Mengolah Kuliner Berbahan Labu Kuning

pada hari Minggu, 17 September 2023
oleh Kresensia R. Efrieno

        

 

Labu kuning dengan nama latin Cucurbita moschata merupakan tumbuhan berkayu dan banyak ditemui di wilayah Indonesia. Tanaman ini memiliki bunga berwarna kuning berbentuk lonceng dan buah berwarna hijau tua dan kuning coklat. Kandungan gizi 100 gram labu kuning adalah air 93,69 g air, energi 20 g kalori (Kal), protein 0,72 g, lemak 0,07 g, karbohidrat 4,9 g, serat 1,1 g, kalsium 15 miligram (mg), zat besi 0,57 mg, magnesium 9 mg, fosfor 30 mg dan kalium 230 mg. Umumnya labu kuning dikonsumsi sebagai campuran kolak, puding, kue dan sup dengan proses kukus rebus, tumis, panggang, sangrai dan bakar.

 

 Labu kuning menjadi salah satu jawaban atas tindakan Inisiasi Pangan Lokal: Mengolah Labu Kuning menjadi beragam produk di Sekret Stube HEMAT Yogyakarta (Sabtu, 16/09/2023). Pelatihan ini menghadirkan beberapa mahasiswa yang berlatar belakang daerah serta jurusan yang berbeda untuk memperkaya wawasan mereka tentang pangan lokal, mengenal labu kuning dan produk turunannya, sebagai ragam produk kuliner.

Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta menggali wawasan mahasiswa tentang pengolahan labu kuning di daerah masing-masing. Sebagian besar mengungkapkan bahwa mereka mengolah labu menjadi sayur dan kolak. Namun, ada beberapa menceritakan bahwmereka mengolah biji labu kuning menjadi lauk makanan dengan disangraisebagaimana yang dilakukan di Sumba dan Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

 

 

 

Mahasiswa menjadi lebih terbuka wawasan kulinernya saat Prihartantiyang akrab dipanggil Mbak Tanti, seorang praktisi kuliner membagikan pengalamannya mengolah labu kuning menjadi produk kuliner yang beragam dan menarik, seperti puding, bolu kukus, donat, tepung, kwaci biji labu dan stick labu. “Labu kuning bisa diolah menjadi bermacam produk untuk jualan, hari ini kita praktekkan empat resep yang mudah, murah, dan cocok dilakukan oleh anak kos seperti teman-teman ini, karena menggunakan alat masak sehari-hari, yaitu donat, puding, bolu kukus dan stick”, ungkapnya. 

Mahasiswa nampak antusias dalam sesi praktek karena mereka sendiri yang mengolah. Bahan dasar donat, bolu kukus dan stik menggunakan kombinasi labu kukus dan terigu, sementara puding menggunakan labu kukus dan tepung agar-agar. Proses pembuatan 4 makanan ini dilakukan secara bergantian dan setiap peserta melakukan dan mencatat, bahkan mendokumentasikan bahan dan cara pembuatannya. Kegiatan ini berlangsung selama satu hari sampai produk siap saji.

 

 

Melalui aktivitas ini mahasiswa memiliki bekal baru mengolah bahan pangan lokal, yang laku di pasaran untuk menambah uang saku. Pengolahan pangan lokal yang ada di sekitar menjadi peluang bagi siapa pun, termasuk anak muda, yang memiliki semangat dan kreativitas. Jadi, bahan pangan lokal ternyata potensial, bukan? Ayo manfaatkan peluang bisnis, dengan mengolah potensi pangan nusantara.***


  Bagikan artikel ini

Beragam Sumber Pangan Lokal, Diolah Apa?

pada hari Minggu, 10 September 2023
oleh Trustha Rembaka.

       

 

Indonesia merupakan negara kaya biodiversitas, termasuk sumber pangan nabati maupun hewani. Keragaman hayati tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan karena beragam penyebab, misalnya rendahnya pengetahuan tentang bahan pangan, minim referensi tentang cara pengolahannya, membanjirnya produk jadi dan bahan impor, dan produk dengan bahan lokal belum berkembang dan faktor-faktor lainnya.

 

 

Ini berdampak pada ketahanan pangan Indonesia di 2020 dan 2021 ketahanan pangan Indonesia masih di bawah rata-rata global yang indeksnya 62,2, serta lebih rendah dibanding rata-rata Asia Pasifik yang indeksnya 63,4. Indeks ketahanan pangan Global Food Security Index (GFSI) diukur dari empat indikator, yaitu keterjangkauan harga pangan (affordability), ketersediaan pasokan (availability), kualitas nutrisi (quality and safety), serta keberlanjutan dan adaptasi (sustainability and adaptation). Kabar baiknya di 2022 ada perbaikan.

 

 

Padahal jika menilik sumber pangan dari nabati saja, Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu, 40 jenis bahan minuman dan 1.260 jenis tanaman obat. Ini yang harus terus dipromosikan dan dikembangkan para stakeholder, termasuk anak muda dan mahasiswa.

 

 

Gerakan mahasiswa yang concern pada isu pangan lokal terus diperkuat Stube HEMAT Yogyakarta dalam Diskusi Mahasiswa tentang Inisiatif Pangan Lokal di Sekretariat Stube HEMAT Yogyakarta (9/9/2023). Ketika bangsa ini memiliki beragam pangan lokal, apa yang bisa mahasiswa lakukan pada potensi besar ini. Tentu harapannya bisa melakukan inovasi dalam budidaya, pengolahan dan pemasaran produk yang mengerek ekonomi masyarakat setempat.

 

 

Dalam diskusi, Trustha Rembaka, mengawali dengan mengajak para peserta menyebutkan ragam cara mengolah bahan pangan. Beberapa yang disebutkan antara lain menggoreng, menumis, mengukus, merebus, memanggang dan membakar, padahal ada alternatif lain seperti mengasap, fermentasi, dan pengeringan. Selanjutnya Trustha memandu peserta menceritakan potensi pangan di sekitar tempat tinggal mereka dan memetakan produk-produk turunannya yang bisa dihasilkan, misalnya Effie Rambu Boba dari Anajiaka, Sumba Tengah yang mengungkap pisang, ubi jalar, labu dan ternak, Ando dari Sorong menceritakan sagu dan salak sehingga dikenal sebagai kampung salak. Kemudian Sutopo dari Batumarta, Sumatera mengungkapkan kopi, singkong dan pepaya tumbuh di sekeliling rumahnya, sedangkan Yonas menyebutkan jambu mete cukup melimpah di kawasan Manggarai, tempat tinggalnya. Tak kalah, Mensiana dari Kanatang, Sumba Timur memaparkan panenan dominan jagung, labu dan kacang tanah. 

 

 

Sebagai langkah lanjut dari topik ‘Punya Beragam Pangan Lokal, Kamu Bisa Apa?’ para peserta menggagas pengolahan hasil pangan lokal yang mudah untuk mereka kerjakan, dari pisang menjadi manggulu dengan sentuhan baru, labu kuning menjadi makanan basah dan makanan kecil termasuk jagung yang diolah menjadi ‘Kawuhuk’

Dengan memperluas wawasan tentang bahan pangan lokal, menambah referensi cara pengolahan dan mempraktekkan pengolahan menjadi produk yang siap jual, anak muda menjadi inspirator kembalinya eksistensi pangan lokal di bangsa ini. Pasti bisa!***


  Bagikan artikel ini

Go-Digital Bersama UKMIndonesia.ID

pada hari Kamis, 7 September 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta.

       

 

Digitalisasi sudah tidak bisa dihindari oleh siapa pun yang ingin terus bergerak menyesuaikan kemajuan teknologi dan informasi, terlebih bagi para pelaku usaha untuk mempromosikan produk-produknya. Peningkatan kapasitas untuk menguasai teknologi informasi terus diupayakan supaya seluruh komponen masyarakat yang bergerak di bidang usaha bisa memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan untuk setiap usahanya, terlebih di pulau-pulau kecil bagian timur Indonesia.

 

 

 

 

Kali ini Gilang Herdyan, alumni Stube HEMAT Yogyakarta, salah satu jejaring alumni, membuka forum diskusi bersama UKMINDONESIA.ID tempat dia bekerja, yang berkedudukan di Jakarta, bersama teman-teman di Pulau Sumba. Mari kenali dulu layanan Lembaga ini. UKMINDONESIA.ID merupakan sebuah media informasi berbasis komunitas bagi bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang mempublikasikan informasi dan wawasan bisnis melalui website dan media sosial dimana pelaku UMKM bisa meningkatkan bisnisnya melalui beragam informasi tersedia di dalamnya yang berupa program dan kegiatan pengembangan UMKM, tips bisnis, pengalaman inspiratif, perijinan dan sertifikasi sampai pada pengembangan usaha.

 

 

Melihat peluang dan kesempatan yang bagus ini, Stube HEMAT Yogyakarta menjejaringkan para Multiplikator Stube HEMAT di Sumba yang bergerak di sektor UMKM meliputi kelompok pemberdayaan perempuan dengan produk ragam tenun ikat yang dikelola Elisabeth Uru Ndaya, S.Pd., gerakan petani muda milenial dengan hortikultura yang dikoordinir oleh Frans Fredi Kalikit Bara, S.E., dan komunitas peternak babi Sumba Timur yang dirintis oleh Apriyanto Hangga. Ada peserta lain dari Sumba Barat Daya yang juga menjadi peserta dalam dialog tersebut. Dialog bersama antara Multiplikator Stube HEMAT di Sumba dan UKMINDONESIA.ID berlangsung dengan semangat untuk berkembang melalui program UMKM Go Digital (6/9/2023). Dialog awal ini dimaksudkan untuk saling mengenal dan memahami peran masing-masing dan mempelajari Program UMKM Go Digital yang memiliki kegiatan utama antara lain pelatihan pembentukan jaringan fasilitator ‘Go Digital’ dengan adopsi teknologi digital dan implementasi pendampingan melalui aplikasi Chat Commerce (WhatsApp Business).

 

 

 

 

Jejaring menjadi kekuatan bersama dan Stube HEMAT terpanggil terus membangun jejaring dengan para alumnus untuk bisa menjadi mutual colaboration dan menghadirkan manfaat bagi pihak-pihak yang berjejaringMelalui ‘Go Digital’ usaha-usaha yang telah dirintis diharapkan semakin berdampak untuk masyarakat dan produk-produk yang dihasilkan mendapat tanggapan baik dari publik.***


  Bagikan artikel ini

Menjaga Ketahanan Pangan Rumah Tangga

pada hari Selasa, 29 Agustus 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta.

Pendampingan Warga Dusun Klegung, Nglipar       

 

 

 Apa saja tanaman bahan pangan yang ada di sekitar rumah anda masing-masing? Ini pertanyaan yang dilontarkan Trustha Rembaka, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, kepada warga dusun Klegung, Katongan, Nglipar yang mengikuti Diskusi Ketahanan Pangan Rumah Tangga, bekerjasama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata 56 STPMD APMD Yogyakarta (28/8/2023). Mereka bersemangat menceritakan tanaman bahan pangan yang ada di rumah mereka, antara lain cabe, sawi, terong, seledri, jagung, singkong, pepaya, bawang merah, sampai sumber pangan hewani seperti kambing, sapi, dan lele.

 

 

Pertanyaan di atas menjadi pembuka diskusi dengan isu Ketahanan Pangan di Indonesia yang menjadi perbincangan menarik karena berkaitan dengan beragam faktor, seperti bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan pangan, berkurangnya luasan lahan pertanian karena perubahan fungsi lahan pertanian, ancaman perubahan iklim dan pertanian sendiri belum menjadi primadona bagi anak muda untuk bekerja di dalamnya. Namun demikian sebenarnya dunia pertanian akan terus ada seiring dengan kehidupan.

 

 

Selanjutnya Trustha memaparkan bahwa secara regulasi pemerintah sudah memiliki UU No 12 Tahun 2012 tentang Pangan, pasal 1 ayat 4, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Pertanyaan lanjutnya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan sampai perseorangan? Salah satu alternatifnya yaitu memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dengan cara memetakan kebutuhan pangan keluarga.

 

 

Dalam proses pemetaan ini masing-masing peserta tahu bahan pangan apa yang sering dikonsumsi oleh keluarganya dan apa saja yang bisa mereka budidayakan baik secara keluarga maupun kelompok masyarakat setempat. Di sini para peserta belajar tentang prinsip ‘nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur’ (bahasa Jawa) atau ‘menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam.’

 

 

Trustha juga memandu peserta mengenal keragaman pangan yang bersumber dari hewani seperti ayam, itik, ikan nila, lele, daging sapi, maupun sumber pangan nabati seperti singkong, padi, ubi jalar, gembili, sawi kangkung, pepaya dan jahe. Kemudian mencermati bahan pangan berdasar waktu panennya, apakah harian (telur), mingguan (kecambah, persemaian), bulanan (sawi, kangkung, triwulan: cabe, terong, nila, lele), semester (pembesaran ternak, sampai tahunan seperti buah-buahan). Keberagaman pangan ini menjadi unsur penguat dalam ketahanan pangan.

 

 

Dari akhir sesi, sebagai aksi tindak lanjut menjaga ketahanan pangan rumah tangga, peserta merancang penanaman benih-benih baru di pekarangan rumah maupun di sebagian ladang. Selama proses diskusi berlangsung, terungkap cerita-cerita seperti ada keluarga yang punya panen lebih, ada juga yang membutuhkan benih tertentu untuk kebunnya, menariknya, beberapa peserta tergerak untuk menawarkan benih yang dimiliki supaya ditanam oleh rekan lainnya.

Pengetahuan, kesadaran, kemauan bertindak dan rasa kebersamaan di antara peserta telah mereka miliki. Ini menjadi modal dasar mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga. Dusun Klegung pasti bisa!

 


  Bagikan artikel ini

Fermentasi Berbasis Jambu Mete

pada hari Minggu, 27 Agustus 2023
oleh Trustha Rembaka

        

 

 

 

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati, dari sumber pangan nabati ada 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu, 40 jenis bahan minuman, 1.260 jenis tanaman obat. Kemudian, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.

 

 

Kekayaan pangan di Indonesia belum diimbangi dengan pengolahan untuk mendapatkan produk turunan dari bahan pangan tersebut. Pengolahan ini penting untuk memanfaatkan secara optimal hasil produksi khususnya saat over-produksi. Keterampilan untuk mengolah bahan pangan menjadi perhatian Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia. Stube HEMAT Yogyakarta berinisiatif untuk memperkenalkan teknik fermentasi buah jambu mete dan abon jambu mete (26/08/2023).

 

 

 

 

Fermentasi sendiri adalah proses penguraian senyawa organik yang dilakukan mikroorganisme yang menghasilkan energi, dalam hal ini fermentasi untuk menghasilkan produk turunan. Jambu mete menjadi pilihan karena selama ini petani hanya mengambil kacang mete sedangkan buahnya belum dimanfaatkan, padahal ada beragam potensi olahan jambu mete selain kacang mete, antara lain sirup, wine, selai, abon dan dodol. Produksi jambu mete di Indonesia, tiga terbesar ada di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara dan Jawa Timur, namun luasan lahan sampai tahun 2022, tercatat cenderung turun dari 555 ribu hektar menjadi 436 ribu hektar karena alih komoditas pertanian dan alih fungsi lahan. Tercatat produksi jambu mete tahun 2022 sebesar 171 ribu ton (Kementerian Pertanian).

 

 

 

 

Praktek pembuatan fermentasi jambu mete menggunakan 1 liter sari buah yang berasal dari perasan daging buah jambu mete, 3/4 kg gula pasir dan 2 liter air. Bahan-bahan tersebut dimasak hingga mendidih dan diamkan sampai benar-benar dingin. Selanjutnya tambahkan gula dan fermipan. Air sari buah dimasukkan dalam toples modifikasi airlock untuk masuk fase fermentasi selama minimal tiga minggu dan nantinya bisa menghasilkan fermentasi sebanyak dua belas botol @ 250 ml.

Sedangkan abon jambu mete menggunakan daging buah jambu mete. Daging buah jambu mete dicincang halus dan dikukus. Bumbu yang diperlukan meliputi bawang merah, bawang putih, serai, lengkuas, gula merah yang dihaluskan dan ditumis. Selanjutnya campurkan bumbu pada daging buah jambu mete cincang tadi, goreng, dan tiriskan menggunakan spinner sampai minyak goreng benar-benar hilang. Produk abon jambu mete dalam kemasan 50 gram menjadi alternatif lauk pelengkap nasi panas.

Produk olahan wine dan abon jambu mete menjadi alternatif pengembangan potensi jambu mete untuk merambah bisnis komersial, bahkan menjadi produk yang kompetitif. Ayo anak muda, tingkatkan keterampilan mengolah produk berbasis pangan lokal dan jeli mengambil peluang bisnis. ***


  Bagikan artikel ini

Bertindak Kelola Potensi Pangan

pada hari Jumat, 18 Agustus 2023
oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.

     

 

 

 

Pangan menjadi kebutuhan pokok manusia, dan ada banyak sumber pangan yang disediakan  alam yang memungkinkan manusia mengambil, mengembangbiakkan serta mengolah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Indonesia memiliki banyak keragaman pangan lokal di masing-masing daerah, namun tidak semua orang bisa mengolahnya menjadi produk lain. Program Local Food Innitiative dari Stube HEMAT mengajak mahasiswa, khususnya perempuan yang sedang belajar di Yogyakarta, belajar bagaimana mengelola pangan lokal.

Pada kesempatan ini peserta mengelola produk turunan dari hasil budidaya ikan lele menjadi abon lele. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan mahasiswa mampu memproduksi dan memulai bisnis di waktu luang, atau menjadi bekal keterampilan saat mereka kembali ke daerah.

 

 

Bertempat di sekretariat Stube HEMAT Yogyakarta (15/08/2023), mahasiswa mengikuti pelatihan yang didampingi oleh Sarlota Wantaar bertindak sebagai instruktur. Sebelum memulai praktek, mahasiswa mendapatkan teori tentang bagaimana proses pembuatan serta bahan apa saja yang digunakan. Ada 5 kg ikan lele yang tersedia dalam praktek saat ini dengan bumbu rempah yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, jahe, gula jawa, daun jeruk, daun salam, kunyit, garam, sereh, lengkuas, minyak goreng, dan penyedap organik.

 

 

Terlebih dulu lele dibersihkan, kemudian dikukus selama 20 menit, berlanjut dengan proses pemisahan tulang ikan dari daging. Memisahkan tulang ikan lele dari dagingnya butuh kesabaran serta ketelitian karena ada banyak tulang halus dan kecil. Bumbu yang sudah dihaluskan, ditumis dan dicampurkan pada daging ikan lele. Selanjutnya digoreng selama 25 sampai 30 menit sampai warna berubah kecoklatan. Siapkan spinner untuk meniriskan minyak dari masakan, setelah didinginkan, dihaluskan, ditimbang dan masuk proses packaging (pembungkusan).

 

 

 

Produk siap dipasarkan dengan memeriahkan bazaar, yang diadakan oleh Gereja Baptis Indonesia Yogyakarta (17/08/2023), dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78. Peserta belajar pemasaran dan bagaimana melakukan promosi. Memberi penjelasan fungsi serta manfaat dan bahan dari suatu produk, akan meyakinkan konsumen untuk membelinya.

Pangan lokal menjadi potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis komersial dan perempuan bisa terlibat aktif mengelolanya. Perempuan tidak hanya melihat atau mendengar saja, tetapi berani bertindak tanpa takut salah dan takut gagal. Perempuan terus maju. ***

 


  Bagikan artikel ini

Membuka Paradigma tentang Memanen Air Hujan

pada hari Minggu, 23 Juli 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta.

 

Diskusi PMKRI, Gusdurian dan Karang Taruna Sorowajan

        

 

 

Pernahkah Anda mengonsumsi air hujan? Pertanyaan ini diutarakan oleh Trustha Rembaka, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta kepada peserta dalam diskusi PMKRI Yogyakarta, Gusdurian Jogja dan Karang Taruna Sorowajan di Griya Gusdurian (Sabtu, 22/7/2023). Pertanyaan ini menggugah atensi para peserta berkaitan dengan hujan, dimana sebelumnya mereka mengungkapkan respon tentang apa yang mereka pikirkan ketika hujan atau kehujanan. Beberapa mengungkapkan persepsi tentang hujan maupun kehujanan adalah mengganggu, syahdu, bikin kesal, memicu sakit kepala, menimbulkan banjir dan beragam jawaban lainnya. Selain itu, ketika peserta menghitung kebutuhan air rata-rata dalam satu hari terungkap bahwa kebutuhan air dari paling sedikit 70 liter sampai 200 liter per hari! Kebutuhan air tersebut sebagian besar disuplai dari sumur, PDAM dan air isi ulang. Ini yang menjadi starting point diskusi bersama apakah hujan selalu negatif dan mungkinkah memanen air hujan?

 

 

Ya, memanen air hujan menjadi alternatif, karena air hujan belum dimanfaatkan padahal gratis dan secara logika air hujan lebih bersih dibanding air tanah karena belum bercampur dengan polutan dalam tanah. Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia mendorong anak muda dan mahasiswa melek problematika air dan eksistensi air yang perlu terus dijaga. Anak muda harus ‘masuk’ ke realita permasalahan air, sehingga mereka menyadari dan menerapkan dalam hidup sehari-hari untuk bijak menggunakan air.

 

 

Dalam proses diskusi, Trustha memaparkan permasalahan air berkaitan tiga faktor, yaitu, Ketersediaan – banyaknya air belum tentu bisa digunakan, air yang tercemar tidak diperhitungkan karena tidak dapat digunakan. Akses – jika air tersedia tapi sulit didapat, maka air menjadi barang langka. Distribusi – penyebaran harus adil dan merata, antara masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Selain itu, kecenderungan hunian yang semakin padat juga berimbas pada limbah domestik rumah tangga yang tidak terkelola akan mengancam kualitas air, terlebih beberapa peserta mengakui masih menggunakan air sumur untuk konsumsi sehari-hari.

 

 

 

 

Di paparan berikutnya, peserta mencermati langkah memanen air hujan menjadi siap minum menggunakan bejana berhubungan untuk elektrolisis menggunakan anoda (+) di bejana satu dan katoda (-) di bejana kedua yang dialiri listrik searah. Peserta menguji keasaman air elektrolisis dengan pH meter dan kandungan mineral air dengan TDS (Total Dissolved Solid), kemudian dibandingkan dengan air setempat. Untuk pH, air hujan elektrolisis di angka 8 dan TDS di bawah 10 ppm sedangkan air setempat pH di angka 7 dan TDS di angka 120an ppmKedua air ini masih di dalam regulasi Permenkes 492/Menkes/Per/IV/2010 standar pH air minum adalah 6,5 – 8,5 mg/l dan Total Dissolved Solids (TDS) maksimum adalah 500 mg/l.

Dari diskusi ini anak muda menyadari masalah air, dari ketersediaan air yang terbatas, akses dan distribusi air yang belum merata, sehingga pemanfaatan air hujan untuk air minum menjadi salah satu alternatif. Hujan tidak lagi dianggap mengganggu tetapi berkah untuk kemandirian air minum. Jadi, anak muda ubah paradigma, mulai memanen dan mengonsumsi air hujan.***

 

 

  Bagikan artikel ini

Ragam Strategi Menuju Kemandirian

pada hari Sabtu, 15 Juli 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta

       

 

Salah satu bagian dalam Pelatihan Manajemen dan Keuangan untuk praktisi Non Keuangan pada 12-14 Juli 2023 di Cailendra Extension Yogyakarta adalah merancang kegiatan selanjutnya di wilayah masing-masing. Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd. (Direktur Eksekutif Stube HEMAT) memandu peserta untuk merenungkan kembali apa yang telah dicapai dan menggagas apa saja yang bisa ditindaklanjuti dan mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki untuk merintis bisnis, termasuk menginventarisir jaringan untuk kolaborasi sebagai usaha income generating.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta yang dipresentasikan oleh Trustha Rembaka, dalam usaha menyiapkan diri menuju kemandirian dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah didapatkan melalui pelatihan-pelatihan sebelumnya, sebagai trainer, fasilitator maupun layanan pendampingan bagi lembaga maupun komunitas yang membutuhkan. Selanjutnya, memproduksi dan memasarkan produk dari hasil kegiatan berkaitan pangan lokal, teknologi digital dan ekonomi kelautan, termasuk mengembangkan pemasaran produk unggulan melalui HEMAT Commerce maupun marketplace lainnya. Ada beberapa produk seperti abon lele, fermentasi dan abon jambu mete, bestru (loofah) natural untuk rumah tangga. Selain itu, ada perintisan kebun Stube HEMAT sebagai wahana belajar pertanian terpadu yang terbuka untuk publik berkaitan edukasi pangan, edukasi pertanian dan terapan pertanian terpadu.

 

 

Pemberdayaan perempuan di Sumba Timur, di kampung Tanatuku dengan nama Kawara Panamung yang digawangi oleh Elisabeth Uru Ndaya, S.Pd., telah berjalan tiga tahun dengan menghasilkan beragam tenun ikat hasil karya kaum perempuan setempat, bahkan memiliki sanggar tenun sebagai pusat kegiatan. Prospek ke depan, kerajinan tenun akan terus dipromosikan melalui beragam cara, dari jejaring, media sosial sampai pada dinas pemerintah, komunitas-komunitas, sekolah dan gereja dan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Selain untuk mengerjakan tenun, rumah tenun komunitas Kawara Panamung bisa digunakan untuk menghasilkan income dari kunjungan wisata, berdoa dan edukasi atau studi banding.

 

 

Perjalanan Multiplikasi Stube HEMAT di Sumba untuk peternakan babi merupakan ujian berat bagi peternak babi di Sumba yang didampingi oleh Apriyantio Hangga, betapa tidak, dari awal memulai langsung dihantam wabah African Swine Fever (ASF) yang menghabiskan ternak babi di Sumba. Namun, peternak tidak menyerah, bertahap bersama program Multiplikasi Stube HEMAT di Sumba bangkit kembali. Ini menjadi kekuatan baru untuk melangkah dengan beberapa strategi yang dilakukan untuk eksistensi ternak babi di Sumba Timur, melalui peternak berdaya dengan produksi anakan dan menjual daging babi, memproduksi pakan mandiri, mengembangkan kuliner berbasis daging babi, dari abon, roti isi daging dan sei, bahkan merintis pusat edukasi peternakan babi.

 

 

Menjadi tantangan tersendiri ketika anak muda kurang berminat menekuni pertanian. Dengan realita ini sebenarnya peluang kerja di pertanian malah terbuka. Frans Fredi Kalikit Bara, S.E, Multiplikator Stube HEMAT Sumba di bidang pertanian merintis gerakan Petani Muda Milenial Sumba Timur untuk menggarap hortikultura. Langkah kemandirian dengan produksi hortikultura, seperti tomat dan cabe. Pengembangan lainnya adalah pengolahan pascapanen dari tomat menjadi saus tomat. Selain itu kawasan pertanian hortikultura bisa menjadi pusat studi pertanian.

 

 

Kelanjutan Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu yang dirintis oleh Yohanes Dian AlpasaS.Si., mengangkat konversi perkebunan sawit ke sawah dan topik tentang intoleransi yang muncul karena jarang berinteraksi dalam keberagaman. Secara khusus di Bengkulu akan ada kolaborasi antara background teolog dan aparatur sipil negara. Kerjasama dengan pemerintah bisa diwujudkan dalam topik Moderasi Beragama Untuk Kemajuan Bengkulu. Prospek dukungan operasional bersumber dari institusi Stube HEMAT, yayasan dan gereja, pemerintah setempat dan donatur personal.

 

 

‘Alor Creative 100%’ menjadi brand Petrus Maure, S.Kom, Multiplikator Stube HEMAT di Alor, untuk produk yang muncul dari Alor dalam bentuk kerajinan tangan seperti gantungan kalung, gantungan kunci, gelang, kaos, topi dan asesoris lainnya dan produk dari kelapa dan kemiri. Pesan sosial dari Alor tentang bahan lokal, lingkungan budaya dan sosial menjadi nilai jualnya, termasuk keberpihakan pada konservasi biota laut dugong, pari manta, hiu tikus, dan terumbu karang. Petrus membuat perubahan yang ‘menyentuh’ kemanusiaan dan lingkungan lewat usaha mandiri yang ada saat ini dengan sistim usaha sosial, memperkuat jaringan dengan terhubung ke LSM-LSM yang sefrekuensi di Alor maupun luar Alor, dan bercita-cita menjadi bagian pendukung pembangunan Alor untuk lebih baik.

 

 

Pdt. Grace Nanuru, S.Th., Multiplikator Stube HEMAT di Raja Ampat yang juga pendeta di GKI di Tanah Papua, jemaat Marthen Luther di Majaran, Sorong menyampaikan bahwa problematika di Raja Ampat dan Sorong berkaitan dengan pendidikan dan Sumber Daya Manusia. Sebagai langkah awal untuk menjawab tantangan di atas, ia menggagas penguatan kapasitas anak muda di sekitarnya melalui pertemuan di sela-sela pelayanan gerejanya. Untuk rintisan wirausaha, ia menyiapkan pengolahan pangan dari bahan dasar yang banyak ditemui di Raja Ampat dan Sorong, seperti ikan laut dan daging babi hutan. Ini menjadi langkah bersama-sama anak muda setempat sekaligus memperkuat basis anak muda di wilayah pelayanan.

 

 

Pdt Theofilus Agus Rohadi, S.Th., Multiplikator Stube HEMAT di Lampung akan terus mengupayakan kemandirian dengan memelihara jaringan baik gereja, masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan pengolahan pangan dan variasi produk, dalam upaya kemandirian di Lampung. Konsep mengolah komoditas pertanian setempat sebelum dijual, menghasilkan produk turunanmempromosikan kawasan sebagai tempat edukasi dan wisata, bisa diadopsi Diversifikasi produk dari kakao, selain biji kakao, ada produk kulit kakao, dan lemak kakao, alternatif lainnya adalah mengolah komoditas lokal lain, seperti pisang, singkong, lada dan jagung untuk menaikkan harga.

 

 

Kemandirian memang tidak mudah, tetapi ada blessing in diguise bahwa dalam tantangan ini Stube HEMAT menemukan ragam potensi di sekitar yang menanti untuk dikembangkan. Ya, kemandirian harus diperjuangkan untuk mewujudkan visi Stube HEMAT, Terwujudnya kesadaran manusia, khususnya mahasiswa dan pemuda, untuk memahami masalah di sekitarnya.***


  Bagikan artikel ini

Menyiapkan Diri Mandiri

pada hari Jumat, 14 Juli 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta
          

 

Eksistensi Program Stube-HEMAT di Indonesia sudah akan berlangsung hampir tiga puluh tahun (10 Des 1993-10 Des 2023) di Yogyakarta-Indonesia. Tantangan pelayanan ke depan untuk mahasiswa dan komunitas muda adalah bagaimana mandiri dan berkelanjutan. Kemandirian pelayanan berkaitan erat dengan kemampuan mengelola keuangan dan jaringan baik yang sudah terbentuk maupun menggali potensi yang ada.

 

 

Dalam rangka membekali untuk kemandirian dan pelayanan berkelanjutan dalam tubuh lembaga itu sendiri, Stube HEMAT menggelar Pelatihan Manajemen dan Keuangan untuk praktisi Non Keuangan pada 12-14 Juli 2023 di Cailendra Extension Yogyakarta. Pelatihan diikuti para stakeholder Stube HEMAT, terdiri dari direktur eksekutif, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta dan Multiplikator Stube HEMAT yang datang dari Sumba, Bengkulu, Alor, Raja Ampat dan Lampung untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mengelola keuangan dan seluk beluk fund-raising.

Narasumber adalah pengurus lembaga yang terdiri dari rohaniawan, akademisi dan praktisi sebagai berikut; Pdt. Em. Dr. Tumpal M.P.L. Tobing, Mag. Teol., Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th. M.Min., Dr. Murti Lestari M.Si, Drs. Bambang P. Hediono, MBA., dan Ir Hero Darmawanta. M.T. Topik pembicaraan seputar Manajemen Bisnis Berbasis Potensi Lokal, Membidik Jaringan dan Kolaborasi yang Relevan, dan Mendesain Kegiatan Mandiri Berbasis Digital dan Merancang Fundraising.

 

 

Dalam paparannya, Pdt. Dr. Tumpal M.P.L. Tobing, Mag. Teol mengungkapkan langkah-langkah dalam menentukan program mandiri, memastikan mengapa program mandiri itu penting dilakukan di daerah, bagaimana proses atau tahapan yang harus dilalui, dan apa yang menjadi tujuan dan bisa dilihat oleh publik. Di sesi berikutnya, Ir. Hero Darmawanta, M.T. mengundang para peserta memetakan apa yang dipasarkan dari program yang dirancang, apakah berupa produk, jasa, orang, tempat, dan image atau citra. Tak kalah  penting memikirkan ‘konsumen’ dengan menciptakan nilai atau value bagi konsumenPenekanan pada ‘berorientasi konsumen memiliki strategi pemasaran yang dikemukakan oleh Kotler yang dikenal dengan 6P, yaitu product, places, price, promotion, power, dan public relation.

 

 

Dalam pembahasan mengenai ‘Sistem Management Untuk Usaha Bisnis Berbasis Potensi Lokal’, Dr. Murti Lestari dan Drs. Bambang P. Hediono, MBA., memaparkan bahwa dalam upaya kemandirian dalam aspek pembiayaan, maka perlu memiliki sumber penghasilan. Bentuk sumber penghasilan ini perlu melihat potensi lokal yang ada untuk bisa mendapatkan manfaatnya. Potensi lokal sendiri merupakan suatu keadaan yang terdapat pada suatu daerah, dan situasi tersebut dapat dikembangkan, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah itu sendiri. Ini bisa berupa potensi produk, potensi pasar dan potensi keuntungan. Sejauh ini Stube HEMAT di Yogyakarta dan wilayah multiplikasi, telah bergerak di bidang pertanian hortikultura/pangan, perkebunan, ekonomi kreatif digital, produk kreatif berupa kriya, pariwisata dan jasa, sehingga hal-hal inilah yang berpotensi untuk dikembangkan.

 

 

Sebagai langkah lanjut dalam pelatihan ini, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd. (Direktur Eksekutif Stube HEMAT) mengajak yang hadir memikirkan kembali potensi-potensi yang dimiliki di wilayah masing-masing dan merancang usaha-usaha bisnis atau pun menginventaris kembali jaringan yang bisa dikelola untuk mendapatkan profit sebagai penunjang kemandirian dan keberlanjutan program di masing-masing wilayah. Kemandirian memang tidak mudah, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. ***


  Bagikan artikel ini

Desa Penglipuran: Tata Ruang Pemukiman Terpadu

pada hari Jumat, 30 Juni 2023
oleh Trustha Rembaka

     

 

Pulau Bali, tidak hanya menyajikan keindahan panorama alam tetapi juga menghadirkan pengalaman dan pengetahuan baru tentang infrastruktur dan konsep kawasan hunian. Perlu diakui bahwa faktor adat istiadat dan religi Hindu sebagai mayoritas berpengaruh kuat di dalamnya sehingga eksistensi terjaga dan berkelanjutan. Salah satunya bisa ditemukan di Desa Penglipuran.

 

 

Desa Penglipuran di kecamatan Bangli terletak di bagian tengah pulau Bali yang memiliki luas 112 Ha dengan 50 Ha kawasan pertanian, 45 Ha hutan bambu, 9 Ha pemukiman, 4 Ha kawasan adat dan sisanya untuk fasilitas umum. Secara geografis desa Penglipuran berada di 600 mdpl yang membuat temperatur desa ini cenderung sejuk dengan vegetasi yang masih terjaga. Desa ini ditetapkan sebagai desa wisata sehingga tentu wajar jika penduduk setempat bekerja sebagai pelaku wisata dan perdagangan, selain sebagai petani, karyawan, pengrajin dan ASN.

 

 

 

 

Filosofi pembangunan kawasan ini merujuk pada Tri Hita Karana, yang mengakui adanya tiga kawasan, yaitu Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Parahyangan sebagai hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (sang Hyang Widi) dengan menempatkan bangunan pura sebagai tempat ibadah berada di tempat yang tinggi, sebagai bentuk penghormatan hubungan manusia dengan Tuhan. Di sisi utara terdapat pura untuk peribadatan, antara lain Pura Penataran, Pura Puseh, Pura Dukuh, Pura Rambur Sedana, Pura Empu Aji dan Pura Empu Nalwah. Pawongan adalah hubungan harmonis antar manusia, karena manusia akan hidup berdampingan dan tidak bisa hidup sendiri. Rumah di Desa Penglipuran saling terhubung dengan jalur khusus sehingga penghuni mudah berkomunikasi, melakukan gotong royong dalam kegiatan desa untuk menjaga rasa kekeluargaan dan saling memiliki, termasuk menyambut wisatawan yang datang berkunjung. Palemahan berarti adanya hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya sehingga alam dan ekosistem terjaga baik yang diwujudkan dengan menjaga keaslian arsitektur bangunan rumah dan pekarangan, kesepakatan gotong royong membersihkan lingkungan, penataan ruang dan jalur utama di tengah desa tidak boleh dilalui kendaraan bermotor agar bebas dari polusi, termasuk konservasi hutan bambu sebagai kawasan tangkapan air hujan untuk sumber mata air. Keunikan khas lainnya adalah adanya ruang terbuka untuk saling bertemu berupa jalan ‘rurung gede’ yang semakin menanjak ke arah utara, dan setiap rumah memiliki pintu gerbang menghadap ke jalan ini.

 

 

Tantangan modernitas juga merambah kawasan Desa Penglipuran, sehingga konstruksi sebagian menggunakan bahan bangunan modern, namun khusus pawon dan bale adat tetap menggunakan bahan bangunan tradisional, yakni atap sirap bambu. Masyarakat lambat laun memiliki wawasan terbuka dan saat menjadi Desa Wisata, mereka siap berinteraksi dengan beragam wisatawan dari berbagai penjuru. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah daya dukung kawasan, karena kehadiran wisatawan memiliki konsekuensi naiknya kebutuhan air, potensi limbah dan beban transportasi di kawasan tersebut.

 

 

Temuan-temuan otentik di Desa Penglipuran memberi pencerahan tentang tata ruang pemukiman yang bisa dikembangkan sebagai kawasan terpadu dengan muatan filosofi, fungsi dan keseimbangan hidup manusia dan berpotensi sebagai obyek wisata.***

 

 


  Bagikan artikel ini

Menelusur Infrastruktur di Pulau Dewata

pada hari Jumat, 30 Juni 2023
oleh Trustha Rembaka

         

 

Pembangunan infrastruktur cukup gencar di Indonesia demi menjamin ketersediaan fasilitas infrastruktur baik fisik maupun nonfisik yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari di lingkup ekonomi dan sosial. Cakupan infrastruktur meliputi jalan raya, pelayanan transportasi, air, manajemen limbah, bangunan dan fasilitas olahraga luar, dan produksi dan distribusi energi, sementara yang non-fisik mencakup berbagai upaya yang dilakukan guna mendukung sarana prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat.

 

 

Pengamatan fasilitas infrastruktur menjadi kegiatan para mahasiswa dan tim Stube HEMAT Yogyakarta dalam program Infrastruktur yang Tangguh: Menghadirkan kehidupan yang aman dan nyaman. Kegiatan dikemas dalam kunjungan belajar ke pulau Bali yang menjadi magnet level dunia (26-29 Juni 2023). Beberapa unsur infrastruktur bisa diamati dari perjalanan melalui jalan tol Solo sampai Probolinggo, yang bisa ditempuh dalam waktu 6-7 jam, kemudian PLTU Paiton di Probolinggo yang menyuplai kebutuhan listrik Jawa dan Bali. Perjalanan ke timur berujung di pelabuhan Ketapang, kabupaten Banyuwangi yang sangat strategis sebagai penghubung ke pulau Bali. Untuk menunjang pergerakan kendaraan dan kapal feri, pelabuhan ini memiliki tiga jenis dermaga, yaitu Landing Craft Machine (LCM), Moveable Bridge (MB) dan ponton. Namun demikian di waktu tertentu terjadi antrian panjang kendaraan.

 

 

Bangunan-bangunan di Bali memiliki arsitektural yang khas, seperti Pura di Tanah Lot yang dibangun di pulau karang dan akan seperti mengapung saat laut pasang. Pura Ulun Daun di Bedugul yang nampak mengambang di tengah danau Beratan. Tak kalah menarik ketika mengamati Pura Dalem Agung Padangtegal di kawasan hutan di Mandala Suci Wenara Wana dengan primata kera yang melenggang bebas, berlanjut pemukiman dengan tata ruang di Desa Penglipuran, kabupaten Bangli yang menerapkan arsitektur tradisional Bali. Loyalitas masyarakat desa setempat dalam menjunjung adat leluhur baik dalam ritual maupun dalam kehidupan sehari-hari, kesepakatan menjaga tatanan kawasan tetap rapi teratur dan berkesinambungan dengan alam, menjadi kunci keberlanjutan desa Penglipuran.

 

 

Jalan tol Bali Mandara yang menjadi kebanggaan pulau ini karena dibangun di atas laut sepanjang lebih dari 12 km mengantar para mahasiswa dan tim Stube HEMAT Yogyakarta sampai kawasan Bali selatan, tepatnya kawasan perbukitan karst yang dikembangkan menjadi kawasan Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. Di dalamnya terdapat Plaza Wisnu, Plaza Garuda di mana patung kepala Garuda setinggi 18 meter ditempatkan. Plaza Garuda menjadi sentral ruang terbuka Lotus Pond yang dikelilingi lorong dan pilar-pilar batu karst. Beragam acara besar nasional dan internasional pernah diadakan di sini. Pengembangan kawasan GWK menjadi alternatif pemanfaatan lahan marjinal tanpa merusak tapi memberikan manfaat ekonomis bagi daerah dan masyarakat. Di Bali Selatan, selain GWK, kawasan Nusa Dua yang marjinal sudah lebih dulu dikembangkan menjadi kawasan wisata unggulan dengan melibatkan budaya setempat dan selaras lingkungan.

 

 

Bagaikan sebuah ironi ketika sarana infrastruktur dibangun dan diperindah, tetapi jaringan telepon ‘mengganggu’ suasana ketika di suatu lokasi berjajar tiang-tiang telepon dan kabel yang bersilang sengkarut. Selain itu, beban jalan di Bali pasti akan semakin berat karena lalu lintas yang bertambah padat. Bagaimana Bali ke depannya, apakah tetap menjadi magnet wisata yang berkelanjutan atau mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran? Jangan biarkan waktu menjawabnya, tetapi langkah-langkah antisipasi perlu dilakukan. ***


  Bagikan artikel ini

Membangun Desa: Kearifan lokal yang berpengaruh global

pada hari Minggu, 11 Juni 2023
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

       

 

Kehidupan desa sering dianggap tertinggal dan tidak modern, sehingga ada banyak orang memilih pergi merantau ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan dan peluang bisnis. Jika desa dibangun dan dikembangkan sesuai dengan keunggulan dan fungsinya, dapat menjadi peluang usaha seperti, objek wisata. Jarang masyarakat berpikir akan hal itu, bahkan anak muda sekarang lebih dominan memilih hidup di kota karena akses untuk kebutuhan sehari-hari mudah. Tak jarang ditemukan masyarakat desa saat ini meniru gaya sosial masyarakat kota, seperti konsep rumah dan desain infrastruktur modern.

 

 

Dalam program “Infrastruktur Yang Tangguh”, Stube HEMAT Yogyakarta memberikan kesempatan bagi peserta dalam kegiatan eksposur mendalami bentuk rumah yang unik dan inspiratif dengan kearifan lokal desa, bersama narasumber Ir. Eko Prawoto, M.Arch., IAI (Arsitektur lokal-FAD UK Duta Wacana) bertempat di Dusun Kedodong 2, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta (10/06/2023). Kegiatan diikuti oleh mahasiswa yang sedang kuliah di Jogja dari daerah dan latar belakang studi yang berbeda.

 

 

Pokok bahasan dalam kunjungan belajar tersebut adalah menggagas nilai sosial dan nilai kebudayaan yang ada di desa dan di kota dalam pembangunan infrastruktur bernuansa alami, dengan mengedepankan kekayaan dan kearifan lokal desa. Para mahasiswa belajar bersama narasumber dengan melihat langsung berbagai model rumah yang berbahan material dari lingkungan alam sekitar, di antaranya, bambu, batu, kayu, dan pecahan keramik yang disusun dengan unik.

 

 

Salah satu peserta, Daniel, mengemukakan fakta bahwa masyarakat desa saat ini cenderung mengikuti gaya hidup orang kota termasuk arsitektur rumah mereka. Eko Prawoto menanggapi bahwa desa yang tidak percaya diri dengan kebudayaan yang ada, mengakibatkan budaya dan nilai sosial desa lama-kelamaan akan menyusut dan berangsur menghilang. Jika ditarik dari akar kebutuhan yang ada, sebenarnya kota berasal dari desa, seperti kebutuhan pokok makanan dan bahan material kayu maupun batu untuk pembuatan rumah. Bahkan eksistensi kota sebenarnya diawali dari eksistensi desa, karena itu kota mestinya tidak boleh ‘angkuh’ terhadap desa malah sebaliknya kota bisa mendukung mengembangkan desa tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal tersebut.

 

Prinsip pembangunan yang diterapkan Eko Prawoto dalam membangun rumahnya tidak jauh dari alam sekitar, tidak merusak alam dan tetap mempertahankan kontur dan keaslian bentuk tanah dengan membangun rumah mengikuti kondisi lingkungan sekitar, mengambil bahan baku material yang berasal dari desa dengan mengedepankan keunggulan desa dan memberikan peluang warga desa mengetrapkan skill teknik sipil dan arsitektur, dan memberdayakan sumber daya yang ada di desa dengan ilmu dan pengetahuan yang didapat di kota, menjadi suatu terobosan untuk memajukan desa.

Pengalaman perjumpaan dan pengamatan langsung ini tentu menjadi perenungan bagi anak muda akan pembangunan infrastruktur apa yang sesuai daerah masing-masing, dengan mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan sumber daya manusia yang ada untuk menciptakan karya yang mengedepankan keunggulan lokal. Ayo anak muda, kobarkan cinta desa dan semangat membangun Indonesia dari desa. ***

 


  Bagikan artikel ini

Bukit Rhema: Bangunan Unik Ekonomi Naik

pada hari Sabtu, 3 Juni 2023
oleh Daniel Prasdika

Eksposur Infrastruktur yang Tangguh

       

Ketika berbicang tentang Magelang pasti identik dengan candi Borobudur juga candi Mendut, tetapi ada pula daya tarik wisata baru, yaitu Bukit Rhema, sebuah bukit untuk berwisata dan berdoa. Bukit  ini terletak di dusun Gombong, Kurahan, Kembanglimus, Magelang, sekitar 11 menit atau 4,8 km perjalanan dari Candi Borobudur. Di atas bukit ini terdapat bangunan unik dalam bentuk burung merpati bermahkota. Namun bangunan ini lebih terkenal dengan nama gereja ayam.

Bukit Rhema menjadi tempat belajar mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta dalam program Infrastruktur Yang Tangguh: Menghadirkan Kehidupan yang Lebih Aman dan Nyaman, memperkaya wawasan mahasiswa tentang arsitektur yang unik dan inspiratif (Sabtu, 3/06/2023). Di tempat ini mahasiswa mengamati bangunan rumah doa di bukit Rhema yang membuat penasaran pengunjung dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Berlabel Arsitektur Tour, kegiatan ini diikuti mahasiswa dari beragam latar belakang studi seperti manajemen, akuntansi, teknik elektro, keperawatan, dan juga teologia kependetaan.

 

 

Para mahasiswa mencerna pemaparan pemandu bahwa pembangunan bermula ketika Daniel Alamsyah berdoa semalaman di bukit ini, dan ia tergerak saat berjumpa dengan Jito, seorang anak penyandang disabilitas. Tahun 1992, ia mulai membangun tempat ini tetapi terhenti karena krisis moneter tahun 1996. Bangunan sempat mangkrak, tetapi mulai menggeliat lagi ketika menjadi lokasi syuting film “Ada Apa Dengan Cinta 2”. Semenjak itu wisatawan mulai mengunjungi tempat ini, dan selanjutnya terkenal dengan gereja ayam.

 

 

 

Ketika melakukan kunjungan, para mahasiswa mengamati bentuk bangunan yang terdiri dari tujuh lantai yang dimulai dari lantai pertama sampai ke puncak mahkota merpati. Letak bangunan berada di bukit dengan naik tangga setinggi kurang lebih 150 meter. Pemandu wisata mendampingi untuk mengelilingi bagian dalam bangunan gereja merpati. Di lantai 1, terdapat lukisan dan sejarah pembuatan beserta ruang-ruang doa bagi setiap agama yang ingin berdoa. Naik ke lantai 2, dulunya ruang ini digunakan sebagai tempat ibadah umat Kristen tetapi sekarang sudah tidak lagi. Lantai 3, disajikan lukisan keberagaman iman hingga sampai lantai 4. Di lantai 5 pengunjung bisa menikmati lukisan berupa gunung yang ada di Jawa beserta bangunan dari seluruh dunia. Selain itu, ada view beberapa gunung di sekitarnya. Lantai ke-6 merupakan bagian kepala dan paruh dalam keadaan terbuka sehingga bisa melihat ke arah timur dan sebagai ruang tunggu untuk naik ke mahkota. Keterbatasan space di lantai 7 menjadi kesempatan berharga pengunjung untuk bisa melihat sekitaran 360 derajat, mengamati perbukitan termasuk candi Borobudur. Bagian ekor merpati adalah cafe dimana pengunjung bisa menikmati singkong goreng dan menu lainnya yang dikelola masyarakat setempat.

 

 

Melalui Arsitektur Tour, mahasiswa menemukan pencerahan baru, tidak saja tentang bangunan dan konstruksinya tetapi juga memiliki idealisme untuk menghadirkan karya arstitektur bangunan yang unik dan bermanfaat. Seperti gereja merpati yang bisa menjadi tujuan wisatawan juga penyedia lapangan pekerjaan dan penyedia kuliner. Keberadaan karya infrastruktur Bukit Rhema sangat bermanfaat ketika fungsional dan unik yang selanjutnya masyarakat setempat pun menikmati manfaat ekonomi yang naik.***


  Bagikan artikel ini

Pemasaran Digital, Produk Semakin Dikenal

pada hari Minggu, 14 Mei 2023
oleh adminstube

Pemberdayaan UMKM istri nelayan di Tileng, Girisubo

 

        

 

Rangkaian kegiatan Ekonomi Kelautan Stube HEMAT Yogyakarta juga mencakup pemberdayaan masyarakat, setelah mahasiswa mendapatkan wawasan baru tentang potensi kelautan Indonesia dan tantangannya ketika belajar di pesisir selatan Yogyakarta. Wujud pemberdayaan masyarakat di sini adalah pendampingan digital marketing dan pemanfaatan media sosial, yang ditujukan kepada istri-istri nelayan di dusun Nanas, Tileng, Girisubo, Gunungkidul, DIY (Sabtu, 13/05/2023).

 

 

 

 

Mereka telah merintis pengolahan produk laut berupa abon, nugget, bakso tuna dari hasil melaut di pantai selatan yang berpusat di pelabuhan Sadengnamun pemasaran masih di kecamatan setempat dan mereka ingin memasarkan produk lebih luas namun belum mengetahui langkah seperti apa yang harus diambil. Di sinilah Stube HEMAT Yogyakarta berbagi pengetahuan dan membantu mereka.

 

 

 

Dalam penguatan kapasitas digital marketing, Kresensia Risna Efrieno, tim Stube HEMAT Yogyakarta  dengan latar belakang kuliah Komunikasi Pemberdayaan mengungkapkan perkembangan internet sangat cepat bahkan sampai pelosok desa dan informasi menyebar masif, di sisi lain masyarakat dituntut untuk adaptif dalam menerapkan kebiasaan baru yang cepat dan praktis, termasuk hadirnya platform digital dalam wujud media sosial yang menjadi tempat berinteraksi setiap segmen usia, bahkan mereka tak pernah lepas darinya. Ini menjadi peluang pemasaran atau promosi sebuah brand atau produk menggunakan media digital atau internet untuk menarik calon konsumen secara luas, cepat, dan tepat. Media sosial menjadi alternatif untuk saling berpartisipasi, berinteraksi, berbagi secara cepat memasarkan atau mempromosikan produk, bukan tak mungkin produk akan sangat cepat tersebar luas dan penjualan meningkat.

 

 

Di sesi berikutnya Yonatan Pristiaji Nugroho, mahasiswa Ekonomi Akuntansi memetakan media sosial apa yang mereka gunakan dan media sosial yang ramai digunakan masyarakat yang menjadi target konsumen, apakah melalu WhatsApp, Facebook, Tiktok atau media sosial lainnya. Pendampingan ini juga melatih peserta untuk membuat video yang berisi penjelasan produk mereka, menampilkan foto produk yang menarik, cara mengambil gambar dan menentukan kata-kata pendukung atau caption yang menarik minat pembeli, dan mencermati waktu yang tepat untuk posting promosinya.

 

 

Kegiatan pun berlanjut, tim Stube HEMAT Yogyakarta berganti belajar membuat abon ikan Tuna, produk istri nelayan setempat. Bahan-bahan yang dibutuhkan meliputi ikan tuna segar, minyak goreng, gula merah, garam, ketumbar, jahe, bawang putih, bawang merah, asam jawa, serai dan daun jeruk. Tahapannya adalah (1) bersihkan ikan dari kotoran, kepala, dan kulitnya, kemudian kukus ikan tuna sampai matang dan bersihkan duri dan lumat sampai halus, (2) haluskan bumbu dan rempah dan campur semua bahan dan goreng selama kurang lebih 45 menit, (3) tiriskan dari minyak menggunakan spinner untuk  hasil yang lebih baik, (4) setelah dingin, masukkan dalam kemasan 50 gram dengan harga 10-20 ribu per buah.

 

 

Kegiatan ini menjadi transfer ilmu antara Stube HEMAT Yogyakarta dan istri-istri nelayan sebagai pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas, khususnya menangkap peluang baru dalam bisnis. Meskipun dari desa tetap bisa menjangkau pemasaran yang lebih luas karena teknologi komunikasi sudah masuk ke desa. Mari, para pelaku UMKM merambah pemasaran digital supaya produk semakin dikenal.***


  Bagikan artikel ini

Aman-Nyaman dan Berani Beda

pada hari Minggu, 7 Mei 2023
oleh Kresensia Risna Efrieno
 

Apakah yang terbersit dalam pikiran ketika membayangkan rumah untuk tinggal? Material? BiayanyaModelnya? Siapa yang mengerjakan? atau lainnya? Pernahkah berpikir mengenai konsep rumah aman dan nyaman dengan biaya terjangkau? Konsep rumah ekonomis tanpa membuat dompet menipis dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, tentu menarik bukan?

 

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta bersama beberapa mahasiswa mengunjungi sebuah rumah di Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang infrastruktur yang tangguh. Para mahasiswa bertemu langsung dengan Iswanti Suparma, pemilik rumah dengan model tidak biasa, berbeda dari rumah biasa dijumpai di Indonesia, yaitu rumah Earthbag Roundhouse (Sabtu, 6 Mei 2023).

 

 

 

Rumah ini bermula dari keinginan seorang Iswanti yang tahu kondisi tempat tanahnya rawan bencana alam, seperti gempa bumi. Ia mencari cara bagaimana membangun rumah di kawasan rawan gempa, namun rumahnya tak sekedar berdiri tapi juga nyaman ditinggali. Ia mencari-cari literatur termasuk di internet hingga menemukan konsep bangunan yang disebut bangunan tahan gempa, yaitu SuperAdobe atau rumah berbasis sumber daya lokalSuperAdobe ini dirancang oleh seorang arsitek berdarah Iran-Amerika Nader Khalili. Iswanti mengadopsi konsep ini untuk rumahnya yang berbentuk bulat dan terbuat dari tanah dan unsur lain, seperti pasir, tanah liat yang ditumpukkan dalam karung panjang dan disusun melingkar hingga membentuk dinding rumah.

 

 

 

 

Model rumah dan material yang tak biasa menggugah rasa penasaran masyarakat, bahkan tukang bangunan pun tidak pernah mengerjakan rumah seperti ini sebelumnya. Butuh waktu bagi Iswanti untuk meyakinkan para tukang dan ia memberikan pemahaman kepada mereka untuk memahami konsep bangunan melalui beragam cara, dari berdiskusi sampai belajar dari video-video tentang bangunan sejenis. Material utama dalam konstruksi ini adalah karung panjang, tanah, kawat berduri, kotoran sapi steril dan dolomit. Untuk membuat satu lapis dinding butuh karung sepanjang 24 meter, sedangkan dinding setinggi 1 meter butuh 6 lapis karung atau karung sepanjang 144 meter. Jadi untuk membangun satu rumah setinggi 8 meter perlu 1.152 meter. Rumah berbentuk bundar dengan atap kerucut adaptif terhadap angin dan cenderung aman ketika gempa terjadi karena distribusi beban dialirkan ke segala arah dan materialnya tidak kaku. Keunikan lain rumah ini adalah penggunaan aksesoris barang-barang bekas, seperti botol bekas, kayu bekas, sisa buis beton dan ranting pohon untuk menambah estetika rumah. Proses pembangunan dua bangunan rumah berlangsung selama tiga tahun sampai siap huni.

 

 

 

Peserta antusias untuk melihat dan berkeliling rumah tersebut dan menemukan banyak pertanyaan. Iswanti mengakui bahwa pembangunan rumah ini sebenarnya tidaklah mahal, “Konsep bangunan rumah ini tidak membutuhkan uang banyak karena material tidak harus membeli di toko bangunan dan bisa dilakukan siapa saja dan bukan tukang profesional,” ungkapnya. Perjumpaan mahasiswa dengan Iswanti dan earthbag roundhouse memancing imajinasi peserta untuk menemukan desain rumah yang berbeda dan unik tetapi ekonomis dan tahan (resilient) terhadap ancaman bencana.

 

Kesiapan rumah atau tempat hunian yang aman dan nyaman adalah bentuk kepedulian kita untuk keberlanjutan kehidupan, oleh karena itu, seperti apakah rumah impianmu? Berani beda? Ciptakan rumah impianmu yang nyaman, kuat dan tangguh tanpa meninggalkan kekayaan potensi lokal di sekitar kita.***

 


  Bagikan artikel ini

Barrataga: Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa

pada hari Selasa, 2 Mei 2023
oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.
         

 

 

Bencana sewaktu-waktu mengancam kehidupan manusia, untuk itu perlu hidup berdampingan dengan bencana dan memiliki bekal pengetahuan dan kesiapan diri menghadapinya. Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa tahun 2022 terjadi 3.544 kejadian bencana yang didominasi oleh banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, gelombang pasang dan abrasi, serta kekeringan. Sebagian masyarakat belum sepenuhnya paham bagaimana mengantisipasi dan menghadapi bencana, sehingga timbul banyak korban dan kerugian ketika terjadi. Jadi penting bagi setiap orang memiliki pengetahuan berkaitan kesiapan menghadapi bencana.

 

 

 

Pemikiran di atas menjadi titik pijak Stube HEMAT membekali mahasiswa di Yogyakarta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, untuk mengetahui ancaman bencana di daerahnya, bagaimana menyiapkan diri dan seperti apa edukasi yang tepat untuk masyarakat setempat. Dengan tema ‘Siapkah Kita Menghadapi Bencana?’ Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa melakukan kunjungan belajar ke museum gempa Prof Dr. Sarwidi di Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta (Senin, 01/05/2023).

 

Dalam eksposur ini Trustha Rembaka, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta memperkenalkan lembaga dan mahasiswa kepada Prof. Dr. Sarwidi dan staff museum. Ia juga menyampaikan tujuan kunjungan belajar untuk memperkaya wawasan mahasiswa tentang kesiapsiagaan terhadap gempa dan referensi bangunan tahan gempa. Selanjutnya Prof. Dr. Sarwidi memperkenalkan museum gempa, dimana keberadaannya dimulai sejak Juli 2006 sebagai edukasi masyarakat sekaligus tempat wisata edukatif. Gagasan ini muncul karena masyarakat Indonesia belum sepenuhnya paham bahaya dari bencana alam.

 

 

Ia mengatakan bahwa gempa bumi terjadi karena bumi ‘hidup’ artinya bumi bergerak. Ketika bergerak itulah bumi melepaskan energi dan menyebabkan gempa dari kekuatan kecil sampai besar. Sebenarnya apabila bumi tidak melepaskan energi, itu berbahaya karena bumi bisa meledak. Jadi manusianyalah yang harus beradaptasi dengan fenomena gempa baik dari kesadaran diri, pengetahuan sampai kualitas infrastruktur untuk bangunan fasilitas publik. Peserta mendalami model-model gempa bumi, replika bangunan yang hancur dan miniatur konstruksi Barrataga yang ditemukan oleh Prof Dr. Sarwidi sejak 2003.

 

 

Barrataga sendiri adalah bangunan rumah tahan gempa dengan mempertimbangkan bentuk rumah dengan lokalitas, jadi desain bangunan menggunakan rumah seperti biasanya dengan penguatan di bagian-bagian tertentu, seperti dinding, rangka, pondasi sampai struktur atap. Bagian-bagian ini dirancang menjadi sistem yang integral. Lapisan pasir di bawah pondasi dengan ketebalan tertentu sebagai peredam, tulangan beton modifikasi untuk beradaptasi dengan gaya tarik dan tetap lentur, penguatan dinding dengan kolom menggunakan angkur, modifikasi tembok berserat untuk mengurangi getas tembok.

 

 

Dengan perkembangan teknologi saat ini, peserta mempelajari aplikasi InaRISK, sebuah aplikasi yang menyajikan data wilayah dan ancaman bencana, populasi yang terdampak, potensi kerugian, termasuk panduan mitigasi bencana sehingga masyarakat bisa mengenali ancaman bencana tertentu di daerah tempat mereka tinggal dan langkah pengurangan resiko bencana. Para mahasiswa pun mendownload aplikasi ini dan berlatih untuk memetakan ancaman bencana. Tak ketinggalan, peserta mengisi kuisioner untuk mengukur rumah tinggal mereka tahan gempa atau tidak, sesuai dengan petunjuk aplikasi yang ada. Ternyata sebagian besar rumah mereka tidak sesuai dengan struktur pembangunan tahan gempa.

Dari eksposur ini, Mensiana Baya, mahasiswa dari Sumba Timur mengungkapkan, “Saya baru tahu kalau ada aplikasi yang membantu proses pembangunan rumah. Ini sangat membantu saat membangun rumah dan bisa berbagi ke keluarga. Kunjungan ini sangat berharga karena kuliah saya di jurusan pendidikan dan tidak ada materi khusus tentang kebencanaan dan struktur bangunan.

 

Siap tidak siap gempa pasti terjadi, tinggal manusia yang harus beradaptasi dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang gempa dan bencana lain. Dengan pengetahuan mengenai infrastruktur yang tangguh, maka kehidupan yang lebih aman semakin bisa diraih.***

 


  Bagikan artikel ini

Dari Bencana Menjadi Wisata

pada hari Selasa, 2 Mei 2023
oleh Daniel Prasdika
 

 

 

“Sabtu pagi, 27 Mei 2006 pukul 05:55 gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter melanda Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa ini mengakibatkan ribuan infrastruktur runtuh dan rusak parah, bahkan meminta korban ribuan jiwa. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Padukuhan Sengir, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan-bangunan rumah di kawasan lereng bukit ini hancur dan tidak memungkinkan lagi untuk dihuni.”

 

Flashback di atas merupakan paparan dari Amin, salah satu pengelola Desa Wisata Rumah Domes. Ia juga menceritakan sejarahnya yang dimulai dari salah satu organisasi sosial non-profit, yaitu World Association of Non-Governmental Organization (WANGO) di Amerika Serikat yang memberikan bantuan khusus berupa rumah domes dengan nama Domes for the World untuk warga relokasi padukuhan Sengir pada September 2006 dengan jumlah 80 unit yang terdiri 71 hunian dan 9 fasilitas umum. Dimensi rumah domes berdiameter 7 meter untuk rumah hunian dan 9 meter untuk fasilitas umum.

 

 

 

 

 

Desain rumah domes yang unik dan pertama kali dibangun di Indonesia menjadi pertimbangan untuk Kunjungan Belajar mahasiswa yang tergabung dalam Stube HEMAT. Acara yang dipandu Daniel Prasdika ini membuka wawasan dan kesadaran mahasiswa terhadap ancaman bencana di Indonesia, khususnya yang mengancam daerah asal mahasiswa. Rombongan mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta disambut pengelola Kawasan Wisata Rumah Domes, yaitu Amin selaku sekretaris dan Heri selaku wakil ketua (Senin, 1/05/2023). Selanjutnya peserta membagi diri menjadi 4 kelompok, dengan masing-masing kelompok fokus pada satu topik yang mencakup dinamika desa wisata, struktur bangunan, bagaimana tinggal di rumah domes, dan keberadaan legalitas bangunan. Mereka berkeliling dan melihat secara langsung rumah domes untuk berdialog dengan warga. 

 

 

 

 

Dalam presentasi, Kelompok dinamika desa wisata menyampaikan bahwa awalnya rumah domes bukan menjadi tempat wisata, tapi bentuknya yang unik seperti kue moci memancing publik untuk berkunjung. Akhirnya warga setempat mengambil peluang dengan membuat program desa wisata dan mengikuti pelatihan membentuk desa wisata, meskipun saat ini vakum karena Covid-19. Kelompok struktur bangunan mendeskripsikan rumah domes secara fisik yakni memiliki dua lantai dimana lantai bawah untuk ruang tamu, dua kamar tidur dan dapur, sedangkan lantai atas untuk menyimpan barang atau ruang serbaguna. Pembangunan diawali dengan membuat pondasi lantai tanpa menggali tanah dan dibangun di atas tanah. Ini menjadi ciri khas rumah rumah domes. Setelah kering sebuah balon  besar disetting untuk membuat kerangka bentuk setengah bola dengan anyaman tulangan besi. Kelompok bagaimana tinggal di rumah domes mengungkap kekurangan rumah domes, antara lain temperatur dalam rumah cenderung panas karena dinding cor menyerap panas, sementara dinding luar butuh perawatan khusus. Kelebihannya adalah tahan terhadap gempa, badai dan bahkan kebakaran. Beberapa penduduk mengatakan bahwa setelah gempa bumi itu terjadi, mereka terpaksa tinggal di situ karena tidak punya tempat lain, dan mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Kelompok legalitas bangunan menyampaikan status rumah domes belum hak milik tetapi sewa yang besarnya Rp. 1 juta/tahun  ke pihak desa. Memang pemerintah desa setempat sudah mengurus menjadi hak milik, tetapi sampai kegiatan dilakukan statusnya belum ada kepastian.

 

 

 

 

Kunjungan ini membekali mahasiswa dengan ilmu baru, lebih peka ancaman bencana terhadap bangunan tempat tinggal, mengerti bagaimana mewujudkan rumah yang lebih aman dan menemukan peluang ekonomi sebagai desa wisata. Ini seperti blessing in disguiseberkat yang tak terlihat dari kesulitan yang terjadi. Berkat itu berupa pengetahuan, jaringan dan peluang wisata. ***


  Bagikan artikel ini

Aku Mencangkul Maka Aku Hidup

pada hari Minggu, 30 April 2023
oleh Daniel Prasdika
         

Tahun 2020 adalah tahun istimewa, karena itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di Jawa, tepatnya di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk studi di STAK Marturia Yogyakarta jurusan Theologi. Kesempatan studi di perguruan tinggi merupakan berkat Tuhan, mengingat banyak anak muda tidak bisa studi lanjut disebabkan hambatan ekonomi atau minim keinginan belajar. Saya tidak hanya semata-mata kuliah saja. Selain mengerjakan kewajiban sebagai seorang mahasiswa theologi, saya juga mengolah lahan pertanian. Ini sebuah perwujudan melakukan perintah Tuhan mengelola sumber daya alam.

 

 

 

Berbekal pengetahuan bertani dari bapak di Lampung, tahun 2020 saya memulai menanam padi dengan menyewa lahan pertanian milik desa Nologaten. Bercocok tanam padi merupakan pilihan saat itu karena saya belum melihat altenatif lain. Setelah pengalaman tiga kali tanam padi, saya mulai menanam kacang panjang, terong, dan cabai. Ketiga tanaman ini perlu pengolahan lahan dan membuat gulutan atau bedengan agar tanaman tidak terendam air ketika hujan. Perawatan tanaman ini pun beragam, misalnya cabai harus memperhatikan pertumbuhan bunga bakal calon cabai dan membersihkan gulma di sekitar tanaman cabai, bahkan memangkas cabai yang busuk supaya tidak menulari cabai lainnya. Sedangkan perawatan kacang panjang lebih pada penyulaman benih yang tidak tumbuh dan pemasangan lanjaran untuk merambat tanaman. Hama yang sering muncul adalah semut hitam dan belalang, namun bisa diatasi dengan insektisida sesuai dosis.

 

 

Semangat bertani juga saya dapatkan dari Stube HEMAT Yogyakarta, khususnya program Keanekaragaman Hayati: Inisiatif  Pangan Lokal di tahun 2022. Saya menemukan pencerahan pentingnya mengolah pangan lokal untuk menunjang perekonomian suatu daerah karena setiap daerah memiliki pangan lokal yang khas. Setelah pelatihan, saya menerapkan dengan menanam jagung. Sebenarnya tidak sulit merawat tanaman jagung agar menghasilkan panen yang memuaskan, hanya perlu perawatan yang sungguh-sungguh, mulai dari pemupukan, saat tanaman berumur dua minggu, dan ketika jagung sudah mulai memperlihatkan bakal buah. Tidak lupa memangkas bakal buah yang tidak terlalu baik pertumbuhannya untuk menyeleksi jumlah buah dalam satu pohon. Setelah itu, tinggal menunggu panen antara 60-70 HST (Hari Setelah Tanam) dan memantau serangan hama. Tanaman lain yang saya tanam adalah bestru, dari jenis gambas atau oyong. Menanam bestru cukup mudah karena hanya menyiapkan lahan dan tempat untuk merambatnya tanaman. Buah bestru dimanfaatkan sebagai sayur dan spons jika seratnya sudah tua.

 

 

 

 

Untuk menanam jagung, saya mengeluarkan modal Rp. 600.000,- (enam ratus ribu rupiah) untuk benih, pupuk dan sewa lahan. Saat panen jagung periode pertama, saya memperoleh 150 kg jagung dengan harga 7.000/kg. Itu berarti  total income Rp 1.050.000 atau setidaknya 350 ribu per bulan, belum termasuk hasil penjualan janggel (posol/jagungmuda) dan batang jagung untuk pakan ternak. Selain untuk konsumsi sehari-hari, saya bisa mengolah pangan lokal dan memiliki income untuk biaya kuliah.

 

Menurut saya, mahasiswa tidak cukup hanya kuliah saja, tetapi perlu memiliki kesadaran mengolah sumber daya alam dan diwujudkan dalam tindakan. Aku mencangkul maka aku hidup, sebuah motto yang menyemangati untuk turut serta mengolah pangan lokal yang berkelanjutan selain mendapatkan income untuk hidup. Ayo, terus semangat! ***

 


  Bagikan artikel ini

Aman Pangkal Tentram

pada hari Kamis, 20 April 2023
oleh Kresensia Risna Efrieno
         

Pernahkah kita menyadari kebutuhan manusia yang harus ada, yakni keamanan untuk keberlanjutan hidup? Pernahkan terlintas dalam benak kita tentang keamanan hunian yang kita tempati? Atau pernahkan kita sadar dengan segala sesuatu yang bisa mengancam hidup kita? Sejauh apakah kita mengenal kondisi bangunan yang kita datangi dan seberapa amankah fasilitas umum yang kita gunakan?

 

 

Kepekaan tentang hal ini tentu saja perlu diasah, oleh karena itu Stube HEMAT Yogyakarta melalui program ‘Infrastruktur yang Tangguh’ mengumpulkan anak muda mahasiswa dalam diskusi “Siapkah Kita Menghadapi Bencana” di Sekretariat Stube HEMAT (Rabu, 19 April 2023)Kegiatan ini bertujuan mengenalkan peserta pentingnya memiliki kesadaran akan konsep bangunan/infrastuktur yang layak dan aman. Selain itu, untuk menggali kesiapan peserta mengadapi bencana, khususnya di daerah yang rentan, tempat mereka tinggal.

 

 

Narasumber Rogatianus Anang Setiyargo, S.T mengawali diskusi dengan mengundang peserta menceritakan pengalaman ketika mengalami bencana. Di sini terungkap beberapa pengalaman saat mengalami gempa bumi, gunung meletus dan tanah longsor di daerah mereka. Ia juga memandu peserta mengidentifikasi Indonesia dari bencana apa saja yang berpotensi merusak bangunan serta infrastruktur yang ada. Selanjutnya, peserta menyimak pengalaman langsung dari narasumber bagaimana melakukan rekonstruksi hunian paska bencana di beberapa wilayah di Indonesia. Tempat tinggal yang kokoh menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan, mulai dari struktur bangunan, ketersediaan bahan dan kesiapan masyarakat merawat infrastruktur.

 

 

 

 

Pengetahuan peserta pun bertambah ketika mendengar penjelasan tambahan dari Ir. Hero Darmawanta, M.T., salah satu board Stube HEMAT, yang mengungkap kondisi atau karakteristik daerah yang mempengaruhi konsep pembangunan infrastruktur. “Konstruksi bangunan yang kuat sebenarnya tergantung pada karakteristik tanah setiap daerah dan tentu saja itu berbeda-beda setiap daerah,” paparnyaPotensi kebencanaan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tanah kekeringan, gelombang tinggi dan abrasi, banjir bandang, tsunami dan likuifasi. Untuk mengetahui karateristik tanah di setiap daerah secara detil bisa mempelajari data di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang yang ada di propinsi atau kabupaten. Diskusi ini menjadi lebih menarik ketika peserta antusias bertanya dan membagikan keadaan dan kondisi daerah mereka.

 

 

Kesiapsiagaan dan kepekaan mahasiswa selaku anak muda tentu saja sangat penting untuk melihat kondisi di sekitarnya, termasuk keamanan bangunan tempat aktivitas pribadi maupun bersama. Melalui pertemuan ini peserta diharapkan  mampu melihat ancaman bencana di daerahnya masing-masing dan mengetahui konsep bangunan seperti apa yang bisa dibangun berdasarkan karakteristik tanah yang ada, dan beradaptasi dengan ancaman tersebut karena infrastruktur yang kuat akan menciptakan rasa aman dan tentram.***

 


  Bagikan artikel ini

Wawasan & Wirausaha Laut: Raup Rupiah

pada hari Senin, 17 April 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta

 

Program Ekonomi Kelautan Stube HEMAT Yogyakarta menginspirasi mahasiswa untuk memikirkan laut sekaligus kegiatan wirausaha untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Ini wujud dukungan Stube HEMAT Yogyakarta kepada para mahasiswa agar berani melakukan terobosan dan kreatif bereksperimen berkaitan hasil laut, yang bahkan tidak mustahil bisa menjadi wirausahawan berbasis laut.

 

Beberapa mahasiswa mengambil inisiatif melakukan usaha berbasis laut sesuai dengan minat masing-masing, antara lain, Sarlota Wantaar, merintis bisnis nasi goreng tuna dan nasi goreng cumi. Ia memilih bisnis ini karena nasi menjadi kebutuhan pokok sehari-hari dengan segmen pasar mahasiswa. Dalam penjualan ia menawarkan secara online dan pemesanan. Daniel Prasdika menggagas bisnis pempek, baginya pempek tidak asing karena ia berasal dari Lampung. Prasdika bekerjasama dengan Asti dan Wisnu dalam memproduksi pempek ikan tengiri. Tantangan dalam membuat pempek adalah menemukan komposisi tepung yang tepat dan bumbu kuah asam. Selain makanan utama, ada makanan pelengkap berbasis laut, seperti Daniel yang mengembangkan sambal pindang, kombinasi cabe dan ikan pindang dengan bumbu-bumbu pilihan. Sebagai mahasiswa pertanian, ia memprioritaskan pemanfaatan produksi cabe organik yang ia beli langsung dari petani, dan memilih level pedas untuk sambalnya. Dalam pemasarannya, ia mematok harga 15.000 per botol, harga yang masih terjangkau mahasiswa.

 

Alternatif pangan berbasis laut sebagai hidangan penutup atau ‘dessert’ dipilih oleh Kresensia Efrieno yang memproduksi puding dengan tema laut. Sebagai daya tarik pudingnya, ia membuat beberapa lapisan agar-agar transparan dan agar-agar berbentuk ikan laut dengan harga jual 2.500 per cup. Selanjutnya, Eufemia Sarina memproduksi risoles ikan pindang yang dijual @ Rp 10.000 per paket (isi 3 buah). Risoles ini terdiri dari risoles siap makan, dan dalam bentuk beku apabila konsumen ingin mengkonsumsi di waktu yang berbeda. Tak ketinggalan, untuk minuman, Trustha Rembaka membuat es buah rumput laut yang terdiri dari buah pepaya, nanas, labu siam dan rumput laut. Rumput laut yang digunakan adalah Eucheuma Cottonii yang bermanfaat karena mengandung serat, nutrisi, vitamin, kalsium dan mineral. Produk es ini bisa disajikan segar maupun beku dalam bentuk es lilin.

 

 

Dalam proses bisnis berbasis hasil laut, mahasiswa belajar bagaimana mengolah pangan dan penyajiannya, mempromosikan produk dan mengelola keuangan bisnis. Stube HEMAT Yogyakarta memfasilitasi mahasiswa dengan dukungan pinjaman modal sesuai yang dibutuhkan untuk memulai usaha kecil. Dari proses usaha yang dilakukan, mahasiswa mendapat beragam prosentase keuntungan berkisar mulai dari yang terkecil 10% sampai ada yang mencapai 100%. Dengan aneka model promosi dan persuasi menjual, mahasiswa memiliki pengalaman bagaimana menghadapi konsumen, melayani keinginan pasar, menjaga kualitas produk, dan menentukan harga.

Pengalaman-pengalaman ini memperkaya selain wawasan tentang lautan Indonesia dan hasil-hasilnya, juga memupuk jiwa kewirausahaan. Mereka bisa memanfaatkannya sesuai dengan minat dan kemampuan mereka, baik ketika masih berada di Yogyakarta maupun ketika nantinya sudah kembali ke daerah asalnya. Teman-teman mahasiswa, lihat kembali lautan Indonesia dan manfaatkan keragaman hasil lautnya untuk peningkatan kesejahteraan. Selamat berinovasi! ***


  Bagikan artikel ini

Keluar Dari Zona Nyaman Melalui Kampus Mengajar

pada hari Sabtu, 15 April 2023
oleh Ardiani Gulo (aktivis Stube HEMAT Yogyakarta, tinggal di Medan)
 

Saya Ardiani Gulo, mahasiswa STIKES Senior, Medan semester enam. Awalnya saya berpikir bahwa menjadi seorang mahasiswa itu sulit karena memiliki tugas dan tanggung jawab besar dan hanya fokus pada jurusan yang dipilih. Setelah menjadi mahasiswa, ternyata berbeda dengan apa yang saya pikirkan, saya merasa senang dan merasakan keseruan. Karena kampus saya termasuk kampus merdeka, ada beragam program yang bisa diikuti oleh mahasiswa, salah satunya yaitu program Kampus Mengajar.

 

Dengan memberanikan diri, saya mencoba mendaftar menjadi peserta Kampus Mengajar dengan mengikuti berbagai seleksi yang menjaring hanya 16 mahasiswa saja. Meskipun tidak mudah, akhirnya saya terpilih dari 30 mahasiswa yang mendaftar dkampus saya. Secara nasional ada 20 ribu lebih mahasiswa terpilih dari 40 ribu lebih mahasiswa pendaftar untuk angkatan 5 Kampus Mengajar. Bagi saya Kampus Mengajar adalah program perjuangan pendidikan yang membuka aksebagi mereka yang mengalami keterbatasan untuk mengetahui hal-hal hebat yang dimiliki bangsa ini.

 

 

 

Saya dan tiga mahasiswa lainnya bertugas di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Taman Pendidikan Islam (TPI) Medan. Kami berasal dari universitas dan jurusan yang berbeda, saya dari kebidanan. Saya sempat ragu dan takut ketika ditempatkan di sekolah itu karena siswa, guru dan pengurus sekolah menganut agama Islam, tidak ada agama lain di dalamnya. Bahkan saat observasi ke sekolah, saya membaca sebuah spanduk yang berisi aturan bahwa setiap orang yang berkunjung harus mengenakan pakaian muslim, sementara saya tidak. Saat berdialog dengan kepala sekolah dan ustadz, mereka menyampaikan bahwa saya harus mengenakan pakaian muslim di dalam sekolah. Supaya tidak menjadi batu sandungansaya tidak keberatan untuk mengenakan pakaian jilbab, toh tidak mengubah iman kepercayaan saya.

Di sekolah tersebut kami menerapkan program dari Kampus Mengajar, yaitu literasi dan numerasi. Literasi adalah kemampuan bernalar menggunakan bahasa dimana bukan hanya kemampuan membaca namun kemampuan menganalisis suatu bacaan dan kemampuan memahami konsep dibalik tulisan, dan numerasi merupakan kemampuan menganalisis menggunakan angka-angka. Program ini menjawab realita adanya sekolah yang ketinggalan atas kemampuan ini dan rendahnya minat baca siswa-siswa sekolah.

 

Ada beragam metode pembelajaran yang kami lakukan, seperti membaca selama 15 menit kemudian siswa menceritakan ulang apa yang telah dibaca. Ada beberapa siswa sulit diatur maupun sulit mengikuti pembelajaran, kami menggunakan strategi pembelajaran dengan games, supaya suasana tidak canggung. Seiring waktu kami mampu mengatasi tantangan ini bahkan semakin akrab dengan mereka dan ada peningkatan minat belajar siswa. Selain itu, kami juga menemukan bahwa sebagian siswa merupakan keluarga dengan keterbatasan ekonomi, tapi secara umum mereka pandai, apalagi dalam keagamaan. Perlu diakui perbedaan cara mengajar guru-guru setempat dengan metode yang kami bawakan. Kami mengajak belajar, bermain, dan bernyanyi bahkan menonton film bersama sebagai wujud literasi digital. Saya bersyukur bisa bertemu dan berdialog dengan anak didik yang berbeda latar belakang selain mengajar tentang literasi dan numerasi.

 

 

 

 

 

Dari pengalaman ini saya teringat dengan materi Stube HEMAT Yogyakarta yang membekali saya memiliki bekal keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan berkontribusi untuk dunia luar kampus, bagaimana berkomunikasi di depan kelas, kontak mata, membangun kepercayaan diri dan keberanian bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang daerah, suku dan agama. Saya sangat bersyukur, meskipun kuliah di kebidanan, tidak menutup kesempatan bagi saya menjadi seorang tenaga kesehatan sekaligus pendidik. Untuk teman-teman di mana pun berada, jangan pernah takut untuk mencoba dan lakukan hal-hal baik. Semoga hal ini menjadi berkat bagi sesama. ***

 


  Bagikan artikel ini

Kanatang, Menunggu Kiprahmu

pada hari Jumat, 17 Maret 2023
oleh Mensiana P. Baya

Bersama berpikir untuk daerah

 

        

 

 

Keberhasilan merupakan impian semua orang, namun untuk mencapainya bukan hal mudah karena perlu perjuangan dan ketekunan, terlebih jika ingin berhasil di usia muda. Anak muda harus berperan dalam pengembangan ekonomi karena mereka memiliki keunggulan dalam energi, penguasaan teknologi, dan ide-ide kreatif yang bisa dikolaborasikan. Anak muda berusaha mengembangkan diri bahkan sampai pergi ke luar daerah, seperti anak muda dari kecamatan Kanatang, Sumba Timur yang studi ke Yogyakarta. Mereka punya wadah anak muda bernama Kanatang La Jogjakarta, organisasi kekeluargaan bentukan anak muda dari Kanatang yang peduli pada pengembangan anak muda dari Kanatang yang studi di Yogyakarta.

 

 

Salah satu cara untuk mendukung pengembangan diri mahasiswa adalah dengan memperkuat jejaring dengan organisasi yang memiliki perhatian pada pengembangan sumber daya manusia, salah satunya adalah Stube HEMAT Yogyakarta. Stube HEMAT merupakan lembaga yang memfasilitasi mahasiswa menjadi pribadi berkualitas dengan membuat pelatihan-pelatihan. Bersama Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube HEMAT di Yogyakarta, beberapa mahasiswa dari kecamatan Kanatang, Sumba Timur yang sedang studi di berbagai kampus dan jurusan di Yogyakarta, bertemu dan berpikir bersama tentang sumber daya anak muda di Gandroeng Kopi (16/03/2023). Menjadi anak muda yang berkualitas perlu belajar untuk memperlengkapi diri, dan di Stube HEMAT mahasiswa dapat belajar dan berlatih public speaking, menulis, teknologi digital, analisis sosial, wirausaha sosial dan memanfaatkan potensi lokal menjadi produk yang berkualitas melalui diskusi, pelatihan dan kunjungan langsung ke lapangan.

 

 

 

 

Trustha memandu peserta memetakan potensi apa saja yang bisa dikembangkan di Kanatang, dan mengidentifikasi apa yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan potensi desa mereka. Masing-masing yang hadir menceritakan keadaan desa dan dari sinilah bisa diketahui sejauh mana pengenalan daerah untuk bisa melihat apa yang bisa dilakukan. Di sini terungkap bahwa mereka berasal dari dua desa, Hambapraing dan Mondu, yang keduanya memiliki beragam destinasi alam yang menarik untuk dikunjungi. Dari wisata pantai dan rumah tradisional tenun ikat, dari laut menghasilkan rumput laut dan ikan, sedangkan dari pertanian menghasilkan jambu mete dan kacang tanah, sementara hasil ternak berupa kuda, kambing, ayam dan babi. Dalam rangka pengembangan Kanatang, maka mahasiswa bisa berkolaborasi dengan kelompok petani, komunitas seni budaya, karang taruna, kelompok perempuan dan komunitas yang ada.

 

 

Dengan menemukan potensi lokal yang ada mahasiswa bisa melihat peluang baru berupa pengolahan kacang tanah yang tidak dijual mentah tetapi menjadi produk siap makan, kacang mete kupas sebagai ganti  kacang mete kulit, buah jambu mete menjadi sirup buah, dll. Dari ternak seperti babi bisa diolah menjadi produk siap makan seperti sei babi, babi bakar dan abon babi bahkan membuka warung khas masakan babiPotensi pantai bisa dimanfaatkan untuk promosi wisata pantai ‘sun rise’ dan ‘sun set’ lengkap dengan gazebo-gazebo.

Para mahasiwa cukup antusias mengeluarkan ide mereka tentang Kanatang dan Sumba. Bersama Stube HEMAT mereka bisa belajar dan mendapat dukungan untuk mengembangkan diri di Yogyakarta untuk siap kembali mengembangkan kampung halaman. Anak muda Kanatang, bisa! ***

 


  Bagikan artikel ini

Menjawab Tantangan di Raja Ampat

pada hari Sabtu, 11 Maret 2023
oleh Trustha Rembaka

Refleksi peserta Eksposur Lokal ke Raja Ampat

 

        

 

 

Akhirnya saya menjejakkan kaki di tanah Papua! Ya, 15 Februari 2023 saya sampai di tanah Papua untuk pertama kali melalui Program Eksposur Lokal ke Raja Ampat, salah satu program kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta untuk memperkuat pelayanan Stube HEMAT dan ruang bagi mahasiswa aktivis Stube HEMAT yang sedang kuliah di Yogyakarta membagikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk mahasiswa dan masyarakat di Raja Ampat dan sekitarnya. Saya berada di Sorong dan Raja Ampat sampai 28 Februari 2023.

 

 

 

 

Dalam kegiatan eksposur ini saya mengajak mahasiswa setempat memetakan potensi diri dan wilayah, keterampilan menulis, keterampilan menggunakan komputer, pendampingan anak-anak dan membantu pelaksanaan kegiatan Multiplikasi Stube HEMAT di Raja Ampat. Tinggal di kawasan Papua adalah keramahan, senyum, salam dan sapa. Ya, tidak lagi kata orang, katanya, dan mungkin, tetapi ini pengalaman otentik tinggal bersama keluarga di Papua. Persepsi dan asumsi mendapat pencerahan ketika berada dan berinteraksi di dalamnya. Masyarakat Papua menyambut seseorang, tanpa melihat latar belakang. Menjelajah dari Sorong, Waisai, Aimas, Majaran, Katapop tapi malah ketemu kampung Wonosobo di bagian selatan kabupaten Sorong.

 

 

 

Eksposur Lokal di Raja Ampat, termasuk Sorong dan sekitarnya, memberi pengalaman yang mengerucut pada kesimpulan pentingnya kerja-usaha lebih demi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)  masyarakat Papua. Ini tantangan berat dan butuh waktu untuk berproses mengejar ketertinggalan tersebut. Tantangan yang ada adalah menemukan orang yang benar-benar ‘concern’ pada peningkatan kualitas SDM, selanjutnya ‘menemukan’ lembaga atau sponsor yang mendukung upaya peningkatan SDM secara berkelanjutan dan tak kalah penting adalah target group masyarakat yang tepat untuk diajak maju meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

 

 

 

 

Secara geografis, Raja Ampat sebagai kawasan kepulauan memiliki tantangan tersendiri terkait akses di masing-masing pulau, bagaimana masing-masing daerah bisa saling terhubung dengan transportasi yang murah dan aman. Diperlukan sinergitas untuk melangkah maju bersama yang melibatkan kebijakan pemerintah, akademisi dengan gagasan dan pemikiran, lembaga-lembaga dan swasta bergerak dan peran masyarakat.

 

 

 

 

Bentuk-bentuk keberpihakan yang penulis temukan di Majaran, yaitu Multiplikasi Stube HEMAT di Raja Ampat yang melayani peningkatan SDM baik pengetahuan dan keterampilan, tidak saja untuk anak muda dan mahasiswa, tetapi bahkan untuk anak-anak dan kelompok usia lainnya. Panti asuhan yang mengakomodir anak-anak dari berbagai kawasan pedalaman di Papua, seperti Sorong, Tambrauw, Maybrat, Manokwari, Nabire, Timika Wamena, Merauke, untuk tinggal dan melanjutkan sekolah di Majaran dan sekitarnya. Setidaknya, mereka bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan kesempatan berinteraksi dengan lebih banyak orang, sehingga membantu mereka memiliki pengalaman baru dan wawasan yang luas.

 

 

Sekali lagi, dengan komitmen ‘Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang’ di Papua, maka penting menemukan orang-orang yang memiliki keterpanggilan untuk melayani peningkatan SDM, lembaga dan institusi yang mendukung secara berkelanjutan, bersama masyarakat lokal yang bersemangat memiliki hidup yang lebih baik. ***

 


  Bagikan artikel ini

Mendidik Dan Melayani

pada hari Jumat, 10 Maret 2023
oleh Jerliyando George Korwa
 
Refleksi Peserta Eksposur ke Raja Ampat
     

Terpilih sebagai salah satu peserta program Exposure To Raja Ampat di pulau Papua khususnya provinsi Papua Barat Daya yang baru saja dimekarkan, merupakan berkat Tuhan Yesus yang diberikan kepada sayaIni menjadi pengalaman pertama saya mengabdi masyarakat di rumah saya sendiri, PapuaDi lain pihak, hal ini menjadi sebuah tantangan apa yang bisa dilakukan dengan melihat dan merasakan langsung realita yang ada.

 

 

Selama dua minggu di bulan Februari, saya mengelola waktu untuk membagikan ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat di Majaran, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Di sana saya melihat realita yang membuat saya sedih yakni melihat ketertinggalan sumber daya manusia. Harus diakui bahwa pendidikan di Papua harus ‘berlari’ untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain dengan peningkatan fasilitas pendidikan dan tenaga pendidik.

 

Kegiatan di Majaran bersama Multiplikasi Stube HEMAT di Raja Ampat berupa pelatihan public speaking, belajar bahasa Inggris, membacamenulismenceritakan ulang dan mengoperasikan PowerPoint. Dalam proses pelatihan, kami melihat bahwa masyarakat setempat memiliki semangat dan daya juang tinggi tapi minim fasilitas untuk mengembangkan potensi dan kapasitas merekaDi kampung Wonosobo, saya menemukan anak-anak mempunyai niat dan semangat belajar tinggi, tetapi kurang pengajar Seorang ibu mengatakan bahwa anak-anak di sini sebenarnya pintar, tapi tidak ada tenaga pengajar untuk melayani dan mendidik mereka.

 

 

Dari pengalaman ini saya menemukan berbagai hal sebagai refleksi bahwa tidak cukup hanya mengajar tapi harus disertai bimbingan atau didikan. Anak muda, anak-anak dan masyarakat akan mudah mengerti bila mendidik sambil melayani. Selanjutnya penting dilakukan transfer ilmu pengetahuan kepada anak-anak muda dan masyarakat untuk memperluas wawasan mereka, sekaligus menjadi dasar untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik dan sehat.

 

 

Lebih lanjut lagi, saya melihat anak muda setempat terampil berburu, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengelola potensi yang ada di sekitar mereka, seperti sagu, kelapa, keladi dan ikan lautSebenarnya mereka mampu jika ada pendampingan untuk mengangkat potensi yang mereka miliki, misal mengolah sagu menjadi kue kering, keladi menjadi keripik balado, atau ikan laut menjadi campuran sambal. Menurut saya, pendampingan harus terus menerus dilakukan sampai menuju perkembangan. Pemberdayaan anak-anak muda dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan potensi yang dimiliki, supaya bisa bekerja mandiri dengan berwirausaha.

 

Terima kasih kepada Stube HEMAT Yogyakarta yang sudah menjadi wadah mengembangkan kapasitas anak muda dalam berkarya. Harapan ke depan, semoga banyak mahasiswa mendapat kesempatan melakukan pemberdayaan masyarakat. ***


  Bagikan artikel ini

Membangun Manusia, Membangun Kehidupan

pada hari Kamis, 9 Maret 2023
oleh Patrick V. Sarwom
      

 

Kegiatan Exposure to Raja Ampat merupakan kegiatan mengembangkan pengetahuan serta share skill kepada pemuda-pemudi di daerah kepala burung pulau Papua, dan kegiatan ini akan berdampak positif tidak hanya untuk para muda-mudi di sana, tetapi juga untuk saya sebagai peserta eksposur, karena bisa berbagi ilmu yang dimiliki. Kegiatan ini berlangsung 14 hari, dari tanggal 14 sampai dengan 28 Februari 2023 di kabupaten Sorong dan kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya.

 

 

 

Saya, Patrick Valdano Sarwom, dari Sorong, aktivis Stube HEMAT Yogyakarta yang kuliah di Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa ‘APMD’ Yogyakarta, menyukai belajar banyak hal, termasuk  mengimplementasikan ilmu dimiliki, sebab saya sadar bahwa teori dari kampus berbeda dengan apa yang dihaapi di lapangan. Berikut di bawah ini adalah pengalaman mengikuti program eksposur ke Raja Ampat.

 

 

 

Satu pengalaman yang menarik adalah saat melakukan kegiatan di kampung Wonosobo, Kecamatan Salawati, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Kampung ini berada di 61 km selatan kota Sorong, dan perlu satu setengah jam untuk mencapainya. Di tempat ini saya dan tim mengadakan kegiatan membaca, publik speaking, menulis, mewarnai gambar untuk anak-anak, mengenal ikan yang dilindungi, dan bahasa inggris kepada remaja. Anak-anak dan remaja setempat sangat bersemangat untuk belajar hal baru, namun terbatas dalam fasilitas bacaan. Di kelompok bahasa Inggris untuk remaja yang saya ampu, kami  berdoa bersama dan saat berdoa itu tak terasa air mata saya menetes merasakan goncangan hati melihat rasa ingin tahu dari anak-anak Papua yang mempunyai suara merdu sangat besar dan bersemangat meski minim sarana belajar. Di saat yang lain, seorang mama dari Papua, asli suku Moi Sigin, mengatakan kepada saya, "Di sini tidak ada Taman Kanak-Kanak, guru bahasa Inggris juga tidak ada, bahkan sampai belajar di SMP belum ada, akibatnya mereka belum bisa berbahasa Inggris." Saya terdiam pilu mendengar ini, bagaimana tidak? Kondisi ini terjadi di tanah kelahiran saya.

 

Sebenarnya, Wonosobo adalah bagian dari ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, tetapi mengapa masih terjadi hal seperti ini. Pertanyaan besar untuk saya dan orang yang membaca tulisan ini, sebenarnya dalam pembangunan, bukan fisik bangunan yang dinomorsatukan, melainkan manusianya yang tinggal dalam bangunan itu. Membangun manusia berarti membangun kehidupan, dan bangunan yang megah itu akan dikerjakan oleh manusia yang tinggal dalam bangunan itu. Apakah mereka merasakan dampak pembangunan, atau bisa jadi tidak tinggal dalam bangunan itu? Ini menjadi tugas bersama untuk melihat realitas secara utuh.

 

 

 

Saya berterima kasih kepada Tuhan lewat Stube HEMAT Yogyakarta yang memberi kesempatan anak Papua yang studi di Yogyakarta melihat realita di tanah sendiri dan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk daerahnya. Dengan melakukan hal kecil bisa mengantarkan kita melakukan hal-hal besar terutama yang bermanfaat bagi sesama. Saya juga menemukan pengalaman berharga yaitu keluarga baru yang mengajarkan  tentang kasih sayang dan pengorbanan dengan menyediakan tempat dan makan bagi anak muda yang menghadapi keterbatasan biaya tapi ingin sekolah dan kuliah. Hal ini membuat saya bersemangat lebih maju lagi dan berdampak baik bagi orang lain. Dari pengalaman eksposur  ini saya belajar, bukan mengkritik melainkan mempraktikkan apa yang bisa dilakukan,  meski kecil tapi berdampak baik bagi orang di sekeliling. Semoga daerah kabupaten Sorong semakin berkembang baik Bersama anak-anak mudanya. Terima kasih Stube HEMAT! ***

 


  Bagikan artikel ini

Keseharian Pelabuhan Sadeng

pada hari Senin, 27 Februari 2023
oleh Hizkia Rifaldini
        

Gemuruh ombak tidak lelah menggempur bibir anjungan, nampak awan berarak indah melintasi langitnya, sementara angin bertiup mengibarkan bendera navigasi nelayan di sudut pelabuhan. Kapal-kapal bersandar dan para nelayan sabar menunggu kapan boleh melaut. Inilah gambaran Sadeng, sebuah Pelabuhan Penangkapan Ikan (PPI), yang terletak di desa Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul Yogyakarta. Kehidupan keseharian warga di sekitar pelabuhan ini adalah bekerja sebagai nelayan dan sebagian besar dari mereka juga bekerja mengelola sawah, supaya kehidupan sehari-hari dapat terpenuhi. Menurut mereka jika hanya mengandalkan hasil melaut, mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

 

 

 

 

Saya dan mahasiswa lainnya bersama tim Stube HEMAT memiliki kesempatan berkunjung ke pelabuhan ini untuk melihat dari dekat, sekaligus berinteraksi dengan kehidupan para nelayan dan mengamati potensi ekonomi kelautan (4/02/2023). Di pelabuhan Sadeng ini kami bertemu dengan anak buah kapal bernama Mujito yang mengajak kami berkeliling untuk mengetahui isi sebuah kapal. Dalam percakapan yang terjadi, saya menjadi tahu bahwa para nelayan pergi melaut bersama tim yang mencakup nahkoda dan anak buah kapal (ABK), dan mereka membutuhkan waktu selama satu minggu di laut. Sebelum melaut, perlu diperhatikan apa saja yang dipersiapkan, mulai dari pasokan makanan untuk memenuhi asupan mereka, selain bahan bakar, obat-obatan, dan air untuk mandi.

 

 

Selama seminggu di laut, hasil tangkapan yang diperoleh kurang lebih mencapai 5 ton. Jenis tangkapan cukup beragam seperti ikan cakalang, tuna, dan tongkol. Ketiga jenis ikan ini dapat ditangkap sepanjang tahun. Selain ikan, mereka juga menangkap hasil lainnya seperti cumi-cumi dan ubur-ubur. Ketika hasil laut ini sudah tiba di darat, maka ikan hasil tangkapan langsung diserahkan kepada pengepul untuk dijual. Namun, karena harga jual yang rendah, maka rupiah yang didapatkan pun cukup sedikit, apalagi hasil dari penjualan harus dibagi antara nahkoda, ABK, dan juga dikurangi biaya sewa kapal apabila kapal yang dipakai milik pihak lain.

 

 

 

Ibu-ibu nelayan juga berinovasi untuk memanfaatkan salah satu hasil tangkapan ikan, yaitu ikan tuna untuk dijadikan abon. Dengan adanya produk turunan seperti ini, akan menambah pemasukan masyarakat dan membuka lahan pekerjaan baru bagi ibu-ibu yang ada di sekitar pelabuhan Sadeng. Pengolahan abon ini juga dapat memperpanjang masa simpan ikan tersebut dan dapat dijadikan oleh-oleh. Selain rasanya enak dan bergizi, harganya pun terjangkau.

 

 

 

Para nelayan Sadeng dan istrinya adalah kelompok masyarakat yang gigih dan penuh optimisme yang menaruh harapan di pelabuhan ini. Modal sosial yang ada akan berkembang pesat jika ada sentuhan dan kerjasama yang terjalin dari para pemangku kepentingan setempat. Hari-hari adalah harapan-harapan baru dan laut menyediakan bagi mereka. Tiada hari yang dipertaruhkan tanpa laut dalam raut wajah mereka. *

 

 


 


  Bagikan artikel ini

Pengembangan Potensi Laut di Sadeng

pada hari Minggu, 26 Februari 2023
oleh Wisnu Anggara
 
       

Indonesia merupakan negara maritim dengan dua pertiga luas wilayah adalah lautan. Namun, sayangnya potensi lautan yang sangat luas ini belum dimaksimalkan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari permasalahan yang timbul dari laut. Masalah yang muncul cukup beragam, mulai dari penangkapan ikan secara ilegal, penangkapan dengan bahan peledak yang tidak terkontrol, pelanggaran batas melaut dari nelayan asing ke wilayah perairan Indonesia, penyelundupan biota laut, perusakan terumbu karang, perburuan satwa laut yang dilindungi, dan masih banyak lagi. Banyak hal bisa dilakukan dalam usaha memanfaatkan potensi laut, mulai dari penelitian untuk memanfaatkan hasil laut, potensi perikanan, daerah pesisir, wilayah mangrove, rumput laut, pariwisata, dan potensi energi dan pertambangan. Didukung dengan jaringan pemasaran yang handal, maka potensi laut Indonesia bisa menjadi sumber kesejahteraan nasional.

 

 

 

Saya Wisnu Anggara, salah satu Mahasiswa Teologi STAK Marturia Yogyakarta beserta dengan teman-teman mahasiswa dari kampus lain mengikuti program eksposur dari Stube HEMAT Yogyakarta dengan tema Ekonomi Kelautan. Pelabuhan Sadeng menjadi tempat tujuan kegiatan eksposur yang kami ikuti. Pelabuhan ini terletak di desa Songbanyu, kecamatan Girisubo, kabupaten Gunung kidul, DIY (21/02/2023). Tujuan utamanya adalah untuk melihat dan mengenal kehidupan masyarakat yang ada di pesisir serta mengetahui pemanfaatan laut yang ada di sana. Ketika kami berada di sana, ada hal yang menarik perhatian saya. Hal itu berdasarkan dari hasil pengamatan dan interaksi dengan salah satu nelayan yaitu Mujito, yang memberikan penjelasan bahwa hasil tangkapan yang dibawa oleh nelayan dari laut, langsung diangkut oleh pengepul dan dibeli dengan harga yang relatif rendah. Ini menjadi salah satu alasan mengapa pemenuhan kebutuhan ekonomi nelayan belum ada peningkatan berarti. Jika kita lihat, sebenarnya hasil laut di pelabuhan Sadeng ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena potensi yang dimiliki, namun masih perlu ditingkatkan dalam pemasaran dan pengelolaan hasil laut menjadi produk-produk lain.

 

 

Berdasarkan apa yang sudah disampaikan oleh Mujito, maka sebenarnya nelayan di  Sadeng memiliki peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Saya pun sepakat, karena menurut pendapat saya, mereka bisa membuat produk-produk baru dari hasil laut tangkapan nelayan. Dari wawancara dengan salah satu isteri nelayan yang bernama Rustini, ternyata mereka sudah membuat produk, hanya saja pemasarannya belum maksimal. Produk yang sudah dihasilkan berupa abon tuna, bakso dan sosis. Bagian yang perlu ditingkatkan adalah memperluas jangkauan pemasaran melalui kegiatan pameran dan pengadaan kerja sama dengan usaha yang ada di Gunung Kidul seperti pusat penjualan buah tangan, koperasi pegawai, dan lain-lain.

 

 

Secara umum, penangkapan ikan di Sadeng sudah sesuai prosedur dan tidak menggunakan bahan yang bisa merusak laut. Namun saja, produksi yang rendah membuat perekonomian masyarakat di sana masih belum ada peningkatan. Oleh karena itu, sebagai generasi muda kita perlu banyak belajar, supaya apa yang kita miliki saat ini dapat kita pergunakan dengan sebaik mungkin dan bisa menciptakan peluang yang besar untuk ke depan yang lebih baik, terutama memberi sumbangsih pada bidang kelautan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Sadeng Mau Dibawa Kemana?

pada hari Sabtu, 25 Februari 2023
oleh Mensiana Pengu Baya
         

 

Indonesia memiliki laut yang luas dan banyak pulau dengan pesisir laut.  Sebagian penduduk tidak tinggal di pesisir, sehingga belum paham tentang kehidupan yang ada di pesisir, dan menganggap bahwa laut tidak terlalu penting, padahal manusia hidup tidak terlepas dari laut. Saya, Mensiana Pengu Baya, berasal dari Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Sumba Timur, bersama teman-teman mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta, dipimpin oleh Trustha Rembaka, S.Th selaku koordinator, berkunjung ke Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, melakukan eksposur yang diadakan oleh Lembaga Stube HEMAT Yogyakarta (4/2/2023).

 

 

 

Laut sebagai sebuah ekosistem perlu dilestarikan dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari, begitu juga pelabuhan Sadeng di Desa Songbanyu. Kabupaten Gunung Kidul, yang sudah dimanfaatkan potensinya sejak berdiri pada tahun 1990. Di sana, kami bertemu Agus Santoso S.P., Direktur Operasi Pelabuhan dan Departemen Operasi Pelabuhan, dan Sarina S.P., M.M., Direktur Administrasi dan Pelayanan Perusahaan.

 

 

Dalam kegiatan eksposur ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan kebetulan saya mendapat kelompok yang melakukan tanya jawab dengan nahkoda kapal. Kelompok kami berdiskusi dengan Cimeng, nama panggilan seorang nahkoda kapal. Dalam percakapan di kelompok kami, saya belajar mengenal banyak hal, suka duka menjadi nahkoda kapal nelayan. Satu hal yang diceritakan adalah cara berkomunikasi di atas kapal atau antar kapal. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan HT (Handy Talkie) dan untuk mengetahui arah mata angin, para nelayan menggunakan kompas. Ketika terjadi permasalahan seperti cuaca buruk dan jaringan HT tidak bisa digunakan, maka kompas sangat berperan menyelamatkan arah kapal.

 

 

Cimeng, menyampaikan bahwa kapal Purse Siene atau kapal Slerek bisa mengangkut maksimal 15 orang yang terdiri dari nahkoda, anak buah kapal serta perlengkapan kapal lainnya dan mampu memuat ikan seberat 5 ton. Kapal-kapal yang digunakan para nelayan tidak semuanya milik pribadi, ada sebagian merupakan kapal sewaan. Hasil tangkapan ikan Sebagian dijual langsung di Sadeng dan sebagian dikirim ke Jakarta dan Surabaya. Jenis ikan yang paling banyak ditemukan di Sadeng adalah ikan tuna. Proses pembagian hasil dari nahkoda, ABK, atau pun pemilik kapal, disesuaikan dengan tingkatan dan tanggung  jawab masing-masing.

 

 

 

Ketika hasil tangkapan tidak sesuai dengan target yang sudah ditentukan, maka para nelayan tidak mampu membayar sewa kapal dan tidak mampu membeli bahan bakar. Hal ini menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi para nelayan, namun tidak mengurangi keinginan serta semangat mereka untuk melaut. Mendengar dan melihat kegigihan para nelayan dalam bekerja, tidak bisa dipungkiri betapa pentingnya pendampingan pemerintah untuk para nelayan, khususnya dalam pemantauan kondisi laut dan kewaspadaan selama navigasi, untuk menjamin keselamatan para nelayan. Pengembangan teknologi kelautan, kepastian kelengkapan sarana dan prasarana melaut menjadi motivasi bersama untuk membawa Sadeng menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai yang modern dan nyaman. ***


  Bagikan artikel ini

Wanita Nelayan dan Digitalisasi

pada hari Jumat, 24 Februari 2023
oleh Jeni Tamu Apu
  

Apakah pernah terpikir bahwa nelayan itu hanya bisa dilakukan oleh laki-laki? Atau pernah terlintas bahwa ada juga wanita yang menjadi nelayan? Saya Jeni Tamu Apu salah satu mahasiswa yang kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta bersama teman-teman mahasiswa lainnya mengikuti eksposur yang difasilitasi oleh Lembaga Stube HEMAT Yogyakarta di pelabuhan Sadeng Gunungkidul Yogyakarta (04/02/2023).

 

 

Dalam kegiatan eksposur dan proses diskusikami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melihat kegiatan masyarakat di sana, saya mendapat bagian untuk berdiskusi dengan istri nelayan yang bernama Rustini. Rustini mengikuti jejak suaminya menjadi nelayan, nelayan yang dimaksud di sini yaitu mengambil ikan dari nelayan kemudian mengolah kembali. Selama ini biasanya hasil tangkapan ikan hanya dijual mentah di pasar atau dikonsumsi sendiri, padahal sebenarnya ikan itu bisa diolah dengan berbagai macam bentuk bekerjasama dengan ibu-ibu yang bekerja di rumah. Rustini memiliki peranan dalam pembuatan aneka produk olahan hasil perikanan, seperti baksonugget, tahu, abon, dan otak-otak. Dalam satu bulan, kelompok ibu-ibu ini membuat olahan tiga kali, masing-masing olahan sebanyak sepuluh kilogram. Pendapatan atau keuntungan yang diperoleh tidak menentu, karena proses penjualannya hanya di sekitar tempat tinggal mereka. Dalam proses diskusi kami bertanya kenapa ibu-ibu tersebut tidak memanfaatkan media sosial yang adaRustini mengatakan bahwa mereka minim pengetahuan tentang media sosial, serta jaringan kurang bagus atau susah sinyal. Hal inilah yang membuat mereka tidak bisa memanfaatkan media sosial dengan optimal.

 

 

Melalui eksposur ini saya melihat bagaimana penting peran perempuan dalam pengembangan produk turunan hasil tangkapan laut, serta kendala yang dialami oleh isteri-isteri nelayan. Kehadiran pemerintah sangat perlu untuk melihat bagaimana peran media sosial untuk membantu proses pemasaran, menyiapkan jejaring SDM yang dapat membantu, serta memperlancar proses pemasaran untuk meningkatkan perekonomian nelayan yang ada di Sadeng. Media berbasis teknologi informasi akan mendukung para nelayan terlebih untuk mengikuti perkembangan dunia kelautan, update informasi cuaca dan gelombang laut, juga bagaimana menjaga kelestarian laut dan sekitarnya. ***

 


  Bagikan artikel ini

Siaga Sebelum Berlayar

pada hari Kamis, 23 Februari 2023
oleh Selvina Lum
     

Apakah yang ada di dalam benak kita jika mendengar kata nelayan? Laut? Ikan? Atau Perahu? Pernahkah melihat dan merasakan bagaimana pekerjaan seorang nelayan? Nelayan menjadi satu pekerjaan yang banyak ditekuni oleh masyarakat atau orang yang hidup di pesisir pantai. Namun, tidak jarang juga ada nelayan yang bukan masyakarat pesisir pantai. Berbicara lebih mendalam tentang pekerjaan seorang nelayan, melalui program Stube HEMAT Yogyakarta saya dan rombongan mahasiswa lainnya diberi kesempatan mengikuti kegiatan eksposur dengan berkunjung ke Pelabuhan Sadeng (Sabtu, 4/02/2023).

 

 

 

 

Dalam kunjungan ini para mahasiswa bertemu langsung dengan beberapa nelayan di pelabuhan Sadeng, Girisubo Gunungkidul. Salah satunya kami berdialog dengan Mujito seorang ABK kapal  tentang kehidupan nelayan. Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan tentang bagaimana persiapan nelayan sebelum melakukan penangkapan ikan. Layaknya pekerjaan lainnya, nelayan juga perlu memperhatikan hal-hal yang perlu disiapkan sebelum pergi melaut untuk mencari ikan. Persiapan yang paling utama yaitu: kesiapan akan kondisi fisik. Nelayan membutuhkan waktu yang lumayan menguras tenaga sehingga kondisi fisik adalah persiapan yang paling utama sebelum melaut. Selain kondisi fisik yang sehat, para nelayan juga harus memperhatikan keadaan perahu atau kapal yang akan mereka gunakan, mulai dari keamanan mesin dan alat perahu serta kebutuhan bahan bakar (BBM). Pengecekan perahu/ kapal yang mereka gunakan adalah hal yang penting sebagai bagian dari kewaspadaan akan keadaan laut, derasnya ombak, dan jaminan keselamatan, selain peralatan pendukung seperti alat pancing dan penjaring ikan. Untuk jaminan keselamatan biasanya nelayan juga perlu membawa pelampung sebagai antispasi.

 

 

Selain beberapa hal di atas, ada beberapa persiapan yang tidak kalah penting adalah persiapan akan makanan dan minuman selama di laut. Lama waktu yang dibutuhkan nelayan saat melaut tergantung dari jenis kapal yang mereka gunakan sehingga jumlah pasokan makanan yang mereka bawa juga tergantung lamanya berlayar. Di pelabuhan Sadeng terdapat tiga jenis kapal yang digunakan nelayan, mulai dari kapal PMT (<5 GT) bisa berlayar selama satu hari, kedua jenis Sekoci (5-30 GT) mampu 5-7 hari melaut, sedangkan Slerek (>30 GT) adalah jenis kapal yang besar dan mampu melaut selama 2 minggu atau lebih. Adapun alat dan bahan yang perlu dibawa antara lain beras, air untuk minum dan masak, sayur, persediaan mie, telur, serta bahan makanan cepat saji lainnya. Bahan-bahan ini dibawa berdasarkan lamanya pelayaran dan jumlah ABK yang ikut melaut. Selain keperluan makan, para nelayan juga harus membawa persediaan obat-obatan.

 

 

Dalam aktivitas selama melaut tentu nelayan harus memperhatikan hal-hal di atas. Kesiapan diri dan bahan yang perlu dibawa menjadi bagian dari upaya nelayan dalam melakukan pekerjaannya agar berjalan lancar serta menjamin keselamatan karena tidak ada yang bisa memastikan keselamatan selain mereka sendiri. Resiko melaut di lautan lepas sangat besar, oleh karenanya, nelayan adalah salah satu pekerjaan yang memang butuh kesiapan dan pengalaman. Siaga sebelum berlayar semangat semakin berkobar. ***

 


  Bagikan artikel ini

Melaut, Bertaruh Nyawa Demi Rupiah

pada hari Rabu, 22 Februari 2023
oleh Andreas Atwin Janarko
     

 

Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi perairan luas. Berdasarkan hasil Kovensi Hukum Laut Internasional (United Nation Convention on the Law of Sea – UNCLOS), luas wilayah laut Indonesia mencapai 3.257.367 km2, sedangkan luas daratan 1.919.433 km2. Fakta ini menunjukan bahwa luas wilayah perairan Indonesia lebih besar dari daratan sehingga sering disebut sebagai negara maritim. Sebagai negara dengan lautan yang luas tentu saja menjadi peluang untuk masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai nelayan.

 

 

Kesempatan mengikuti eksposur ke Pelabuhan Sadeng yang difasilitasi oleh Lembaga Stube HEMAT Yogyakarta berkaitan Ekonomi Kelautan dan melihat kehidupan nelayan (Sabtu, 4/02/2023) tidak saya sia-siakan untuk memperdalam pemahaman tentang potensi laut Indonesia. Pelabuhan Sadeng merupakan salah satu pelabuhan perikanan pantai terbesar di DIY yang terletak di teluk Sadeng, diapit dua desa yakni Desa Songbanyu dan Desa Pucung, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul,  Daerah Istimewa Yogyakarta. Banyak hal baru saya temukan dalam eksposur ini salah satunya adalah mengenal lebih dekat kehidupan nelayan. Menjadi seorang nelayan ternyata tidak mudah, karena harus memiliki kegigihan dan tekad besar untuk berangkat berlayar demi mendapatkan rupiah demi menafkahi keluarga.

 

 

Saya berkesempatan berdialog dengan seorang nelayan bernama Mujito. Saya merasa terkejut ketika mendengar langsung bahwa ternyata jangka waktu yang ditempuh oleh nelayan untuk melaut lumayan lama. Apalagi ketika menggunakan kapal dengan kapasitas 30 Gross ton ke atas bisa memakan waktu 2 minggu atau lebih. Mujito adalah seorang ABK (anak buah kapal) dari kapal jenis Sekoci yang berkapsitas 5-30 GT yang menghabiskan waktu 5-7 hari melaut. Sebelum melaut mereka mempersiapkan modal awal yang harus dikeluarkan apalagi ketika harus menyewa kapal karena diakui bahwa banyak nelayan yang belum memiliki kapal pribadi sehingga harus menyewa. Hasil tangkapan nelayan beragam namun sebagian besar berupa tuna, cakalang dan layur. Mujito mengakui pendapatan yang mereka peroleh pun tidak menentu apalagi saat cuaca tidak mendukung sehingga mereka harus melakukan berapa kali pelayaran untuk bisa mengembalikan modal.

 

 

“Mengais rupiah untuk menafkahi keluarga dengan melawan derasnya arus lautan.” Itulah yang menjadi tekad dan kegigihan para nelayan saat melaut sehingga bukan resiko yang mereka pikirkan melain keuntungan untuk mendukung kehidupannya. Perjuangan yang luar biasa bagi mereka yang rela meninggalkan keluarga bertarung dengan laut mencari sesuap nasi, tanpa ada kepastian akan pulang dan ada atau tidaknya keuntungan. Menjadi nelayan adalah pilihan untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

 

Kebutuhan orang akan ketersediaan pangan akan terus meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia, karena kondisi ini akan menjadi tantangan bagi para nelayan untuk semakin gigih dalam bekerja. Profesi nelayan adalah profesi yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah, mulai dari jaminan keselamatan bagi para nelayan saat melaut, peralatan, pinjaman modal dan pengembangan profesi nelayan itu sendiri sehingga bisa berjaya di laut, dan berjaya dalam kehidupan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk lebih menghargai nelayan bahkan ikut memikirkan mengelola potensi laut Indonesia. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Melihat Kehidupan Para Nelayan Di Pantai Sadeng

pada hari Selasa, 21 Februari 2023
oleh Efrentus Posenti Orung

       

Potensi sumber daya kelautan dan perikanan diyakini masih menjanjikan sebagai andalan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Keyakinan terhadap keandalan sumberdaya ini tidak lain karena sumberdaya ikan sebagai salah satu komponen hayati yang paling banyak dimanfaatkan dan dapat diperbaharui. Untuk itu, ekspansi pada bidang perikanan terus dikembangkan di Indonesia, salah satunya dengan pembangunan pelabuhan-pelabuhan perikanan yang baru dan juga TPI atau Tempat Pelelangan Ikan.

 

 

Salah satu proyek pembangunan pelabuhan yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng. Pelabuhan perikanan pantai Sadeng merupakan pelabuhan yang paling berpengaruh di Daerah Istimewa Yogyakarta, karena sebagian besar hasil ikan yang didapat di provinsi DIY dihasilkan oleh pelabuhan perikanan pantai Sadeng. Secara administratif pantai Sadeng terletak di Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul, DIY. Jarak tempuh sekitar 70 km dari kota Yogyakarta dan memakan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Perjalanan menuju Pantai Sadeng kita akan banyak sekali melihat pemandangan yang masih alami, bukit kapur yang memanjang membentuk aliran sungai. Sepanjang tepian sungai purba telah berganti menjadi lahan bertanam palawija dan tanaman lain yang dibudidayakan penduduk. Penduduk di sekitar pantai Sadeng memiliki dua profesi sekaligus, sebagai petani dan nelayan, namun rata-rata para petani merupakan penduduk setempat, sedangkan para nelayan hampir semuanya pendatang mulai dari daerah Cilacap, Pekalongan, Sulawesi hingga Semarang. Sembilan puluh persen nelayan yang kami temui adalah pendatang. Sebagian nelayan memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani jika tidak sedang melaut atau ketika cuaca sedang buruk.

 

 

 

Jenis kapal yang digunakan nelayan bisa dikelompokkan menjadi tiga macam, seperti PMT (Perahu Motor Tempel) (<5 GT), Sekoci (5-30 GT), dan Slerek (>30 GT). Nelayan yang menggunakan PMT bisa memasang jaring berkisar 0 hingga 4 mil laut dari ujung pantai, kapal Sekoci bisa melaut dari 4 mil laut, sedangkan Slerek bisa melaut dari jarak 12 mil laut. Mari sejenak kita mengetahui sedikit dari kebiasaan para nelayan dalam mencari ikan di pantai Sadeng. Para nelayan PMT biasanya membutuhkan waktu melaut selama 1 hari, nelayan Sekoci mampu lebih lama sekitar 5-7 hari dan Slerek bisa menghabiskan waktu melaut lebih dari dua minggu. Hasil tangkapannya bermacam-macam tergantung dari musim, tetapi pantai Sadeng terkenal dengan hasil ikan tuna dan cakalang untuk segala musim.

Seorang nelayan bernama Mujito yang kami temui mengatakan bahwa hasil tangkapan yang diperoleh dalam sekali melaut mencapai 100 kg – 1 ton. Jika musim sedang bagus hasil laut bisa lebih dari 1 ton. Namun tak jarang juga sekembalinya nelayan dari melaut, hasil tangkapan nelayan tidak mencapai 1 ton bahkan hanya ½ ton.

Pembagian pendapatan dari melaut cukup menarik karena pemilik kapal PMT akan mengantongi 25% dari hasil tangkapan. Bagi pemilik kapal besar akan mendapatkan bagian 50% dari hasil tangkapan. Pendapatan nelayan memang tidak menentu, maka wajar jika nelayan tidak bisa memastikan berapa pendapatannya selama satu bulan, namun diperkirakan mencapai 1-3 juta perbulan bahkan mungkin lebih. Perlu diketahui bahwa sistem bagi hasil telah diatur oleh pemerintah dengan UU Bagi Hasil Perikanan Republik Indonesia No. 16 Tahun 1964 Bab II Pasal 3 B, namun dalam pelaksanaannya nelayan masih menggunakan aturan kebiasaan dalam sistem bagi hasil.

 

 

Harga-harga kebutuhan hidup dan jumlah tanggungan keluarga menjadi beban tersendiri bagi kehidupan nelayan. Harga bahan-bahan pokok di pesisir pantai tidaklah semurah yang kita temukan di pertengahan kota. Apalagi harga BBM sebagai modal utama menjalankan mesin perahu untuk melaut harganya bisa mencapai 10.000 rupiah per liter, belum termasuk perubahan harga BBM yang terjadi pada saat ini. Cuaca dan gelombang air laut yang pasang surut acap kali menjadi ancaman bagi keselamatan nelayan saat melaut.

Hal yang perlu diperhatikan di Pantai Sadeng adalah belum ada upaya pengolahan ikan untuk meningkatkan daya jual ikan, mengingat sebanyak 55% nelayan yang kami temui, pendidikan terakhirnya adalah setingkat Sekolah Dasar. Akses pendidikan dan kesehatan bagi keluarga nelayan masih dirasa jauh, sehingga anak-anak harus menempuh jarak jauh menuju sekolahan dan keluhan sakit para nelayan tidak cepat tertangani. Para nelayan berharap pendidikan rendah yang mereka miliki jangan sampai terulang untuk anak-anak mereka. Kehadiran pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan pendidikan untuk anak-anak mereka sangat diperlukan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Penguatan Sumberdaya Masyarakat Pesisir

pada hari Senin, 20 Februari 2023
oleh Daniel

       

Indonesia adalah salah satu negara kepulauan terbesar yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Semua ini memberikan berkah yang sangat besar bagi Indonesia dengan berlimpahnya kekayaan sumber daya alam serta ragam hayati. Kekayaan tersebut seharusnya menjadi kekuatan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat terutama masyarakat pesisir. Namun kita sadari semua itu masih belum teroptimalisasi dengan baik, melihat masih tinggi tingkat kemiskinan masyarakat pesisir.

 

 

Dari data BPS tahun 2021, 12,5% dari penduduk miskin ekstrim di Indonesia ada di masyarakat nelayan yang disebabkan beberapa faktor diantaranya masih rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kehidupan penduduk pesisir, khususnya nelayan masih tergantung pada pemanfaatan sumber daya alam dengan menggunakan teknologi dan modal yang terbatas. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi kemiskinan di wilayah pesisir berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat telah dilakukan namun masih banyak yang belum tepat sasaran, ini menjadi temuan-temuan yang kami peroleh dari kunjungan belajar di Pelabuhan Sadeng, kabupaten Gunungkidul, provinsi DIY, bersama Stube HEMAT Yogyakarta dalam rangkaian program Ekonomi Kelautan (4/2/2023).

 

 

 

Di sana kami melakukan diskusi serta pemaparan tata kelola dan melihat aktivitas yang dilakukan nelayan yang ditemani oleh pengelola pelabuhan. Setelah itu kami bersama kelompok kecil mewawancarai salah satu perempuan nelayan yang mengolah hasil tangkapan ikan menjadi beberapa produk seperti abon ikan, bakso, tahu, nugget, dll. Dalam wawancara kami mengulik potensi hasil olahan laut yang dibuat oleh para istri nelayan yang tergabung dalam kelompok di desa. Kelompok tersebut masih terkendala alat produksi dan tidak semua anggota kelompok dapat mengolah hasil lautserta kesulitan memasarkan produk secara luas. Sebenarnya media sosial dan pasar digital bisa dipakai sebagai platform pemasaran produk secara masif. Perlu adanya support dari para stakeholderuntuk mendampingi perempuan nelayan dalam pelatihan peningkatan produksi olahan, pemasaran produk serta pemanfaatan media digital yang lebih optimal untuk menjangkau customer.

 

 

Diharapkan dengan penguatan sumberdaya nelayan dalam mengelola potensi hasil laut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan. Tidak kalah penting apabila dukungan para stakeholder mengarah kepada anak-anak muda untuk ikut serta dalam optimalisasi pembangunan yang berkelanjutan. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

‘Melek’ Eksistensi Wisata Pantai dan Problematikanya

pada hari Sabtu, 4 Februari 2023
oleh Kresensia Risna Efrieno

 

 

Hai, kalian sudah berkunjung ke tempat wisata mana saja di Yogyakarta? Pantai? Gunung? Tidak tahukah kamu kalau kabupaten Gunungkidul memiliki potensi wisata yang luar biasa di Yogyakarta dengan beragam lokasi wisata yang bisa dikunjungi, mulai dari bukit sampai ke pesisir pantai. Tak kurang enam puluh pantai di Gunungkidul dari Ngunggah di barat sampai Krokoh paling timur, dan pantai Krakal yang terletak di Desa Ngestirejo, Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta dengan luas 150 ha. Pantai Krakal memiliki keunikan batu karang besar berwarna hitam seperti jalan setapak di atas permukaan laut berpadu dengan pasir putih, indah dan menarik wisatawan untuk berkunjungbukan?

 

 

Namun, apakah eksistensi kawasan wisata hanya keindahannya? Adakah hal lain yang perlu kita kaji? Kemunculan tempat wisata menghadirkan ‘domino effect’ dari perubahan kondisi alam, ekonomi masyarakat dan budaya. Sisi lain yang perlu kita lihat adalah tantangan atas kerusakan yang rentan terjadi, berbanding terbalik dengan beberapa hal di atas.

 

 

Mahasiswa tentu tahu bahwa munculnya tempat wisata pasti membawa dua sisi, manfaat dan masalah. Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa mengajak mahasiswa melihat realita ini dengan mengunjungi pantai Krakal, Gunungkidul dalam program Ekonomi Kelautan (Sabtu, 04/02/2023). Kunjungan belajar ini menjadi tambahan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa untuk melek’ keberadaan tempat wisata dan problematika yang mengikutinya.

 

 

Para mahasiswa membagi diri dalam empat kelompok kecil untuk mengkaji fokus pengamatan yang berbeda dengan menggali informasi secara bebas, baik dengan wawancara maupun melihat situasi pantai secara umum. Kelompok satu memetakan peluang ekonomi di pantai Krakal, berdasarkan wawancara dengan beberapa pedagang yang mengungkapkan bahwa akhir pekan lebih ramai karena wisatawan bisa melakukan camping di pantai dan sehingga para pedagang punya peluang menjual souvenir yang khas, seperti gantungan kunci dari kerang dan batu akik. Kelompok dua membagikan hasil wawancara dengan pedagang juga tentang keterlibatan masyarakat setempat dalam geliat ekonomi di pantai Krakal. Sungguh menggembirakan karena terungkap  bahwa sebagian besar pedagang di pantai Krakal adalah masyarakat setempat. Ini berarti keberadaan wisata pantai Krakal membawa potensi kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Kelompok tiga menemukan onggokan sampah yang tidak terkelola di beberapa sudut pantai sehingga mengganggu panorama pantai. Hal ini semestinya menjadi perhatian serius pengelola untuk mempertahankan daya tarik pantai bagi wisatawan dari sisi kebersiha. Sedangkan kelompok empat menggali informasi tentang keberpihakan masyarakat, pemerintah dan pengelola pantai untuk memajukan kawasan pantai dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

 

Kunjungan belajar ke pantai Krakal membuka wawasan peserta untuk lebih peka dengan realita pesisir dan kelautan Indonesia, seperti yang dikatakan Andremahasiswa Teologi STAK Marturia, “Melalui kunjungan belajar di pantai Krakal, saya menemukan sesuatu yang baru karena tidak saya temukan di daerah saya, Lubuk Linggau, yaitu masyarakat memanfaatkan sumber daya pesisir pantai menjadi mata pencaharian, menghasilkan inovasi souvenir dari lautmunculnya lapangan pekerjaan sebagai fotografer. Namun demikian saya juga menemukan kurangnya perhatian untuk merawat pantai.”

Keberadaan tempat wisata pesisir dan pantai menuntut tanggung jawab besar dari para pemangku kepentingan demi terjaga kelestariannya. Mahasiswa perlu terlibat aktif untuk peduli dan mengkampanyekan pentingnya keberadaan tempat wisata berkelanjutan yang menghadirkan kesejahteraan bagmanusia dan lingkungan. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Dari Sadeng Mengarungi Lautan Indonesia

pada hari Sabtu, 4 Februari 2023
oleh Kresensia Risna Efrieno
          

Sejauh mana kita mengenal laut kita? Masih meraba-raba? Stube  HEMAT Yogyakarta memfasilitasi mahasiswa dalam ruang belajar mengenal potensi dan tantangan kelautan Indonesia. Sembilan belas mahasiswa dipimpin koordinator Yogyakarta, Trustha Rembaka, S.Th dan didampingi Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., selaku Direktur Eksekutif Stube HEMAT melakukan kunjungan lapangan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, Gunungkidul (4/2/2023).

 

 

Para mahasiswa mengunjungi pelabuhan yang terletak di desa Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan bertemu dengan Agus Santosa, S.Pi., Kepala Seksi Operasional Pelabuhan dan Kesyahbandaran dan Sarina S.P., M.M., Kepala Seksi Tata Kelola dan Pelayanan Usaha. Sebagai kata pengantar, Ariani mengenalkan Stube HEMAT Yogyakarta dan program Ekonomi Kelautan, khususnya dinamika perikanan laut dan kehidupan nelayan melalui eksposur atau kunjungan belajar. Ia menantang masing-masing peserta menyebutkan nama-nama ikan laut untuk mencari tahu sejauh mana pengenalan akan dunia laut. Ternyata sebagian peserta menyebut nama ikan yang sama berulang dan bahkan menyebutkan ikan air tawar.

 

Agus Santosa memaparkan bahwa pelabuhan Sadeng berdiri sejak 1990 di antara desa Songbanyu dan Pucung, Girisubo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 85 km arah tenggara kota Yogyakarta. Ia mengungkapkan kiprahnya sebagai syahbandar sejak 2018dan melayani 200 lebih nelayan Ia mengisahkan awalnya para nelayan belum tahu pentingnya memiliki dokumen kelautan, tetapi sekarang mereka sudah sadar pentingnya dokumen tersebut, bahkan semakin banyak nelayan yang memiliki kapal pribadi. Hasil tangkapan di tahun 2022 mencapai 3.318,4 ton dengan nilai produksi ikan sebesar Rp 88,17 M,yang didominasi ikan tuna, tongkol dan cakalang. Namun kondisi cuaca dan musim ikan akan berpengaruh pada hasil tangkapan.

 

 

 

Selanjutnya para mahasiswa mengelilingi pelabuhan Sadeng dan mengenali jenis kapal yang digunakan nelayan. Ada tiga jenis kapal, pertama, Perahu Motor Tempel/PMT atau Jukung dengan ciri khas ada sayap di kiri kanan perahu. Jukung adalah perahu kecil bermuatan 1-2 oranguntuk melaut satu hari. Kedua, Sekocidengan lima Anak Buah Kapal (ABK)dengan jarak minimal 3 mil dari pantai dan biasanya melaut 5-7 hari. Ketiga, Kapal Motor atau Slerek dengan 25-33 ABKdengan jarak minimal 12 mil dari pantai dan mampu melaut sampai empat belas hari. Selain kapal nelayan, di pelabuhan Sadeng ada kapal milik Polisi Air dengan jumlah personil 25 orang dan perahu Search and Rescue (SAR) yang siap digunakan untuk patroli keamanan dan merespon ketika terjadi pelanggaran keamanan maupun kecelakaan lautSelain mengenal perahu, para mahasiswa mengamati instalasi breakwater, mercu suar dan instalasi cuaca BMKG untuk menyediakan informasi cuaca kepada nelayan menjelang melaut.

 

 

Pengalaman para mahasiswa semakin lengkap ketika mereka masuk ke perahu sekoci dan berdialog dengan beberapa nelayan untuk mengenal lebih dalam kehidupan seorang nelayan di Sadeng. Kelompok satu berdialog dengan Cimengnakhoda perahu Sekoci yang mengungkap bagaimana mengemudikan perahu, membaca arus laut dan bisa memperbaiki mesin perahu. Kelompok dua berinteraksi dengan Mujito, seorang Anak Buah Kapal (ABK) tentang suka duka melaut yang hasilnya sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim ikan. Kelompok tiga bertukar pikiran dengan Ristini tentang bagaimana mengolah ikan menjadi produk turunan sesuai dengan jenis ikan yang cocok seperti menjadi abon, bakso dan produk lainnya. Ketiganya merupakan penduduk setempat yang hidup dengan dan dari laut. Ternyata sebagian mahasiwa mengaku baru pertama kali naik perahu dan merasa mual ketika perahu diayun-ayun ombak. Namun demikian mereka menunjukkan antusiasme berdialog langsung dengan mereka di atas kapal-kapal yang bersandar.

Salah seorang mahasiswa, Andre, mahasiswa asal Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, mengatakan, ”Saya menemukan hal-hal baru berkaitan dengan nelayan, seperti cara nelayan berlayar di lautmodal yang dibutuhkan sebelum melaut, jenis kapal dan peralatan untuk menangkap ikan dan distribusi ikan sampai ke konsumen. Saya menyadari nelayan bukan pekerjaan mudah karena harus bertaruh nyawa. Saya sangat respek pada nelayan atas semangat, kerja keras dan tangguh menghadapi tantangan.”

 

 

Benarlah bahwa eksposur ini menjadi pengetahuan baru dan pengalaman yang menarik untuk mahasiswa dalam menangkap ilmu tentang kelautan dan problematika yang dihadapi nelayan. Lautdengan segala potensinya menjadi masa depan bangsasiapkah anak muda sebagai generasi penerus mengelola secara bertanggung jawab dan menjaga kelestariannya? ***

 


  Bagikan artikel ini

Mengurai Kompleksitas Masalah di Pesisir

pada hari Minggu, 29 Januari 2023
oleh Trustha Rembaka
      

“Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta,

Tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa,

………………Melambai-lambai nyiur di pantai……….

 

 

Lagu Rayuan Pulau Kelapa mengawali diskusi mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta dalam program Ekonomi kelautan di teras ‘Kopi Klotokan’, Kledokan, Depok, Sleman (Sabtu, 28/01/2023). Diskusi ini mengangkat topik ‘Ada apa dengan kelautan Indonesia? Kompleksitas masalah pesisir’ untuk mendorong para mahasiswa ‘melek’ kawasan pesisir dan problematika yang terjadi.

 

 

 

Dalam pengantar diskusi, Sekti Mulatsih, seorang praktisi lingkungan, mengungkapkan arti pesisir, sebagai suatu wilayah peralihan daratan dan lautan sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut. Bagian ke arah darat meliputi daratan kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin; sedangkan yang ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi proses-proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar maupun hasil kegiatan manusia di darat, termasuk pencemaran. Sementara wilayah pantai merupakan area berpasir sampai perbatasan laut. Penjelasan ini membuka pemikiran mahasiswa untuk memahami perbedaaan laut, pantai dan pesisir.

 

 

 

 “Laut adalah masa depan bangsa karena Indonesia memiliki luas lautan 2/3 dari luas daratan yaitu 3.1 juta km² lautan dan 1,905 juta km² berupa daratan, memiliki megabiodiversitas dengan ±30% hutan mangrove dan ±15% terumbu karang dunia, memiliki garis pantai terpanjang di dunia dengan 16.766 pulau dan garis pantai sepanjang ±81.000 km, memiliki regulasi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia yang diakui dalam konvensi hukum laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)UNCLOS 1982, memiliki sumberdaya alam berlimpah berupa perikanan tangkap dan budidaya, energi dan mineral, mangrove, terumbu karang, padang lamun, dan pariwisata, memiliki potensi carbon sink dan penyedia oksigen, memiliki dukungan badan dunia bahwa wilayah pesisir merupakan sumberdaya alam yang perlu dilindungi dan dikelola berdasar pembangunan ekonomi dan sosial”, narasumber menyampaikan.

 

 

 

Saat ini kawasan pesisir dan laut semakin terancam karena masifnya aktivitas manusia di hulu berupa industri, perikanan, pertanian, pariwisata, transportasi, dan permukiman, terakumulasinya sampah yang tidak terkelola di darat yang bocor (leakage) ke lautan, tempat berkumpulnya limbah cair dari aktivitas manusia yang mengalir dari daratan karena pengolahan di wilayah hulu tidak optimal, pengembangan kawasan yang menyebabkan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, naiknya permukaan air laut, penimbunan laut secara sengaja sehingga mengubah habitat asli dan memicu masalah lainnya.

 

 

Dalam sesi ‘sharing’, peserta membagikan pengalaman tentang kehidupan laut. Vin Hukum dari Kepulauan Aru menceritakan bagaimana nelayan menangkap kepiting, udang dan ikan menggunakan ‘bubu’ atau jaring dengan mempertimbangkan arus laut, meskipun sekarang hasilnya tidak sebanyak dulu. Sarlota Wantaar dari Tual menjelaskan tradisi ‘sasi’ di Maluku, sebuah larangan untuk tidak mengambil hasil laut di kawasan tertentu. Rido dari Sumba Timur mengungkapkan dilema antara kawasan budidaya rumput laut sebagai bahan utama agar-agar dengan kawasan nelayan ikan tangkap. Saat ini nelayan harus melaut lebih jauh karena populasi ikan menurun yang diakibatkan rusaknya terumbu karang di area budidaya rumput laut. Fitri dari Manggarai memaparkan bahwa kawasan pesisir Labuhanbajo tercemar sampah dan limbah domestik karena aktivitas wisata dan perilaku masyarakat yang masih rendah dalam mengelola sampah.

 

 

Diskusi ini menggugah para mahasiswa untuk melek terhadap problematika pesisir terkhusus di daerah asal, dan memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan pesisir dengan melibatkan masyarakat setempat, dan tetap menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat. Mari kita raih kembali Jalesveva Jayamahe – Justru di Laut-lah Kita Jaya.***


  Bagikan artikel ini

Memahami Lautan Indonesia: Potensi dan Ancaman (Bedah Buku)

pada hari Minggu, 22 Januari 2023
oleh Tim Stube HEMAT

 

 

 

Sekelompok mahasiswa merangkai puzzle kepingan pulau-pulau membentuk peta Indonesia. Mereka bekerja keras Menyusun puzzle itu sesuai komposisi di peta. Namun kenyataannya, tidak setiap kelompok mampu menyusunnya secara tepat. ‘Games’ ini mengawali kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa untuk mendalami Ekonomi Kelautan, di mana mahasiswa mempelajari Indonesia sebagai negara kepulauan secara holistik, mahasiswa menemukan potensi kelautan Indonesia dan terobosan kerjasama lintas sektoral untuk ekonomi kelautan dan mahasiswa berperan dalam mempromosikan dan menyadarkan masyarakat Indonesia akan potensi laut yang dimiliki. Indonesia terdiri dari daratan dan lautan dengan 17.508 pulau sehingga disebut sebagai ‘archipelagic state’, negara kepulauan berdasarkan ‘United Nation Convention on the Law of the Sea’ (UNCLOS) 10 Desember 1982 di Montego Bay, Jamaica. (21/1/2023)

 

 

 

 

Kegiatan pertama dalam program Ekonomi Kelautan adalah bedah buku ‘Keamanan Maritim dan Ekonomi Biru: Transformasi Ekonomi Kelautan Berkelanjutan di Indonesia’ karya Humphrey Wangke terbitan Yayasan Pusataka Obor Indonesia, tahun 2021. Trustha Rembaka menyampaikan materi model ekonomi kelautan yang berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir dan ketahanan pangan, menjadikan laut sebagai sumber energi global, serta menjadi kawasan yang aman bagi lalu lintas perdagangan internasional, seperti tujuan Ekonomi Biru. Ekonomi Biru akan mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kehidupan dan inklusi sosial tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan laut dan wilayah pesisir karena sumber daya laut terbatas dan kondisi fisiknya telah dirugikan oleh tindakan manusia.

Selanjutnya Daniel Prasdika, memaparkan Keamanan Maritim dan Urgensi Kehadiran Bakamla Dalam Pengamanan Wilayah Perairan Indonesia. Wilayah Indonesia terdiri dari kawasan darat dan laut, dua per tiga wilayah Indonesia berupa lautan. Keberadaan lautan Indonesia memiliki potensi kekayaan laut yang besar dan memberikan pilihan-pilihan untuk dikembangkan. Namun demikian, semakin luas lautan semakin berat konsekuensi bangsa ini untuk mengelola wilayah lautan dan seisinya untuk kesejahteraan rakyat dan menjaga kelestariannya. Perairan Indonesia rentan dari kejahatan maritim, seperti penyelundupan Bahan Bakar Minyak, narkoba, pelanggaran wilayah kelautan, perdagangan manusia, dan penyelundupan bahan berbahaya, karenanya perlu badan keamanan laut (Bakamla) untuk mengawasi dan menjaga keamanannya.

Selanjutnya, Daniel menyampaikan pengelolaan laut secara berkelanjutan yang berbasis pada peningkatan perekonomian dari sektor laut dengan empat pilar pembangunan kelautan yang berkelanjutan, meliputi sustainability, inter generational equality, intra generational equality, dan public participation. Empat pilar pembangunan ini menjadi rambu-rambu pengembangan sumber daya laut yang lebih baik.

 

 

Pembahasan tentang ‘Tantangan Terhadap Pengelolaan Ekonomi Kelautan Berkelanjutan’ dipaparkan oleh Kresensia Efrieno, yang membahas sampah plastik di laut semakin kritis karena produksi sampah plastik dunia mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Tercatat produksi sampah plastik dunia tahun 2008 mencapai 260 ton2013 mencapai 299 ton dan 2016 meningkat 77% jadi 1,3 miliar ton, dan 8 juta ton di antaranya terbuang ke laut. Bahkan diprediksi tahun 2025 akan lebih banyak sampah plastik dari pada ikan! Ini berdampak buruk bagi ekosistem laut dan kelestariannya secara berkelanjutan. Organisasi-organisasi dunia termasuk PBB melakukan kampanye beberapa program untuk mengurangi sampah plastik di laut.

Bedah buku ini memperkaya wawasan para mahasiswa untuk ‘mengarungi’ kelautan Indonesia dan membuka pikiran mereka untuk secara kreatif menemukan ide-ide berwirausaha berbasis kelautan sehingga memiliki nilai ekonomis untuk peningkatan kesejahteraan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2023 (37)
 2022 (41)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)