Pemuda: Pemilu Damai dan Elegan

pada hari Sabtu, 19 November 2022
oleh Yuel Yoga Dwianto, S.Th, M.Pd.
Oleh Yuel Yoga Dwianto, S.Th, M.Pd.          

 

Bangsa Indonesia akan menyambut pesta demokrasi (Pemilu) dan generasi muda sebagai bagian masyarakat Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk ikut ambil bagian di pemilu 2024, terlebih para pemilih pemula. Kaum muda perlu memperkaya diri dengan literasi politik, khususnya berkaitan dengan Pemilu karena Pemilu sendiri melibatkan banyak pihak, dari penyelenggara - KPU, kontestan – calon legislatif dan calon presiden, calon pemilih, lembaga survey, dan pemerintah.

 

 

Dari kenyataan ini, Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dan pemuda, mendorong para aktivisnya untuk melek politik secara nasional maupun global dan memfasilitasi aktivisnya mengikuti seminar “KEBHINEKAAN DAN PEMILU DAMAI 2024”. Acara ini diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (PGIW-DIY) di Gereja Kristen Jawa Mergangsan, Yogyakarta (Jumat, 18/11/2022). Mahasiswa utusan terdiri 3 orang dari Lampung, 3 orang dari Yogyakarta, 1 orang dari Nias, 2 orang dari Sumba, dan 1 orang dari Maluku. Seminar ini mendiskusikan Pemilu prespektif Bisnis Politik, Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan perspektif teologi gereja.

 

 

Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, MS mengatakan jika generasi muda tidak memahami peta politik bangsa Indonesia ke depan dan apatis terhadap situasi politik, maka dapat dipastikan jika 104 juta suara kaum muda akan diperebutkan oleh partai-partai yang membawa bangsa ini ke arah politik identitas, yang mana berbahaya dan penuh konflik, terlebih pada tahun 2023 diprediksi sebagai resesi keuangan global yang mempengaruhi Pemilu 2024. Dalam kondisi Indonesia sedang dalam situasi tidak nyaman suara dari grass roots bisa mudah ‘dimanfaatkan’ dengan iming-iming tertentu untuk melakukan sesuatu.

 

 

Berkaitan Pemilu, menurut ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan, SIP., MA, aturan perundangan harus menjadi pedoman untuk mewujudkan pemilu damai sebagai tujuan penting demi kondusivitas di tengah masyarakat plural. Menurutnya, perbedaan pilihan politik jangan sampai menimbulkan konflik dalam keluarga dan masyarakat, termasuk gereja. Ruang publik baik darat maupun udara, harus bersih dari berbagai sikap yang tidak menghormati perbedaan. Kampanye oleh partai politik maupun tim sukses calon presiden dan wakilnya harus sarat nilai edukasi, yang mana di dunia nyata harus saling menghormati, demikian juga di dunia maya.  Kampanye harus disertai nilai pendidikan politik bagi masyarakat luas.

 

 

Sementara itu, ketua PGIW-DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th, M.Min menekankan agar peserta Pemilu menghindari kampanye hitam dan tidak menyebar hoax. Senada dengan Hamdan Kurniawan, Pdt. Bambang pun mengharapkan bahwa gereja harus ikut ambil bagian pada pesta demokrasi dan tetap menjaga kondusivitas dalam masyarakat. Pertama, gereja tidak boleh melancarkan kampanye hitam dan politik identitas. Kemudian, gereja harus mendidik setiap tim sukses dari peserta Pemilu dalam kampanye yang mendidik. Waktu kampanye yang panjang ini menurutnya, menyediakan ruang bagi peserta Pemilu untuk beradu gagasan. Visi, misi dan program harus menjadi konten dan materi unggulan yang disebarluaskan, artinya, seluruh peserta Pemilu harus fokus pada penyebaran konten-konten positif.

 

 

Pemilu damai adalah pemilu yang elegan dan tidak menghadirkan konflik. Lantas, bagaimana kaum muda bersikap untuk menyambut pesta demokrasi? Harapan kita hari ini adalah Pemilu 2024 berlangsung dengan baik dan setiap tahapan kampanye berjalan lancar, jadi para generasi milineal dan zillenial harus berhati-hati agar kita tidak tersapu dengan situasi yang sedang terjadi. Mari persiapkan diri dengan memperkaya literasi dan edukasi tentang Pemilu. Mari berpesta secara bertanggungjawab agar bisa bergembira dan bersukacita, Pemilu 2024 menjadi pesta demokrasi yang humanis dan demokratis.***

 


  Bagikan artikel ini

‘Melek Financial’ bersama CU Cindelaras Tumangkar

pada hari Jumat, 18 November 2022
oleh Trustha Rembaka
Oleh Trustha Rembaka.          

 

Pembelajaran otentik (authentic learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaran otentik (asli) yang memberi ruang kepada peserta didik menemukan dan mendiskusikan masalah nyata, kemudian membangun pemahaman baru sebagai respon untuk menyikapi masalah yang ada, bahkan dalam proses ini peserta didik juga ‘berinteraksi’ dengan masalah yang ada maupun berdialog dengan orang yang terlibat di dalamnya. Konsep pembelajaran ini menjadi salah satu model kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta dimana peserta  mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang berkaitan dengn topik. Dalam pelatihan Social Entrepreneurship saat ini Stube HEMAT Yogyakarta melakukan kunjungan belajar ke Credit Union Cindelaras Tumangkar (CUCT) di Condongcatur, Sleman untuk mendalami problematika masyarakat tentang keuangan atau finansial dan bagaimana masyarakat berjuang untuk mandiri (12/11/2022).

 

 

Di kantor CUCT para peserta bertemu dengan Sudarwanto, S.Pd., salah satu perintis dan pernah menjabat manajer CUCT dua periode. Ia mengungkapkan latar belakang CUCT karena problematika masyarakat yang mayoritas petani dan buruh tani. Mereka mengalami kesulitan finansial karena terjerat pinjaman yang mencekik dan memaksa mereka meminjam untuk menutup pinjaman lainnya guna memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Di sisi lain, kecenderungan gaya hidup instan dan konsumtif menjadi lingkaran setan yang menghambat kesejahteraan hidup mereka.

 

 

Beruntungnya, kesadaran muncul pascadiskusi di dusun Puluhan, Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tentang bagaimana seharusnya anak bangsa mengelola bangsa ini di tengah arus globalisasi dan kapitalisme. Kenyataan yang terjadi masyarakat dengan keuangan terbatas ketika menabung di bank, uangnya tidak bertambah tetapi malah semakin berkurang karena beragam potongan, dan laba bank tidak dibagikan ke nasabah, artinya uang akan mengalir ke pemilik modal atau pemegang saham, sehingga larinya aset kepada pemilik modal berkontribusi pada kehancuran keuangan masyarakat dengan keuangan terbatas. Ketika masyarakat akan mengembangkan diri malah terhambat dengan ketidakmampuan mengakses modal karena beragam persyaratan dan pengembalian kredit pun menjadi beban tersendiri.

 

 

Para peserta mencoba mencerna paparan tadi, mereka baru menyadari tentang ‘melek finansial’ dan supaya tabungan bank bisa memberikan laba, artinya mereka harus memiliki simpanan dengan jumlah besar, di luar kemampuan seorang mahasiswa. CUCT menawarkan alternatif dimana nilai tabungan bisa tumbuh sejalan dengan akses modal untuk usaha. Di saat bersamaan anggota bisa memiliki tabungan dan mengakses modal sehingga anggota mendapat pendapatan dari balas jasa pinjaman dan laba usaha. Bahkan pendapatan CUCT akan kembali ke anggota. Menariknya, di samping layanan keuangan CUCT juga melakukan pendidikan literasi keuangan sehingga masyarakat sadar tentang pengelolaan keuangan dan adanya prinsip jangan sampai orang mati meninggalkan beban ke ahli warisnya. Di awal berdiri di 16 Juni 2006 CUCT memiliki 11 anggota dengan aset 16 juta, saat ini 2022 anggotanya lebih dari 5.000 orang dengan aset 64 milyar.

 

 

Di eksposur terungkap bahwa sebenarnya koperasi menjadi alternatif yang sudah ada di bangsa ini, namun pengelola dan pengelolaannya harus lebih diperhatikan dengan keberpihakan pada anggotanya. Para peserta termotivasi untuk mendalami suatu masalah sosial di masyarakat dan upaya masyarakat untuk lepas dari permasalahan, misalnya persoalan petani peternak, petani perkebunan singkong dan jerat rentenir.

 

Melalui pelatihan Social Entrepreneur, mahasiswa perlu melek keuangan, bagaimana mengelola pendapatan, merancang pengeluaran dan membidik usaha yang potensial sehingga mereka bisa mengembangkan diri mereka dan menjadi aktor perubahan di daerah. Ayo anak muda, melek keuangan dan kembangkan usaha untuk kesejahteraan masyarakat.***

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berdaya Ala Agradaya (Agraria Berdaya)

pada hari Kamis, 17 November 2022
oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.
Oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.,          

 

Apakah setiap orang tertarik untuk menyelesaikan masalah orang lain? Belum tentu. Jangankan menyelesaikan masalah orang lain, masalah yang dialami diri sendiri belum tentu bisa diatasi. Ini bisa jadi penyebab minimnya wirausaha sosial. Jiwa wirausaha sosial harus ditumbuhkan dan dibentuk, khususnya di antara mahasiswa dan anak muda. Stube HEMAT Yogyakarta memantik mahasiswa belajar Social Entrepreneurship, agar mampu memetakan permasalahan sosial yang terjadi di daerah mereka yang sering terabaikan. Proses pelatihan memberi para mahasiswa tak hanya teori tetapi kunjungan langsung untuk belajar lebih mendalam dari pengalaman orang lain.

 

 

Salah satu rangkaian pelatihan Social Entrepreneur, sekelompok peserta berkunjung ke Agradaya (Agraria Berdaya), sebuah usaha bisnis pertanian yang berpusat di desa Sendangrejo Minggir, Sleman, kurang lebih 15 kilometer Barat Laut kota Yogyakarta (12/11/2022). Mahasiswa berdiskusi bersama Andika Mahardikainisiator Agradaya, seputar bagaimana kondisi awal munculnya Agradaya. Menurut Andika,  Agradaya muncul dari realitas sosial berupa anjloknya harga empon-empon ketika petani empon-empon panen raya. Ini menyebabkan petani tidak mendapat keuntungan dan tidak bisa meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Melihat kondisi ini akhirnya Andika Mahardika dan Asri Saraswati mendirikan Agradaya di tahun 2016.

 

 

Agradaya bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) di kawasan bukit Menoreh, kabupaten Kulonprogo yang menanam empon-empon dan panennya melimpah. Kaum wanita petani mendapat bekal bagaimana memelihara empon-empon dengan baik, memanen dan memulai proses produksi dengan menjemur empon-empon yang masih basahNarasumber mengajak mahasiswa berkeliling melihat rumah surya dan area produksi di Agradaya sambil menjelaskan proses dan kegiatan yang dilakukan.

 

 

Saat berkeliling muncullah pertanyaan mahasiswa tentang bagaimana mengemas produk yang biasa menjadi sesuatu yang memilki nilai ekonomis tinggi? Andika menjelaskan bahwa pemasaran produk Agradaya juga memikirkan desain produk, dengan mendesain kemasan produk secara cantik dan menarik dengan label AgradayaProduksi dengan inovasi baru bisa menghasilkan lebih dari seratus kemasan produk per hari. Promosi produk memanfaatkan media sosial dan jaringan, termasuk menyertakan narasi yang memperkuat produk sehingga penjualan meningkat. Kemudian pertanyaan berikutnya berkaitan dengan aneka produk Agradaya. Ada berbagai produk dihasilkan yang dimulai dari proses penjemuran di rumah surya, empon-empon kering selanjutnya diolah menjadi produk dengan berbagai varian rasa, seperti Red Ginger Powder (Jahe Merah Bubuk), Choco Ginger(Jahe Coklat), Turmeric Latte (Kunyit Latte) dan beberapa varian rasa lainnya, termasuk bahan mentah kering.

 

 

Kunjungan ke Agradaya membuka mata mahasiswa bahwa hasil kekayaan alam Indonesia begitu banyak namun kurang sentuhan sehingga cenderung diabaikan. Bisa jadi tanaman yang ada di sekitar kita dianggap biasa saja tetapi di lain tempat ternyata mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ini bisa diketahui jika memiliki pengetahuan dan jejaring yang luas.

 

Mahasiswa, mulailah lihat sekeliling dan temukan permasalahan sosial. Itu menjadi titik pijak untuk memulai langkah pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan kelebihan yang ada di sekitar. Jangan pernah takut untuk mencoba, kegagalan menjadi bagian dari proses belajar untuk membawa perubahan bagi daerah menjadi lebih baik. ***

 


 


  Bagikan artikel ini

‘Biarlah Bumi Bernafas’

pada hari Rabu, 16 November 2022
oleh Daniel
Diskusi bersama komunitas Akar Napas

 

Oleh Daniel                         

Masalah sosial merupakan fenomena yang selalu ada di masyarakat di belahan bumi mana pun. Selama masyarakat terus berubah masalah sosial terus bermunculan tanpa bisa dihindari. Orang-orang yang bergerak di bidang Social Entrepreneurs harus memahami masalah sosial, karena dengan memahami keluasan serta kedalaman masalah, akan lebih mudah menemukan peluang-peluang melakukan aksi penanganan baik yang bersifat mencegah, menyelesaikan atau membangun. Bahkan berpotensi memunculkan ide kreatif menjawab masalah-masalah yang selama ini dianggap sulit dipecahkan.

 

 

Social Entrepreneurship: Anak Muda Bisa Apa? menjadi topik pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta untuk memperkaya pemahaman mahasiswa dan menggagas ide rintisan wirausaha sosial. Salah satu rangkaian pelatihan berupa kunjungan belajar secara berkelompok dengan jumlah delapan mahasiswa memilih salah satu tempat tujuan yaitu Komunitas Akar Napas di kawasan hutan konservasi mangrove di Baros, kabupaten Bantul, Yogyakarta (12/11/2022).

 

 

Komunitas Akar Napas merupakan salah satu contoh Social Entrepreneurship non-profit yang bergerak pada konservasi mangrove, pemberdayaan dan pendampingan komunitas lokal. Para peserta berdiskusi dengan Shanty Ardha Candra dan Momox, keduanya merupakan suami isteri yang merintis komunitas ini pada tanggal 4 November 2021. Dengan latar belakang anggotanya mahasiswa pecinta alam dan aktivis lingkungan, komunitas ini berangkat dari permasalahan hilangnya sebagian hutan mangrove di pantai Baros karena zonasi penanaman yang kurang tepat dan sulitnya budidaya salah satu jenis vegetasi mangrove, yaitu Sonneratia Caseolaria sebagai benteng utama dalam zonasi lahan. Padahal kawasan mangrove merupakan kawasan penting penangkap CO2 dan mengeluarkan O2 bagi pernafasan mahluk di bumi. Saat ini komunitas Akar Napas juga mengembangkan potensi lain hutan mangrove yang bisa dikelola masyarakat tanpa merusak ekosistem, seperti batik eco-print dan tinta pewarna alami untuk batik tulis yang diolah dari limbah biji mangrove yang sudah tumbuh.

 

 

Melengkapi pembelajaran di kawasan mangrove Baros, para peserta melakukan observasi langsung di lahan terkait pembibitan vegetasi mangrove dipandu oleh Momox. Peserta mengenal beberapa jenis mangrove yang dibudidayakan di situ, antara lain Sonneratia, Avicenniaceae, Rhizophora. Dalam zonasi penanaman, kawasan mangrove dibagi menjadi tiga zona yaitu: 1) zona satu atau zona terdepan dengan laut, yang ditanami Sonneratia atau biasa disebut Mangrove Apel; 2) zona dua atau zona tengah yang ditanami jenis Avicenniaceae; dan 3) zona tiga, paling belakang ditanami Rhizophora atau bisa disebut Bakau. Kegiatan konservasi memberi pengaruh sosial yang positif bagi lingkungan sekitar hutan mangrove yang sekarang bisa dijadikan lahan pertanian dan memberikan penyadaran langsung kepada masyarakat, terutama anak muda di desa Baros tentang pentingnya keberadaan hutan mangrove tersebut. Kunjungan belajar ini juga melihat ancaman nyata sampah yang sangat buruk, karena sampah-sampah yang dibuang di sungai yang mengalir membelah kota Yogyakarta semua berakhir di kawasan ini.

 

 

Melalui kunjungan langsung, para mahasiswa menangkap pemahaman baru tentang jenis social entrepreneurship dan peluang pengembangannya sehingga masing-masing peserta memiliki cita-cita dan tergerak untuk mengembangkan potensi masyarakat untuk menjawab permasalahan sosial khususnya yang berkaitan lingkungan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Menjawab Masalah Sosial dengan Wirausaha Sosial

pada hari Senin, 14 November 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh Kresensia Risna Efrieno.          

 

“Bagi sebagian orang, masalah sosial adalah tragedi yang menimpa manusia. Bagi seorang wirausaha sosial, itu adalah peluang untuk melakukan perubahan”(Rhenald Kasali)

 

Apa yang muncul di benak kita ketika mendengar kata masalah? Apa perbedaan antara masalah dan masalah sosial? Belum tentu setiap orang paham masalah sosial. Ketika terjadi masalah sosial, apa yang anak muda bisa lakukan? Stube HEMAT Yogyakarta memfasilitasi mahasiswa melalui pelatihan Social Entrepreneurship (11-13/11/2022 di Wisma Pojok Indahuntuk memahami masalah sosial di sekitarnya dan bagaimana menjadi seorang wirausaha sosial sebagai jawaban atas masalah sosial.

 

 

Dalam pembukaan, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd, Direktur Eksekutif Stube HEMAT mengenalkan apa itu masalah sosial. Masalah sosial adalah masalah yang terjadi secara terus menerus dan berdampak bagi banyak orang. Ternyata beragam masalah sosial melanda di masyarakatseperti kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan lainnya. Lalu, mahasiswa sebagai anak muda bisa melakukan apa? Bagaimana seorang anak muda bisa menjadi agen perubahan terhadap masalah sosial yang ada dengan melakukan Social Entrepreneurship. Ada 4 hal dalam Social Entrepreneurship yakni meliputi; 1) Terdapat unsur pemberdayaan masayarakat, 2) Usaha yang dilakukan bertujuan menghasikan profit yang dipakai untuk menjawab masalah sosial, 3) Target perubahan sosial berjangka Panjang dan dilakukan terus menerus, dan 4) Dilakukan dengan pendekatan bisnis dan pendekatan sosial untuk mengatasi masalah.

 

 

Mendalami problem solving ini, tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta mengenal beberapa tokoh wirausaha sosial, yaitu Sugeng Handoko, yang mengembangkan anak muda di Nglanggeran (Gunungkidul), Goris Mustaqim yang membangkitkan semangat kerja anak muda di Garut, Gamal Albinsaid, menginisiasi layanan kesehatan masyarakat miskin melalui bank sampah di Malang dan Alan Efendhi yang memberdayakan masyarakat desa di kawasan gersang di Gunungkidul melalui budidaya dan bisnis aloe vera. Tak ketinggalan ditayangkan kiprah aktivis Stube HEMAT yang kembali ke daerahnya dan menjawab masalah sosial yang ada, seperti: 1) Elisabeth Uru Ndaya, S.Pd, di Sumba Timur melihat kaum perempuan perlu memiliki kekuatan untuk mandiri dan produktif, sehingga ia menginisasi belajar menenun, 2) Frans Fredi, Lambanapu, Sumba Timur yang mengalami tantangan pengangguran, anak muda menganggap pertanian tidak prospektif dan permainan harga, sehingga ia menyuarakan gerakan petani muda, dan 3) Di Alor, Petrus Maure menggagas pemanfaatan potensi lokal Alor dari kelapa, kemiri untuk menjawab pengangguran anak muda dan hasil kebun setempat yang belum diolah optimal.

 

 

Eksposur lapangan menjadi cara belajar komprehensif melengkapi pemahaman kognitif yang diperoleh. Kelompok satu berkunjung ke Bank Sampah Lintas Winongo di Jetis, Kota Yogyakarta, yang menggerakan penduduk setempat memilah sampah dan menjualnya di bank sampah sehingga mendapat uang tambahan. Kelompok dua menuju Baros, Bantul untuk berdialog dengan Komunitas Akar Napas yang melihat kawasan mangrove yang terancam sampah, luasan kawasan semakin menyempit, sehingga perlu penguatan anak muda peduli lingkungan termasuk manfaat untuk masyarakat di sekitar kawasan mangrove. Kelompok tiga belajar ke Agradaya (Agararia Berdaya) di Minggir, Slemanyang bergerak membantu petani empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak mendapatkan kesejahteraan dengan mengolah hasil panen menjadi bahan siap olah dan produk jadi untuk dipasarkan lebih luas. Kelompok empat mengunjungi Credit Union Cindelaras Tumangkar di Condongcatur, Sleman sebagai alat perjuangan anggota Credit Union dan keberpihakan masyarakat miskin untuk mandiri dan meraih kesejahteraan melalui edukasi keuangan dan pengelolaan keuangan yang baik. Selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan pengalaman kunjungan belajar dan menemukan inspirasi usaha yang bisa mereka lakukan untuk menjawab masalah sosial di daerah.

 

 

Pada sesi akhir Pdt. Sundoyo, S.Si., MBA memandu peserta memetakan masalah sosial dan wirausaha sosial menggunakan Kanvas Model Bisnis (KMB) yang dikenalkan oleh Osterwalder dan Oigneur (2012). Dalam pemetaan permasalahan, peserta membidik daerah masing-masing dan menemukan masalahsolusi dan aksi dengan konsep kewirausahaan sosial. Hasil ini menjadi panduan peserta menindaklanjuti pelatihan dalam aksi nyata.

 

 

Ketika mahasiswa mendapat kesempatan dan pendampingan, mereka bisa menjadi generasi penerus daerah yang membawa perubahan daerah menjadi lebih baik, karena kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Mahasiswa berwirausaha sosial, bisa! ***

 


 


  Bagikan artikel ini

Mewujudkan ‘Be Yourself’

pada hari Minggu, 30 Oktober 2022
oleh Koordinator Stube HEMAT wilayah Yogyakarta
Oleh: Koordinator Stube HEMAT wilayah Yogyakarta.          

 

Be Yourself, ini ungkapan sederhana, mudah diucapkan tetapi kenyataanya tidak mudah dilakukan, bahkan oleh mahasiswa. Menjadi diri sendiri atau Be Yourself itu tidak mudah, karena perlu waktu panjang dan bukan sesuatu instan yang terwujud dalam semalam. Kata-kata ini menjadi pengantar Trustha Rembaka, dari Stube HEMAT Yogyakarta dalam kegiatan Masa Pembimbingan anggota baru PMKRI Yogyakarta (29/10/2022). Keterlibatan di kegiatan ini merupakan komitmen Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dan pengembangan SDM, dalam upaya peningkatan kapasitas mahasiswa dan penguatan jejaring antar lembaga mahasiswa.

 

 

Trustha mengawali sesi ini dengan membagi dua puluhan mahasiswa ke dalam kelompok untuk memperkenalkan diri dan menceritakan potensi diri mereka. Beberapa dari mereka berasal dari Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Papua, Sumatera, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi. Setiap orang dituntut menjadi diri sendiri dengan segala kekurangan dan kekuatan, sekaligus menjadi jawaban untuk sesama. Namun, tidak setiap orang mudah menjadi diri sendiri, karena ada beragam faktor yang mempengaruhi bahkan dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, pendidikan dan masyarakat. Bisa jadi mereka tidak secara langsung mengajarkan bagaimana menjadi diri sendiri, tetapi tidak bisa dihindari kadang muncul ucapan-ucapan yang merendahkan, membuat pesimis dan menyangsikan. Akibatnya, muncul rasa minder, membandingkan diri dengan orang lain dan takut terhadap ‘apa kata orang’ yang memicu penolakan terhadap keadaan dirinya.

 

Bertitik tolak dari Kitab Suci dari Kejadian 1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Peserta mengingat kembali dan meyakini bahwa keberadaan diri mereka sangat baik dan mestinya tidak ada keraguan bahwa diri mereka memiliki keistimewaan. Ada tahapan untuk menjadi diri sendiri, antara lain 1) mengenal diri dan menerima keadaan diri, kemudian menemukan kekuatan diri mereka dan mengekspresikannya, dalam hal ini seseorang bisa mengetahuinya dengan mengikuti tes kepribadian dan meminta feedback dari orang lain yang terpercaya. 2) Mengidentifikasi persepsi negatif tentang diri sendiri dan menghilangkannya, kemudian ganti dengan kata-kata positif dan membangun optimisme. 3) Melakukan hal-hal baik yang menjadi panggilan hati dan mengerjakannya dengan penuh kesungguhan. 4) tidak mudah menyerah atau tangguh akan tantangan yang muncul karena jalan keluar selalu ada.

 

 

Dikaitkan dengan nilai-nilai PMKRI tentang kepedulian pada sesama, kemanusiaan dan universalitas, Trustha mengingatkan Kembali kata-kata Mother Teresa tentang “Tetaplah di tempatmu. Temukan Kalkuta-mu sendiri. Temukan yang sakit, yang menderita, dan yang kesepian, tepat di mana kamu berada, di rumahmu sendiri dan di keluargamu sendiri, di rumah dan di tempat kerjamu dan di sekolahmu. Kamu bisa menemukan Calcutta di seluruh dunia jika kamu memiliki mata untuk melihat. Ke mana pun, ke mana pun kamu pergi, kamu menemukan orang-orang yang tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan, ditolak begitu saja oleh masyarakat, benar-benar dilupakan, benar-benar ditinggalkan sendirian.” Pesan ini mengingatkan peserta untuk menjadi diri sendiri melalui aktualisasi diri yang menjawab realita yang terjadi di sekitar mereka.

 

Selanjutnya, sebagai aktualisasi diri, peserta diminta mencoba menghubungkan diri mereka dan pengetahuan yang mereka pelajari di kampus dengan orang-orang yang mengalami kesulitan. Beberapa peserta mencoba mengungkapkannya, seperti Jefri dari Manggarai yang kuliah hukum akan membantu edukasi hukum untuk masyarakat, misalnya membuat pengaduan hukum ke kepolisian, dan Meri, mahasiswa dari Sorong akan membantu anak-anak di kampung halamannya belajar membaca dan menulis. Pendekatan ini menjadi terapan praktis bagi mahasiswa dengan ilmu yang mereka pelajari memiliki keterhubungan dengan realita yang ada di masyarakat, dimana konsep ini selaras dengan visi Stube HEMAt terwujudnya kesadaran khususnya anak muda dan mahasiswa untuk memahami masalah di sekitarnya. Jadilah mahasiswa yang menjadi diri sendiri melalui aktualisasi diri. ***

 


  Bagikan artikel ini

Mampu Berkomunikasi dan Menemukan Solusi

pada hari Senin, 24 Oktober 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMA BOPKRI Banguntapan

 

Oleh Kresensia Risna Efrieno.          

Apyang sebenarnya diharapkan dalam kepemimpinan? Seorang pemimpin yang baik? Bertanggungjawab? Ya, tentu saja itu yang menjadi harapan setiap orang, baik yang dipimpin maupun yang memimpin. Setiap orang berusaha mencari pengalaman bagaimana menjadi pemimpin yang baik untuk sebuah organisasi. Menjadi pemimpin adalah tugas mulia karena menjadi contoh sekaligus sosok yang mendorong anggotanya melakukan kebaikan dan berdampak positif bagi organisasi dan masyarakat.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta ‘concern’ pada pengembangan sumber daya manusia, dan mendorong anak muda menjadi pemimpin yang berdampak positif bagi masyarakat. Dalam kesempatan ini Stube HEMAT Yogyakarta mendampingi pengurus OSIS SMA BOPKRI Banguntapan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan, di Joglo Pasinaon, Kalasan, Sleman (Sabtu22/10/2022). Ada 25 siswa dan beberapa guru berpartisipasi dalam kegiatan untuk membentuk jiwa kepemimpinan pengurus OSIS yang terpilih.

 

 

 

 

Di awal sesi, para peserta mengenal Stube HEMAT program melalui link YouTube Stube HEMAT Videos. Selanjutnya, Kresensia Risna Efrieno, salah satu team Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta dalam Dinamika Kelompok. Peserta dibagi kedalam tiga kelompok dan masing-masing menentukan seorang pemimpin. Para pemimpin tersebut diminta membayangkan suatu gambar dan menggoreskan garis di kertas dan dilarang menyebutkan gambar imajinasi ke anggotanya. Selanjutnya, anggota kelompok meneruskan goresan yang ada. Di akhir proses ternyata gambar berbeda dengan imajinasi para pemimpin. Mengapa bisa terjadi? Karena pemimpin tidak mengungkapkan apa yang menjadi impiannya dan anggota menebak gambar apa yang dipikirkan sang pemimpin. Aktivitas ini mengajarkan bagaimana seorang pemimpin dan anggotanya untuk bisa saling mengkomunikasikan ide dan menjaga kekompakan kelompok untuk mencapai tujuan, dalam hal ini OSIS.

 

 

 

 

Dalam sesi berikutnya, Trustha Rembaka, S.Th koordinator Stube HEMAT Yogyakarta mengundang peserta untuk membaca komitmen peserta bahwa LDK ini “...melahirkan seorang pemimpin yang berdedikasi tinggi, tanggap terhadap suatu permasalahan memang tidak mudah. Bukan hanya kecakapan dan kecerdasan yang diperlukan, tetapi rasa tanggung jawab, peka terhadap situasi dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi agar nantinya ketika menjadi pemimpin mampu mengayomi yang dipimpinnya.” Trustha membantu kelompok memetakan tantangan yang dihadapi SMA BOBAYO. Proses ini membantu pengurus OSIS mengidentifkasi tantangan yang ada dan menemukan solusi yang bisa mereka lakukan sebagai program kegiatan OSIS. Satu kelompok menemukan jumlah siswa sekolah masih sedikit, sehingga mereka akan mempromosikan sekolah melalui podcast tentang kegiatan sekolah, siswa dan keberhasilannya, tour vocal group di gereja-gereja, dan mengadakan lomba antar siswa SMP. Kelompok berikutnya mengungkapkan keterbatasan kemampuan siswa di pelajaran tertentu maupun keterampilan yang dimiliki. Dari identifikasi ini mereka membuat kelompok kecil untuk membantu siswa yang kesulitan pelajaran, misalnya Matematika dan belajar alat musik.

 

 

Para peserta menunjukkan antusiasme ketika mendapat ruang mengungkapkan pendapat dan mengusulkan ide sebagai solusi dari masalah-masalah yang dihadapi. Di titik ini sudah muncul karakter kepemimpinan yang baik, komunikatif, dan kerjasama yang baik dalam organisasi. Harapannya gagasan dan solusi yang ditawarkan bisa menjadi program kerja pengurus OSIS SMA BOPKRI Banguntapan. VIVA BOBAYO***

 


  Bagikan artikel ini

Ubi Adalah Ibu

pada hari Minggu, 18 September 2022
oleh Yuel Yoga Dwianto
Oleh Yuel Yoga Dwianto.           

 

Makan bukan hanya soal mengenyangkan perut. Makan juga bukan hanya sekedar memasukkan makanan ke dalam mulut, dikunyah, dirasakan lalu ditelan. Kini, banyak manusia tak lagi makan apa yang ditanam sendiri, namun makan dari hasil tanaman pihak lain. Bisa jadi di masa depan manusia tidak lagi makan dari yang ditanam di tanah, melainkan dari cetakan mesin serta robot canggih, sehingga pangan lokal yang tradisional dianggap ketinggalan jaman. Itulah kegelisahan bersama  bagi orang yang hidup di negeri subur yang melimpah susu dan madunya.

Harusnya, tanah yang mengubah tongkat kayu jadi tanaman ini mampu menghidupkan dan menghidupi manusia yang tinggal di atasnya tanpa kekurangan. Pangan adalah hal sensitif yang tidak bisa tak terpenuhi. Peristiwa sejarah mencatat, penjajah datang ke bumi Nusantara untuk mencari rempah-rempah dan sumber pangan lainnya. Namun, kini semua telah berubah. Kita dengan bangga mengakui kemerdekaan, tetapi menjadi ironis karena dibarengi dengan kebanggaan bahwa makanan yang berkelas adalah makanan dari luar negeri. Celakanya, tanpa kita sadari, bahan baku makanan tersebut dari negeri kita dan kita terjebak dengan budaya konsumerisme produk luar. Jika demikian, sudahkah kita benar-benar merdeka? Ya, kita sedang dijajah oleh makanan-makanan dan produk-produk impor.

 

 

Sekarang, yang perlu dipikirkan adalah bukan bagaimana menyaingi kekuatan perang negara lain, tetapi  bagaimana negara ini memberi makan rakyatnya dengan pangan yang bibitnya dimiliki rakyat lokal, ditanam di tanah rakyat, dipanen oleh rakyat, dijual dengan harga merakyat, dan dikonsumsi rakyat supaya sehat. Jika itu disadari dan dilakukan, maka kedaulatan tidak hanya pemikiran, melainkan juga kebutuhan pangan.

 

 

 

 

Penulis berasal dari Kotabumi, Lampung Utara di mana Ubi adalah ibarat Ibu yang menyokong kehidupan, karena ribuan hektar ubi dibudidayakan di wilayah ini. Meskipun mengandung sumber karbohidrat tinggi, akar kemakmuran ini tidak begitu diminati sebagai bahan pokok makanan karena dianggap kampungan. Ada beragam jenis ubi-ubian yang tumbuh, namun hanya sedikit orang yangmengolah. Menjadi perenungan bersama saat menggemari makanan impor,  dengan bertanya pada diri sendiri, bagaimana nasib pangan lokal ke depannya? Relakah jika harta kita berupa pangan lokal hilang dan terlupakan?  

Sebagai pemuda lokal, penulis memiliki harapan tumbuhnya kesadaran untuk mencintai pangan lokal dari hasil tanah sendiri karena salah satu kekuatan perang terbaik adalah perut kenyang dan salah satu bentuk kemakmuran adalah lumbung yang tidak pernah habis. Lumbung itu adalah tanah kita, maka janganlah kita bergantung pada lumbung orang lain. ***

 


  Bagikan artikel ini

Pohon Sagu: Rumahku dan Makananku

pada hari Jumat, 16 September 2022
oleh Sarlota Wantaar
Oleh: Sarlota Wantaar          

 

Setiap daerah mempunyai makanan khas masing-masing dan belum tentu makanan tersebut ada di setiap tempat. Salah satunya di tempat saya berasal adapangan lokal yang unik yang menjadi salah satu makanan khas orang Maluku. Tidak semua orang mengetahuinya dan tidak semua tempat ada, hanya ada di daerah-daerah tertentu. Saya, Sarlota Wantaar dari Maluku, sebuah daerah kepulauan yang dikelilingi laut sehingga wajar apabila sebagian besar penduduknya tinggal di pesisir pantai. Tempat saya ini memiliki salah satu makanan khas yang menjadi sumber karbohidrat, yaitu sagu.

 

 

 

 

Sagu atau Metroxylon spadalah tanaman yang tumbuh di daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut, daerah aliran sungai, dekat dengan sumber air dan hutan-hutan rawa. Sagu memilki akar serabut yang sangat kuat dan menebal seiring dengan bertumbuh dan berkembangnya pohon ini. Batangnya membesar sesuai dengan pertumbuhan, mencapai tinggi 30 meter, berdiameter rata-rata 35-50 cm, bahkan ada yang berdiameter 80-90 cm, daunnya menjari memanjang mencapai 6-7 meter dan melebar 5 cm dengan berinduk tulang daun di tengah, serta memiliki buah setelah berusia dua tahun dan berbunga ketika usia 10-15 tahun. Kemunculan bunga menjadi tanda bahwa pohon sagu siap untuk dipanen.

 

 

 

 

Dari data Kementerian Pertanian Indonesia, areal sagu nasional seluas 206.150 hektar (2021) yang sebagian besar berupa perkebunan rakyat. Pohon sagu dominan tumbuh di kawasan Timur Indonesia, seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan SelatanNamun berdasar propinsi, Riau merupakan propinsi yang memiliki kapasitas produksi tertinggi, yaitu 261,7 ribu ton (2020) dibanding Papua 67,9 ribu ton, dan Maluku 10,04 ribu ton. Mengenai potensi lahan,Indonesia memiliki 5,5 juta hektar namun baru dimanfaatkan 5% saja, jadi sebenarnya masih bisa dikembangkan ke depan.

 

 

Ada dua proses mengolah sagu menjadi bahan makanan, yakni secara manual dan menggunakan mesin. Secara manual yaitu pohon sagu yang sudah tua ditebang menggunakan kapak karena pohon sagu sangat besar dan keras, sehingga tidak bisa menggunakan parang. Kemudian, batang sagu dikupas kulitnya, batang sagu ditetak menggunakan pangkur atau pahat secara bertahap dan dikumpulkan. Selanjutnya, proses peremasan menggunakan dua wadah untuk memulai peremasan serut-serut sagu. Setelah wadah disiapkan, kemudian menyiapkan penyaringan yang terbuat dari kain yang halus, setelah semua peralatan siap maka dilanjutkan dengan proses peremasan menggunakan air mengalir. Setelah diremas, dibiarkan atau diendapkan. Hasil saringan atau pati dipindahkan ke wadah, biasanya memanfaatkan daun sagu yang dibuatKetika sudah jadi, maka sagu siap diolah dengan bergai macam seperti membuat papeda yang langsung dimakan sebagai pengganti nasi, digoreng, cemilan, membuat kue, dan pom-pom.

 

 

Pohon sagu, selain untuk bahan makanan,bagian-bagian pohon sagu bisa digunakan untuk bahan bangunanseperti daunnya untuk atap rumah, disebut rumbia. Kemudian pelepah bisa digunakan untuk tembok rumah, seperti rumah adat Maluku yang unik dengan atapnya dari daun sagu.Pemanfaatannya pun semakin berkembang dengan desain yang kreatif. Rumah yang terbuat dari kayu pohon sagu tetap eksis di masyarakat walaupun zaman sudah modern, karena budaya dan semangat untuk melestarikan terus terjaga. Mari cintai dan lestarikan potensi lokal daerah! ***


  Bagikan artikel ini

Menggagas Tour Kopi di Waerebo

pada hari Rabu, 14 September 2022
oleh Eufemia Sarina
Oleh Eufemia Sarina.          

 

Pangan lokal menjadi isu aktual, baik yang terkait budidaya atau pun pengolahannya. Sayang, masyarakat khususnya di desa masih banyak yang belum tercerahkan tentang kekayaan pangan lokal yang dimiliki, bahkan merasa bahwa pangan lokal mereka tidak prospektif. Ini terjadi karena keterbatasan pengetahuan, lemahnya inovasi, rasa ingin tahu yang rendah, malas mengerjakan dan cenderung lebih suka menjadi penikmat saja. Generasi milenial sangat dibutuhkan karena dianggap mampu berinovasi, mengeksekusi, dan mempublikasikan inovasi lewat teknologi.

 

 

Dalam program Keanekaragaman Hayati bersama Stube HEMAT Yogyakarta, anak muda menjadi harapan untuk membangun daerah dengan memanfaatkan potensi pangan lokal. Stube HEMAT Yogyakarta mengantarkan saya dan peserta mahasiswa lainnya yang berlatar belakang asal dan kampus berbeda, melakukan pelatihan dan eksposur di beberapa tempat di kabupaten Gunungkidul untuk membuka pikiran dan wawasan baru mengenai pangan lokal dan prospeknya. Kegiatan ini menjembatani ketimpangan antara teori dan praktek yang dimiliki mahasiswa untuk melihat peluang dan realita kebutuhan di dalam masyarakat.

 

 

 

Saya, Eufemia Sarina mahasiswa STIPRAM asal Manggarai Nusa Tenggara Timur, mengutip perkataan salah satu narasumber, Alan Efendi sebagai salah satu inisiator industri rumah tangga Aloe Vera di desa Katongan, Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, yang mengatakan bahwa usaha membutuhkan ilmu dan motivasi, jika gagal harus dicoba lagi. Melalui pelatihan ini saya menemukan pengalaman dan gagasan baru khususnya bagaimana mengolah pangan lokal di daerah saya, khususnya kopi.

 

 

 

Saya ingin melakukan hal yang berbeda untuk desa saya, Waerebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang kini menjadi salah satu desa wisata yang mendunia. Saya tertantang melakukan inovasi dengan mengangkat kopi sebagai alternatif tujuan wisata. Mengapa saya memilih kopi sebagai alternatif wisata baru di Waerebo? Jawabannya karena Waerebo merupakan salah satu kampung penghasil kopi terbesar di Manggarai dan memiliki aneka jenis kopi seperti Arabika, Kolombia dan Robusta. Dari pengamatan saya selama ini, wisatawan selalu menanyakan kopi yang disuguhkan kepada mereka, dan masyarakat hanya memberi tahu nama kopi tanpa menunjukkan seperti apa bentuk dan warna kopi yang dimaksud. Dengan menyediakan wahana tour kopi, wisatawan tidak hanya menikmati keunikan Rumah Adat Waerebo dan menyeduh secangkir kopi yang dihidangkan, tapi juga bisa mengalami langsung mulai dari proses pembibitan, penanaman, perawatan, petik kopi dan mengolah kopi yang memiliki proses memilah, menjemur, menggiling sampai menghasilkan bubuk kopi. Sehingga, ketika wisatawan berkunjung ke Waerebo, mereka memperoleh pengetahuan serta pengalaman tentang kopi Waerebo.

 

 

 

Mungkin bagi masyarakat hal ini adalah hal biasanamun kalau dikembangkan, siapa tahu ide ini menjadi daya tarik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menjadikan Waerebo sebagai desa wisata kopi impian. Siapa lagi yang akan memulai kalau bukan anak muda Waerebo sendiri? Janganlah ketika selesai kuliah, hanya membawa kertas berisikan nilai tetapi tidak bisa berkontribusi untuk desanya. Selagi masih di Jogja, perluas jaringan, perbanyak wawasan, berorganisasi dan mengenal peluang-peluang untuk dikembangkan di desa. Waerebo, tunggu saya pulang.***

 


  Bagikan artikel ini

Membidik Peluang Peternakan Kambing Perah

pada hari Senin, 12 September 2022
oleh Daniel
Oleh: Daniel.          

 

Sebagai agen penggerak perubahan, pemuda memiliki peran penting dan posisi strategis dalam mempelopori pembangunan desa, salah satunya di sektor peternakan kambing perah. Di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan tren positif adanya inisiatif melihat potensi lokal melalui pengembangan kambing perah dari hulu ke hilir. Peningkatan usaha kambing perah tidak lepas dari sambutan positif pasar susu kambing walaupun populasinya masih fluktuatif dari waktu ke waktu.

 

 

 

 

Pemikiran di atas terungkap dalam sesi kunjungan belajar di peternakan kambing perah di desa wisata Nglanggeran Wetan, kecamatan Patuk, kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Ini bagian dari  pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta (Minggu 28/8/2022) di sebagian sesi pelatihan dari ‘Keanekaragaman Hayati: inisiatif pangan lokal’. Di peternakan ini terdapat beberapa jenis kambing perah, antara lain peranakan Etawa (PE), kambing Saanen,dan kambing Sapera, hasil persilangan kambing Saanen jantan dan kambing PE betina, yang merupakan kambing penghasil susu, dengan harga jual susu berkisar Rp. 20.000-Rp.30.000 per liter. 

Jumlah populasi kambing di peternakan tersebut sekitar 15 -20 ekor, dan sedang masa perah dengan hasil susu segar rata-rata 1-2 liter/hari. Selain susu segar, produk susu kambing diolah menjadi beragam olahan susu dengan beberapa varian rasa, permen susu, sabun susu dan lain lain. Pengolahan susu segar menjadi produk turunan akan meningkatkan varian produk dan memperpanjang masa penyimpanannya juga mengangkat harga jual tetap tinggi dengan membuat tampilan lebih menarik.

 

 

Berdasar penelitian United State Departement of Agriculture (USDA), gizi susu kambing Etawa mendekati komposisi sempurna Air Susu Ibu (ASI). Di setiap 100 gram susu kambing mengandung komposisi 4-7% lemak, 3-4% protein, 134, gram kalsium, 4,5% karbohidrat, dan 111 g fosfor. Komposisi kimiawi susu kambing Etawa mengandung protein, karbohidrat, kalori, kalsium, fosfor, besi, lemak, natrium, magnesium, kalium, vitamin A,B1 (IU), B2 (mg), B6, B12, C, D, E, Niacin, V, Asam Pantotenant, Kolin dan Inositol. Kandungan lemak susunya  lebih rendah daripada susu sapi.

 

 

Peternakan kambing perah menjadi peluang usaha yang menggiurkan, karena kandungan susu kambing lebih unggul dibandingkan dengan susu sapi, terlebih gaya hidup masyarakat saat ini yang semakin ‘melek’ kesehatan, sehingga pengembangan peternakan kambing perah dapat menjadi bisnis yang potensial, bahkan, ke depan, pasar susu kambing bisa menyaingi pasar susu sapi.

Anak anak muda di berbagai daerah bisa mengembangkan peternakan kambing perah sebagai alternatif yang menghasilkan yang tidak kalah dengan penghasilan dari pekerjaan kantoran bila ditekuni. Bahkan manfaat akan berlipat jika pengelolaan usaha meliputi hulu ke hilir dan dengan sentuhan teknologi untuk meningkatkan produktivitas susu kambing dan pengolahannya. Capaian lebih jauh adalah terwujudnya swasembada susu kambing.

Kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta berhasil membuat keterhubungan antara anak muda dengan potensi lokal di daerah asalnya dan anak muda menemukan pencerahan untuk mulai memberikan perhatian terhadap potensi pangan lokal dan mengembangkannya. Sukses selalu Stube HEMAT Yogyakarta. ***


  Bagikan artikel ini

Mandiri Dengan Pangan Lokal

pada hari Senin, 29 Agustus 2022
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

Oleh Yonatan Pristiaji Nugroho.          

 

Setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing, salah satunya makanan lokal yang dihasilkan. Bicara mengenai pangan lokal tidak hanya produk siap konsumsi, tetapi juga ragam bahan, cara mengolah, budidaya, dan para pelaku usahanya. Sebagai lanjutan untuk mendalami kemandirian pangan dan pengolahan pangan lokal, Stube HEMAT Yogyakarta menyediakan ruang belajar bagi mahasiswa dalam pelatihan Keanekaragaman Hayati: Inisiatif Pangan Lokal di Yogyakarta dan Gunungkidul untuk belajar potensi pangan, bahan baku, olahan makanan, dan kreativitas mengolahnya (26-28/8/2022).

 

 

Dalam pembukaan pelatihan, Pdt. Bambang Sumbodo, Board Stube HEMAT, mengungkapkan bahwa manusia mendapat berkah kekayaan alam untuk dikembangkan dan dilestarikan, termasuk bahan pangan lokal yang ada harus dimanfaatkan dan diolah sesuai kebutuhan. Setiap individu yang menggeluti pengolahan lokal akan berinteraksi dengan ekonomi, pendidikan,pemasaran, teknologi digital yang saling berhubungan dalam pengembagan pangan lokal dan kreativitasnya.

 

 

Berkait masalah pangan di Indonesia, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Eksekutif Stube HEMAT mengingatkan pertumbuhan penduduk mengancam ketahanan pangan, dari Indeks Ketahanan Pangan, Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun dan 2021 Indonesia berada di posisi 69 dari 113 negara. Ketahanan pangan berarti kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai perorangan, tersedianya pangan yang cukup, aman, bergizi, mutu, beragam, terjangkau, merata, tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat untuk hidup sehat, aktif, produktif secara berkelanjutan. Sebuah tantangan bagi generasi muda untuk membangun ketahanan pangan di masa yang akan datang.

 

 

Melengkapi proses pelatihan, bersama Visca Veronica (guru SMK BOPKRI 2 Yogyakarta), peserta mendalami sorgum sebagai alternatif pangan lokal dengan kandungan vitamin dan nutrisi tinggi. Harus diakui sebagian besar peserta baru mendengar tentang sorgum, padahal sorgum bisa diolah  menjadi nasi, tepung, brownies, cookies dan produk lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, bahkan saat ini sorgum terus dikembangkan di beberapa kawasan di Indonesia.

 

 

Dalam sesi eksposur Gunungkidul, peserta mempelajari aloe vera bersama AlanEfendhi, pelaku usaha dan budidaya Aloe Vera di Nglipar, Gunungkidul. Ia memilih tanaman yang bisa tumbuh di kawasan kering tetapi punya nilai ekonomi tinggisebagai minuman dan makanan. Selanjutnya, di Playen, Gunungkidul para peserta difasilitasi oleh Suti Rahayu, perintis UKM Putri 21, yang mengolah singkong menjadi mocaf dan beragam produk unggulan, seperti mie, cookies, tepung dan beras analog. Di sini peserta menemukan istilah baru ‘beras analog’ yaitu olahan dari tepung singkong, jagung, ubi jalar menjadi seperti beras. Ini  adalah bahan makanan sehat karena rendah gula. Bahkan ada beragam tepung yang berasal dari pisang, sukun, kulit pisang, kacang hijau, dan kedelaiIni menjadi inspirasi mahasiswa untuk mengembangkan potensi daerah dengan potensi yang ada. Di kawasan Gunung Api Purba Nglangeran, peserta membagi diridalam tiga kelompok sesuai dengan minat.Kelompok satu mendalami budidaya coklat dari bibit sampai fermentasi buah coklat,kelompok dua mengolah coklat menjadi dodol dan bubuk coklat instan, dan kelompok tiga belajar budidaya kambing ettawa dan mengolah susu kambing menjadi bubuk dan permen.


Pelatihan ini menginspirasi peserta untuk mengeksplor potensi daerah mereka dan bagaimana mengolah menjadi produk yang bermanfaat, seperti yang diungkapkan Patrick, mahasiwa dari Papua barat yang kuliah di STPMD APMD, “Ini pengalaman yang luar biasa karena saya belajar makanan lokal yang belum ada di daerah asal saya, dan ini memotivasi saya untuk mengolah bahan pangan di Papua menjadi makanan dikenal orang.”

Anak muda, jadilah generasi muda yang peka terhadap potensi daerah, petakan dan olah potensi pangan lokal demi terciptanya kemandiriandan ketahanan pangan! ***

 


 


  Bagikan artikel ini

Berinovasi Dengan Pangan Lokal

pada hari Minggu, 28 Agustus 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Kresensia Risna Efrieno         

 

Kekayaan Indonesia menjadi peluang inovasi yang memberikan nilai tambah, salah satunya adalah inisiatif untuk mengolah pangan lokal. Ini penting dipahami oleh masyarakat di daerah untuk meninjau kembali kekayaan alam yang bisa diolah khususnya oleh anak muda. Pertanyaannya, sudahkah kita mengetahui potensi yang ada di daerah masing-masing?  Apa yang bisa anak muda lakukan? Menjadi sebuah kekhawatiran bersama jika anak muda Indonesia tidak tahu potensi daerahnya sendiri.

 

 

Sebagai respon terhadap pangan lokal, Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan Keanekaragaman Hayati: Inisatif Pangan Lokal. Mahasiswa belajar keanekaragaman hayati termasuk mengenal dan memetakan pangan lokal di daerah masing-masing. Peserta pelatihan berproses dari brainstorming tentang potensi pangan lokal hingga mengenal indeks ketahanan pangan di Indonesia. Selain itu, mahasiswa juga berkunjung langsung ke tempat pengolahan pangan lokal yang inspiratif, yaitu UKM Putri 21 di Playen, Gunungkidul yang mengolah tepung Mocaf (Sabtu, 27/08/2022). UKM Putri 21 berawal dari inisiatif Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ingin berinovasi dengan mengolah singkong menjadi produk lain dan tahan lama. Nama kelompok ini diambil dari 21 kaum perempuan yang bersemangat untuk merintis mengolah singkong menjadi tepung Mocaf (Modified Cassava Flour).

 

 

Proses pengolahan Mocaf memanfaatkanfermentasi memakai mikroba sehingga tepung yang dihasilkan berwarna putih dan berkurang aroma singkongnya. Pada tahap awal, singkong yang dibutuhkan ditimbang,  dikupas dan diparut. Pada tahapan fermentasi, singkong direndam selama 3 hari dan air rendaman diganti tiap 24 jam. Tahapan selanjutnya adalahpengeringan singkong di bawah sinar matahari. Setelah kering, giling bahan mocaf, dan ayak halus. Tepung mocaf sudah siap dan siap diolah. KetekunanUKM Putri 21 mengolah Mocaf mengantar UKM 21 mendapat Surat Tanda Pendaftaran Industri Kecil dari Departemen Perindustrian Republik Indonesia dengan nama usaha ‘Putri 21Saat ini UKM 21 memproduksi mie mocaf, beras analog dan cookies mocaf, sedangkan produk singkong lainnya adalah gathot instan, thiwul instan, kemudian produk selain singkong, yaitu keripik jantung pisang, keripik kulit telo, keripik bonggol, pia isi ubi ungu dan lainnya.

 

 

Kunjungan belajar ini memperkaya wawasan dan pengalaman mahasiswa tentang pengolahan pangan lokal, termasuk mencicipi hasil olahan dari bahan dasar singkong, yaitu beras analog,yang terbuat dari singkong, ubi jalar dan jagung. Peserta mengaku bahwa ini pertama kali makan beras analog. “Ternyata rasanya sama seperti rasa nasi dari beras ya,” ungkap beberapa peserta. Setelah itu, mahasiswa menyimak paparan dari ketua sekaligus perintis UKM Putri 21,Suti Rahayu, yang mengalami kegagalan tapi tidak menyerah dan akhirnyaberkembangbahkan kewalahan memenuhi permintaan pasar. Selanjutnya peserta mengamati proses pembuatan tepung mocaf dan produk-produk UKM Putri 21 yang dipasarkan di “Toko Putri 21”. Kemasan produk merupakan karya design sendiri dan produk-produk tersebut telah dipasarkan di beberapa tokojejaring, online, sampai gerai di bandara YIA.

 

 

Jadi, pada dasarnya pengolahan pangan lokal berawal dari kemauan dan ketekunan untuk memulai, yang  bisa membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapat nilai tambah ekonomi dari inovasi-inovasi produk. Jangan menunggu lama lagi, mahasiswa dan anak muda segera melangkah untuk memetakan potensi lokal di daerahnya dan mengolah menjadi produk yang menarik dan menguntungkan.***

 


  Bagikan artikel ini

Mari Hidup Sejahtera dengan Aloe Vera

pada hari Minggu, 28 Agustus 2022
oleh Thomas Yulianto
Oleh Thomas Yulianto.          

 

Aloe Vera adalah tanaman yang seringkali dianggap tidak memiliki nilai ekonomis, namun di tangan seorang pemuda dari Ngilpar, Gunung Kidul, yang bernama  Alan Efendi, Aloe Vera disulap menjadi minuman siap saji yang bernilai ekonomis tinggi. Melihat proses pengolahan Aloe Vera sungguh menarik, untuk itu Stube HEMAT Yogyakarta bersama tiga puluhan mahasiswa mengadakan kunjungan belajar di desa Katongan, Nglipar, Gunung Kidul (27/08/2022).

 

 

Nglipar, Gunung Kidul merupakan daerah panas dengan curah hujan rendah sehingga hanya beberapa tanaman yang cocok dibudidayakan di daerah ini, Aloe Vera adalah salah satu tanaman yang bisa tumbuh subur di daerah seperti ini. Inilah awal mula Alan Efendi mengembangkan tanaman Aloe Vera dan selanjutnya mengolahnya menjadi minuman segar dan layak jual.

 

 

Mayoritas jenis Aloe Vera yang dibudidayakan Allan dan masyarakat di Nglipar adalah Chinensis Baker yang bisa tumbuh bertahun-tahun untuk dimanfaatkan. Produk makanan/minuman yang dibuat oleh Alan Efendi ini diberi nama Rasane Vera yang berdiri sekitar tahun 2014 dengan konsep menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Rasane Vera lahir karena kegelisahan Alan Efendi atas potensi lokal yang ada di Nglipar dan ingin mengembangkannya supaya berdampak bagi masyarakat. Sekalipun banyak tantangan yang dihadapi dan sering diragukan bagaimana pemasarannya, namun pada akhirnya usaha yang digeluti dengan kegigihan ini, bisa berkembang dan dikenal banyak orang hingga saat ini.

 

 

Proses kunjungan belajar ini memberi kesempatan kepada para peserta mempraktekkan secara langsung pengolahan Aloe Vera menjadi minuman kemasan siap saji. Dalam pelaksanaannya peserta dibagi menjadi 2 kelompok. Proses pengolahannya adalah sebagai berikut: pertama, siapkan Aloe vera jenis Chinensis Baker yang sudah berumur kurang lebih 12 bulan dari masa tanam, kemudian kupas kulit luarnya dan potong-potong dadu. Kedua, cuci Aloe Vera hingga bersih dengan air yang mengalir untuk menghilangkan lendir. Ketiga, rendam Aloe Vera dengan larutan asam sitrat selama 6–7 jam, dan cuci kembali. Keempat, rebus Aloe Vera selama 15 menit supaya matang. Kelima, siapkan gula batu yang sudah dicairkan dalam air panas dan masukan dalam cup untuk dilakukan packing. Keenam, lakukan packing pada saat air gula pada cup dalam kondisi sudah tidak panas supaya Aloe Vera lebih tahan lama, selanjutnya Aloe Vera siap dipasarkan.

 


 

Pemanfaatan Aloe Vera selain untuk minuman yang menyegarkan tubuh, ada beberapa manfaat untuk kesehatan manusia, yaitu menurunkan tensi darah, melancarkan pencernaan manusia, menurunkan hipertensi, dan melancarkan gangguan usus.

 

 

Kunjungan belajar tentang pengolahan Aloe Vera menjadi minuman kemasan yang siap saji dan memiliki nilai ekonomis tinggi menjadi bekal pengetahuan dan pengalaman bagi peserta stube HEMAT untuk mengembangkan potensi lokal yang ada di daerah masing-masing. Bukan seberapa besar keuntungan yang didapatkan melalui usaha yang kita lakukan tetapi seberapa besar usaha yang kita lakukan menjadi berkat bagi banyak orang. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Penguatan Masyarakat Pesisir di Tileng, Girisubo

pada hari Senin, 15 Agustus 2022
oleh Trustha Rembaka
Oleh Trustha Rembaka.         

 

 

 

Pendidikan mesti menjangkau setiap elemen masyarakat, dari kelompok usia, beragam latar belakang, penduduk kota sampai desa, sehingga masyarakat memiliki akses untuk mengalami kemajuan dan kesejahteraan. Semangat berkemajuan mesti dimiliki setiap orang maupun lembaga untuk ikut ambil bagian dalam menjembatani kesenjangan baik pendidikan, ekonomi, teknologi dan lainnya. Semangat ini juga menjiwai Stube HEMAT Yogyakarta merespon kerjasama dengan kelompok mahasiswa KKN di kalurahan Tileng, Girisubo, Gunungkidul, dengan mengutus Trustha Rembaka menjadi fasilitator pelatihan tentang Ekonomi Kreatif berbasis Maritim dan Konservasi Lingkungan di Sekolah Alam Pesisir, dusun Nanas, Kelurahan Tileng (Minggu 14/8/2022). Ini juga sebagai tindak lanjut program Pendidikan di Era Teknologi Maju: Jangan Biarkan Seorang pun Terbelakang.

 

 

 

 

Kalurahan Tileng merupakan salah satu Kalurahan di kapanewon Girisubo, kabupaten Gunungkidul dengan luas wilayah 17.721 hektar yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia sepanjang 7,2 km dengan sebagian besar berupa tebing. Wilayah ini memiliki tiga kawasan yaitu pemukiman, tegalan atau sawah tadah hujan, dan sempadan laut atau kawasan pesisir. Penduduk berjumlah 4.336 jiwa yang mayoritas bekerja sebagai petani tadah hujan dan peternak.

 

 

Dalam diskusi, Trustha memaparkan kalurahan Tileng adalah salah satu pelopor desa maritim di DIY untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di kawasan itu. Ini wujud visi Gubernur DIY untuk menjadikan pesisir selatan sebagai halaman depan DIY dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Ekonomi maritim menjadi pilar perekonomian di pantai selatan DIY, tidak saja mengandalkan perikanan dan kelautan, namun juga pertanian dan pariwisata. Langkah awal berupa pengembangan sumber daya manusia melalui Sekolah Alam Pesisir, pelatihan mengolah ikan laut, dan modal bagi petani dan nelayan. Ini merupakan kesempatan baik untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat jika mereka tahu apa yang harus dilakukan, apa saja potensi yang ada, bagaimana mengembangkan, dan siapa saja yang ikut ambil bagian. Fasilitator memandu diskusi kelompok yang terdiri dari nelayan, pekerja yang mengolah hasil laut, petani dan pedagang. Mereka mengidentifikasi potensi laut, ladang, perdagangan dan wisata, dan mendata apa yang mereka hasilkan dari tangkapan ikan laut, produk abon dan nugget dari ikan tuna, beberapa jenis sayuran, kacang tanah dan umbi-umbian. Selanjutnya, fasilitator bersama peserta mendalami pengembangan pengolahan produk berupa fillet ikan, varian nugget dan mengidentifikasi jenis keunikan rasa dari ikan-ikan yang dihasilkan.

 

 

Dalam topik konservasi lingkungan, fasilitator memancing wawasan peserta untuk menyebutkan pantai-pantai di Gunungkidul dan keunikannya, antara lain pantai Sadeng sebagai pelabuhan, pantai Jogan dengan air terjun dan pantai Nglambor yang memiliki area snorkling. Ia juga mengingatkan keberadaan wisata pantai di Gunungkidul semakin berkembang, di satu sisi mendatangkan income, tapi di sisi lain, pemanfaatan pantai tanpa kajian ekologis pasti mengubah keseimbangan lingkungan, bahkan merusak, misalnya limbah pembuangan toilet, sampah makanan kemasan dan sisa makanan, penghancuran tebing karst untuk akses jalan, sampai hilangnya habitat alami penyu bertelur, dimana gunungkidul menjadi tempat bertelur penyu-penyu langka dunia. Keberadaan Sekolah Alam Pesisir ini bisa menjadi wahana edukasi masyarakat untuk mendapatkan manfaat maritim untuk kesejahteraan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

 

 

Dari diskusi ini, salah satu peserta, Mujito mengungkapkan ia menemukan wawasan baru tentang kalurahan Tileng memiliki peluang pertumbuhan ekonomi, dari laut menghasilkan ikan yang bisa diolah menjadi beragam produk olahan, mengembangkan singkong menjadi produk keripik dan patilo, mengolah kacang tanah menjadi peyek, dan aneka kacang telur.

Semangat masyarakat untuk belajar dan meraih hidup berkemajuan perlu diimbangi oleh ketersediaan wahana belajar masyarakat dan kemudahan mengaksesnya. Di sinilah para pemangku kepentingan harus bertindak, mekipun desa di pinggiran tapi tidak lagi terpinggirkan. Teruslah berkembang desa Tileng.***

 

 


  Bagikan artikel ini

Memperkuat Jejaring untuk Pendidikan yang Lebih Baik

pada hari Rabu, 29 Juni 2022
oleh Trustha Rembaka
Oleh Trustha Rembaka          

 

Pendidikan memegang kunci kelangsungan hidup suatu bangsa karena pendidikan yang berkualitas baik menghasilkan generasi penerus yang mumpuni di tengah kompetisi dunia. Di Indonesia, pendidikan juga mendapat perhatian pemerintah meskipun kebijakan pendidikan berganti-ganti, kualitas stakeholder pendidikan perlu ditingkatkan, sarana dan prasarana pendidikan belum merata. Namun demikian kualitas pendidik dan tenaga pendidik di lembaga pendidikan menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan proses pendidikan yang baik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas baik, sehingga peningkatan sumber daya manusia pendidik dan tenaga pendidik perlu didukung.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia yang memperhatikan masalah pendidikan melakukan pelatihan untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga pendidik SMA BOPKRI Banguntapan khususnya kerjasama tim dan etos kerja. Kegiatan yang diadakan di Joglo Pasinaon, Kalasan, merupakan tindak lanjut dari program Pendidikan di Era Teknologi Maju dan wujud jejaring antar lembaga (28/6/2022).

 

 

Dalam pembukaan sesi, Stube HEMAT Yogyakarta menampilkan fragmen berupa dialog antara mata, kaki, tangan, dan mulut yang mengklaim dirinya paling penting di antara anggota tubuh lainnya. Namun, sebenarnya mereka sebagai anggota tubuh dengan fungsi yang berbeda, mereka tetap membutuhkan satu sama lainnya. Ini berarti bahwa masing-masing bagian di sebuah organisasi, meskipun berbeda fungsi mereka menjadi sebuah sistem terpadu untuk menggerakkan organisasi tersebut.

 

 

Dalam paparan berikutnya, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Eksekutif Stube HEMAT memandu para guru dan karyawan SMA BOPKRI Banguntapan untuk menjawab kuisioner untuk memetakan kepribadian masing-masing, khususnya berkaitan etos kerja dan kerjasama tim. Hasil ini mengungkap kepribadian peserta tentang bagaimana bersikap ketika menghadapi masalah dan berinteraksi dengan sesama rekan kerja, bagaimana berperilaku ketika berada dalam tekanan kerja dan perubahan hidup, bagaimana mengambil keputusan ketika menghadapi pilihan-pilihan, dan bagaimana mengoptimalkan bakat yang dimiliki.

 

 

Selanjutnya, Trustha Rembaka, S.Th., koordinator Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan di SMA BOPKRI Banguntapan. Di sini terungkap kekuatan dalam kombinasi antara guru lama dan guru baru menjadi modal untuk keseimbangan mengajar, kelemahan muncul ketika guru datang dan pergi karena mendapat pekerjaan di tempat lain, peluang nampak dari guru dan karyawan sebenarnya memiliki jejaring yang bisa dioptimalkan untuk mengembangkan dan mempromosikan sekolah, dan tantangan terungkap tentang bagaimana mengelola alumnus untuk mendukung sekolah. Temuan-temuan ini membantu guru dan karyawan SMA BOPKRI Banguntapan memiliki semangat baru dan komitmen untuk meningkatkan etos kerja dan kerjasama, memanfatkan teknologi, media sosial dan media massa untuk mempromosikan sekolah, mengumpulkan data alumnus dan jejaring potensial.

 

 

Merespon kegiatan ini, kepala sekolah SMA BOPKRI Banguntapan, Endah Nursinta S., M.Pd., mengungkapkan, “Stube HEMAT menjadi salah satu lembaga yang mendukung dalam peningkatan Sumber Daya guru dan karyawan sekolah. Saya berharap kerjasama akan berkelanjutan demi peningkatan kompetensi melalui pelatihan-pelatihan untuk guru-guru dan karyawan SMA BOPKRI Banguntapan.”

Pendidikan yang maju merupakan hasil sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, dari internal lembaga pendidikan dan menajerialnya, termasuk pendidik dan tenaga pendidik anak didik, orang tua dan pengelola lembaga, pemerintah dengan kebijakan, pengawasan dan evaluasi, jejaring dari lembaga maupun personal yang terpanggil memajukan dunia pendidikan, dan pemanfaatan teknologi yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Peran Teknologi demi Eksistensi Sejarah

pada hari Rabu, 22 Juni 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Eksposur Museum Diorama Arsip DIY

 

Oleh Kresensia Risna Efrieno.         

 

 

Pernahkah kamu mendengar Diorama Arsip Jogja? Ya, Diorama Arsip Jogja adalah gebrakan baru museum sebagai wahana belajar sejarah Yogyakarta selama 400 tahun. Apa bedanya dengan museum lain? Apa yang menarik di sana? Kemajuan teknologi memaksa segala bidang yang dilakukan manusia beradaptasi dan berinteraksi untuk menerapkannya, dari bidang ekonomi, informasi, transportasi, sosial budaya termasuk dunia pendidikan. Diorama Arsip Jogja menanggapi kemajuan teknologi dengan menampilkan sesuatu yang unik dan menarik, yaitu menggabungkan ulasan sejarah yang kredibelkreativitas seni rupa, dan teknologi maju secara terpadu.

 

 

 

 

Adaptasi dunia pendidikan terhadap kemajuan teknologi menjadi perhatian Stube HEMAT Yogyakarta, termasuk bagaimana mengemas konten edukasi memanfaatkan teknologi. Stube HEMAT Yogyakarta memperkaya pengalaman mahasiswa dengan melakukan kunjungan belajar ke Diorama Arsip Jogja yang terletak di kawasan Banguntapan, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (21/06/2022). Kunjungan belajar ini membantu mahasiswa mempelajari sejarah Yogyakarta dari 400 tahun yang lalu. Tak hanya paparan narasi, namun juga ornamen yang berkisahsejarah Yogyakarta dengan desain ruang, tata cahaya termasuk desain audiovisual membuat pengunjung seolah-olah dibawa kembali ke masa lampau awal terbentuknya Yogyakarta.

 

 

Di dalam museum tersedia 18 ruang diorama dengan bagian sejarah yang dikemas dengan keunikannya masing-masing, seperti ruang yang menceritakan masa Kebangkitan Mataram dengan visual kehidupan masyarakat masa lalu, masa Kesultanan, yang nampak dengan maket kraton Yogyakarta dan beragam ornamen, masa Pergerakan, yang muncul dengan dekorasi jalur kereta api, masa Kemerdekaan melalui narasi-narasi yang menggugah semangat perjuangan, masa Republik dengan dokumentasi pembangunan Indonesia, dan masa Reformasi muncul dengan video gerakan rakyat termasuk testimoni tentang ketangguhan Yogyakarta melewati gempa dan letusan Merapid. Para mahasiswa antusias mempelajari sejarah dari tampilan museum dan paparan pemandu museum. Tak kurang dari empat puluh lima menit untuk melakukan tour dalam 18 ruangan di Diorama Arsip Jogja.

 

 

Pendekatan teknologi terbukti menjadi sarana yang efektif untuk dunia pendidikan. Sering ada anggapan berkunjung ke museum arsip tentu membosankan karena berisi tentang kearsipan sejarah yang dianggap kuno, berat dan ketinggalan zaman. Namun,dengan berpadunya kreativitas danteknologi yang semakin canggih, kebosanan itu ternyata bisa bertransformasi menjadi sebuah proses belajar yang menyenangkan dan menarik.

 

Siap atau tidak, semua dituntut beradaptasi dengan kehadiran teknologi yang semakin berkembang. Terlebih mahasiswa, skills yang dimiliki harus terus diperbaharuhi sesuai perubahan yang cepat ini. Siapkah? ***


  Bagikan artikel ini

Strategi Menghasilkan Foto yang Berkualitas

pada hari Sabtu, 18 Juni 2022
oleh Thomas Yulianto
Oleh Thomas Yulianto.          

 

Setiap orang menginginkan momen spesialnya tersimpan dengan baik, salah satunya yaitu dengan dokumentasi foto. Namun, pengambilan foto dalam sebuah event atau momen tidak bisa sembarangan, tapi perlu teknik tersendiri supaya foto yang dihasilkan lebih menarik, berkualitas dan bermakna. Seringkali ketika seseorang memotret, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, ia mengabaikan unsur penting dalam fotografi, sehingga hasil kurang bagus.

 

 

Seiring perkembangan teknologi, kebutuhan dokumentasi foto atau selfie menjadi dominan, dan setiap orang penting untuk memiliki pengetahuan tentang teknik dan etika fotografi, terlebih mahasiswa dalam kuliahnya. Stube HEMAT Yogyakarta membekali mahasiswa keterampilan fotografi dengan tema Membidik dengan Cerdik, Membuat Foto Berbicara bersama Wisnu Aji Satria, seorang fotografer profesional (17/6/2022).

Di bagian awal pelatihan, para peserta mengumpulkan foto-foto dan menampilkannya. Asa, nama akrab Wisnu Aji Satria memberikan masukan berkaitan foto-foto yang ada, antara lain, posisi terhadap cahaya, sudut pengambilan gambar (angle), posisi kamera, dan foto blur. Ia mengungkapkan bahwa situasi ini wajar karena  fotografi adalah seni dan praktek, artinya butuh waktu untuk menjadi terlatih.

 

 

Ia melanjutkan, bahwa pada dasarnya dalam fotografi seseorang mesti mengenali kamera yang dipakai, umumnya ada dua jenis kamera yaitu DSLR (Digital Single Lens Reflex) dan mirrorless, mengenali bagian-bagian kamera dan fitur-fitur yang ada. Seorang fotografer mesti mempersiapkan perlengkapan kamera dengan baik, dari baterai, kartu memori, pemasangan lensa, dan kebersihan lensa. Selanjutnya, melakukan setting kamera sesuai foto-foto yang akan dihasilkan, apakah indoor atau outdoor, static atau gerak, iso kamera, diafragma, shutter speed, dan mengatur titik fokus. Bahkan mempertimbangkan asesoris lainnya yang mendukung pemotretan.

 

 

Berkaitan dengan jenis-jenis foto, ada beberapa macam, yaitu (1) Establishing Shot: yang menampakkan keseluruhan subjek atau lingkungannya, menggunakan long shot atau wide lens), (2) People at Work: yang memfokuskan pada satu aktivitas, menggunakan medium shot, (3) Detail: yang menampilakan detil sebagai kekuatan, menggunakan close up, (4) Portrait: menampilkan wajah yang berkarakter dari subjek, (5) Relationship: menampilkan interaksi, sedang bercakap-cakap atau bekerja: negosiasi, berdebat, dan sebaiknya manusia dengan manusia, (6) Closing: sebagai foto penutup yang menjadi simpulan.

 

 

Seorang fotografer perlu cermat dalam mengantisipasi momen, misalnya objek bergerak atau statis, timing mengambil foto dan gerakan yang menguatkan foto. Selain skills, fotografer juga mesti sadar posisi dan sadar lokasi, misalnya meminta izin kepada pihak yang terkait lokasi untuk pemotretan, bergantian dalam mengambil foto, mencermati obyek foto ketika makan, berbicara dan ekspresi lainnya yang kurang tepat. Sebagai tahapan praktek, para peserta memotret lingkungan sekitar dengan menggunakan metode yang sudah diajarkan. Beberapa hasil foto peserta menunjukkan kemajuan dalam pengambilan gambar, sebagian lain masih membutuhkan jam terbang dalam memotret.

Fotografi merupakan seni dan keterampilan, jadi semakin sering memotret dan mempelajarinya, seseorang semakin terasah dalam mengoperasikan kamera dan menghasilkan foto yang berkualitas. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Pendidikan Karakter Di Era Generasi Digital

pada hari Sabtu, 4 Juni 2022
oleh Aginda Yunita Lawa
Oleh Aginda Yunita Lawa.          

 

Pengalaman belajar atau berinteraksi dengan komunitas yang berbedakan menambah pengalaman dan pengetahuan seseorang. Saya pun mengalaminya. Saya Aginda Yunita Lawamahasiswa dari Atambuakuliah jurusan Manajemen di Universitas Mahakarya Asia Yogyakarta menemukan pengalaman baru ketika mengikuti kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Pendidikan Di Era Teknologi Maju (20-22/6/2022)Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT sebagai lembaga yang bergerak dalam pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya mahasiswa di Yogyakarta.

 

 

 

 

Saya menemukan pencerahan baru tentang pendidikan, yaitu pendidikan sebagai proses perubahan sikap dan tata laku seseorang maupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan. Pendidikan karakter sendiri merupakan proses dimana seseorang belajar untuk mengidentifikasi watak, akhlak atau budi pekerti sehingga mempunyai tabiat dan kepribadian yang lebih baik. Pada dasarnya, pendidikan juga sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya bisa memiliki karakter dan dapat hidup mandiri seperti yang disebutkan dalam motto Stube HEMAT.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang, dimana generasi muda harus terus update informasi agar tidak terbelakang. Konsep inilah yang diangkat oleh Stube HEMAT Yogyakarta dengan tagline “Jangan Biarkan Seorang pun Terbelakang”. Melalui pelatihan ini peserta diharapkan bisa menguasai teknologi, dan tetap fokus pada pendidikan yang berkarakter dan berbudi luhur seperti yang saya temui melalui film bertema pendidikanFreedom Writers, Hichkhi dan Flying Colour, yang menceritakan pentingnya pendidikan.

Di era digital saat ini generasi muda perlu tahu bahwa pendidikan karakter sangat penting sehingga setiap orang bisa menerapkan nilai-nilai moral maupun agama melalui ilmu pengetahuan. Tuntutan bagi generasi muda di era revolusi industri 5.0 antara lain kompetensi diri, jeli memanfaatkan peluang dan berani aktualisasi diri. Stube HEMAT juga mendorong peserta menguasai setidaknya satu dari sekian aplikasi sebagai nilai tambah yang menjadi poin kunci dalam kompetisi dunia kerja.

 

 

Melengkapi pemahaman dan pengalaman saya tentang pendidikan holistik, Stube HEMAT Yogyakarta memperkenalkan salah satu metode belajar Ki Hajar Dewantara, yaitu metode Sariswara. Dalam metode ini materi atau pengajaran disampaikan dengan kalimat, nyanyian dan gerakan yang harmonisKeselarasan atau harmoni yang dialami seseorang dalam pendidikan menumbuhkan pendidikan beretika dan berkarakter.

 

 

Siapakah yang memiliki peran untuk memperhatikan pendidikan? Tentu pertanyaan ini harus saya jawab mulai dari diri sendiri, selain orang tua, guru (sekolah) dan lingkungan. Dalam konteks tempat asal saya dari daerah NTT, khususnya Atambua, pendidikan masih perlu diperjuangkan, sehingga pemahaman baru dari Stube HEMAT membuat saya lebih paham untuk memperhatikan pendidikan di daerah saya dan bisa berbuat sesuatu nantinya. ***


  Bagikan artikel ini

Melek Pangan Lokal: Mudah, Murah, Melimpah

pada hari Jumat, 3 Juni 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh: Kresensia Risna Efrieno.          

 

 

 

Dilihat dari segi kekayaan alamnya, Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, bahkan terbukti sejak zaman penjajahan dimana negara-negara lain ingin menguasai Indonesia karena kekayaan alamnya. Kita semestinya bersyukur akan hal itu. Sadarkah bangsa Indonesia akan potensi yang luar biasa ini? Apa yang bisa kita lakukan terhadap kekayaan sumber daya alam tersebut? Siapa yang harus berinisiatif mengolahnya atau dibiarkan begitu saja? Pemikiran ini menjadi titik pijak Stube-HEMAT sebagai lembaga yang concern terhadap anak muda supaya terbuka kesadarannya akan kekayaan bangsa ini dan mengupayakannya untuk kesejahteraan.

 

 

 

Inisiatif untuk melihat kembali potensi pangan lokal menjadi topik diskusi mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta (Kamis2/6/2022) sebagai bagian dari program Keanekaragaman Hayati: Inisiatif Pangan Lokal. Para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengidentifikasi potensi-potensi lokal di daerah asal mereka dan memetakan produk yang sudah dihasilkan. Selanjutnya mereka mendiskusikan produk turunan seperti apa yang bisa dihasilkan darinya. FX Mujiyono, seorang praktisi hadir sebagai narasumber yang membagikan pengalaman mengolah potensi lokal agar memiliki nilai tambah. Hadir juga board Stube HEMAT Pdt. Em. Bambang Sumbodo, M.Min dan Direktur Eksekutif Stube HEMAT Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd.

 

 

 

 

Di awal diskusi para mahasiswa memetakan potensi lokal yang unik dari daerah mereka masing-masing. Ini menjadi langkah awal untuk membawa mahasiswa menyadari kekayaan potensi lokal yang ada di daerahnya. Selanjutnya FX Mujiyono mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara tropis yang kaya hayati dan tambang. Tidak ada hasil alam yang tidak bisa kita olah, termasuk di daerah-daerah. Ia membagikan pengalamannya selama berkiprah mengolah potensi lokal, khususnya di provinsi  NTT, seperti pupuk organik dan pengembangan pertanian, kemudian produk fermentasi dari tanaman buah dan rempah, seperti  anggur, salak, kopi, kayu manis dan pisang. Ia memilih bahan-bahan ini karena prinsip 3 M, yaitu Mudah, Murah dan Melimpah, seperti salak. Fermentasi salak sebagai langkah alternatif yang bisa dilakukan saat panen raya sehingga tetap menguntungkan petani. Temuan-temuan baru pengolahan pangan lokal akan muncul dari kesadaran akan kekayaan pangan lokal dan mencari tahu apa yang bisa dihasilkan sebagai produk turunannya. Produk-produk ini pun punya peluang masuk ke pasar global, dari semangat lokal menuju global.

 

 

Para peserta antusias menyimak paparan narasumber dan merespon dengan tanggapan dan pertanyaan, seperti Mensi, mahasiswa dari Sumba, NTT membagikan pengalamannya. “Di tempat saya jambu mete cukup banyak, tapi kami hanya menjual kacangnya karena kami tidak tahu cara mengolah buahnya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baruKami sering membakar kacang mete untuk menghasilkan minyak.” Selvi Lum, peserta lainnya dari Kepulauan Aru menceritakan buah raja dan buah tongki dari mangrove yang mudah ditemui di kawasan pesisir. Ia juga belum tahu bagaimana mengolahnya supaya memiliki nilai tambah.

Wawasan baru ini akan menggerakkan para mahasiswa memanfaatkan potensi pangan lokal yang dimiliki dan menemukan nilai tambah sebagapoin penting untuk eksis dan mandiri. Indonesia memiliki kekayaan alam yang bisa diolah agar memiliki nilai tambah, tetapi apakah setiap kita mau menyadari dan mempelajarinya?  ***

 


  Bagikan artikel ini

Memahami Ekumenisme Dalam Kemajemukan

pada hari Kamis, 2 Juni 2022
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho
Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

 

Bicara mengenai keberagaman, Indonesia menjadi rumah berbagai keberagaman yang mencakup agama, suku, bahasa, ras, budaya daerah dan kehidupan sosial lainnya. Masyarakat dengan banyak perbedaan dituntut memiliki kemampuan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut, terutama toleransi atas keragaman pemahaman keagamaan. Dalam rangka membekali pemahaman mengenai keberagaman, Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia khususnya mahasiswa, mengutus Yonatan Pristiaji Nugroho, Thomas Yulianto dan Yoel Yoga Dwianto, S.Th untuk mengikuti kegiatan dialog lintas iman tentang “Membicarakan Ekumenisme Kristiani dan Islam: Apakah Semua Sama?” yang diselenggarakan oleh YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community) Yogyakarta dan Komunitas Skolastikat SCJ di Aula Skolastika SCJ (Rabu,1/6/2022).

 

 

Dialog ini menghadirkan narasumber yang berlatar belakang berbeda, yaitu Romo Sigit Pranoto SCJ (Komunitas Skolastikat SCJ), Riston Batubara (Protestan), Ahmad Shalahuddin (Islam) dan Sr. Fernanda CB (Katolik) sebagai moderator. Bertitiktolak dari topik kemajemukan, maka muncullah Ekumenismeyang diartikan sebagai gerakan untuk berjuang dan mendukung persatuan khususnya pada keragaman umat beragama. Para mahasiswa di Yogyakarta dan komunitas keagamaan mengikuti diskusi dengan metode Scriptural Reasoning di mana peserta membaca, memahami kitab suci kepercayaan lain (Yahudi, Kristen, Islam) dan belajar menafsirkannya, sebagai sebuah pembelajaran pemahaman, cara membaca dan mempererat hubungan antar orang dari agama yang berbeda.

 

 

Selanjutnya, Romo Sigit Pranoto SCJ memaparkan pemahaman ekumenisme menggapai tujuan yang sama, yaitu menyatukan, tentu dengan ajaran dan kitab suci masing-masing. Ahmad Shalahuddin, dari YIPC Yogyakarta mengungkapkan bahwa ekumenisme terasa asing bagi umat Islam. Pembelajaran terbaik ekumenisme adalah dari pengalaman nyata kehidupan sehari-hari karena memahamimya tidak cukup melalui teori maupun metode yang ada. Dalam konteks ini, meskipun terdapat perbedaan agama, jika kita membuka identitas sebagai manusia ciptaan Tuhan, maka tidak terpisah oleh apapun karena memiliki kesamaan pikiran dan perasaan sama maka sebagai orang beriman harus menjaga keutuhan ciptaan ini.

 

 

 

 

Beberapa peserta menanggapi tentang ekumenisme, salah satunya adalah Yoel mahasiswa S2, STAK Marturia, yang mengatakan bahwa ekumenisme itu ibarat berolahraga saat sekolah, dimana siswa belajar dan mempraktekkan semua jenis olahraga sebagai keberagaman, tantangan yang timbul bagaimana jika sekolah itu bocor, apa peran ekumenisme akan hal ini? Narasumber merespon pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa ekumenisme harus menjadi rumah yang nyaman, yang menaungi berbagai pergumulan keagamaan. Ekumenisme mencerminkan pribadi yang beriman dan terbuka bagi sesama dan masyarakat yang majemuk.

Kegiatan dialog ini membawa pengalaman baru untuk Brian, mahasiswa kampus UII, yang mengungkapkan bahwa kegiatan ini membantu memahami konsep teori ekumenisme menyikapi keberagaman agama, dan bahwa agama lain memiliki hal yang sama seperti yang diajarkan di Islam. Hal ini menjadi capaian diskusi agar peserta bisa memahami makna ekumenisme meski berlatar belakang kepercayaan yang berbeda.

Kenyataan keragaman pemahaman dari masing-masing agama harus diterima sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Kemauan berinteraksi dan menghargai menjadi dasar untuk mewujudkan persaudaraan dan persatuan demi menjaga rumah, agar keragaman tetap aman, nyaman dan saling merangkul dalam keselarasan.***

 


 


  Bagikan artikel ini

Meski Pedalaman, Pemikiran tetap berkemajuan

pada hari Kamis, 2 Juni 2022
oleh Sisilia Lepah
Refleksi Pelatihan Pendidikan di Era Teknologi Maju.          

 

Oleh: Sisilia Lepah.          

 

 

Saya Sisilia Lepah, mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, program studi Akuntansi. Sebelum kuliah di Yogyakarta, saya tinggal di Mandula, sebuah desa di pedalaman provinsi Sulawesi Tengah. Ketika saya melanjutkan studi ke Kota Pelajar, saya merasa sangat antusias sekaligus khawatir jika bertemu mahasiswa lainnya yang memiliki kemampuan lebih dibanding saya. Awal kuliah saya merasa tenang karena sebagian besar mahasiswa di kampus pertama saya berasal dari Sulawesi. Namun, saya merasa tidak akan berkembang jika terus berada di tempat itu. Akhirnya saya memutuskan untuk berpindah kampus dan bertemu beragam mahasiswa meskipun saya harus berjuang dan berkompetisi dengan mahasiswa lainnya.

 

 

Perjuangan kuliah saya tidak mudah dan saya hampir menyerah dan berpasrah pada nasib seakan semua tidak mungkin. Dulu saya sering mengkambinghitamkan keadaan saya dan mengecilkan diri sendiri, tetapi malah semakin sedih dan drop. Sampai akhirnya saya belajar untuk membuka pikiran dan menerima keadaan untuk fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Terlebih lagi, setelah saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT tentang Pendidikan di Era Teknologi Maju (20-22 Mei 2022) saya sadar bahwa untuk berubah cara berpikir, menghilangkan ‘mental blocking’, dan mengubah kebiasaan-kebiasan sehari-hari tidak bisa terjadi dalam semalam, melainkan dibutuhkan konsistensi menuju lebih baik. Di era revolusi industri 4.0 manusia dituntut untuk, 1) memiliki keterampilan yang mumpuni untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah, 2) kreatif dan inovatif, 3) mampu berkomunikasi dan berkolaborasi, 4) trampil menggunakan media informasi dan teknologi, 5) memahami global citizenship, career dan life skills 6) mencari, mengelola, dan menyampaikan informasi. Penguasaan keterampilan di atas bukan hal yang mudah tetapi membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran untuk terus belajar dan berlatih.

 

 

 

 

Tuntutan keterampilan kepada anak muda di era teknologi maju menjadi isu menarik untuk diangkat karena erat hubungannya dengan realita pendidikan di bangsa ini. Ketimpangan kualitas pendidikan di desa dan kota, kesenjangan akses internet antar pulau di Indonesia benar terjadi dan menjadi tantangan untuk menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas. Ketimpangan kualitas pendidikan merupakan dampak dari fasilitas pendidikan, kualitas SDM pendidikan dan pola pikir masyarakat setempat, misalnya merasa tidak perlu menempuh pendidikan tinggi, selain itu ada realita anak-anak muda menghabiskan masa muda untuk bersenang-senang, menikah muda tanpa bekal parenting skills dan akhirnya kualitas hidup tidak maju. Kualitas pendidikan menjadi kunci bagaimana kualitas manusia, terbukti dari berita dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/12/29/tentang-indeks-pembangunan-manusia-di-indonesia-jakarta-tertinggi-dan-siapa-terendah tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator penting yang mengukur keberhasilan dalam membangun kualitas hidup manusia yang terukur dari umur atau hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Poin pengetahuan bersumber dari pendidikan. Saya yang berasal dari Sulawesi Tengah menemukan data bahwa daerah saya berada di posisi 25 dari 34 propinsi di Indonesia. Ini membutuhkan upaya keras untuk mewujudkan kualitas manusia yang lebih baik khususnya di Sulawesi Tengah.

Apa yang bisa dilakukan untuk perubahan ke depan, khususnya bidang pendidikan? Menurut saya kesadaran akan pentingnya pendidikan demi terbukanya wawasan baru dan membentuk pola berpikir sangat penting. Pola pikir yang baik akan menghasilkan hidup yang baik pula. Meningkatkan literasi di daerah pedalaman seperti kampung saya, Mandula, dengan membuka sanggar baca dan literasi, kegiatan membaca rutin di sekolah, membaca dan permainan, perpustakaan sekolah selalu terbuka, reward berupa buku, membentuk komunitas membaca dan komunitas menulis, dan beberapa alternatif lainnya.

 

 

Langkah awal saya adalah membuktikan diri menyelesaikan studi dengan baik, terlebih dengan teknologi maju bisa memiliki jejaring  untuk meningkatkan kemampuan diri , yang  bisa menjadi bekal untuk berbuat sesuatu di daerah saya, meskipun di pedalaman tetap bisa mengalami kemajuan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang

pada hari Senin, 23 Mei 2022
oleh Trustha Rembaka, S.Th.
Oleh: Trustha Rembaka, S.Th.          

 

Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang menjadi tagline program Pendidikan di Era Teknologi Maju oleh Stube HEMAT Yogyakarta. Pelatihan ini diselenggarakan di Wisma Pojok Indah, Condongcatur, Yogyakarta (20-22/05/2022), untuk menggugah mahasiswa ‘melek’ realita sosial, seperti teknologi mengambil alih pekerjaan manusia, bonus demografi, kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah; dan menginspirasi dua puluhan mahasiswa lebih adaptif terhadap kemajuan teknologi sekaligus memandu mahasiswa agar mampu bertindak sebagai agen yang menjembatani kesenjangan teknologi.

 

 

 

 

Kondisi terbelakang di sini berarti seseorang yang tidak mampu memperoleh pendidikan yang memadai, ekonomi lemah dan kualitas kesehatan rendah, sehingga tidak punya banyak pilihan untuk mewujudkan kesejahteraan hidup. Kualitas SDM perlu mendapat perhatian untuk ditingkatkan dan ini menjadi  perhatian Stube HEMAT, seperti yang disampaikan oleh Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Eksekutif Stube HEMAT Yogyakarta.  Sebenarnya pemerintah Indonesia terus mengupayakan SDMnya memiliki kualifikasi seperti; mau bekerja keras, dinamis, terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mendapatkan kualifikasi semacam itu maka harus ada kebijakan dan peta jalan yang mengarah pada peningkatan kualitas SDM. Namun perlu diakui bahwa banyak tantangan berat menghadang, dari dunia pendidikan terjadi kesenjangan karena kondisi geografis, fasilitas pendidikan satu daerah dengan daerah lain, kualitas anak didik dan dukungan keluarga, budaya masyarakat setempat dan keterjangkauan akses komunikasi dan teknologi.

 

 

Mengelola lembaga pendidikan swasta saat ini menghadapi tantangan berat, hal ini terungkap ketika Dr. Drs. Mulyo Prabowo, M.Pd. dari Yayasan BOPKRI menyampaikan bahwa jumlah sekolah dan anak didik  terus berkurang, namun demikian yayasan terus memperjuangkan eksistensi sekolah, melatih SDM dan mempromosikannya. Sementara Endah Nurshinta, M.Pd., kepala sekolah SMA BOPKRI Banguntapan menceritakan tantangan sekolah dengan input SDM anak didik yang terbatas, sehingga perlu extra pendampingan kepada mereka, menaikkan branding sekolah dan memperluas promosi sekolah. Demikian pula gereja merespon kemajuan teknologi untuk melayani jemaat dengan menyediakan ibadah secara streaming, persekutuan doa online, persembahan cashless dan peningkatan ekonomi jemaat dengan pemasaran melalui grup media sosial, bahkan membantu gereja lain untuk meningkatkan kemampuan teknologinya, dinamika pelayanan gereja ini dipaparkan oleh Pdt Bambang Sumbodo, M.Min, pendeta emeritus GKJ Mergangsan, sekaligus pengurus Stube HEMAT.

 

 

Bagi mahasiswa, kemajuan teknologi menjadi tantangan, mau tidak mau kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi, memanfaatkan gadget dan aplikasi untuk studi sangat diperlukan. Mahasiwa memetakan aplikasi yang ‘support’ kuliah bersama Aditya Wikan Mahastama, M.Cs., dosen teknologi informasi UKDW. Dari proses terungkap bahwa aplikasi desain, editing video, statistik dan aplikasi berkaitan studi teologi menjadi kebutuhan para peserta. Selanjutnya, para peserta membagi dalam kelompok untuk mengenal tentang aplikasi-aplikasi tersebut.

 

 

 

 

Berbicara pendidikan tidak bisa lepas dari Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan keutuhan pengetahuan dan perilaku.  Keutuhan itu bisa dicapai dengan pendekatan kesenian yang dikembangkan dalam metode Sariswara. Peserta pelatihan mengenal Metode Sariswara bersama Cak Lis, nama akrab Listyo H Kris (Laboratorium Sariswara). Metode Sariswara merupakan metode belajar melalui kesenian yang menggabungkan pengalaman indra, sastra, gerak dan memuat nilai-nilai, ajaran kebaikan yang dikemas menjadi sebuah cerita, permainan atau ritus yang akan memunculkan sikap gotong royong, toleransi, kecintaan terhadap sesama dan alam. Kemudian para peserta diminta menggali permainan-permainan di daerah mereka dan mempraktekkannya sebagai upaya melestarikan nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya. Para peserta juga diajak menyaksikan film bertema pendidikan, seperti Flying Colour, Hichki dan Freedom Writers untuk memahami pendidikan holistik, bahwa pendidikan tidak saja berkaitan antara anak didik dan guru, tetapi juga sekolah dan kebijakannya, kondisi keluarga dan lingkungan yang kondusif. Masing-masing harus menyadari posisi dan tanggungjawabnya untuk bekerjasama membentuk ekosistem yang menunjang keberhasilan proses pendidikan.

 

 

Pelatihan ini membuat Eufemia Sarina, salah satu peserta yang belum memanfaatkan teknologi secara penuh, tergerak menjadi lebih aktif memakai teknologi untuk mencari informasi berkait pariwisata, sesuai studinya. Ia juga ingin membantu teman-temannya mengoperasikan aplikasi editing video. Menjembatani kesenjangan teknologi tak selalu menunggu sampai seseorang memiliki pengetahuan tinggi, tetapi dimulai dari kemauan berbagi keterampilan berbasis teknologi. Siapkah kita tidak membiarkan seorang pun terbelakang?***

 


  Bagikan artikel ini

Dunia Pendidikan Merespon Teknologi Maju, Sudah Siapkah?

pada hari Sabtu, 30 April 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh Kresensia Risna Efrieno.          

 

Siapa yang tidak mengenal teknologi? Teknologi sudah merebak di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri kehidupan manusia berkaitan erat dengan teknologi, termasuk dunia pendidikan. Apakah kehadiran teknologi ini sebuah kabar baik, atau tantangan? Pernahkah berpikir bahwa isu ini penting? Bagaimanakah kondisi pendidikan kita dengan hadirnya teknologi ini? Oleh karenanya Stube HEMAT mengajak anak muda khususnya mahasiswa di Yogyakarta peka isu ini.

 

 

Stube HEMAT sebagai sebuah lembaga pendampingan mahasiswa mengadakan pelatihan dalam program Pendidikan Era Teknologi Maju: Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang untuk menantang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia lebih peka terhadap isu-isu pendidikan di Indonesia yang berkutat dengan kebijakan pendidikan yang sering berubah, pencarian kurikulum yang ideal, kesenjangan akses dan fasilitas, biaya yang kian tak terjangkau dan kualitas SDM pendidik bertempat di Wisma Pojok Indah (Sabtu, 30/04/2022).

Dalam pengantar acara, Pdt. Bambang Sumbodo, M.Min, Board Stube HEMAT mengingatkan peserta tentang kisah Alfred Dreyfus, perwira Prancis yang menjadi korban ketidakadilan karena dianggap pengkhianat dengan memberikan informasi ke pihak lawan. Ketika ia ditetapkan bersalah sepertinya itu adalah upaya untuk penegakan kebenaran tetapi kebenaran yang dimaksud adalah bukan kebenaran secara jernih. “Tantangan di dunia keilmuan sekarang adalah mengedepankan kebenaran rasional karena belum tentu kebenaran itu benar adanya,” ungkapnya. “Jadilah anak muda yang menggunakan akal sehat dalam hal apapun, cerdik seperti ular tetapi tulus seperti merpati, jangan mudah menjadi sumbu pendek,” lanjutnya.

 

 

Di sesi selanjutnya peserta mendalami dasar-dasar Filsafat pendidikan bersama Yoel Yoga Dwiyanto, S.Th, salah satu team Stube HEMAT Yogyakarta. “Pendidikan tidak akan ada jika tidak ada manusia, dan seiring berjalannya waktu pendidikan akan selalu berubah-ubah,” ungkapnyaPara peserta sangat antusias dalam mencari jawaban seperti apa filsafat pendidikan dan aliran filsafat pendidikan secara berkelompok dan selanjutnya mereka mempresentasikan aliran-aliran filsafat pendidikan, yaitu Idealisme (pendidikan membantu perkembangan pemikiran dan diri pribadi, karena bakat manusia berbeda-beda, maka pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan bakat masing-masing untuk mengembangkan rasio dan moral). Realisme (pendidikan membentuk setiap individu menjadi apa yang dipandang baik sehingga pendidikan yang diberikan terhadap subjek terdidik tak beda dengan robot yang taat dan patuh). Pragmatisme (pendidikan mendasarkan bahwa subjek bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Setiap subjek adalah individu yang mengalami, sehingga mereka berkembang dan memiliki inisiatif untuk bertindak). Progresivisme (pendidikan untuk melatih kemampuan berpikir dengan penerapan cara yang bebas, analisisa, ilmiah, alamiah, dan pertimbangan agar menghasilkan pemikiran yang maju). Esensialisme (pendidikan yang mengagungkan kebudayaan masa lalu yang memiliki kejelasan nilai dan sudah teruji agar memberikan kestabilan). Perenialisme (pendidikan yang mampu membangkitkan kemampuan berpikir secara konstruktif untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi). Eksistensialisme (pendidikan mendorong setiap individu mengembangkan semua potensinya secara kontinyu sampai kepenuhan diri dan kesadaran penuh untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa dilakukan). Rekonstruksianisme (pendidikan yang menuntun jiwa manusia mengerti tata kehidupan yang rasional untuk memikirkan apa yang perlu diubah untuk masa depan). Dari pendalaman mengenai aliran-aliran filsafat di atas ternyata berpengaruh terhadap praktek pendidikan sampai saat ini.

 

 

Berkaitan topik Pendidikan di Era Teknologi Dema Mathias Lumban Tobing, M.Kom, yang sering dipanggil Dema memaparkan tema ‘Your Digital Life’. Dengan skill teknologi informasi, komputer, gamer dan game developer, Dema menjelaskan kehadiran teknologi yang semakin tahun semakin naik bahkan melebihi otak manusia. “Tantangan kita di zaman sekarang adalah bukan antar manusia tetapi, manusia dengan komputer. Lalu apa yang terjadi jika otak manusia tidak mengikuti zaman? tantangnya kepada peserta. Ia juga mengingatkan pekerjaan yang terancam punah. Selain itu, peserta juga mendapat pengalaman bagaimana memanfaatkan gadget yang dimiliki agar lebih produktif. Beberapa peserta menceritakan bagaimana planning-nya ke depan untuk memanfaatkan gadget dengan latar belakang mereka masing-masing.

 

 

Kehadiran teknologi yang semakin pesat di dunia pendidikan menjadi sesuatu tidak bisa dipungkiri. Artinya tahun bergantiperubahan akan terus terjadi dan manusia akan berjalan beriringan dengan perubahan termasuk hadirnya teknologi. Sebagai anak muda harus memanfaatkan gadget atau teknologi yang dimiliki untuk karir dan masa depan yang lebih baik.***


  Bagikan artikel ini

Menyeberang, Berbagi dan Belajar

pada hari Rabu, 27 April 2022
oleh Antonia Maria Oy
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung.      

 

Oleh: Antonia Maria Oy.         

 

 

Terpilih menjadi peserta Local Exposure ke provinsi Lampung di pulau Sumatera, merupakan berkat Tuhan yang sangat berharga dan menjadi tantangan bagi seorang mahasiswa seperti saya. Ini pertama kali saya mengunjungi suatu daerah yang sama sekali asing karena belum mengenal karakteristik masyarakatnya. Di satu sisi, ini merupakan kebanggaan karena bisa belajar hal-hal baru dan menambah daftar pulau-pulau di Indonesia yang saya kunjungi! Namun, di sisi lain, ini menjadi tantangan karena Lampung dan masyarakatnya mempunyai budaya dan kebiasaan yang berbeda dengan saya yang berasal dari Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

 

 

Selama dua minggu di bulan April, saya berusaha sebaik-baiknya membagikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak muda di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari, Lampung Timur, yang berusia di bawah 19 tahun. Karakteristik anak muda di satu wilayah sangat berbeda dengan wilayah lainnya. Anak muda di daerah asal saya belum memiliki dan tidak terbiasa menggunakan ponsel pintar, sedangkan hampir semua anak muda di Pondok Diakonia memiliki ponsel pintar, bahkan sejak SD. Ini mempengaruhi pengetahuan dan wawasan mereka tentang ‘dunia luar’ karena dengan mudah menemukan sesuatu yang sedang ‘trend’ di dunia maya atau mempelajari hal baru yang mereka minati. Di Lampung saya membagikan keterampilan berbicara di depan publik, tips memimpin acara, teknik merekam dan mengedit video dan mengolah coklat batangan menjadi beragam bentuk (emoticon, figur kartun, miniatur topeng) yang bisa dijual.

 

 

Dari pengalaman ini saya menemukan beberapa hal sebagai refleksi mahasiswa, pertama, pentingnya edukasi penggunaan media sosial sejak dini. Waktu ke waktu, arus perkembangan teknologi berjalan cepat seiring dengan banyaknya informasi yang beredar dan sulit dibatasi. Bersamaan munculnya hal-hal negatif yang beredar di linimasa media sosial (TikTok, Instagram, Facebook) yang mempengaruhi watak, sifat dan sikap remaja. Remaja perlu mendapat bekal untuk mampu menyaring tontonan dan bacaan yang sesuai dengan usia mereka agar tidak mudah terjerumus dalam hal-hal negatif.

Kedua, pentingnya menanamkan skill atau keterampilan dasar kepada anak muda sebagai bekal untuk menjalani hidup. Saya menemukan bahwa orang muda di program multiplikasi Lampung potensial dengan passion untuk mengembangkan diri, seperti menjadi penulis, pemandu acara, orator dan lainnya. Mereka bisa meraihnya jika mendapat pendamping untuk mengembangkan potensi mereka. Menurut pendapat saya, hal inilah yang harus terus-menerus dilakukan karena mereka memerlukan teman, pelatih, pendamping, sekaligus guru yang bisa mengasah potensi mereka. Jika tidak, ada kekuatiran bahwa perlahan-lahan potensi tersebut akan layu.

Ketiga, edukasi kesehatan dasar secara berkelanjutan menjadi kebutuhan anak muda. Temuan-temuan kasus penyakit seksual dan penyimpangan perilaku seks yang terjadi di Lampung Timur sebagai pertanda  kurangnya pendidikan seksual yang bagi anak-anak maupun remaja. Pendidikan seks bukan lagi sesuatu yang tabu dan harus secara terbuka diinformasikan agar remaja memahami apa yang berbahaya dan tidak boleh dilakukan di masa remaja.

Dan yang terakhir, pemberdayaan mahasiswa di Lampung agar berkontribusi untuk kampung halaman, khususnya mengembangkan kapasitas anak muda, sehingga SDM masyarakat setempat meningkat dan mampu memanfaatkan hasil-hasil di daerah.

 

 

Terima kasih kepada Stube HEMAT Yogyakarta yang menjadi wadah untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Semoga ke depannya semakin banyak mahasiswa yang berkesempatan mendapat pengalaman dan melakukan pemberdayaan diri agar bermanfaat bagi masyarakat. ***

 


  Bagikan artikel ini

Utamakan Kemanusiaan

pada hari Selasa, 26 April 2022
oleh Andraharis Pati Ndamung
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung.    

 

Oleh: Andraharis Pati Ndamung         

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta merupakan adalah wadah yang memfasilitasi mahasiswa dengan harapan peserta berproses dalam pelatihan-pelatihan yang diikuti agar menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Di sinilah tempat saya banyak belajar dan menambah wawasan serta peka terhadap fenomena sosial yang terjadi di sekitar. Selain itu, Stube HEMAT Yogyakarta berorientasi pada mahasiswa untuk memahami dan memanfaatkan hidup secara efisien, mandiri, analitis dan tekun melakukan segala sesuatu untuk meraih masa depan yang dicita-citakan. Di Stube saya menambah pengetahuan dan pengalaman, mengasah kemampuan dan potensi yang ada dalam diri saya, salah satunya kegiatan eksposur ke Lampung.

 

 

Kegiatan eksposur ke Lampung merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan menjadi bagian dari cerita hidup saya. Saya membagikan keterampilan pangkas rambut menggunakan gunting dan alat pangkas elektrik, termasuk membahas pangkas rambut dan aspek ekonominya. Pangkas rambut ini bisa menjadi alternatif pekerjaan yang bisa menghasilkan income. Kegiatan lainnya adalah mendampingi membuat video dan mengeditnya.

 

 

Saya juga belajar tentang Lampung melalui kunjungan, seperti ke Taman Nasional Way Kambas yang menjadi tempat konservasi gajah bahkan berinteraksi dengan gajah. Saya juga mempraktekkan cara menyadap getah karet di Mesuji. Ternyata menyadap karet itu tidak mudah karena harus masuk ke kebun karet yang banyak nyamuk dan tak jarang ada lintah dan ular. Dua hal ini, gajah dan pohon karet tidak saya temukan di kampung halaman saya di Sumba Timur.

 

 

Bagi saya, menjadi mahasiswa memang menjadi masa emas sebagai peralihan dari remaja menuju dewasa dan menemukan permasalahan sosial yang bermunculan, kebingungan sampai kehilangan jati diri. Seorang mahasiswa menghadapi pilihan-pilihan yang datang dan harus mampu memprediksi bagaimana ke depannya. Jadi mahasiswa perlu memiliki pendirian untuk tujuan awal menjadi mahasiswa dan siap menghadapi dunia luar dengan bijak memilih lingkungan yang mendukung dan membentuk diri menjadi sosok yang membawa perubahan. Ketika pilihan ada di tangan, mana yang hendak didahulukan, apakah kemanusiaan atau kesejahteraan? Dengan berpikir keras belum tentu memilih kemanusiaan. Kebanyakan dari pengalaman yang saya lihat dan temukan, masih banyak orang yang tertindas dan mencari keadilan. Pelajaran yang dapat dipetik adalah meneriakkan ‘kasihani mereka’ tidaklah cukup, tetapi bangun-bantu-berbagi sebagai bentuk nyata mengangkat nilai-nilai kemanusiaan.

 

 

 

 

Dari kegiatan Eksposur Lampung saya banyak belajar mengenai kemanusiaan, seseorang yang berpendidikan tinggi dituntut tidak hanya menunjukkan dedikasi terhadap profesionalitas pekerjaan, tetapi juga kepekaan melihat lingkungan sekitarnya dengan membuka ruang hidupnya untuk memperhatikan dan mengangkat harkat hidup orang lain, sebagaimana menerima dan mendampingi anak muda untuk mendapat kesempatan belajar demi hidup yang lebih baik.

Saya mengucapkan terima kasih untuk Stube HEMAT Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan sehingga saya bisa belajar mengenal kehidupan sosial dan budaya di Lampung sekaligus membagikan pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki kepada teman-teman muda di Lampung.***

 


  Bagikan artikel ini

Pondok Diakonia & Potensi SDM Yang Dimiliki

pada hari Senin, 25 April 2022
oleh Trustha Rembaka
Refleksi peserta Eksposur Lokal ke Lampung     

 

Oleh: Trustha Rembaka.          

 

 

Eksposur Lokal ke Lampung menjadi salah satu program kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta untuk memperkuat pelayanan Stube HEMAT di daerah sekaligus ruang berkarya bagi mahasiswa yang sedang kuliah di Yogyakarta untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Pendeta Theofilus sebagai multiplikator program Stube HEMAT di Lampung memiliki pelayanan pendampingan untuk para remaja di tingkat SMP dan SMA disamping melayani jemaat GKSBS Batanghari. Peserta eksposur mendukung pelayanan yang dilakukan multiplikator dan tentu saja menjadi tantangan ketika berinteraksi dengan fase pertumbuhan remaja yang dinamis diiringi rasa ingin tahu sehingga menjadi peluang peserta eksposur membekali pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan mereka.

 

 

Dalam perbincangan bersama para remaja yang tinggal di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari terungkap bahwa mereka berasal dari berbagai kabupaten di Lampung, seperti Lampung Timur, Lampung Tengah, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat dan Lampung Utara. Mereka meninggalkan orang tua dan desanya kemudian tinggal di pondok demi mendapat lingkungan yang kondusif untuk belajar dan akses pendidikan yang lebih baik dibanding di tempat asalnya. Sebenarnya tidak mudah bagi mereka untuk berpisah dengan orang tuanya, tetapi secara tidak langsung keadaan ini mendorong mereka lebih mandiri, bertanggung jawab dan saling menjaga satu sama lain.

 

 

 

Untuk kegiatan eksposur di Lampung saya menyiapkan pelatihan penulisan blog dan narasi untuk video, pengambilan gambar dan pembuatan video pendek, dan membantu pelaksanaan kegiatan Multiplikasi Stube HEMAT di Lampung. Pelatihan penulisan memperkuat keterampilan menulis remaja, dan ini bermanfaat ketika mereka menulis tugas-tugas sekolah, membuat narasi-narasi dalam video dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan Stube HEMAT. Harus diakui bahwa tidak mudah menemukan ide dan mewujudkan sebuah tulisan, jadi mesti duduk dan ngobrol dengan mereka agar bisa ‘nyambung’ dengan mereka sehingga beragam cerita akan terungkap dan ide-ide akan bermunculan. Kemudian, salah satu strategi adalah memberi kesempatan untuk menentukan pilihan topik yang menjadi minat mereka untuk ditulis. Mereka membuktikan kalau mereka mampu menghasilkan tulisan dan sudah dimuat baik di blog maupun menjadi narasi untuk video pendek mereka. Namun demikian ada sebagian yang belum berhasil.

 

Penguatan kapasitas di kalangan remaja di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari memiliki peran penting karena menyiapkan remaja menjadi pemuda-pemudi yang memiliki nilai tambah baik itu spiritualitas di bawah dampingan pendeta, majelis dan jemaat GKSBS Batanghari. Para remaja dilengkapi pengetahuan yang aktual, peningkatan keterampilan, pembangunan karakter yang mandiri dan wawasan yang lebih luas ketika berinteraksi dengan topik dan narasumber yang ada, sehingga ini semua membantu mereka merespon masa depan dengan lebih optimis. Lebih lanjut, pendekatan dan pemetaan kampus-kampus dan spot-spot berkumpulnya mahasiswa di perkotaan seperti Bandarlampung, Metro, dan Bandarjaya, serta membuka jejaring-jejaring baru dan terus mendampingi remaja perlu terus diupayakan berkelanjutan.***


  Bagikan artikel ini

Pengalaman Saya Yang Menakjubkan

pada hari Minggu, 24 April 2022
oleh Yohanes Tola
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung     

 

Oleh Yohanes Tola          

 

 

Menjadi salah satu peserta program Local Exposure to Lampung adalah kesempatan luar biasa yang pernah saya alami sampai saat ini. Tidak pernah terpikirkan, pertemuan saya dengan team Stube HEMAT Yogyakarta di akhir 2021 menghadirkan ‘hadiah’ pengalaman terbaik. Saat itu, saya bertemu dengan team Stube HEMAT Yogyakarta sebagai ‘orang baru’ yang belum mengenal apa itu Stube HEMAT Yogyakarta, dan saat itu saya sedang menjabat sebagai ketua Persekutuan Mahasiswa Kristiani (PMK) Institut Teknologi Yogyakarta.

 

 

Selanjutnya, saya mengikuti pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Water Security antara lain memanfaatkan air hujan menjadi air layak minum, kunjungan ke PDAM untuk memahami realita masalah distribusi air di DIY, diskusi bersama WALHI tentang air dan tantangannya. Beragam kegiatan ini membentuk saya menjadi figur yang berusaha menghayati motto Hidup, Efisien, Mandiri, Analitis dan Tekun.

 


 

Kegiatan berikutnya yang saya ikuti adalah Local Exposure to Lampung untuk membagikan program pelatihan public speaking dan pengenalan Energi Baru Terbarukan (EBT). Di Lampung saya menemukan hal-hal baru, bertemu orang baru, belajar membawakan materi, belajar beradaptasi, belajar kepekaan sosial, dan belajar aktualisasi pengetahuan kampus di tengah-tengah masyarakat. Saya melihat realita dunia secara lebih jelas dan melihat persoalan masyarakat lewat orang-orang yang bergerak lebih dulu untuk mengupayakan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

 

 

Pertemuan dengan Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th. pendeta di GKSBS Batanghari Lampung Timur yang juga Multiplikator Stube HEMAT di Lampung mengajarkan saya makna ketulusan hati yang murni, wujud menggunakan rahmat Tuhan untuk dunia dan anak-anak  yang lebih baik. Pertemuan dengan anak-anak di Pondok Diakonia membuka mata tentang semangat belajar mengalahkan kendala yang ada, seperti keterbatasan ekonomi, jarak antara rumah dengan sekolah, keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah, sehingga tinggal di Pondok Diakonia menjadi pilihan yang tepat untuk melanjutkan studi. Apalagi dengan melatih keterampilan ‘publik speaking’ akan menjadi nilai lebih untuk mereka. Saya mendapati pengalaman lain dari Mbah Ji, salah seorang jemaat di GKSBS Batanghari di mana saya tinggal selama kurang lebih empat belas hari. Bersama beliau, saya seperti mengalami ‘kuliah’ dan menemukan makna yang membekas, tentang ‘kuliah Kehidupan’. Pertemuan bersama Yabima dan orang-orang yang bergerak di dalamnya memberi makna tentang idealisme yang harus dijunjung tinggi di tengah kerusakan alam saat ini, khususnya dunia pertanian yang mengalami modernisasi berlebihan yang kemudian meninggalkan nilai nilai tradisional yang ramah pada alam.

 

 

Saya sangat senang bisa memiliki orang-orang luar biasa seperti ini dalam hidup saya. Saya percaya selalu ada alasan untuk sebuah pertemuan, apakah itu tentang waktu yang mempertemukan kembali atau tentang waktu yang mengingatkan untuk terus menjaga kenangan itu. Terima kasih Stube HEMAT Yogyakarta yang menyediakan ruang belajar ini untuk saya, saya bangga menjadi bagian dari Stube HEMAT Yogyakarta yang menjadi ‘alarm kehidupan’ saya saat ini, yaitu tentang sebuah sikap dan cara hidup menjadi mahasiswa akan terus saya jaga dan saya bagikan kepada teman-teman saya melalui aktivitas organisasi dan sosial saya.***


  Bagikan artikel ini

Bertumbuh dalam Persaudaraan bersama Anak Muda di Lampung

pada hari Selasa, 19 April 2022
oleh Trustha Rembaka

Eksposur Lokal ke Program Multiplikasi Stube HEMAT di Lampung    

Oleh Trustha Rembaka         

 

 

 

 

Kesempatan tinggal di daerah yang berbeda masyarakat, budaya dan lingkungan merupakan pengalaman otentik yang sangat berharga yang akan memperkaya mahasiswa dan masyarakat setempat dalam wawasan, pengetahuan dan pengalaman. Di tahun 2022 Stube HEMAT Yogyakarta mengutus tiga mahasiswa dalam program Eksposur Lokal ke Lampung, yaitu Nia Oy (Agribisnis Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang), dan Andraharis (Akuntansi Universitas Teknologi Yogyakarta), keduanya dari Sumba Timur dan Yohanes Tola, dari Manggarai (Teknik Sistem Energi Institut Teknologi Yogyakarta). Mereka berangkat ke Lampung bersama Trustha Rembaka, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta yang mendampingi dari tanggal 2-16 April 2022.

 

 

Mereka membagikan pengetahuan dan keterampilan untuk anak muda di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari, Lampung Timur, mencakup pelatihan pangkas rambut dan prospek usahanya, sebagai nilai tambah anak muda sekaligus alternatif pekerjaan di masa depan. Ada sembilan anak mengikuti pelatihan pangkas rambut secara manual menggunakan gunting dan elektrik dengan clipper tetapi harus diakui bahwa masing-masing berkembang berbeda-beda. Kegiatan lainnya yaitu public speaking untuk mengasah keterampilan berbicara dengan mencermati jenis-jenis acara dan karakteristiknya, merancang alur suatu acara dan mempraktekkan gerak tubuh yang sesuai, cara berbicara yang mudah dipahami, artikulasi jelas dan tanpa verbal grafiti. Pelatihan menulis menjadi alternatif mengasah kemampuan memberitakan kegiatan yang telah dilakukan maupun menyampaikan gagasan atau ekspresi diri mereka dan selanjutnya tulisan dimuat di blog.

 

 

Dua pelatihan lain melengkapi keterampilan anak muda di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari adalah mengolah coklat batangan dengan beragam warna menjadi bentuk lain seperti bentuk hati, daun, figur kartun sampai miniatur topeng, bahkan mereka juga menghitung biaya modal dan menentukan harga jual yang cocok. Kemudian pelatihan editing video menjadi alat untuk menggabungkan public speaking dan tulisan-tulisan narasi. Selanjutnya, para anak muda menampilkan kemajuan mereka dengan menjadi pemandu acara dan moderator di acara pelatihan Stube HEMAT di Lampung tentang Kesehatan dan Masyarakat, bahkan mereka juga membuat konten video berkait anak muda dan kesehatan untuk YouTube.

 

 

Tak hanya anak muda Lampung yang belajar tetapi mahasiswa dari Stube HEMAT Yogyakarta juga mengalami perjumpaan istimewa di Taman Nasional Way Kambas untuk mengamati gajah-gajah secara langsung dan di Mesuji mereka merasakan secara langsung perjuangan menyadap karet, yang mana dua pengalaman ini tak mereka temukan di hidup mereka sebelumnya.

 

 

 

 

Kegiatan di Lampung terbukti menghadirkan manfaat seperti yang diungkap oleh Griya, remaja dari Kotabumi, Lampung Tengah. “Dalam kegiatan Stube April lalu, saya menemukan banyak hal yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, dari public speaking saya belajar tentang percaya diri, ekspresi wajah, gesture tubuh, penyusunan kata-kata dan saya merasakan kemajuan. Kehadiran Stube sangat penting dan membantu anak muda di sini lebih mengembangkan diri dan semoga kegiatannya diadakan lebih lama agar kami semakin bertambah skill, keterampilan dan pengetahuan,” 

Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi semua pihak, mahasiswa yang menjadi utusan ke Lampung, para anak muda Pondok Diakonia GKSBS Batanghari dan Multiplikator Stube HEMAT di Lampung. Harapannya adalah pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari bermanfaat sebagai bekal diri sendiri, bagi sesama dan lingkungan. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Pendidikan Yang Mengubah Dunia (Bedah Buku)

pada hari Jumat, 8 April 2022
oleh Yoel Yoga Dwianto, S.Th
Oleh Yoel Yoga Dwianto, S.Th.          

 

Pendidikan tidak dapat hadir dan berlangsung dalam ruang hampa, karena pendidikan muncul dari pengalaman hidup manusia dalam konteks tempat mereka hidup yang berhubungan dengan persoalan, isu, dan permasalahan. Seperti waktu dan ruang berpindah dan berganti, seperti kejadian dan pengalaman terus berjalan dan mengalir, demikian juga pendidikan harus terus merespon perubahan dengan cepat dan tepat. Berbagai teori pendidikan yang ada pasti memiliki konstruksi pemikiran yang melatarbelakanginya. Seringkali, konstruksi pemikiran itu hasil dari suatu konflik, ketegangan, realisasi untuk menjawab  kebutuhan, atau visi yang lebih baik bagi masyarakat.

 

 

Dalam rangka merespon permasalahan pendidikan, Stube HEMAT menggumuli permasalahan pendidikan yang bertema “Pendidikan Di Era Teknologi Maju”. Sebagai langkah awal, Stube HEMAT membuat bedah buku yang berjudul “Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan” karya Teguh Wangsa Gandhi HW, terbitan Ar-Ruzz Media, 2013 (07/04/2022).  Yuel Yoga Dwianto, S.Th. , salah seorang tim kerja menjadi penyaji dalam bedah buku tersebut. Ia memperkenalkan kepada peserta diskusi tentang mazhab filsafat pendidikan yang mencakup Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Progresivisme, Esensialisme, Perenialisme, Eksistensialisme, dan Rekontruksianisme. Dalam pemaparannya Yuel mencoba mengkritisi buku yang dibedahnya karena tidak memasukkan aliran Rasionalisme yang diprakarsai Rene Descartes pada awal era modern.

 

 

Mazhab-mazhab itu muncul sebagai respon kegelisahan manusia terhadap permasalahan pendidikan. Respon-respon tersebut merupakan sebuah respon akademis, sosial, bahkan politis dari orang-orang terhadap kebaruan dan keperluan pendidikan di masa yang akan datang. Uniknya, pendekatan-pendekatan ini sungguh-sungguh terkait dengan perilaku dan sikap. Dikaitkan dengan tantangan teknologi maju dan perubahan peradaban manusia yang cepat, maka pendekatan eksistensialismenya Jean Paul Sarte memungkinkan untuk menjawabnya karena teori eksistensialisme mendorong setiap individu (peserta didik) untuk mengembangkan semua potensinya dengan cara terus menerus untuk mencapai kepenuhan diri dan kesadaran, serta membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa dilakukan.

Kajian tentang pemikiran filsafat pendidikan diharapkan menyadarkan peserta diskusi/mahasiswa menyadari landasan berpikir akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Dalam arti yang lebih luas, masyarakat dapat berkembang sesuai dengan tujuan dan hakikat, serta eksistensi kehidupan manusia terus berlangsung sesuai perubahan zaman. Singkatnya, hidup dan tujuan hidup dapat diraih ketika pendidikan benar-benar “hidup”. Sebab, pendidikan dan kehidupan manusia adalah dua hal identik, sukar dipisahkan. Hubungan keduanya ibarat tubuh dengan jiwa manusia: jiwa berpotensi menggerakkan tubuh, sementara tujuan kehidupan yang didambakan digerakkan oleh pendidikan. Tanpa pendidikan, bisa dipastikan bahwa manusia akan kehilangan ruh penggerak kehidupannya.

 

 

Dalam bedah buku ini juga diungkapkan bahwa pendidikan di era teknologi ini berkembang secara gemilang, perkembangannya mencakup ruang lingkup kurikulum yang lebih berimbang, pendekatan pendidikan yang lebih menghormati sifat khas peserta didiknya, penyusunan rencana belajar-mengajar yang lebih teratur, dan banyak menggunakan teknologi. Sebagai konsekuensinya, para pengajar dan peserta didik yang terlibat di dalam pendidikan harus menyadari bahwa mereka tidak boleh merasa puas. Mereka harus terus berpikir untuk mengurai sistem pendidikan yang selama ini hanya menjadi landasan imajiner menjadi pegangan riil di lapangan. Selanjutnya, persepsi, konsepsi, artikulasi, dan analisis seseorang dibentuk oleh kemampuan fisik dan psikologis seperti perkembangan zaman dan konteksnya dalam proses pendidikan.

 

 

Sayangnya, karena perolehan pengetahuan yang terbatas, pengetahuan manusia juga terbatas. Apa yang dipikirkan, pahami, dan rasakan, pasti selalu sedikit pada suatu waktu. Tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa ia telah tiba pada akhir yang final dan mutlak. Apa pun yang dirasakan dan dipahami sebagai sesuatu yang terbaik yang harus dimiliki. Meskipun dalam keterbatasan, pendidikan mampu berkontribusi merubah dunia dalam suatu kurun waktu tertentu. Teruslah mencari jawab atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan untuk mendapatkan perubahan-perubahan. (YYD) *** 


  Bagikan artikel ini

Kelola Sampah Anorganik & Wujud Nyatakan

pada hari Selasa, 22 Maret 2022
oleh Yoel Yoga Dwianto
Oleh Yoel Yoga Dwianto          

 

 

 

Alam semesta dianggap sebagai arsitektur peradaban, sumber kenyamanan, dan ruang penuh kecepatan yang dapat membawa manusia ke dalam taman Firdaus kenikmatan. Namun, kenyaataan sebaliknya, dimana semesta hanyalah sebuah lorong raksasa yang dipenuhi oleh parasit. Celakanya, parasit itu adalah manusia yang mudah digerakkan oleh keterpesonaan, kemabukan, keserakahan, dan ekstase yang menumpahkan banyak energi untuk mengeksploitasi bagian-bagian terkecil dari alam semesta demi kesenangan tubuh. Terlalu banyak yang manusia keruk dari alam semesta demi kenikmatan tubuh, tapi lupa merawat dan mengenyangkan tubuh semesta. Justru manusia membiarkan semesta kelaparan, penuh sampah, dan tercemari limbah. Kini, alam semesta diambang kehancuran dan terabaikan.

 

 

Harus diakui bahwa secara historis, alam semesta adalah sebuah mesin raksasa yang lama kelamaan juga bisa rusak jika manusia terus-menerus mengeksploitasinya dengan tidak bertanggung jawab. Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa memiliki langkah maju untuk mulai mengkampanyekan kepada para mahasiswa dan kaum muda agar memiliki kesadaran untuk melestarikan lingkungan hidup.  Yogyakarta sebagai kota pelajar dihuni oleh kalangan mahasiswa dari luar daerah dan mahasiswa yang tinggal sementara di kota ini, tentu saja juga menghasilkan sampah. Lalu, apa yang bisa mahasiswa lakukan untuk menolong alam semesta ini? Tidak sedikit mahasiswa yang abai terhadap sampah yang mereka hasilkan dan tinggalkan.

 

 

Dalam rangkaian pelatihan dan eksposur, penulis dan tiga belas mahasiswa dari berbagai daerah,berbagai jurusan, dan berbagai kampus yang ada di Yogyakarta diberi kesempatan berkunjung, mengamati, menggali informasi, dan belajar ke salah satu tempat pemanfaatan dan pengelolaan sampah anorganik yang berbasis teknologi digital yaitu Rapel (Rakyat Peduli Lingkungan) di kawasan Sendangadi, Mlati, Sleman (19/3/2022). Mereka berdialog dengan penggagas Rapel, yaitu Yudho Indarjo. Ia memaparkan bahwa Rapel berdiri sejak April 2019 ketika Yogyakarta mengalami darurat sampah. Rapel sendiri merupakan industri pemanfaatan dan pengelolaan sampah di bawah naungan PT. Wahana Anugerah Energi (WAE) yang berdiri sejak tahun 2012.

 

 

Kunjungan belajar ke Rapel sarat akan refleksi dan wahana edukasi, dimana Rapel bisa menjadi solusi milenial untuk mengelola sampah anorganik di Yogyakarta dan sekitarnya, bahkan bisa di 34 provinsi di Indonesia. Selain solusi, ini merupakan terobosan baru untuk meminimalisir jejak dosa ekologis dengan 3R-reduce, reuse, recycle, dengan memakai aplikasi Rapel. Masyarakat yang berminat bisa mendownload aplikasi ini di Playstore dan mendaftar sebagai anggota. Melalui aplikasi ini, anggota bisa menjual sampah sesuai jenisnya tanpa keluar rumah. Warga tinggal mengunggah foto di aplikasi dan mitra Rapel akan mengambil, menimbang dan membayar sampah sesuai jenisnya, antara lain kertas, kardus, botol plastik, ember plastik, besi tua, kemasan susu kotak, jelantah minyak goreng, elektronik bekas, tembaga, dan alumunium.

 

 

Sebagai mahasiswa teologi, saya belajar relasi manusia dengan alam semesta dan berefleksi tentang bagaimana gereja bisa bertanggung jawab secara teologis dan ekologis untuk menjaga semesta yang telah dianugerahkan Allah bagi keberlangsungan hidup manusia. Berkaitan sampah anorganik, saya belajar memperlengkapi diri untuk melayani gereja dan masyarakat dimasa depan. Seperti Rapel, muncul dari gagasan orang-orang yang peduli terhadap lingkungan. Sebagai terobosan, gereja dalam misi pemulihan ciptaan, gereja bisa mengorganisir dan mengedukasi jemaat melalui beragam pelayanan untuk membangun kesadaran dan memahami ancaman sampah, memilah sampah dan mendistribusikan ke bank sampah atau pengelola sampah, seperti Rapel. Jika bisa demikian, tidak berlebihan jika dikatakan gereja sudah bertindak pro lingkungan. Saya rindu mewujudyatakan gereja yang peduli terhadap lingkungan, khususnya sampah. ***


  Bagikan artikel ini

Mengolah Sampah Menjadi Rupiah bersama Bank Sampah Gemah Ripah

pada hari Selasa, 22 Maret 2022
oleh Kostansa Hukum
Oleh: Kostansa Hukum.          

 

Ternyata urusan sampah tidak sesederhana yang saya pikirkan selama ini. Barang-barang yang sudah tidak saya pakai saya buang saja di tempat sampah dan selesai urusan. Urusan sampah bisa lebih dari itu, karena ketidaktahuan dan ‘tidak mau tahu’ itu yang membuat orang-orang tidak peduli dengan yang namanya sampah. Namun, saya menemukan pencerahan berkat pelatihan mahasiswa yang diadakan Stube HEMAT Yogyakarta. Pada saat saya diajak untuk mengikuti Program Energi dan Lingkungan (Pelatihan dan Eksposur). Saya lihat di brosur ada eksposur ke Bank Sampah Induk Gemah Ripah. Dari situ muncul pertanyaan dalam pikiran saya, bank sampah itu seperti apa? Apa kegiatannya? Apakah mengumpulkan sampah?

 

 

 

 

Sebelum lanjut, saya memperkenalkan diri, saya Kostansa Hukum, dari Kepulauan Aru, kuliah Manajemen Universitas Kristen Immanuel. Saya berpikir bahwa pengelolaan sampah di Aru daerah saya, belum baik karena masih banyak yang tidak peduli dengan membuang sampah langsung ke laut atau rawa, yang  hanyut ketika laut pasang. Di Aru juga tidak ada orang yang berniat untuk membeli sampah kemudian dijual kembali. Jika ada orang yang mau membeli sampah, maka itu akan menjadi hal yang baik karena bisa mengurangi sampah di Aru. Pada umumnya sampah kertas dan plastik dibakar dan dibuang, belum diolah menjadi sesuatu yang bernilai. Meskipun ketika di sekolah tingkat SD & SMP sudah belajar tentang prakarya dari barang bekas namun ketika setelah lulus tidak dilakukan lagi.

 

 

 

 

Dari pengalaman yang saya ikuti di pelatihan ini, sampah tidak asing lagi untuk kita karena setiap saat kita menghasilkan sampah. Di Bank Sampah Gemah Ripah di Bantul, Bambang Suwerda sebagai narasumber, juga perintis bank sampah ini, menceritakan bahwa ini merupakan gerakan dari masyarakat untuk mengelola  sampahnya.  Jenis sampah yang kita tahu ada kertas, plastik, botol kaca, kaleng dan besi. Dengan mengunjungi langsung tempat kegiatan, saya bisa tahu bahwa dari berbagai jenis sampah ini bisa menghasilkan uang dengan cara menjual sampah sesuai jenisnya dan mengolah sampah dengan kreativitas menjadi gantungan kunci, pot bunga, baju, dan produk lainnya. Dari pengalaman kegiatan ini saya menemukan hal-hal baru, yaitu saya baru tahu jika sampah mempunyai bank, sampah bisa menghasilkan uang dengan cara didaur ulang, bahkan satu botol bekas minuman kemasan bisa dipilah menjadi 3 jenis menjadi tutup, label dan bdan botol. Selanjutnya saya melihat kembali suasana kebersihan di rumah kos, memang setiap kamar ada tempat sampah tetapi para penghuni kurang peduli dan membiarkan sampah menumpuk. Ini men jadi tantangan saya untuk menjadi contoh dan mengajak teman kos mengelola sampah dengan baik.

 

 

Saya berharap tulisan ini bisa menambah informasi dan pengalaman bagi pembaca, dan kita bisa mulai menerapkan cara membuang sampah yang benar dan mencintai kebersihan di daerah dan lingkungan sekitar kita tinggal. Pengalaman yang sudah saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan Stube HEMAT tentang cara mengelolah sampah dan mengurangi sampah akan saya bagikan kepada yang lain.***

 

 


  Bagikan artikel ini

Sehatkah Konsumsi Anda?

pada hari Senin, 7 Maret 2022
oleh Putri NV Laoli
Oleh Putri NV Laoli.          

 

Ketercukupan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada kualitas konsumsinyaEra globalisasi juga menggiring perubahan gaya hidup dan pola makan, sehingga masyarakat Indonesia menghadapi permasalahan gizi ganda. Di satu pihak, pada umumnya masalah kurang gizi disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, atau pemahaman gizi yang rendah. Di lain pihak, masalah gizi juga bisa disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu namun tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang gizi dengan menu seimbang sehingga abai terhadap pola konsumsinya demi memenuhi keinginan. Pola konsumsi harian masih cenderung mengonsumsi makanan berisiko untuk kesehatan, seperti tinggi kadar gula, garam dan lemak dan minim unsur sayur dan buah.

Pola konsumsi ini juga mengancam para mahasiswa karena selama pandemi banyak aktivitas online dari kost atau rumah sehingga aktivitas outdoor berkurang. Fenomena yang terjadi adalah semakin lama berada dalam situasi pandemi, tingkat kemageran atau malas gerak semakin menguatSecara tak langsung, kondisi ini mempengaruhi pola makan yang sembarangan, istrahat tidak teratur, asupan gizi tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Tak jarang mahasiswa mengeluh sakit berkaitan lambung, asam lambung, obesitas maupun malnutrisi.

 

 

Pemahaman perilaku hidup sehat dengan memperhatikan pola konsumsi merupakan poin penting untuk diketahui. Dalam program Energi dan Lingkungan: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, Stube HEMAT Yogyakarta menginisiasi kegiatan diskusi ‘Mengungkap pola konsumsi anak muda, aktivitas fisik dan obesitas di masa pandemi’ dengan nara sumber Ir. Ferry Fredy Karwur, M.Sc., Ph.D. Peserta diskusi adalah mahasiswa dengan beragam latar belakang studi, dari Pendidikan, Ilmu Pemerintahan, TeknikManajemen, Komunikasi dan Teologia, mereka menemukan pencerahan dan pengayaan pengetahuan berkait pola konsumsi anak muda (5/3/2022) di Wisma Pojok Indah, Condongcatur. Narasumber mengawali sesi dengan gerak badan untuk mengkampanyekan pentingnya tubuh melakukan pembakaran lemak dan menerima sinar matahari di pagi hari. Aktivitas outdoor ini membuat peserta merasa lelah, capek, badan lebih ringan, sebagian berkeringat dan sebagian tidak. Narasumber mengungkapkan bahwa situasi pandemi membuat mahasiswa terlena di dalam ruangan tanpa aktivitas dan abai asupan nutrisi. Ancaman kesehatan saat ini adalah makanan cenderung mengandung gula tinggi sehingga akumulasi kandungan glukosa dalam tubuh berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan dari obesitas, diabetes dan tekanan darah tinggi.

 

 

 

 

Data kasus meninggal karena Covid-19 didominasi usia di atas 46 tahun. Dari data lainnya, kasus pasien meninggal karena Covid-19 diikuti penyakit penyerta atau komorbid, ternyata hipertensi, diabetes, jantung, ginjal dan paru-paru menduduki peringkat lima tertinggi kasusnya. Sepertinya kelompok usia muda lebih ‘aman’ dari dampak terpapar Covid-19, tetapi perlu diingat bahwa penyakit penyerta yang memperberat kasus Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan akumulasi dari pola hidup seseorang yang tidak sehat. Jadi, jika sejak muda tidak bisa mengelola asupan nutrisi dan pola hidup sehat maka penyakit degeneratif akan menyerang.

 

 

Salah satu ancaman yang tidak bisa dianggap ‘sepele’ adalah obesitas di kalangan anak muda. Ini dipengaruhi oleh umur, makan dalam porsi yang berlebihan, pola konsumsi yang salah seperti makan di luar waktu makan, aktivitas fisik minim, faktor keturunan, gangguan produksi kalor oleh tubuh karena gangguan pola tidur karena lebih aktif di dunia maya , juga karena stres meningkat.

 

 

Direktur Stube HEMAT mengatakan, “Setelah mendapat bekal baru mengendalikan pola hidup yang berkualitas, maka hendaklah mulai melakukan perubahan sebagai tanda bahwa teman-teman mahasiswa telah belajar. Sebagai penutup diskusi, peserta menyatakan bahwa dengan pelatihan ini membuat pemahaman mereka semakin terbuka dan jeli terhadap realita dalam mengamati setiap perilaku dan sikap sehari-hari dalam hal konsumsi dan produksi yang lebih bertanggungjawab.***

 


  Bagikan artikel ini

Melek Ekologi Menuju Masyarakat Berkelanjutan

pada hari Minggu, 20 Februari 2022
oleh Yoel Yoga Dwianto, S.Th

Oleh Yoel Yoga Dwianto, S.Th.

 

 

Krisis kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup adalah masalah yang selalu up-to-date karena bumi semakin tua dan manusia memerlukan perubahan radikal yang mengedepankan kesadaran pentingnya memelihara lingkungan hidup. Perubahan pola dan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan demi keberlajutan kehidupan harus menjadi kesadaran personal dalam  masyarakat bahkan harus melembaga dan menjadi budaya baru masyarakat posmodern. Kesadaran ini menjiwai kehidupan manusia, mulai dari konsumsi kebutuhan pokok, konsumsi energi, penggunaan teknologi, kebutuhan peralatan rumah tangga, penggunaan sarana fasilitas transportasi, penataan bangunan serta perawatan rumah, pola pertanian serta mata pencaharian lainnya, pengembangan industri, pengembangan bisnis, pengembangan organisasi, ekonomi, politik, dan pendidikan.    

 

 

Atas dasar itu Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan diskusi tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab di Wisma Pojok Indah (19/02/2022). Di awal kegiatan Trustha Rembaka, S.Th., koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, memperkenalkan lembaga dan memetakan sejauh mana peserta tahu tentang Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagian peserta mengaku baru mendengar istilah ini, tetapi menjadi tertarik untuk mendalaminya.

Dalam proses diskusi, setiap peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di Yogyakarta mendapat kesempatan untuk mengungkapkan apa saja yang mereka konsumsi dan apa saja yang mereka produksi. Masing-masing memiliki jawaban beragam, Ika dari Lampung mengakui dirinya lebih banyak mengkonsumsi daripada memproduksi, dari makanan, minuman, air, sabun, shampo, listrik, kuota, berita, dan bahan bakar. Ia berharap dapat menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dalam hal konsumsi dan produksi.

 

 

Suparlan, S.Sos.I, MA dari Yayasan Sheep Yogyakarta dan Dewan WALHI Jogja, sebagai narasumber diskusi menyampaikan bahwa menjadi environmentalis itu gampang. Environmentalis ada karena pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi pada dunia saat ini. Ini terjadi akibat maraknya pembangunan global dan revolusi industri tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Pertanian merasakan dampak perubahan iklim dan pemanasan global dari perubahan musim, perubahan ketersediaan air, serangan hama dan penyakit yang memicu gagal tanam dan gagal panen. Dampak jauhnya adalah kerawanan pangan dan ancaman kelaparan. Jadi, tepat kalau konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab menjadi salah satu poin dari SDGs untuk menyadarkan masyarakat global tentang pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

 

 

 

 

Semakin tinggi konsumsi individu, semakin besar emisi gas buang yang dilepaskan ke atmosfir. Akumulasi gas buang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Parahnya, dunia terjebak dalam keserakahan kapitalis yang mengeruk alam tanpa mempertimbangkan kelestariannya. Dalam kegiatan kelompok, peserta menghitung karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari mereka. Misalnya penggunaan satu buah rice cooker selama 1 jam menghasilkan 267 gram CO2. Bayangkan berapa banyak CO2 yang dihasilkan penduduk dunia hanya dari penggunaan rice cooker!

 

 

Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th, M.Min., board Stube HEMAT memandu peserta berefleksi apa yang diperlukan manusia saat ini. Kesadaran untuk memiliki pola pikir menuju kehidupan yang lebih baik serta ramah lingkungan menjadi sesuatu yang sangat penting. Hidup tidak lagi berorientasi pada keuntungan sesaat tapi pemikiran yang berkelanjutan demi menjaga keberlangsungan alam dan lingkungan hidup. Beragam temuan tentang dampak pemanasan global, konsumsi dan produksi yang tidak bertanggung jawab dan karbon yang dihasilkan seharusnya membuat semua peserta memikirkan ulang cara hidup masing-masing.

“Aku bangun di pagi hari dan bertanya dengan diriku sendiri, apa yang bisa aku lakukan hari ini,

bagaimana caranya agar aku dapat menolong dunia hari ini.”

(Julia Butterfly Hill)


  Bagikan artikel ini

Mengasah Rasa Peduli dan Bertindak

pada hari Sabtu, 5 Februari 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno

Pendampingan Studi Sosial SMPK Tirta Marta BPK Penabur Pondok Indah

 

Oleh Kresensia Risna Efrieno.         

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak lepas dari realita sosial. Begitu banyak fenomena sosial terjadi di masyarakat  seperti permasalahan berkaitan dengan pendidikan, kemiskinan, kesenjangan sosial, teknologi, ekonomi dan lain sebagainya. Dari realita ini apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah kepekaan dan kesadaran sosial akan tumbuh dengan sendirinya? Kesadaran terhadap isu atau realitas sosial ini perlu terus ditumbuhkan dan diasah, untuk memicu timbulnya kesadaran terhadap realita yang terjadi.

 

 

Seiring dengan harapan untuk terwujudnya kesadaran manusia khususnya anak muda, Stube HEMAT memberi ruang pendampingan kepada siswa-siswi SMPK Tirta Marta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta dalam Studi Sosial 2022 yang mengangkat tema “Aku dan Sesamaku – We Care We ShareKegiatan Studi Sosial ini adalah bagian kepedulian Yayasan Tirta Marta-BPK Penabur, Pondok Indah Jakarta, untuk mengasah kepekaan siswa-siswinya atas realita yang terjadi di sekitarnya terciptanya generasi muda yang tahu apa yang harus dilakukan sebagai respon atas pemasalahan yang ada. Kondisi pandemi tidak menghalangi proses belajar, kegiatan berlangsung secara online selama 3 hari, dimana Stube HEMAT Yogyakarta memfasilitasi selama dua hari, 2 dan 3 Februari 2022.

 

 

Hari pertama (2/2/2022) menjadi awal siswa dan siswi mengenal Stube HEMAT dan Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd.,  Direktur Eksekutif Stube HEMAT memaparkan tentang Stube HEMAT dan pelayanannya untuk mengembangkan sumber daya manusia di berbagai wilayah di Indonesia. Ariani juga menayangkan  video yang membantu siswa-siswi mengetahui kegiatan Studi Sosial di tahun-tahun sebelumnya, dan mengungkap realita kehidupan yang terjadi di Raja Ampat, Papua Barat yang perlu dukungan layanan pendidikan berkualitas dan fasilitas penunjang  lainnya.

 

 

Untuk memperkuat kedekatan personal dengan para siswa, pihak sekolah membagi para siswa ke dalam kelompok kecil dan tujuh tim Stube HEMAT sebagai fasilitator. Di kelompok kecil yang terdiri 9-10 siswa, tim Stube HEMAT memandu para siswa untuk mendalami kepribadian mereka melalui ‘game quiz’. Para siswa terlihat sangat antusias ketika mengetahui karakter diri mereka, seperti orang yang baik, orang yang pintar, orang yang percaya diri, orang yang kocak dan orang yang mandiri. Sebagian mengaku sesuai tetapi ada juga yang tidak sesuai. Proses ini membawa mereka pada sebuah kesadaran bahwa diri mereka berharga dan bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain sebagai respon terhadap kesulitan yang terjadi di sekitarnya.

 

 

 

 

Pada hari kedua (3/2/2022)  sesi pertama yang disampaikan oleh Trustha Rembaka, S.Th., Stube menayangkan kehidupan anak-anak SMP di Pulau Sumba yang mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan, mereka berangkat sekolah berjalan kakinaik ke bukit demi mendapat jaringan internet selama belajar online, malam belajar dengan penerangan lampu minyak karena tidak ada listrik, mencari kayu bakar untuk memasak, juga bertugas memelihara ternak keluarga. Di bagian ini para siswa belajar mengungkap permasalahan dan kesenjangan yang dialami teman sebaya di daerah lain di Indonesia. Selanjutnya di sesi kedua, Kresensia Risna Efrieno mendampingi para siswa menyaksikan tayangan video mengenai daya juang dalam kehidupan dengan menayangkan potret kehidupan Sudarmono, seorang difabel karena kecelakaan kerja, yang tidak menyerah karena keadaan dan berjuang untuk melanjutkan kehidupan. Ia bersama isterinya merintis usaha bisnis peyek kacang dan berkembang sampai sekarang.

Dari rangkaian pembelajaran ini para siswa berefleksi dan menentukan sikap, apa yang bisa mereka lakukan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama, yang selanjutnya dituangkan ke dalam project planning secara kelompok. Kegiatan Studi Sosial ini bukan sekedar untuk menumbuhkan kesadaran atau kepekaan akan realita sosial, tetapi sampai pada bagaimana bertindak sebagai realisasi akan kesadaran itu. Sudahkah kita sadar akan realita sosial yang terjadi di sekitar kita? Mari buka mata, buka hati dan tentukan langkah untuk bertindak dan berbagi.***


  Bagikan artikel ini

Dinamika Anggaran Pemerintah & Aksesnya

pada hari Senin, 31 Januari 2022
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

Oleh Yonatan Pristiaji Nugroho.          

 

 

Suatu daerah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah setempat atau pusat, baik berupa sarana dan prasarana maupun anggaran untuk mewujudkan tujuan pembangunan daerah. Bicara mengenai anggaran, tentu istilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan sering dijumpai. APBD merupakan gambaran rencana kerja pemerintah daerah dalam bidang keuangan di periode tertentu. Berbicara anggaran, anggaran berperan besar bagi suatu daerah maupun organisasi karena anggaran berperan dalam pengembangan potensi ekonomi, kegiatan kewirausahaan untuk mewujudkan kesejahteraan. Apakah realisasi dari APBD sudah terpenuhi oleh masing-masing daerah?

 

 

Pengenalan mengenai anggaran daerah perlu dimiliki oleh mahasiswa, karena pengenalan ini akan membekali mereka untuk mengambil langkah ketika kembali ke daerah asal. Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan diskusi tentang Memetakan Potensi Daerah dan Membidik Dukungan Anggaran Pemerintah Daerah bersama George B.L Panggabean, praktisi dan memiliki pengalaman sebagai anggota dewan (31/01/2022). Belasan mahasiswa dengan beragam latar belakang studi antusias mengikuti diskusi ini, karena mereka tidak mengetahui secara detil pengelolaan anggaran di daerahnya, kesempatan ini menjadi ajang bertanya. Dari titik ini mahasiswa mengungkapkan pengamatan mereka tentang daerah dan kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah.

 

 

Narasumber memaparkan bahwa sistem pengelolaan anggaran pemerintah baik dari pusat sampai daerah itu sudah ada pedoman yang dikeluarkan oleh menteri keuangan. Panduan mengalami perubahan dan perkembangan dari tahun ke tahun, sehingga dinamika anggaran pemerintah itu juga mengacu pada pedoman terbaru atau tahun berjalan. Pemanfaatan APBD ada beberapa jenis, misalnya penerimaan daerah dari Pendapatan Asli Daerah, dari pusat dan pendapatan lain yang sah, sedangkan belanja terdiri dari belanja rutin, barang dan jasa, modal dan belanja lainnya. Kemudian, bagaimana masyarakat bisa mengakses anggaran ini untuk pembangunan di wilayahnya? Pada hakekatnya masyarakat ataupun organisasi/lembaga kemasyarakatan bisa mengakses anggaran tersebut karena pembangunan juga untuk masyarakat. Memang tidak setiap orang tahu tahapan pengajuan, tetapi program itu sudah diusulkan melalui proses usulan, perencanaan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan seterusnya, setelah itu masuk proses  penetapan anggaran. Jadi tidak serta merta mengajukan anggaran suatu kegiatan akan langsung disetujui. Selain itu, rencana APBD dapat diusulkan sesuai prosedur yang ada sesuai tujuan pembangunan daerah, melalui alokasi dana legislatif dan eksekutif.

 

 

Musrenbang dan public hearing atau dengar pendapat menjadi ajang masyarakat memperjuangkan aspirasi program. Public hearing ini bisa dilakukan dengan pimpinan organisasi, lembaga, anggota dewan maupun eksekutif dan jika disetujui akan masuk dalam Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD). Pengajuan program ini akan lebih baik jika sudah dalam bentuk proposal kegiatan. Contoh program yang biasa diajukan masyarakat seperti peningkatan kualitas jalan di desa, sarana penunjang pertanian dan program-program lainnya untuk kepentingan masyarakat lainnya.

 

 

 

Dalam diskusi ini mahasiswa menemukan hal baru berkaitan anggaran dan langkah untuk mengakses anggaran daerah demi ikut ambil bagian dalam pembangunan di daerahnya. Sebagai orang muda dan pelopor untuk masa depan bangsa, harus memulai proaktif melalui beragam organisasi dan keterlibatan untuk pengembangan diri baik dalam forum kecil maupun besar dan semua ini mengarah pada pembangungan daerah masing-masing.


  Bagikan artikel ini

Memperkuat Penghayatan Mahasiswa atas PanggilanNya

pada hari Sabtu, 29 Januari 2022
oleh Daniel
Sosialisasi Stube HEMAT Yogyakarta di Ikatan Kebersamaan Teologi PAK (IKTP) STAK Marturia

 

Oleh Daniel          

 

Mahasiswa punya mimpi untuk berhasil, dan keberhasilan membutuhkan pendukung, seperti pengetahuan, yang dapat menambah kapasitas dirijejaring yang dimiliki mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan atau softskills-nya. Bekal untuk menjawab tantangan-tantangan di masa depan bisa didapatkan baik di dalam kampus melalui kegiatan perkuliahan, praktek, organisasi kampus atau perkumpulan kelompok mahasiswa, maupun di luar kampus seperti terlibat di organsisasi kemasyarakatan, dan lembaga peningkatan SDM.

 

 

Sebagai lembaga pendampingan dan pengembangan sumber daya manusia, Stube HEMAT Yogyakarta konsen terhadap mahasiswa, yang diharapkan dapat menjadi pionir-pionir pengembangan sumber daya di daerahnya. Stube HEMAT terus memperluas jejaring kepada mahasiswa dengan mengadakan sosialisasi program Stube HEMAT Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan Kebersamaan Teologi dan PAK (IKTP) STAK Marturia Yogyakarta (28/01/2022) dan diwakili oleh Yuel Yoga Dwianto dan Daniel.

 

 

Beberapa mahasiswa dari STAK Marturia Yogyakarta yang tergabung dalam wadah Ikatan Kebersamaan Teologi dan PAK mengadakan ibadah rutin dan diskusi tentang kegelisahan organisasi di GKSBS. Eri Kristian menyampaikan topik Menghidupkan dan Menghidupi kegelisahan Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS). Dalam diskusi ini, Eri mengawali dengan sebuah pertanyaan, apa yang harus dihidupkan? Dan apakah selama ini belum hidup? Selanjuntya Eri memaparkan Nilai-nilai GKSBS, yang terdiri dari 11 poin: Asketisme untuk BerbagiKeadilan yang BerpihakKeadilan GenderDialog untuk PartisipasiMenguatkan OrganisasiMenguatkan Lembaga Keuangan LokalPendidikan untuk Kecakapan HidupSensitif EthnisAkuntabilitasPerbaikan Ekologi, dan Spiritualitas. Nilai-nilai ini berasal dari GKSBS yang menghayati dirinya sebagai bagian dari konteks Sumbagsel. Kehadiran GKSBS berusaha untuk melayani konteks dengan memproklamasikan diri sebagai gereja daerah. Dari kesadaran akan konteks, GKSBS mengupayakan untuk menghadirkan nilai-nilai yang menjadi pedoman dan arah strategis dari tindakan dan pelayanannya.

Masing-masing peserta mendalami nilai-nilai GKSBS dan memberikan tanggapan, Daniel Prasdika, salah satu peserta yang berasal dari GKSBS Seputih Rahman mendapat nilai Akuntabilitas (pengelolaan atau pemberdayaan yang stabil). Ia menyampaikan beberapa poin penjelasan dalam Akuntabilas, yaitu, pertama, selalu melibatkan sebanyak mungkin para pihak untuk memutuskan arah dan tujuan organisasi atau gereja, dan, kedua, sejarah dan berbagai pekerjaan kita terdokumentasi dengan baik dan semakin banyak para pihak yang tahu dan mau berpartisipasi. Selain itu, pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai GKSBS akan memperkuat mahasiswa Teologi dan PAK menghayati panggilanNya dalam studi dan pelayanan.

 

 

Setelah diskusiYuel Yoga Dwianto, memperkenalkan Stube HEMAT Yogyakarta kepada para peserta diskusi dengan memaparkan program-program baru di semester ini, antara lain Energi dan Lingkungan: Bertanggungjawab dalam produksi dan konsumsi, dan Pendidikan di Zaman Teknologi Maju. Program lainnya adalah Eksposur Lokal ke Lampung yang membuka kesempatan kepada mahasiswa dari luar daerah untuk mengunjungi Lampung dan mempelajarinya. Ia juga menceritakan pengalaman berpartisipasi di kegiatan di Stube yang bermanfaat bagi dirinya.

Terus bersinergi dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan mahasiswa, membentuk mahasiswa menjadi manusia berpengalaman yang siap menjawab tantangan hidup. ***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)