anggap sebagai sahabat, bukan bencana karena kami hidup bersama Merapi. Ada hal posistif yang kami rasakan dari gunung ini, air cukup dan kami mendapatkan pasir dari sisa erupsinya untuk membangun rumah kami dan abu sisa letusannya pun bisa menyuburkan tanah di sini. Jadi kalau Merapi sedang aktif, kami akan menyingkir atau mengungsi, ungkapnya.

 

Dusun Turgo dengan tanah yang subur membuat penduduk setempat enggan meninggalkannya, jadi sebagian penduduk tetap tinggal di sana termasuk pengurus dusun. Berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana, dusun Turgo belajar dari pengalaman sebelumnya yakni ketika terjadi peningkatan status Gunung Merapi maka penduduk akan mengungsi sesuai dangan anjuran pemerintah. Ini diungkapkan oleh Misran, ketua RT setempat yang menemani mahasiswa berdialog.

 

Kesadaran mengungsi dan menyelamatkan diri juga diamini oleh ibu Sariyem, salah seorang penyintas erupsi Merapi. Saat itu ketika ia melihat kepulan awan hitam bahkan tampak lebih tinggi dari bukit Turgo, ia berlari meninggalkan rumahnya yang berdinding bambu menuju rumah berdinding tembok tetapi letaknya ke arah atas lebih dekat dengan bukit Turgo. Untungnya ia segera sadar dan berbalik arah dan berlari menjauh. Kejadian-kejadian itu menyadarkan kaum perempuan di Turgo untuk mempelajari Merapi dan bersama kaum perempuan lainnya aktif saat berada di pengungsian dengan memasak, menyiapkan dapur umum dan kebersihan di tempat pengungsian.

 

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Pilihan untuk tetap tinggal di kawasan yang rentan harus diimbangi dengan kesadaran dan peningkatan kesiapsiagaan baik secara mandiri maupun melibatkan pihak lain. Ungkapan Merapi adalah Sahabat tidak mudah dipahami dan perlu pengenalan karakteristik gunung Merapi itu sendiri, serta penghayatan bagaimana hidup di kawasan rentan terkena erupsi.

 

Pengalaman eksposur ini menjadi pengalaman baru bagi peserta agar memiliki perubahan cara pandang terhadap peristiwa alam yang merupakan bagian dari kehidupan. Bersahabat dengan alam menjadi tugas dan tanggung jawab manusia sekaligus terus menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. ***

 
>> Beberapa foto dari Indra Baskoro Adi

  Bagikan artikel ini

Kegunungapian dan Konsekuensinya

pada hari Sabtu, 27 Februari 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Kunjungan belajar di Museum Gunungapi Merapi

 

Pernahkah mendengar tentang Museum Gunungapi Merapi (MGM)? Kali ini, Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa melakukan eksposur atau kunjungan belajar di Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Pakem, Sleman, DIY (27/2/2021). Eksposur ini merupakan bagian dari Pelatihan Climate Change and Life Survival untuk mempelajari kegunungapian di Indonesia. Kegiatan pembelajaran ini secara langsung akan memperkaya pengalaman mahasiswa mempelajari topik kegunungapian.

 

Museum Gunungapi Merapi merupakan museum yang berisi pengetahuan tentang Gunung Api Merapi dan fenomena gunung api lainnya di seluruh dunia secara umum. Museum Gunungapi Merapi digadang menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Museum ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat reaktif-edukatif untuk masyarakat luas (mgm.slemankab.go.id).

 

Belasan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di beragam kampus di Yogyakarta tiba di kawasan MGM  yang dibangun dengan arsitektur bangunan yang unik, khas puncak gunung. Selama masa pandemi pengelola MGM menerapkan protokol kesehatan dengan baik, seperti mencuci tangan, cek suhu sebelum masuk, dan mengingatkan pengunjung untuk menjaga jarak. Replika gunung Merapi di tengah ruangan menyambut kedatangan para pengunjung saat pertama melangkahkan kaki masuk ke dalam museum. Replika ini sebenarnya merupakan alat peraga untuk menunjukkan tahun letusan gunung merapi dan arah luncuran guguran lava dengan memencet tombol pilihan tahun letusan. Lampu akan menyala untuk menunjukkan arah guguran dan terdengar narasi dari pengeras suara sesuai tahun letusan.

 

 

Mahasiswa nampak serius menyimak penjelasan Dwi, seorang pemandu di MGM, ketika menceritakan diorama yang mengisahkan kondisi sebuah rumah pascaletusan gunung Merapi tahun 2010, dimana rumah dan perabotan bahkan kendaraan hancur terkena awan panas. Peristiwa ini memicu pertanyaan mahasiswa mengenai keberadaan orang-orang saat itu dan barang-barang penduduk lereng Merapi yang terdampak erupsi tahun 2010. Rasa penasaran mahasiswa tentang keberadaan gunung-gunung api di Indonesia terjawab di ruang gunung api Indonesia, bahkan mengejutkan saat pemandu menunjukkan titik-titik gunung api aktif di Indonesia karena beberapa peserta tidak menyadari kalau ada gunung api aktif di dekat tempat tinggalnya.

 

 

Di ruangan lain, peserta mengidentifikasi beragam bentuk gunung berapi dan jenis-jenis letusan. Khusus untuk gunung Merapi sendiri memiliki jenis letusan yang unik sehingga disebut tipe Merapi, yaitu erupsi bentuk kubah lava dan guguran lava yang memunculkan awan panas. Melengkapi pengenalan tentang kegunungapian, mahasiswa mengamati alat-alat pendeteksi letusan gunung Merapi. Lagi-lagi peserta mengungkapkan rasa penasaran mengenai alat-alat tersebut. Perubahan zaman membuat alat-alat tersebut mengalami pembaruan model dan fungsi sesuai kemajuan teknologi.

 

Kunjungan belajar di museum menjadi sebuah pengalaman dan pengetahuan baru bagi mahasiswa, seperti yang diungkap oleh Natra Marten Nee, salah satu peserta yang berasal dari Kupang, NTT, “Hal menarik yang saya dapatkan dari belajar di museum ini ialah petunjuk dan bukti tentang bencana letusan Gunung Merapi dari tahun ke tahun dan penjelasan narasumber terkait gunung api aktif yang berada di Indonesia maupun di luar Indonesia membuat saya belajar banyak tentang gunung berapi.

 

 

Ya, ketika orang mengenal lebih mendalam tempat tinggal, akan membuat mereka belajar bagaimana harus hidup, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan bagaimana menjaga kelangsungan hidupnya. ***


  Bagikan artikel ini

Menangkap Semangat Kemanusiaan Bersama Tim SAR DIY

pada hari Kamis, 25 Februari 2021
oleh Thomas Yulianto

 

Kejadian-kejadian bencana telah melanda Indonesia, dari tanah longsor, banjir, gempa, gunung meletus, pesawat jatuh sampai merebaknya pandemi. Perhatian orang biasanya mengarah pada bencana yang terjadi, jatuhnya korban atau bagaimana kondisi para penyintas. Pernahkah mengamati kiprah orang-orang yang menggunakan seragam oranye? Ya mereka adalah tim Search and Rescue (SAR) dan komunitas relawan bencana yang bergerak cepat sesaat setelah terjadi bencana.

 

 

Keterlibatan tim SAR untuk menolong saat bencana menjadi bagian pembelajaran dalam pelatihan ‘Climate Change and Life Survival’ Stube HEMAT Yogyakarta dengan berkunjung dan berdialog dengan tim Search and Rescue (SAR) Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Rabu 24 Februari 2021 pukul 15:00-17:00 WIB. Beberapa mahasiswa yang mengikuti eksposur berasal dari beragam daerah antara lain dari Kupang, Manggarai, Nias, Lampung, dan Bangka. Dari pihak SAR DIY, Eko Susilo yang bertangungjawab sebagai koordinator divisi K3 mendampingi para peserta yang ingin tahu apa itu SAR, sejarah berdirinya, aktivitas, bagaimana menjadi anggota dan apa motivasi menjadi anggota tim SAR.

 

 

Eko Susilo menjelaskan bahwa SAR awal mulanya adalah orang-orang yang memiliki hobi yang sama dan berkumpul bersama dari latar belakang yang berbeda yang selanjutnya membentuk komunitas yang bertujuan untuk menolong orang lain. Secara struktural, tim SAR DIY bukan lembaga pemerintah tetapi bekerjasama dalam penanganan bencana. Ada hal yang menarik dalam keanggotaan tim SAR, yaitu mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan, ada yang tukang ojek, pekerja serabutan, guru, tentara dan mahasiswa. Perekrutan anggota SAR ini berdasar pada kemauan dan kerelaan (voluntary) untuk membantu orang lain dan kemauan untuk belajar bersama membekali diri dalam keterampilan Search and Rescue, seperti pengetahuan medis dasar, menyelam, vertical rescue, survival gunung dan hutan agar mereka siap sedia menolong ketika terjadi bencana maupun insiden yang terjadi.

 

Dalam dialog ini terungkap bahwa anggota tim SAR tidak mendapat gaji atau insentif seperti pekerja lainnya karena menjadi anggota tim SAR sifatnya sukarela, dan mereka melakukan pekerjaannya dengan iklas tanpa orientasi penghasilan materi. Selain itu, terungkap juga kisah-kisah yang mendebarkan ketika tim SAR bersama pihak yang kompeten mengevakuasi pendaki gunung yang jatuh ke kawah gunung Merapi. Ada juga pengalaman evakuasi pendaki dari Rusia yang tersesat di gunung Merapi, dan bersyukur dalam kejadian ini pendaki tersebut ditemukan selamat. Saat ini dalam masa erupsi gunung Merapi, Tim SAR DIY mengkoordinir relawan-relawan Disaster Response Unit (DRU) di DIY untuk bekerjasama memantau dari berbagai posko pemantau. Melengkapi eksposur ini peserta mengamati peralatan yang digunakan dalam rescue seperti perahu karet, pelampung, tali, perangkat menyelam, tandu, helm, senter dan alat-alat lainnya, bahkan peserta mempraktekkan penggunaan alat-alat rescue sebagai pengenalan proses rescue.

 

 

Pengalaman dialog ini membangkitkan kesan peserta, Ari Surida, mahasiswa APMD dari Bangka yang mengatakan, “Saya sangat terharu mendengar cerita dari teman-teman tim SAR dan mas Eko bahwa anggota SAR melakukan kegiatan yang berat ini dengan sukarela, bahkan mereka mengumpulkan dana secara mandiri. Jika dihitung memang tidak menguntungkan secara materi, waktu dan beresiko tinggi, namun mereka melakukan semuanya itu karena hobi dan motivasi dalam diri masing-masing ingin menolong orang.” 

Interaksi dan dialog langsung semacam ini menjadi media transfer jiwa kepedulian dan kemanusiaan terhadap bencana yang terjadi. Mahasiswa tidak saja berlajar tentang perubahan iklim yang berdampak pada bencana tetapi juga kepedulian, kemanusiaan dan solidaritas sosial seperti yang dimiliki oleh anggota tim SAR untuk hadir dan menolong di saat bencana terjadi.***


  Bagikan artikel ini

Memahami Bencana & Bagaimana Bertindak

pada hari Sabtu, 6 Februari 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

 

 

Memasuki tahun 2021 beragam peristiwa alam maupun bencana alam melanda berbagai wilayah Indonesia dari gunung meletus seperti gunung Semeru di Lumajang dan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir bandang di Kalimantan Selatan, tanah longsor di Sumedang (Jawa Barat) dan di Manggarai (NTT), hujan es di Cianjur (Jawa Barat), juga angin puting beliung di Wonogiri (Jawa Tengah) yang meminta korban jiwa dan memaksa ribuan orang menjadi pengungsi.

 

 

 

Beragam kejadian di atas memperkuat antusiasme mahasiswa untuk mengikuti program Stube HEMAT Yogyakarta dalam topik ‘Climate Change and Life Survival’ untuk mewujudkan kesadaran mahasiswa terhadap perubahan iklim dan bagaimana menjaga kelangsungan hidup baik manusia maupun lingkungannya. Kegiatan ini berlangsung antara Januari-Maret. Dua puluh mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti diskusi awal pada tanggal 3 Februari 2021 untuk mengenal Stube HEMAT sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia khususnya mahasiswa, yang menyediakan kesempatan belajar untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa. Topik perubahan iklim sangat berkaitan dengan manusia dimana perubahan iklim sendiri diakibatkan oleh perilaku manusia yang mempengaruhi banyak hal dan akhirnya berdampak pada kelangsungan hidup manusia dan lingkungannya. Trustha Rembaka sebagai narasumber memandu peserta mengungkapkan kejadian bencana yang terjadi di kampung halamannya, seperti Ina Sinar dari Manggarai bercerita tanah longsor, Dika dari Lampung Timur membagikan fenomena hujan es dan Novita dari Sumba Barat melaporkan kebakaran rumah-rumah di kampung adat. Metode ini merupakan strategi untuk menghubungan diri peserta dengan kampung halamannya dan menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan iklim dan dampaknya benar terjadi sehingga mereka tahu bagaimana bertindak dengan tepat.

 

 

Selanjutnya, pada tanggal 5 Februari 2021 para peserta melanjutkan diskusi bersama Wana Kristanto, dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta tentang Kebencanaan dan Kawasan Rentan Bencana di Indonesia.’ Para peserta mendalami pengertian bencana, jenis bencana dan ancaman bencana dari UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan  penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Dari jenis-jenis bencana, dipetakan (1) bencana alam, yang diakibatkan oleh peristiwa alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor; kemudian (2) bencana non-alam seperti gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit; dan (3) bencana sosial, yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. Di bagian ini ternyata ada perbedaan antara bencana dan ancaman bencana, yang mana ancaman bencana adalah kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana baik alamiah, hasil tindakan manusia atau gabungan keduanya.

 

 

Kristanto juga mengungkap Penyelenggaraan Penaggulangan Bencana di Indonesia secara sederhana dapat digambarkan dengan (1) Pra-bencana yang terdiri dari pencegahan bencana, kesiapsiagaan, peringatan dini dan mitigasi sebagai upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. (2) Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan segera untuk menangani dampak bencana seperti penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana; dan (3) Pascabencana, yang berupa rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memperbaiki dan membangun kembali sehingga kehidupan masyarakat bangkit kembali.

 

 

Dari tanggapan peserta, Lidia Meike Dwijayanti Ullo, dari Manokwari yang kuliah di Yogyakarta mengungkapkan, “Hal baru yang saya dapatkan hari ini yaitu jenis bencana yang terjadi, resiko dan ancaman yang terjadi saat bencana, saya juga menjadi tahu bagaimana bisa melakukan sesuatu saat bencana dan memperhatikan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat.”

Stube HEMAT Yogyakarta dalam pelatihan ini membantu para mahasiswa untuk sadar bencana, mengerti apa itu bencana, mengapa terjadi, dan bagaimana mengantisipasi bencana, mengelola dan meminimalisir dampak bencana. Kesadaran baru terhadap bencana ini memperkaya wawasan mereka untuk tahu apa yang harus diakukan sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana dan setelah terjadi bencana.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook